Aku Dan Pernikahan Kontrak

Aku Dan Pernikahan Kontrak
Tak asing


__ADS_3

Shine masih merenungi semua sikap Evan yang terkadang sangat manis tetapi bisa menjadi sangat menakutkan dalam sekejap. Setelah beberapa hari yang lalu papa Raka bercerita bahwa mereka mendatangi kediaman ayah nya, Shine merasa Evan menjadi sedikit pendiam dan tidak banyak perintah seperti biasanya, bahkan terkesan menghindari Shine.


"makanlah. Setelah itu minum obatmu." perintahnya seperti biasa kemudian berlalu tanpa mengucapkan kata apapun lagi. orang tuanya memang sedang pergi keluar kota karna itu Evan jd sering mengantarkan makanan ke kamar sebelum dia berangkat kerja.


Shine terus berpikir hingga tidak menyadari Evan masuk kembali bahkan sedang memandangnya dengan tatapan garang. "apa tangan mu patah? atau kupatahkan saja sekalian?" ucapnya membuat Shine menoleh dengan reflek. Entah sudah berapa banyak kata ancaman yang Evan ucapkan sehingga Shine dibuat kebal. Sejujurnya ia juga takut karna tidak jarang Evan akan benar-benar berbuat kasar padanya.


"aku bicara padamu Shine! Apa kau juga ingin aku mematahkan pita suaramu?" ancamnya lagi membuat Shine menundukkan kepalanya dengan telapak tangan yang saling meremas.


"Evan, sejujurnya kenapa kau memaksa ku masuk dalam hidupmu? Aku tidak punya apapun yang menguntungkan mu." cicit Shine berusaha mengutarakan isi kepalanya.


"aku melakukan apa yang ingin ku lakukan. Dan aku memang tidak mencari keuntungan dari wanita menyusahkan sepertimu." ucap Evan kejam setelah sejenak ia sempat terdiam mendegar pertanyaan Shine. Jika saja Shine tidak terus menundukkan kepalanya, ia pasti menyadari perubahan pada raut wajah Evan dan pria tampan itu mensyukurinya kali ini, karna dengan sekuat tenaga ia mencoba mengontrol emosinya.


"sebenarnya apa kesalahan ku?" beo Shine karna memang ia tidak merasa membuat kesalahan pada siapapun. Sekuat apapun ia mengingat, Shine bisa pastikan ia bahkan belum pernah bertemu Evan sebelumnya.


"sudahlah jangan banyak tanya. cepat habiskan makanan mu dan istirahat. Nanti malam kau harus pergi bersamaku." titahnya sebelum keluar lagi. Dengan enggan Shine mencoba menghabiskan makanannya karna ia yakin Evan akan mengamuk jika sekali lagi lelaki itu masuk dan mendapati dirinya belum juga makan.

__ADS_1


Hingga menjelang sore hari datang serombongan orang yang bisa Shine tebak mereka adalah petugas salon kecantikan yang tempo hari pernah mendatangi mama Vena. Saat itu mama Vena berniat mengajaknya pergi ke suatu acara pertemuan wanita-wanita sosialita tapi dengan kejamnya Evan tidak mengizinkan bahkan sampai mengancam sang mama jika tetap memaksa maka dia akan membawa Shine pindah ke apartemen miliknya.


"hallo Sunshine, namaku Delano. Kau percaya pada seleraku bukan? Atau katakan bagaimana seleramu, atau bahkan kau boleh memproresku jika tidak sesuai bagimu." ucap lelaki bertulang lunak yang Shine rasa cukup ramah itu.


"tolong panggil aku Shine saja. Senang bisa mengenalmu, Delano. Dan aku percaya pada kemampuan mu jadi aku akan setuju dengan apa yang kau siapkan untukku. Lagipula kau tidak mungkin membuatku terlihat buruk karna sebelum aku, bosmu yang garang itu sudah pasti akan memarahimu." Balas Shine mengundang gelak tawa Delano dan para asistennya.


"sepertinya kita akan mendapat pelanggan vip lagi bo', bahkan nyonya muda Gaster ini pun akan terpikat padaku. Jangan sungkan memanggilku jika kau butuh untuk menjadi cantik, Sunshine." ucap Delano dengan gaya khasnya sembari mengedipkan sebelah mata. Lelaki gemulai ini bahkan sudah menyebutnya dengan predikat Nyonya muda Gaster. jadi sudah jelas tidak akan ada yang tidak tau statusnya setelah ini. Dan lagi, panggilan nya itu terasa sangat menganggu bagi Shine.


Hampir tiga puluh menit dihabiskan Delano dengan memoles wajah Shine dibarengi dengan percakapan paling menyenangkan bagi Shine karna setelah hampir satu bulan ia terjebak bersama Evanndo, ia belum pernah merasa sebebas ini saat berbicara terutama membicarakan sifat buruk sang pangeran tempramental itu. Ternyata Delano adalah sekutu yang tepat karna dia juga gemar mengatai Evan dengan sebutan yang unik. Ia bahkan tidak segan-segan mengumpati Evan saat lelaki itu mendesaknya melalui panggilan telpon.


"Hasil yang sempurna. Keturunan Gaster memang tidak pernah sembarangan memilih pasangan. Pantas saja ketampanan mereka tetap turun temurun." ucap delano bangga saat ia menyelesaikan polesan terakhir di wajah Shine Kemudian menarik Shine bangkit ke arah kaca besar di pintu lemari besar dalam kamar itu.


"itu didukung oleh wajahmu yang memang sudah cantik, Sunshine, kenapa tidak setiap hari saja kau secantik ini. Kujamin pangeran pemarah mu itu akan semakin posesif padamu." tawa Delano yang di Setujui oleh para asistennya.


"berhenti memanggilku seperti itu, Delano. Cukup panggil namaku Shine. Kau merusak mood ku." protes Shine yang memang tidak merasa nyaman saat orang lain menyebutnya dengan panggilan tersebut.

__ADS_1


"hey, pangeran hot mu menyebutkan nama itu padaku saat ia memintaku datang kemari. Aku mana berani menyebut nama selain dari yang dia sebutkan. Jangan buat aku dihukum olehnya. Dia menakutkan kalo sedang marah." bisik Delano di akhir kalimatnya. Dasar lelaki gemulai ini, bisa-bisanya membuat drama seolah dirinya sangat patuh pada Evanndo padahal sudah jelas sebelumnya dengan berani ia mengatai lelaki itu secara langsung. Kemudian asistennya menyerahkan gaun pada Shine dan membantunya mengenakan gaun tersebut.


"ini indah sekali, Delano." puji Shine membuat senyum Delano semakin merekah merasa kerja kerasnya berhasil. "kau memang menakjubkan, nona muda Gaster,pantas saja pangeran pemarah mu tergila-gila." ucapnya sambil memotret Shine berkali-kali kemudian mengirimkannya pada Evanndo dengan bangga.


"kau sungguh jelek sekali Shine. Delano saja tidak berhasil mengubah penampilanmu menjadi menarik." ucap Evan kejam. Shine di buat kaget dengan kehadiran yang tiba-tiba dan dengan langkah tegas pria itu berjalan ke arahnya kemudian memasangkan sepasang anting cantik ditelinga Shine


"sama-sama tuan, aku tau kerjaku selalu memuaskan." sarkas Delano membuat Evan mendelik sebal padanya dan semakin cemberut saat dengan berani pria gemulai itu mengatainya pria arogan dan gengsian.


**


"kita mau kemana?" tanya Shine saat Evan menuntunnya masuk ke dalam mobil.


"kita akan menemui pri tua yang akan membelimu. Apa Delano tidak mengatakannya padamu? Bukankah kalian sudah menjadi sekutu?" balas Evan dengan seringai yang membuat Shine kesal. Ia tau Evan pasti membohonginya.


Mobil mewah yang Evan setir sendiri itu kemudian membawa mereka ke sebuah gedung besar dengan suasana yang tampak ramai oleh para tamu yang penampilannya seperti menghadiri sebuah pesta meriah yang membuat Shine sedikit takut karna ucapan Evan tadi seolah dibenarkan dengan banyaknya orang-orang dengan penampilan mewahnya.

__ADS_1


"ayo masuk dan jangan sampai membuatku malu." ujar Evan dengan tatapan tajam tapi sebelah tangannya menuntun Shine agar Menggandeng lengannya. Hingga tatapan semua orang tertuju ke arah mereka membuat Shine sedikit salah tingkah dan hampir terjatuh jika saja Evan tidak menahannya.


"baru diperingatkan sudah berulah. Apa kau mau ku jual betulan?" ucap Evan dengan nada penekanan membuat Shine merunduk takut. Sejujurnya ia memang tidak begitu terbiasa menggunakan sepatu terlalu tinggi seperti yang Delano berikan padanya ini. hingga seruan mama Vena membuat Shine menoleh pada Evan lalu mencari sumber suara itu. Ia baru sadar ternyata ada beberapa fotonya bersama Evan terpajang jelas di setiap sisi gedung itu dan diatas panggung nya berdiri gagah papa Raka didampingi mama Vena yang tampak sangat anggun. Acara apa sebenarnya ini? Dan darimana datangnya semua foto yang terlihat sangat romantis itu? Shine tidak merasa mereka pernah melakukan pemotretan meski setiap pose dalam foto itu terasa tidak asing bagi Shine.


__ADS_2