
Shine duduk termenung di kursi taman belakang. Salah satu tempat favoritnya dirumah itu adalah taman bunganya. Bagi oang seperti Shine yang terbiasa hidup sendiri, kemudian tiba-tiba harus tinggal bersama orang asing membuatnya tidak begitu leluasa bergerak. Ditambah sikap pemarah dan pengatur Evanndo membuat Shine semakin serba salah.
Shine merenungkan hidupnya yang seketika di porak-porandakan. Segala hal yang terjadi mengacaukan hidup yang ia perjuangkan dari nol. hidup yang ia pikir akan membaik setelah ia berhasil bebas dari ayahnya yang tidak sekalipun selama hidup Shine, ia bersikap layaknya seorang ayah. Sejak kecil ia hidup tak ubahnya seorang pembantu, ia bahkan sempat meragukan jika dirinya anak kandung dari lelaki tua itu, tapi kenyataannya ia benar-benar anak kandung dari seorang Dirgantara. Seorang pengusaha yang tak kalah sukses meski belum bisa jika dibandingkan dengan kerjaan bisnis Gaster group. Tapi satu kali pun Shine tidak pernah mendengar ayah nya memperkenalkan dirinya sebagai seorang gadis keturunan Dirgantara atau bahkan orang-orang diluran sana tidak tau bahwa ia adalah keturunan Dirgantara. Shine belajar mati-matian demi bisa mendapat beasiswa agar ia bisa terus sekolah. hingga ia lulus kuliah, Shine sengaja membuat emosi ayah nya terpancing agar ia bisa mengajukan persyaratan konyol yang kini membuatnya menghirup udara bebas. cita-cita Shine sebenarnya cukup sederhana. Ia akan membuka toko bunga kecil-kecilan setidaknya hasilnya cukup untuk menghidupi dirinya kelak jika ia tidak lagi mampu bekerja. Sejak Shine kecil, hidupnya memang terlalu sibuk mengurus rumah dan belajar demi bisa bersekolah, hal itu membuatnya tidak suka bicara, tidak suka berteman karna memang tidak ada yang mau berteman dengannya.
Hidup Shine tidak mudah selama ini. Dan Evanndo Alfalendra Gaster malah semakin menyulitkan nya dengan memaksa menikahinya. Bukan Shine tidak menolak dengan keras, ia bahkan sempat mencoba mengakhiri hidupnya didalam kamar mandi apartemennya. Tapi Evan tetaplah seorang Gaster yang dikenal akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan termasuk mengurung Shine dalam dunianya yang menyebalkan.
"Apa menikah denganku begitu menakutkan bagimu? Kenapa kau suka sekali menangis seorang diri?" ucap Evan membuyarkan lamunan Shine tapi gadis itu enggan menatapnya.
"hapus air matamu! Dasar gadis cengeng. Papa akan memukulku jika melihat kau menangis seperti ini. " sambungnya lagi sambil mengambil posisi duduk di samping Shine. Shine mengusap wajahnya kasar kemudian bangkit berdiri hendak pergi dari tempat itu tapi Evan mencekal lengannya membuat Shine mengaduh sakit. Tangan yang Evan tarik adalah bagian tangannya yang cidera. Tapi bukannya melepaskan, Evan justru semakin menekannya membuat Shine menggigit bibirnya keras agar ia tak berteriak karna rasanya sungguh sakit.
"berhenti bersikap semau mu Shine. Aku sungguh tidak ingin perduli kondisimu jika saja bukan karna mamaku begitu menyayangimu. Kau memang harus membayar semua yang telah kau perbuat." ucap Evan dingin. Wajahnya mengisyaratkan dendam yang membara membuat Shine semakin kencang menggigit bibirnya hingga berdarah. Apa maksud ucapan Evan? Apayang telah ia perbuat? Kenapa Evan selalu menyalahkan dirinya yang bahkan tidak tau dimana letak kesalahan itu?
"cepat masuk dan jangan membuat ulah lagi dengan mencari perhatian orang tuaku." perintah Evan sambil berlalu. Shine menangis dalam diam sambil berusaha mengendalikan perasaannya. Evan benar. Ia tak ingin membuat orang tua Evan melihatnya seperti ini.
Setelah dirasa cukup tenang, Shine masuk rumah dan langsung menuju kamarnya. ia kemudian membasuh mukanya, mengganti baju dan berniat merebahkan tubuhnya diatas kasur tapi tertahan karna kemunculan Evan didepan nya. Shine buru-buru minggir dari depan pintu kamar mandi. Ia bahkan reflek mundur saat Evan ingin meraih tangannya. Dengan erat Shine menyembunyikan kedua tangan dibelakang tubuhnya, terlebih tangannya yang tadi Evan buat sakit lagi.
"maafkan aku, kumohon. Aku janji tidak akan menarik perhatian orang tuamu lagi. Aku akan menjaga sikapku." ucap Shine dengan suara lirih. Ia semakin mundur dan menundukkan kepalanya saat melihat Evan bergerak maju ke arahnya. Mungkin papa Raka menyadari kecanggungan Shine tadi saat mama Vena bertanya kenapa Shine mengunakan makeup di malam hari. Karna setelah makan malam mereka, Papa Raka kembali memanggil Evan ke ruang kerjanya. Mungkin itulah sebabnya Evan marah padanya, pikir Shine.
__ADS_1
"apa sakit sekali?" tanya Evan menyentuh bibir Shine dengan jempolnya. Shine tidak bisa bergerak lagi saat Evan menekan tubuhnya di dinding dan mengelus wajanya. "lain kali, jangan melukai dirimu sendiri." sambungnya lagi dengan lembut dan matanya yang tertuju pada bibir tipis nan seksi milik Shine. Bahkan tanpa permisi ia mengecup bibir itu membuat tubuh Shine mematung dan semakin tidak berdaya saat dengan mesumnya Evan malah m*lum4t bibirnya.
"tidak mungkin ini ciuman pertamamu kan?" tanya Evan setelah ia melepaskan Shine karna gadis itu sampai bergetar ketakutan hanya karna ia sedikit menggodanya.
"bernapas, Sunshine! Kenapa air matamu terus mengalir? Apa kau punya banyak stok air mata?" ucap Evan lembut sambil menghapus air mata itu. Tadi niatnya memang hanya ingin menggoda gadis itu tapi justru dia sendiri yang tergoda karna bibir Shine sangat seksi dan terasa lembut seperti susu kental manis saat ia mengecup pelan bibir itu. Shine masih memejamkan matanya dan air mata tak bisa berhenti membasahi pipi chubby nya. Hingga tanpa aba-aba Evan mengangkat tubuh mungil itu dan membaringkannya di kasur empuk yang memang sudah beberapa hari mereka tempati bersama.
"selamat malam calon istriku, selamat tidur. Jadilah gadis yang penurut agar aku tidak perlu membuang energiku untuk menegurmu." ucap Evan lembut tapi justru membuat Shine merinding. Shine diam saja tapi pikirannya kemana-mana. Sebenarnya apa yang Evan inginkan darinya? Kenapa sikapnya sungguh tidak tertebak?
***
"ada keperluan apa sampai tuan Raka sudi bertamu dirumah saya?" sapa seorang pria tampan yang wajahnya hampir sama seperti milik Shine. Mata coklat madu itu adalah yang paling mirip. Untuk sesaat Evan terdiam menahan amarah yang berkecamuk di dadanya.
"hanya ingin berkunjung ke rumah calon besanku. Apa kedatangan kami mengganggu mu?" tanya papa Raka dengan nada sindiran membuat Dirgantara tercengang kaget. kenapa seorang Raka Setyoaji menyebut dirinya calon besan. Ia tidak pernah mendengar anak gadisnya bercerita bahwa ia sedang berkencan dengan anak tunggal dari pemilik Gaster Group itu.
"aah, tidak sama sekali. Seharusnya saya memberi sambutan yang terbaik kalau saja saya tau jika anda akan berkunjung." balasnya dengan senang. Tak di sangka anak kesayangannya bisa mendapatkan seorang tuan muda Gaster group. Kesempatan yang bagus untuk menjalin hubungan baik karna selama ini ia mencari cara agar bisa bekerja sama dengan perusahaan besar itu.
"tidak perlu repot-repot. Kami hanya mampir sebentar sekaligus ingin meminta izin untuk menikahkan anak tunggalku bersama gadis cantik milikmu karna anak nakal ku ini sudah sangat ingin menikahinya." jawab papa Raka dengan sedikit kekehan di ujung kalimatnya.
__ADS_1
"saya tidak tau jika anak saya menjalin hubungan dengan anak anda, tuan. Tapi saya tidak keberatan jika memang mereka saling menyukai." jawab Dirgantara bersemangat.
"aah syukurlah. Karna memang istriku juga sudah sangat menyayangi anakmu. Dialah yang paling bersemangat menyambut calon menantu cantiknya itu." kekeh Papa Raka. Dirgantara cukup tau bahwa seorang Raka yang dikenal tegas dan cukup kejam jika saat bekerja tapi begitu menyayangi istri dan anaknya.
"apa anda tidak keberatan saya menikahi anak anda?" ucap Evan tiba-tiba setelah cukup lama ia mengamati isi ruangan itu. Banyak sekali foto keluarga terpampang disana, bahkan foto seorang gadis cantik dengan kulit putih dan rambut bergelombang tapi tidak satupun Evan melihat foto Shine dipajang di dinding rumah itu. Bukankah ia juga bagian dari Dirgantara? Tapi kenapa seolah tidak ada jejak nya sama sekali dirumah ini? Bahkan wajah lelaki tua didepannya ini memang lebih mirip dengan Shine dibandingkan gadis yang selalu ada dalam setiap momen dalam foto dirumah itu.
"jika memang sudah keputusan kalian dan sudah pasti kalian saling menyukai, saya tidak keberatan, tuan muda." jawab Dirgantara yakin. Dibandingkan ayahnya, Gaster muda ini justru memiliki citra lebih kejam dalam dunia bisnis. Tidak ada yang berani macam-macam dengan nya karna bisa dipastikan nasib orang yang berani menentangnya akan dibuatnya jatuh hingga kedasar.
"bulan depan rencana pernikahan. Kami akan mengabari lagi kapan tepatnya. Dan jika anda berkenan hadir. Silahkan." jawab Evanndo enteng seolah yang di bicarakannya adalah makan malam biasa dan bukan anak gadis milik pria di hadapannya itu yang akan dia nikahi.
"kau jelas harus datang Dirga, anakmu akan menikah dan itu kesempatan terakhirmu mengemban tanggung jawab sebagai seorang ayah sebelum anak muda yang nakal ini mengambil alih tanggung jawab mu." potong Papa Raka sambil menyinggung Evan karna cara bicaranya sungguh tidak sopan. Entah dari siapa dia belajar ketidak sopanan nya itu.
"kalau dia tidak mau datang juga tidak masalah. Aku tidak keberatan toh Shine akan tetap menjadi istriku dengan atau tanpa kehadirannya." jawab Evan ketus. Entah kenapa ia merasa kesal pada lelaki tua itu.
"Shine?" beo Dirgantara. Ia seolah mendengar Evan salah menyebutkan nama. Pikirnya yang akan Evan nikahi adalah Kirana Dirgantara, anak kebanggaan nya.
"yaa, Shine Aurora Dirgantara. Apa anak ku salah menyebutkan nama?" sindir Papa Raka tepat sasaran karna wajah Dirgantara semakin terlihat tegang saat ia dengan sengaja menyebut nama Shine lengkap dengan marganya.
__ADS_1