
"apa kau takut padaku, Sunshie?" seringai Evan membuat Shine semakin bergerak mundur dan saat posisinya sudah didepan pintu kamar mandi, dengan cepat shine masuk dan mengunci dirinya didalam sana membuat Evan meneriakinya sambil mengggedor pintu kamar mandi tersebut.
"apa yang kau lakukan didalam Shine, buka pintunya." perintah Evan tapi kali ini suaranya terdengar sedikit lembut membuat Shine mengerutkan dahinya. "keluarlah Sunshine, aku tidak mungkin memakanmu." sambungnya membujuk setelah tidak mendengar jawaban apapun. Salahkan dirinya dan sikap jahilnya itu.
"mama menunggumu, Shine. Kau harus makan dan minum obat. Hari ini jadwal therapi tanganmu. Keluarlah!" ucapnya kembali membujuk. Mendengar kata mama, akhirnya dengan perlahan Shine membuka pintu kamar mandi. Ia memandang lama wajah Evan dan mendapati jejak tangan di pipi kiri Evan membuatnya reflek menyentuh wajah itu kemudian dengan cepat menarik kembali tangannya. Ia merutuki sikapnya yang tidak biasa itu.
"ak-aku keluar. Kasihan mama menunggu terlalu lama." ucap Shine pelan kemudian berlalu meninggalkan Evan yang masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Sentuhan lembut Shine di wajahnya membuat Evan sedikit tersentak. Tidak. Ia tidak boleh kasihan pada gadis itu. Tunggu saja waktunya, ia akan menghukum gadis nakal itu, pikirnya.
Saat ia menyusul Shine, Evan melihat ibunya sedang memeluk erat tubuh mungil itu.
"apa anak nakal mama menyakitimu, sayang?" tanya mama Vena pada Shine tapi tatapannya tertuju pada Evan. Lelaki itu tersenyum geli mendengar pertanyaan ibunya.
"mana berani Evan menyakiti calon menantu kesayangan mama. Iya kan, sayang?" ucap Evan sambil menggoda Shine. Dasar iblis mesum. Shine hanya bisa terseyum demi mengikuti sandiwara yang Evan mainkan. lelaki itu memang ahli bersandiwara. Shine bahkan tidak bisa menebak bagaimana sesungguhnya sifat asli seorang Evanndo Gaster.
"Hari ini kamu therapinya ditemani Evan aja yah Shine, mama harus menemani papa meeting lagi. Tapi kali ini kami tidak akan menginap, jadi mama akan menemanimu setelahnya." jelas mama Vena dengan ekspresi menyesal tapi di akhir kalimatnya ia mengelus sayang tangan Shine.
"Mama memang harus selalu ikut papa,Shine, takut papa di ambil orang kalau mama lengah." canda papa Raka yang baru ikut bergabung di meja makan. Shine menyadari perubahan sikap Evan saat papanya tiba. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa papa Raka tau tentang perjanjian yang sangat merugikan Shine itu? Tapi kenapa sikap beliau pada Shine masih terasa hangat?
"Halah, padahal emang papa yang nggak bisa jauh dari mama, Shine. Nanti kamu pasti bernasib sama dengan mama, karna dua lelaki mama ini sifatnya sama persis." mama Vena membela dirinya. Tapi hal tersebut membuat Shine berpikir, apakah ia akan merasakan seperti yang mama Vena rasakan saat ini? memiliki suami yang sangat menempel padanya, anak nya juga meskipun sangat menyebalkan bagi Shine tapi begitu manis saat berhadapan dengan sang mama. Shine sungguh ingin pernikahan yang seperti itu.
Setelah sarapan bersama yang lebih banyak terdengar ocehan mama Vena itu selesai, Shine bersiap menuju rumah sakit bersama Evan yang terlihat sangat tampan dengan pakaian santainya. Celana jeans dan kaos putih polos yang terlihat sangat pas di tubuhnya menambah kesan sempurna dari tampilan seorang pangeran.
"apa aku sangat tampan? Calon istriku sampai tidak berkedip menatapku." narsis Evan melihat Shine terpaku menatapnya.
"kau memang tampan." aku Shine mengundang gelak tawa Evanndo.
__ADS_1
"jadi tidak susah untuk jatuh cinta padaku, kan, Sunshine?" ucap laki-laki itu kemudian mengedipkan sebelah matanya.
"itu tidak mungkin terjadi, Tuan pemarah." balas Shine dengan wajah datarnya menimbulkan geraman Evan.
"kau percaya diri sekali. Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Evanndo Alfalendra Gaster, apalagi gadis b*doh sepertimu." ucapnya menjengkelkan.
"justru aku tahu posisiku. Terlalu beresiko untuk jatuh pada Lelaki sepertimu. Kau juga menjeratku pasti dengan satu tujuan kan. Meskipun aku tidak tahu kesalahan ku sampai harus berurusan dengan lelaki narsis sepertimu." aku Shine membuat ekspresi kelam di wajah Evan.
"yaa! Teruslah seperti itu. Karna jika kau sampai jatuh cinta padaku, aku tidak mau tanggung jawab dan pastinya tidak akan ada yang bisa menolongmu." seringai Evan kemudian. Membuat Shine ingin mencakar wajah itu.
"kabari mama jika kalian sudah pulang. Evan jaga calon Menantu mama baik-baik. Awas kalo kamu jailin." ancam mama Vena saat mereka pamitan.
"semoga lekas sembuh yaa, sayang, papa dan mama akan ikut mengurus persiapan pernikahan kalian setelah ini." tambah papa Raka setelah bergantian memeluk Shine.
"iyaa ma, pa, Shine juga pengen cepat sembuh biar nggak ngerepotin semua orang." jawab Shine dengan haru. Ia terlalu lama hidup dalam ketidak adilan bahkan harus tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, jadi saat ia mendapatkannya dari orang tua Evanndo, ia merasa tidak masalah jika harus sedikit tersiksa dengan sikap pemarah dan menyebalkan lelaki itu asal ia mau berbagi kasih sayang orang tuanya dengan Shine.
"ingat pesan papa, Van, jangan kecewakan papa." ucap papa Raka tegas yang di angguki Evan dengan patuh tanpa bantahan. Kemudian mereka melaju menuju rumah sakit. Sejujurnya tangan Shine sudah tidak terlalu sakit saat digerakkan setelah semalam Evan mengoleskan salep pereda nyeri tapi Evan mengatakan therapi itu untuk melatih saraf agar jika nanti sembuh, tangan Shine tidak kaku. Entah bagaimana lelaki tampan ini bisa bersikap manis sehingga menimbulkan perasaan takut dihati Shine. Takut ia benar-benar dengan mudah jatuh dalam pesona iblis mesum itu. Tapi juga bisa berubah menjadi mengerikan jika sedang marah dan itu sangat menjengkelkan.
Saat tiba dirumah sakit, mereka harus menunggu antrian karna dengan pintarnya Evanndo lupa membuat janji dengan dokter yang akan menangani Shine. Ia menggerutu sepanjang mengantri itu karna kesal saat Shine memaksa harus mengambil nomor antrian. Ia harus belajar menghargai orang lain,pikir Shine. karna tidak selamanya uang bisa menyelesaikan apapun. Hingga tiba giliran Shine dan mereka masuk menuju ruang dokter, muncul sosok dokter cantik dengan senyum ramahnya menyapa Evan seperti keduanya memang sudah akrab lama.
"hai, Shine. Senang berkenalan denganmu walau tempat kita bertemu seharusnya bisa lebih baik dari ini." ucapnya dengan santai seolah Shine adalah teman lamanya.
"senang bertemu dengan anda juga, dokter mikha." balas Shine sopan. Ia sungkan dengan wanita cantik itu.
"calon istrimu cantik sekali, Van. Jaga dia baik-baik lhoo." godanya sambil melirik pada Evan yang tiba-tiba merangkul bahu Shine posesif. Dokter cantik itu jadi senang menggoda Evan saat ia menanyakan bagaimana bisa Evan mengantar seorang gadis ke dokter saraf secara khusus. Dan entah apa yang mendorong Evan sampai tidak bisa bersandiwara didepan wanita itu padahal didepan kedua orang tuanya pun Evan sanggup berbohong.
__ADS_1
"tanpa kau suruhpun aku pasti menjaganya. Dia calon istriku." ketus Evan karna memang Mikha ini adalah salah satu teman yang berani menegurnya.
"aku merasa seperti pernah bertemu Shine sebelumnya. Apa kita pernah bertemu di tempat lain?" tanya nya lagi pada Shine.
"mana mungkin. calon istriku jarang keluar. Dan lagi, kapan kau bertemu dengannya sedangkan hidupmu hanya berkutat dengan rumah sakit dan suamimu yang jelek itu." cecar Evan tidak memberi kesempatan Shine untuk menjawab. tapi perempuan yang ia sapa Dokter Mikha itu justru tertawa. Jenis tawa kencang yang tetap terlihat anggun, cocok untuk pembawaan wanita cantik sepertinya.
"beruangmu galak sekali, Shine." kekehnya lagi.
"tapi serius, aku merasa tidak asing dengan wajahmu." sambungnya dengan wajah serius dan setelah itu Shine menekan erat genggaman sebelah tangannya pada tangan Evan karna ternyata rasanya sangat sakit saat dokter memberi sedikit tindakan pada lengannya. Hebatnya, alih-alih marah, Evan justru mengelus lembut tangan Shine membuatnya sedikit tenang.
"kau sungguh luar biasa adik cantik. Sanggup menemani lelaki buruk ini seumur hidupmu." ucap dokter Mikha membuat Evanndo mendengus kesal.
"terima kasih dok, apa cideranya masih parah?" balas Shine mengabaikan ucapan Dokter Mikha.
"tidak terlalu parah. Dengan dua atau tiga kali pertemuan lagi saya rasa lenganmu sudah membaik. nanti tebus obatnya, dan jangan lewatkan jadwal therapi berikutnya." pesannya serius karna sepertinya Shine jenis yang tidak suka basa basi.
"kenapa lengan mu sampai cidera?" tanyanya kembali. Bisa Shine simpulkan, wanita ini jenis yang ingin tau banyak hal. Tapi pasti menyenangkan berteman dengannya karna bisa dipastikan ia seorang pendengar yang baik.
"bukan urusanmu." gerutu Evan dan langsung mendapat pelototan Shine.
"Evan." tegurnya membuat dokter Mikha kembali tertawa dan semakin tidak bisa berhenti saat melihat ekspresi Evanndo yang hanya bisa merengut sebal tapi tak berani membantah. Persis seperti bocah nakal yang seketika terdiam saat ibunya menegur. Sungguh Shine sangat hebat. Tentu saja itu yang ia pikirkan. Tanpa tau bahwa beruang yang sedang merengut itu bisa menjadi sangat buas jika sedang tidak ada siapapun bersama mereka.
"tidak masalah Shine, aku sudah sangat terbiasa dengan sifat buruknya. Sama persis seperti suamiku yang memang sahabat dekat calon suami mu ini." ucap dokter Mikha setelah berhasil meredakan tawanya.
"apa mereka jenis teman yang selalu bersaing untuk mendapatkan apapun?" tanya Shine mencoba sedikit ingin tahu.
__ADS_1
"apapun jadi bahan saingan untuk mereka, Shine." jawaban Dokter Mikha membuat Shine memikirkan sesuatu. apakah itu ada hubungannya dengan perjanjian konyol yang Evan paksa agar ia menyetujuinya? Atau ada kaitannya dengan wajahnya yang terasa tak asing bagi dokter Mikha? Pernyataan yang berulang itu sebenarnya sangat mengganggu Shine tapi ia tak mungkin mendapat jawaban dari lelaki menyebalkan di sampingnya.
"apa mendapatkan hatimu termasuk persaingan mereka?" tanya Shine tiba-tiba. Dokter Mikha terdiam kaku setelah mendengar pertanyaan Shine, Evanndo bahkan sudah menatap sengit pada Dokter cantik itu. Shine sendiri pun kaget dengan pertanyaan spontan yang keluar dari mulutnya. Ia bahkan tidak memikirkan resiko apa yang akan ia hadapi kelak saat dirinya hanya berdua saja dengan Evan.