Aku Dan Pernikahan Kontrak

Aku Dan Pernikahan Kontrak
bagaimana bisa?


__ADS_3

Dalam perjalanan bersama Evando, pikiran Shine terus berkelana. Apa sebenarnya yang disembunyikan Evan? Kenapa ia harus terlibat dengan rencana yang Evan lakukan diam-diam ini? Atau sebesar apa kesahalan yang Shine lakukan sampai ia harus terjerat dengan lelaki menjengkelkan ini? Shine merasa perkataan Dokter Mikha tadi benar-benar ada hubungannya dengan terjeratnya dia bersama si iblis mesum ini. memikirkan semua itu membuat Shine pusing sampai ditahap ingin menangis. Ia sungguh rindu dengan dunia lamanya. Dimana tidak ada yang bisa mengatur Shine dengan sesuka hati.


"kenapa diam, Shine? Apa kau masih memikirkan lelucon konyol Mikha tadi?" Evan bertanya sambil memaksa Shine menoleh padanya, kebetulan mobil mereka sedang berhenti karena lampu merah. Shine membuang muka dan menggeleng malas membuat Evan mendengus kesal. sejujurnya dia tidak ingin perduli tapi entah kenapa sikap diam Shine terasa sangat mengganggunya.


"berhenti mengabaikan ku, Shine! atau kulempar kau dari dalam mobil ini." ancamnya menyebalkan yang sebenarnya itu memang hanya ancaman. Karna ia tidak akan bisa menyakiti Shine secara langsung.


"lanjutkan saja jalannya, tidak usah pedulikan aku. Aku hanya sedang ingin berpikir." ujar Shine dengan suara datar.


"aku sungguh-sungguh tidak pernah menyukai Mikha apalagi sampai bersaing dengan suaminya. Kalau hal itu yang mengganggu pikiranmu." Lirih Evan. entah kenapa ia harus melakukan itu. Membujuk seseorang bukanlah ahlinya, apalagi seorang itu adalah Shine. Kemudian suasana kembali hening membuat Evanndo menghembuskan napasnya.


**


Mobil yang dikendarai Evan memasuki kawasan bandara. mereka memang hendak menjemput kedua orang tua Evan. Sepulang dari rumah sakit tadi ibunya terus meneror agar ia membawa Shine ke bandara dan menjemput mereka. Entah kenapa kedua orang tuanya dengan mudah menerima Shine, ibunya bahkan lebih menyayangi gadis menyebalkan ini daripada dirinya. Meski sejujurnya dalam hati kecilnya, Evan merasa lega dan ia berusaha keras untuk menapik perasaan itu.


Saat Evan menemukan tempat parkir kemudian memarkirkan mobilnya dan hendak keluar, ia melihat Shine terlelap di sebelahnya. Wajah cantik itu terlihat sangat kelelahan. Apa ia berpikir sekeras itu sampai dalam tidurnya pun dahinya membentuk segaris, membuat Evanndo mengangkat tangannya hendak menyentuh wajah Shine. Tapi belum sampai tangannya, getaran hape membuat Evan kembali pada kesadarannya.


"hallo mah, Evan di tempat parkir." jawab Evan dengan suara pelan karna tak ingin Shine terbangun.


"yasudah tunggu didepan pintu keluar saja, Evan kesana langsung. Shine tertidur, mah." beritahu Evan saat mamanya menanyakan calon mantu kesayangan. Lihat kan?! hanya Shine yang ditanyai.


"hallo..sayaang." sapa mama Vena saat Evanndo menurunkan kaca mobilnya. Suaranya langsung memelan melihat Shine masih tidur lelap dengan jaket Evan membungkus badan mungilnya membuat senyum bahagia terbit diwajah sang ibu.


"mamah tuh ya, dibilangin juga." gerutu Evan saat kedua orang tuanya memasuki mobil kemudian mereka melaju meninggalkan bandara. papa Raka tersenyum geli melihat tingkah istri dan anaknya. Istri kesayangannya itu bahkan dengan iseng memotret dirinya bersama Shine membuat Evan melotot dengan garang. Ia sebenarnya yakin anak semata wayangnya menyukai Shine, hanya saja gengsinya yang setinggi langit itu membuatnya menutupi perasaannya dan karna cerita yang ia dengar sepotong-sepotong itu membuat Evan salah paham pada gadis cantik calon menantunya itu. Biarlah dulu, asal Evan tidak menyakiti Shine lebih dari ini, Papa Raka akan tetap diam. Anak nakalnya ini harus belajar tentang hidup, tentang menghargai orang lain terutama orang terdekatnya, dan tentang pertanggung jawaban dari setiap keputusan dan tindakannya.


"mamah sayang banget loh pah sama Shine. Rasanya kayak mamah punya anak gadis." aku mama Vena pada suaminya. Wajahnya menjelaskan betapa gemasnya ia pada Shine.

__ADS_1


"Evan nggak mau berbagi Shine sama mamah, loh mah. Jadi jangan coba-coba memonopoli istri Evan." peringat Evan pada sang mama.


"calon istri. Kamu harus nikahin dulu baru ngaku istri." balas mama Vena kesal. Anaknya ini memang menyebalkan.


"jangan berantem. nanti kalau Shine dengar, dia pasti nggak nyaman mah. Dan kamu Evan, besok papah temani kamu bertemu dengan ayah Shine. bulan depan kalian harus sudah menikah." ucap Papa Raka tegas dan mendapat anggukan patuh dari istri dan anaknya.


***


Shine kaget dan langsung terbangun dari tidurnya. sudah berapa lama ia tertidur? Kapan ia pindah ke kamar? Seingatnya terakhir kali ia sedang didalam mobil bersama Evan dan tertidur karna kelelahan berpikir. Ia menoleh ke sudut kamar dan menemukan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. sudah sangat lama ternyata. Ia kemudian turun dari ranjang nyaman itu kemudin masuk ke kamar mandi.


"Sunshine, kau didalam?" panggil Evan mengagetkan.


"yaa." jawab Shine malas. Entah kenapa Evan seperti senang sekali mengganggunya setiap kali ia mandi.


"cepat keluar! Kau tidak perlu mandi, ini sudah malam." perintah Evan seenaknya. Bahkan mandi pun Shine merasa tidak bebas sekarang.


"Sunshine!! Aku benar-benar akan dobrak pintunya." suara gedoran di pintu itu terdengar semakin keras membuat Shine meraih bathrobe dan ia lilitkan ditubuhnya. Evan benar-benar sudah mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu jika saja ia tidak mendengar suara kunci pintu terbuka.


"apa yang kau lakukan hah? Sengaja memancing emosiku?" bentak Evan sambil masuk ke kamar mandi membuat Shine kaget sehingga ia terdorong keluar dan pintu yang di banting Evan mengenai keningnya. Shine meringis karna rasanya sangat sakit. Ia mengelus keningnya dengan mata berkaca-kaca. Shine merutuki dirinya yang sempat terlena dengan sikap lembut Evan. Sungguh tidak mungkin pangeran kejam itu berubah begitu cepat. Sudah jelas lelaki itu hanya mencari aman agar orang tuanya percaya padanya. Shine kemudian mengganti pakaian sambil menahan isakannya. sejujurnya tadi ia merasa lapar makanya terbangun, tapi mengingat bahwa ia belum mandi seharian, ia memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu. Namun belum juga selesai ia mandi, iblis menyebalkan itu malah mengganggu ketenangan yang baru ia rasakan. Alhasil rasa laparnya terganti oleh rasa nyilu di keningnya. Shine duduk termenung menghadap kaca dimeja riasnya. Ia tak ingin orang lain mengasihani dirinya saat melihat memar di keningnya itu. Shine berusaha menutupinya menggunakan fondation. dengan lembut ia mengoleskan fondation itu hingga tiba-tiba matanya bertemu dengan tatapan milik Evanndo yang barusan keluar dari kamar mandi. Ada apa dengan tatapan itu? Tidak mungkin kan ia menyesal? Yaa. tidak mungkin. Pikir Shine.


Wangi Khas cowok menguar saat Evan melangkah ke arah Shine. Dengan setelan baju tidur yang menempel di tubuhnya membuat Evan terlihat sangat tampan. Jika saja Evanndo tidak kejam, maka dia adalah jelmaan pangeran paling sempurna yang pernah Shine temui.


Wajahnya sangat tampan, dengan perpaduan mata hitam pekat yang membuatnya terlihat bak pangeran pemberani, hidung mancungnya, bibir tipis yang terlihat memiliki warna pink alami karna Evanndo memang tidak merokok, dan alisnya yang tebal mempertegas semua kesempurnaan porsi di wajahnya, bentuk tubuhnya juga terjaga dengan baik, dia benar-benar seperti pangeran sampai membuat Shine hampir terlena jika saja tidak teringat dengan sikap buruk lelaki itu.


"kenapa tidak langsung diolesi salep ini?" ucap Evan. Ditangannya ada salep yang ia ambil dari laci bawah dan mulai mengoleskan salep itu perlahan, rasanya cukup nyaman karna salep itu memberi rasa dingin dan dari tulisannya itu salep anti memar. Shine masih memilih diam saat Evan dengan telaten membersihkan tangannya dari sisa fondation. ia merasa bingung dengan perubahan sikap Evan yang seolah sengaja mengobrak abrikkan pertahanannya.

__ADS_1


"apa besok kita harus menambah jadwal therapi mu? Sepertinya pita suaramu juga butuh ditherapi." ucap Evan dengan nada bercanda. Ia berusaha mencairkan suasana.


"sudah selesai. Ayok keluar, mamah tidak mau makan malam karna menunggu menantu kesayangannya." ucap Evan lagi. Sungguh Shine membuatnya seolah berbicara dengan dirinya sendiri karna tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut gadis itu.


"heei, kenapa malah ditimpa lagi dengan salep jelek itu." seru Evan saat melihat Shine hendak mengoleskan fondation kembali.


"papa Raka dan mama Vena akan curiga dengan luka memar ini." jawab Shine santai.


"tidak perlu ditutupi Sunshine. Aku menyesal. Maafkan aku." lirih Evan. Shine hanya diam dan melanjutkan kegiatannya. Ia tidak cukup punya muka untuk bertemu dengan orang tua Evan dengan memar di keningnya yang semakin terlihat jelas. Saat dirasa cukup, Shine kemudian keluar kamar meninggalkan Evan yang mematung dengan kedua tangannya mengepal kencang.


"hallo mantu mama, cantik banget loh, padahal sudah malam begini." sambut Mama Vena saat melihat Shine. Ia langsung membawa Shine menuju meja makan.


"maaf ya mah, Shine kebablasan tidurnya. Lain kali mamah nggak boleh menunda makan karna Shine, yaa." sesal Shine sambil menundukkan kepalanya. Ia ingin menangis karna diperlakukan begitu istimewa oleh calon mertuanya. apakah disebut calon mertua kontrak juga jika pernikahan dengan anaknya adalah pernikahan kontrak?


"tidak masalah Shine, mamah sama papah juga kan habis istirahat. Makanya sekarang nungguin kamu makan malam nya." jelas mama Vena sambil tersenyum senang. bagaimana ibu sebaik dan selembut ini bisa melahirkan lelaki kejam seperti Evan?


"mamah kangen banget loh." sambungnya lagi sambil menarik Shine dalam pelukan hangatnya.


"papah juga kangen loh, Shine." kekeh Papa Raka yang menyaksikan kebahagiaan istri dan calon memantunya.


"muka kamu kenapa sembab gini?" tanya nya lagi saat meneliti wajah Shine membuat gadis mungil itu sedikit salah tingkah.


"mungkin karna kelamaan tidur, pah." jawab Shine setelah berhasil menguasai rasa groginya.


"yasudah kita makan. Evan mana,sayang?" tanya mama Vena sambil mengisi piring papa Raka dengan menu makanan yang tersedia.

__ADS_1


"eeh? Tadi lagi pake baju, mah. Sebentar lagi pasti nyusul." jawab Shine dan setelah itu Evan benar-benar muncul. Makan malam bersama itu penuh dengan celotehan mama Vena. Beliau tak hentinya menceritakan banyak hal pada Shine bahkan sudah membahas rencananya yang akan sesering mungkin meminta Shine menemaninya pergi arisan bersama para kolega-koleganya. Sudah di pastikan tujuannya adalah memamerkan menantu cantiknya itu. Setidaknya seperti itulah perkiraan pikiran papa Raka. Evan juga kembali bersikap hangat pada Shine karna memang seperti itulah ia jika didepan orang tuanya.


__ADS_2