
Sepanjang obrolan setelah makan siang tadi, mama vena dan papa Raka terlihat sangat menerima kedatangan shine di keluarga mereka. Padahal Evan pikir mamanya yang pemilih itu akan menyulitkan Shine, tapi nyatanya justru beliau yang paling bersemangat sampai Shine di buat terharu dan sedikit sungkan karna untuk pertama kalinya ia merasakan sikap hangat dari seorang ibu.
"siapa yang memberimu izin untuk termenung disini?" shine mulai terbiasa dengan bahasa sindiran yang selalu Evan gunakan. Jenis sapaan yang menjengkelkan. Tidak bisakah ia menyapa layaknya orang normal? shine memang mencoba menelusuri taman di belakang rumah ini tadi kemudian mendudukkan dirinya di kursi gazebo yang terlihat nyaman karna disampingnya ada pohon rindang yang membuat sejuk. ia merasa bosan duduk seorang diri di depan televisi karna mama Vena pamit menyusul papa Raka ke kamar.
"Evan, boleh kah aku tidak bekerja di perusahaan? aku sedikit kesulitan berbaur dengan dunia luar." jujur Shine melupakan sindiran pedas Evan barusan.
"siapa bilang kau boleh mengajukan syarat. Dan lagi, apa perduliku dengan sikapmu yg aneh itu." balas Evan kejam tanpa perasaan.
"kenapa aku tidak boleh memiliki hak sedikitpun dalam perjanjian ini?" tanya shine lirih.
"karna aku mau, jadi kau tidak boleh protes." ucapnya lagi dengan tatapan menyebalkan yang membuat Shine ingin mencongkel matanya.
"dimana mama dan papa?" tanya Shine mengalihkan topik karna rasanya percuma mendebat manusia sejenis Evanndo ini. Ia memang langsung memanggil kedua orang tua Evan mama dan papa karna keduanya tidak suka di panggil om dan tante.
__ADS_1
"kenapa tiba-tiba mencari mereka? Apa kau ingin mengadu?" tuduh Evan lebih menyebalkan. Shine memutar matanya jenuh. Sungguh bicara dengan Evan benar-benar menguji kesabarannya.
"jangan besar kepala karna kau sekarang menjadi kesayangan mama. Tatap aku jika sedang bicara padamu. Dan jangan berani-beraninya kau memutar matamu seperti itu lagi. Ku congkel biji matamu yang jelek itu." sambung Evan dengan ancaman yang justru terdengar seperti rengekan bocah yang tidak suka dicueki. Sikapnya bahkan sangat manis jika didepan orang tuanya. Kenapa sekarang berubah menjadi seperti singa yang kekurangan mangsa?
"apapun yang kulakuan selalu salah dimata mu. Aku diam pun tetap salah. Jadi apa mau mu?" tanya Shine putus asa tapi tidak begitu di pendengaran Evan sehingga emosinya seketika naik dan dengan gerakan cepat ia mencengkram wajah Shine, menekannya kuat membuat Shine kaget dan meringis karna rasanya sangat nyeri.
"aku baru bersikap baik sedikit kau sudah melunjak dan berani mendebatku? Kau pikir siapa dirimu? Gadis berhutang yang hanya harus patuh pada semua perintahku. Camkan itu di otak nakalmu ini." ucap Evan dengan menyakitkan. kemudian ia melepaskan cengkramannya dengan sedikit kasar sehingga wajah Shine terasa semakin nyeri dan kebas. Mingkin itu akan meninggalkan bekas kemerahan nantinya. Tapi Shine tidak perduli. Tangan kirinya terasa nyeri karna selain mencengkram wajahnya, posisi tubuh Evan tadi sedikit menghimpit tangannya. Air matanya tiba-tiba luruh, membuat Shine berpikir siapa sebenarnya Evanndo Alfalendra, kenapa ia yang harus terjerat dengan laki-kali kasar dan menyebalkan itu. Shine semakin betah duduk di kursi taman itu, merenung sambil mencoba menahan rasa nyeri di wajah dan tangan kirinya yang rasanya seperti lebih sakit dari saat ia terbangun dirumah sakit saat itu. Hingga hari menjelang malam Shine tersadar tapi ia enggan masuk ke dalam rumah asing itu. Shine terlalu malas bertemu dengan Evan yang pergi begitu saja setelah mengasarinya tadi. Shine mencoba berpikir apakah ia pernah membuat kesalahan pada seseorang atau apakah ia pernah bertemu dengan Evan sebelumnya sehingga membuat lelaki itu kesal atau bahkan membuat kerugian besar pada perusahaan. tapi sekuat apapun ia berpikir, tidak ada jawaban yang ia temukan. Selama ini ia terlalu tertutup dengan dunia luar lalu kenapa ia harus terjerat dengan laki-laki arogan itu?
"apa otak mu ini benar-benar bodoh? Shine Aurora si penulis perfect yang selalu di puji para editor tapi begitu bodoh dan ceroboh." ucap Evan membuyarkan lamunan Shine dan sedikit kaget saat Evan melilitkan kain hangat di tubuhnya kemudian menariknya bangkit dan menuntun langkah mereka masuk kedalam rumah besar itu. Shine diam saja, ia sedikit pusing mungkin karna angin malam membuatnya masuk angin. Ia juga bingung dengan sifat Evan yang terkadang baik dan perhatian tapi juga bisa berubah menjadi jahat dan menyebalkan.
"apa menatap makanan itu bisa membuatmu kenyang? Apa kau sengaja membuat dirimu sakit dan merepotkan ku? Atau itu salah satu caramu mengadu pada ibuku?" Tuduh Evan seenaknya. Entah sejak kapan ia datang, tau-tau sudah berdiri dengan wajah angkuhnya di hadapan Shine. Apa laki-laki ini bukan manusia? Sejak tadi ia selalu tiba-tiba muncul. Aah dia memang bukan manusia, dia pasti iblis tampan yang sedang menyamar menjadi pangeran. Lihat kan sifat buruknya.
Shine kemudian mencoba meraih sendok di piring makanannya, ia sedikit meringis saat tangan kirinya tersentuh meja membuat Evan menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, kemudian mengambil alih piring makanan itu dari hadapan Shine.
__ADS_1
"aku tidak suka wajah memprihatinkan mu itu." ucapnya sambil menyodorkan sesendok makanan pada Shine. "apa sekarang wajahku bisa membuatmu kenyang?" sambungnya lagi saat Shine enggan membuka mulut dan malah menatap aneh padanya.
Shine yang terlalu lelah mau tak mau menerima suapan demi suapan makanan yang Evan berikan. Setidaknya ia butuh makan untuk tetap hidup. Kalau ia tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan di kepalanya, setidaknya ia akan mencoba balas dendam pada lelaki arogan ini dengan cara membuatnya miskin mungkin sedikit menarik. Bukankah dia yang memaksa Shine masuk ke dalam hidupnya? Jadi jangan salahkan jika Shine mencoba bersikap sedikit menyebalkan.
Shine masih setia dengan sikap patuh dan bungkamnya. Ia bahkan tidak melakukan perlawanan saat Evan menuntuntunnya ke kamar mandi kemudian memandikannya seperti anak kecil yang belum bisa mandi sendiri. Setelah memandikannya Evan mengangkat tubuh Shine dan mendudukkannya di atas wastafel kamar mandi. kemudian menyalakan hair dryer dan mulai mengeringkan rambut Shine dengan lembut dan sesekali menarik sudut bibirnya saat melihat wajah merona Shine yang tak berani menatapnya sejak ia dengan bebas menyentuh setiap inci tubuh gadis di hadapannya itu. Setelah rambut Shine kering, Evan menarik Shine keluar menuntun Shine duduk di pinggir ranjang kemudian mengganti perban tangan Shine dan mengoleskan salep pereda nyeri, shine menatap sedih tangannya yg memar dan memang belum leluasa ia gerakkan. Shine tiba-tiba kepikiran, kecelakaan seperti apa yang ia alami? Kenapa justru tangannya yang cidera sedangkan bagian tubuh lainnya tidak terdapat luka goresan apapun selain di jidatnya yang juga sedikit membiru beberapa hari setelah ia sadarkan diri di rumah sakit saat itu. Hingga usapan lembut dari tangan Evanndo pada wajahnya membuyarkan lamunan Shine, ternyata Evan juga mengoleskan salep di pipinya dengan gerakan perlahan. Ia sesekali ikut meringis saat Shine mendesis karna wajahnya memang terasa nyeri sekarang. Kenapa ia harus bersikap seperti sedang menyesal padahal sudah jelas ia yang menimbulkan bekas memar itu. Mana mungkin manusia sepertinya menyesal.
"tidurlah, mama dan papa mungkin tidak pulang malam ini." ucap Evan lembut sambil membetulkan letak selimut Shine. ia seolah memiliki kuasa penuh atas tubuh gadis itu. Tanpa sungkan memandikan dan menggantikan pakaiannya seperti sudah biasa melakukannya. ia kemudian keluar meninggalkan Shine yang sudah memejamkan matanya padahal pikiran gadis itu sedang bekerja keras. Shine merasa dirinya tidak ada artinya lagi, karna lelaki asing yang tiba-tiba memaksanya masuk dalam hidupnya benar-benar menunjukkan kuasanya atas diri Shine tanpa bisa ia bantah. Semenyedihkan inikah hidupnya? Saat ia berjuang dengan keras agar lepas dari lelaki tua yang mengaku sebagai ayahnya tapi tidak lebih baik dari seekor induk anjing, sekarang kembali terjebak dengan manusia jelmaan iblis mesum tanpa perasaan. Terlalu banyak berpikir membuat Shine akhirnya terlelap dengan jejak air mata di pipinya membuat Evanndo yang kembali masuk dalam kamar itu menatapnya gamang kemudian tiba-tiba mengetatkan rahangnya. baginya, gadis seperti Shine pantas diperlakukan seperti itu, jadi untuk apa ia menangis dan bersikap seolah ia adalah korban?
"ini belum seberapa, Shine. Gadis nakal sepertimu memang harus di hukum, bukan?" bisik Evan dengan suara tertahan. Posisinya sedang berbaring disamping shine dan menatap intens wajah gadis cantik itu. Evan akui wajah Shine memang cantik. Bahkan jejak merah yang ia timbulkan pun tidak membuat kecantikannya luntur. hidung mininya terlihat mancung, bulu mata lentik tanpa tambahan apapun, pipinya chuby dan bibir tipis yang sangat menggodanya, tapi sayangnya gadis cantik ini membuat kesalahan besar. Lama terdiam menapat wajah damai Shine, Evan kemudian ikut terlelap dengan posisi memeluk erat tubuh Shine yang terasa pas untuknya.
***
"Siapa yang mengajarimu menjadi lelaki pecundang, Evanndo Gaster?" samar-samar Shine mendengar suara gaduh diluar. Itu suara papa Raka, kenapa beliau terdengar sangat marah. Apa Evan dipukuli? Apa dia baik-baik saja?
__ADS_1
Shine kaget karna kekhawatirannya. Kenapa dia harus khawatir pada iblis mesum itu. Harusnya ia berterima kasih pada papa Raka jika Evan setidaknya diberi satu pukulan. saat terbangun dari tidurnya tadi pagi, Shine di buat menjerit karna posisi mereka terbilang intim padahal mereka belum resmi menikah. Tidak cukupkah kemesumannya saat memandikan Shine? Kenapa harus tidur dikamar yang sama dengannya bahkan memeluk shine seerat itu. Apa yang dipikirkan orang tuanya coba. Saat pintu kamar terbuka, Shine dengan reflek berdiri dan menatap sosok lelaki tampan, ralaat, sangat tampan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Lelaki berperawakan bak pangeran yunani yang arogan, pemaksa dan sangat kasar itu mendekatinya dengan perlahan membuat Shine bergerak mundur. Apa lagi yang akan lelaki mesum ini lakukan padanya?