Aku Dan Pernikahan Kontrak

Aku Dan Pernikahan Kontrak
Tawaran perjanjian


__ADS_3

"selamat sore, Shine Aurora. Bagaimana kondisi mu?" sapa Evanndo pada Shine. Gadis itu tiba-tiba kehilangan kata-kata meski ekspresi wajahnya terlihat datar. "kalau begitu saya pamit tuan. Apa ada yang anda inginkan sebelum saya pulang?" tanya Malik membuat Shine akhirnya tersadar. Malik memang sengaja memancing reaksi Shina karna khawatir bos nya akan mengamuk jika sapaannya tidak di balas. "tidak. Terima kasih, Malik. Kau boleh pulang." balas Evanndo tapi matanya terkunci pada sepasang bola mata yang sedang membalas tatapannya tanpa rasa takut. Hal yang cukup menarik baginya.


"apa saraf lehermu ikut patah?" sindirnya kemudian karna Shine masih bungkam meski Malik sudah keluar dari ruangan itu.


"kenapa anda harus merepotkan diri dengan menjaga saya? Pulanglah. Saya lebih suka sendiri." balas Shine mengagetkan Evan. Gadis ini memang berbeda. Pantas saja keluarganya membuangnya, pasti karna sikap keras kepalanya ini pikir Evan. "kau tak bisa melakukan apapun tapi berlagak bisa tanpa orang lain? Apa begitu caramu berterima kasih pada orang yang sudah menolongmu?" sarkas nya lagi. Tapi Shine lebih memilih diam kemudian mengangkat sebelah tangannya dan ia timpakan pada matanya.


"buka matamu Shine Aurora. Aku tau kau tidak tidur." ucap Evanndo dengan nada penekanan membuat Shine semakin memejamkan matanya. Ia benci sikap memerintah seseorang. Siapapun itu.


"buka tanganmu, Shine! tatap lawan bicaramu saat ia bicara." tambahnya karna Shine malah semakin mendiamkan nya.


"aku akan mengganti semua kerugian kantor atas biaya rumah sakit ini. Dan terima kasih banyak pak." jawab Shine dengan nada malas. Shine tidak suka berurusan dengan orang lain. Ia jug merasa terganggu dengan tatapan Evanndo yang seolah sendang menghakiminya.


"aku tidak butuh uangmu. Dan jangan kau pikir aku tidak tau kalau kau sedang kesulitan keuangan setelah membeli unit apartemenmu itu." Shine sontak menolehkan kepalanya. Bagaimana bisa seorang bos besar tau permasalah babu seperti dirinya. Perasaannya mulai tak nyaman dan ia semakin ingin ke kamar mandi saat melihat tatapan tajam lelaki itu. Ia berusaha bangkit untuk mencoba pergi ke kamar mandi dan pergerakannya membuat Evan dengan reflek membantunya. "kau mau apa? Jangan bergerak atau tangan mu yang sebelah itu akan berdarah." sergahnya dengan nada yang sedikit melembut.


"aku ingin ke kamar mandi." jawab Shine masih sambil mencoba menurunkan kedua kakinya dari ranjang tempat tidurnya.


"bisa tolong panggilkan perawat saja? Karna tidak mungkin bapak membantu saya sampai didalam kan." sambung Shine dengan suara seperti bisikan di akhir kalimatnya. Ia bahkan belum pernah berada dalam jarak sedekat itu dengan laki-laki. Itu membuatnya sedikit tidak nyaman dan membayangkan bos nya ini harus membantunya, menimbulkan rasa aneh di dada Shine.


"kau malu, Sunshine?" goda Evan dengan seringai yang menyebalkan di mata Shine. Dan lagi, panggilan nya barusan. Tolong, siapapun, darimana pria menyebalkan ini belajar memanggilnya dengan panggilan yang harusnya hanya seseorang yang berharga bagi Shine yang tau panggilan itu. Tawa Evanndo menggema setelah melihat Shine mendengus kesal dan setelah itu seorang perawat datang.


"aku punya tawaran terbaik untukmu. Tidak. ini bukan tawaran karna kau harus mau." ucap Evan tiba-tiba setelah ia selesai membantu Shine makan. Tadi saat Shine minta ke kamar mandi, Evan bahkan langsung memerintahkan siperawat untuk memandikannya sekalian. Shine belum mandi selama dua hari pasca kecelakaan dan dengan gaya nya yang menyebalkan Evanndo mengatakan aroma Shine sangat mengaggunya.


"jawab aku Sunshine! Apa mulut mu juga kehilangan fungsi?" cercahnya dengan nada kesal. Setelah berapa jam kebersamaan mereka Shine menyadari bahwa bos menyebalkan nya itu sangat tidak suka di diamkan. "apa jawabanku masih ada gunanya? Dan tolong berhenti memanggilku sunshine. Aku bukan Sunshine mu." jawab Shine dengan nada tenang. percuma mendebat pria di hadapannya ini.


"dasar gadis menyebalkan. Pantas saja tidak ada yang mau hidup denganmu." gerutu Evan dengan suara pelan tapi masih bisa Shine dengar dan itu cukup menimbulkan rasa perih dihati Shine.


"tidak ada yang menarik dari hidup saya, tidak akan ada keuntungan apapun yang bapak dapatkan jadi berhentilah. Saya tidak akan lari, percayalah. Saya akan bekerja keras untuk membayar semua tagihan ini." ucap Shine. Sebenarnya ia cukup penasaran apa sebenarnya tujuan bos besar nya itu sampai rela membuang waktu berharganya hanya untuk wanita seperti dirinya tapi shine cukup tau diri untuk bertanya langsung.


"aku memang tidak mencari keuntungan darimu tapi setidaknya aku mendapatkan yang aku perjuangkan selama ini dengan perjanjian yang aku ajukan padamu. Dan akan kupastikan kau langsung menyetujuinya." sombongnya.

__ADS_1


"tawaran ku tidak sulit shine, kau hanya harus bekerja di perusahaan dan sebelum itu, kita buat orang-orang mengenalmu sebagai nyonya Evanndo Alfalendra Gaster." sambung Evan membuat shine mengerutkan dahinya.


"apa kau pikir kita sedang hidup di dunia novel, tuan Evan yang terhormat?" sarkas Shine setelah mencerna kalimat Evan barusan.


"aku tidak bilang begitu. Aku hanya memintamu menjadi istriku. Apanya yang terlihat seperti didalam novel?" jawabnya enteng.


"kau memintaku menjadi istrimu seolah sedang menawariku eskrim vanila." gerutu Shine


"aah, jadi kau ingin aku melamarmu dengan dinner romantis dan bunga yang indah?" goda Evan dan jangan lupakan seringai yang membuat wajahnya semakin terlihat menyebalkan itu.


"maksudku, kita bahkan baru bertemu hari ini." jawab Shine pongah.


"lalu? Apa masalahnya?" "oh hey, aku sudah bilang kan kau tidak bisa menolak lalu kenapa seolah kau sedang berdiskusi denganku?" sambung Evan setelah sadar.


"sebenarnya apa tujuan mu?" tanya Shine akhirnya.


"tidak ada. Aku hanya membantumu lepas dari keluargamu. Memangnya kau tidak mau?" ucap Evan asal bicara.


"pembicaraan selesai. Besok setelah kau di ijinkan pulang, kau ikut bersamaku. Good night, my Sunshine." potong Evan dengan seringai kemenangan nya saat melihat gelagat Shine akan mengajukan protes.


***


Ternyata ikut bersamanya yang Evanndo maksudkan adalah Shine ikut pulang kerumah nya. Setelah berbagai cara Shine lakukan untuk mencoba melakukan penawaran dengannya pada akhirnya, Evan tetaplah seorang Evanndo yang akan selalu memaksakan kehendaknya.


"kenapa aku harus ikut tinggal bersamamu padahal kita belum menikah. Kau bahkan tidak melamarku dengan dinner yang romantis." sindir Shine membuat Evan terkekeh. Ini pertama kalinya Shine memulai percakapan mereka.


"tidak ada yang berani menolak perintahku shine, apalagi kau." sombongnya memancing emosi Shine Aurora.


"dasar tukang perintah menyebalkan." gumam Shine pelan sekali.

__ADS_1


"aku mendengarnya Sunshine. Kau mau ku hukum karna berani mengatai calon suamimu sendiri?" ancam Evanndo membuat Shine langsung terdiam.


Mereka tiba disebuah rumah dengan pekarangan yang luas. Ada taman bunga di samping garasi mobil disebelah kirinya dengan pohon rindang di pojok dekat dinding pagar yang juga menjulang tinggi seolah menunjukkan bahwa sipemilik rumah harus dalam penjagaan yang ketat. Belum selesai Shine mencerna semua suasana baru itu, suara tegas Evan tiba-tiba memecah keheningan.


"bersikap baiklah, maka kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Ibuku mungkin sedikit sulit didekati tapi tidak susah jika kau tau cara mengambil hatinya." jelas Evan sambil pandangannya tertuju pada sepasang manusia yang berdiri didepan pintu yang terlihat memang sedang menyambut kehadiran mereka. Mereka berdua lalu keluar dari mobil disambut tatapan dari kedua orang tua Evan yang terlihat langsung tertarik pada Shine.


"padahal mamah mau ikut jemput loh Shine, tapi anak nakal ini melarang. Dasar pelit." adu mama Evan sambil menuntun Shine masuk setelah sebelumnya memeluk shine hangat.


"kamu bingung yah karna kita langsung tau namamu padahal kita baru ketemu?" tanya papa Evan yang juga ikut menuntun Shine duduk di kursi ruang tamu.


"Evan titip Shine yah mah, pah, Evan belum mandi karna lupa bawa baju ganti." ucap Evan setelah terkekeh melihat antusias kedua orang taunya menyambut Shine. Ia pikir mamanya yang pemilih itu akan membuat sedikit drama pertunjukan.


"tanganmu apa separah ini sampai perban nya tebal sekali?" tanya papa Evan setelah menjawab ucapan anaknya.


"iya loh sayang. Bagaimana kamu bisa kecelakaan sampai separah ini? Apa anak nakal mamah kurang memperhatikan kamu?" tanya mamah Evan


"Shine juga tidak ingat bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi tante,om. Tau-tau sudah dirumah sakit." jawab Shine tenang.


"anak papah tuh yaa, bisa-bisanya calon istrinya kecelakaan parah begini tapi tidak mengatakan apapun pada kita." omel mama Evan yang berujung mengomel juga pada suaminya. Tunggu dulu. Calon istri? Apa Evan sudah merencanakan semuanya dengan matang? Bahkan mamanya sudah menyebut Shine sebagai calon istri anaknya padahal Shine sendiri baru beetemu dengannya dan ia langsung mengancam dengan perjanjian pernikahan kontrak ini. Benar-benar lelaki menyebalkan.


"Evan cepatlah, bukannya Shine harus segera minum obatnya? Kenapa kamu lambat sekali." panggil papa Evan setelah berapa menit anaknya belum juga keluar dari kamarnya.


"makan dulu aja, kenapasih pah?" Protes Evan sedikit tidak ramah


"Shine susah gerak loh, Van, gimana cara dia makan coba?" cecar mama Evan membuatnya melirik Shine yang sedang berusaha menyuapi dirinya sendiri.


"dirumah sakit padahal masih di infus loh tangannya mah, tapi nggak mau Evan bantu. Calon menantu mamah keras kepalanya luar biasa." adunya seenaknya. Bisa-bisanya dia mengadukan hal seperti itu pada orang tuanya. Terlebih seringainya yang menyebalkan itu membuat Shine jengkel sampai di tahap ingin mengutuknya.


"apa kamu sungkan, Shine?" tanya papa Evan baik sekali. Kedua orang tua Evan sangat baik dan ramah. Jika saja wajah Evan tidak memiliki perpaduan dari antara keduanya pasti itu membuat Shine berpikir apa mungkin Evan bukan anak kandung mereka karna sifatnya sangat berbeda.

__ADS_1


"bagaimana lagi om, Evan selalu menyalahkan kenapa aku sampai kecelakaan. Dia terus mengomel sampai saya takut meminta bantuannya." adu Shine bersandiwara. Jangan lupakan ia adalah seorang penulis novel. Sudah pasti ia lihai mengarang. Salahkan Evan yang memancing kekesalannya.


"jadi calon istriku tidak suka diomeli? Mau di bujuk dengan kasih sayang, begitu, my sunshine?" ucapnya sambil tersenyum mengejek. Dan dengan lancangnya ia mengecup kening shine tanpa permisi ditambah dengan bisikan ancamannya itu "kau benar-benar ingin ku hukum, shine, kau berani mengatai calon suamimu." seringainya.


__ADS_2