
“…….”
Ketika dia pingsan, ada saatnya dia sadar sejenak dan menyuruhku untuk tidak pergi.Aku pikir dia sudah lupa, tapi dia mengingatnya dengan jelas.
"Ancia, jangan membuatku gugup."
Blake menangis seperti anak kecil, sambil memegang tanganku dan menatap lurus ke mataku.
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri."
"Yang mulia."
“Itu menyakitkan bagiku setiap kali kamu menjauh dariku. Apa kamu tidak bisa menyadari itu?”
Aku ingat hari ketika Blake memberiku bunga mawar tahun lalu. Pertama kali aku tidur dengan Diana, bukan dia juga, dia jatuh sakit. Blake juga pingsan saat aku pergi ke Istana Tenlarn.
Tapi aku bukan pewaris cahaya. Aku tidak bisa membantunya.
"Ancia, panggil aku Blake."
"Yang mulia."
"Aku bangun karena kamu memanggilku Blake ketika aku sakit."
Tangan Blake melingkari wajahku, dan aku menatap lurus ke arahnya.
Dia tidak hanya kehilangan pipi tembemnya. Dia juga telah tumbuh dewasa ...Aku tiba-tiba menyadari kalau Blake telah tumbuh dewasa dalam tiga tahun.
"Ancia, ayolah."
“… Blake.”
Aku akhirnya memanggil namanya.
***
Aku menatap kosong ke lempengan batu yang kutemukan dari kolam Istana Putra Mahkota.
Philip mengkhianati Dewi Cahaya,dan malah memilih Laontel Bellacian sebagai Permaisurinya. Dewi Cahaya yang marah mengutuk keturunannya.
Namun Diana mengangkat kutukan Blake dengan kekuatan cahaya dari Rumah Bellacian.
Dengan kata lain, ketika Phillip mengkhianati Dewi dan memilih wanita lain, Dewi memberi wanita itu kekuatan untuk menghilangkan kutukan.
Ada yang aneh di sini. Tampaknya ada kebenaran tersembunyi lainnya. Tetapi tidak peduli seberapa banyak aku memikirkannya,aku tidak bisa menemukan jawabannya.
Bagaimanapun,aku harus mengetahui identitas lempengan batu ini berkat Istana Tenlarn.Lempengan batu ini digunakan untuk mencatat sejarah Kekaisaran Zelcan. Semua lempengan batu tampak serupa, begitu pula huruf-huruf yang diukir di atasnya.
Phillip akan menyimpan catatan sejarah bahkan setelah dia memindahkan ibu kota, tetapi pada titik tertentu, semua lempengan batu menghilang, dan hanya sedikit yang tersisa.
Hanya ada beberapa karakter yang masih bisa dikenali di dalamnya. Apa yang dikatakannya? Apa yang terjadi setelah dia memindahkan ibu kota?
Aku membersihkan lempengan-lempengan batu yang sudah usang.
Lagi pula, itu bisa menjadi petunjuk yang ada hubungannya dengan kutukan Blake.
"Yang Mulia, apa kamu di sini?"
Pintu terbuka dan Eunhan masuk.
“Ya,aku sedang melihat batu itu.Aku membaca kembali buku sejarah Zelcan, tetapi tidak ada buku tentang Tancinol atau perbuatan nyata Phillip pada saat itu. Bagaimana dia bisa menipu dunia seperti ini?”
"Apa kamu benar-benar membaca semua buku itu?"
Dia bertanya, melihat buku-buku yang menumpuk di mejaku.
"Ya."
"... Yang Mulia adalah yang terbaik."
__ADS_1
"Aku baru saja memeriksa ulang apa yang aku baca sebelumnya."
Aku buru-buru melambaikan tangan ketika aku dipuji begitu tiba-tiba.
“Aku bisa membaca bahasa kuno hanya karena aku seorang poliglot.”
“Kamu tidak hanya hebat dalam membaca.”
Eunhan tersenyum lembut.
“Hanya ada catatan fakta sejarah sederhana.Tapi kamu hanya melihatnya dan dengan cepat menyimpulkan situasinya.kamu juga memperhatikan kalau Phillip adalah orang yang benar-benar mendirikan lempengan batu yang ada di tengah Istana Tenlarn. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang. Kamu masih sangat muda, jadi itu luar biasa.”
Sebenarnya,aku tidak semuda itu,namun aku menertawakannya.
"Ha ha ha ha. Apa aku bertingkah seperti wanita tua? Aku sering mendengarnya.”
"Oh tidak! Itu bukanlah apa yang aku maksud. Berapapun usiamu,kamu tetap hebat. Hanya saja aku tidak pandai berbicara.Aku minta maaf."
Eunhan segera menundukkan kepalanya.
"Pakaian itu terlihat bagus untukmu."
Dia mengenakan setelan krem yang tidak biasa.
“Yang Mulia memberikannya padaku sebagai hadiah. Aku merasa sedikit canggung memakai ini.”
Dia terus mengutak-atik kancing karena malu.
Aku bisa melihat kalau dia ingin melepasnya dan mengenakan kembali pakaian hitam yang dia biasa pakai.
“Kamu terlihat jauh lebih tampan!”
“B-benarkah?”
"Ya."
Dia tersenyum malu.
Dalam cerita aslinya, Eunhan meninggal tahun ini.
Ketika Tenstheon mencoba untuk mentransfer kutukan Blake ke dirinya sendiri, Eunhan mati-matian mencoba menghentikannya tetapi gagal melakukannya.
Eunhan kemudian pergi ke rumah Duke dengan tubuh berlumuran darah untuk membunuh Richard.
Dikelilingi oleh ksatria yang tak terhitung jumlahnya, dia masih berhasil meninggalkan luka fatal di tubuh Richard.
Tapi sekarang dia telah membuang hidupnya sebagai bayangan dan menunjukkan dirinya.
Masih ada sedikit waktu tersisa sebelum peristiwa dalam novel terjadi,namun aku pikir baik Tenstheon maupun Eunhan tidak akan mengalami kejadian di cerita novel aslinya yang ditetapkan untuk mereka.
Alangkah baiknya jika tragedi dalam cerita aslinya tidak terulang?
"Bolehkah aku bertanya padamu, Eunhan?"
"Tentu."
"Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk menunjukkan dirimu?"
Dia menatap lurus ke arahku dengan senyum lembut.
"Aku memutuskan menunjukkan diri setelah melihatmu."
"Aku?"
“Ya, aku merasa malu pada diriku sendiri ketika melihatmu melakukan yang terbaik untuk Putra Mahkota.”
Eunhan berbicara dengan tenang.
“Aku sudah berusaha untuk tetap bersembunyi.Aku mengatakan kalau aku setia kepada Yang Mulia, tetapi pada akhirnya,aku hanya bisa mengandalkannya. Ketika Yang Mulia membutuhkanku, aku bahkan tidak bisa menggunakan sihirku dengan benar. Jadi aku takut. Tanpa sihir, aku tidak berharga.”
__ADS_1
“Kami tidak menahanmu karena sihirmu. Jangan berpikiran seperti itu.”
“Tidak, aku ingin lebih membantu tuanku. Mulai sekarang, aku akan berdiri di sisinya dan melindunginya. Aku juga akan menjadi pendukung kuatmu dan Putra Mahkota.”
Ada tatapan bangga di matanya. Eunhan yang awalnya murung menghilang dan seorang pria muda yang luar biasa dengan masa depan yang cerah malah berdiri di depanku.
“Aku merasa diyakinkan bahkan sekarang.”
“Tidak, itu belum cukup.”
Itu adalah kerendahan hati yang berlebihan yang datang dari seorang pria dengan kekuatan besar yang telah menjatuhkan semua ksatria Duke Cassil dan menikam Richard dengan fatal.
Eunhan merasa malu, tapi tiba-tiba, matanya berubah galak dan dia menarik lenganku.
“Eunhan…?”
"Yang Mulia, ini berbahaya."
Dia mengeluarkan pedang dan menarikku ke belakangnya. Kemudian, cahaya putih mulai memancar dari tempatku berdiri.
"Apa itu?"
“Aku bisa merasakan kekuatan Naga. Seseorang yang dikirim untuk menyingkirkanku ada di jendela. Yang Mulia, tolong lari.”
Mereka sudah mengirim seorang pembunuh?
Eunhan belum mengumumkan keberadaannya. Dia biasanya tinggal di Istana Putra Mahkota, dan ketika dia pergi ke Istana Kaisar, dia akan menyembunyikan dirinya dan bergerak dengan hati-hati. Kecuali orang-orang Putra Mahkota, tidak banyak orang yang tahu keberadaannya.
“Eunhan, kamu juga dalam bahaya! Ayo pergi bersama."
“Mereka datang untukku. Aku harus mengurusnya.”
Selama percakapan singkat kami, cahaya dengan cepat tumbuh dan menjadi bola besar. Kemudian, cahaya yang kuat menyebar dan memenuhi ruang sebelum menghilang dalam sekejap.
"Yang Mulia, pergi dari sini!"
"Aku menekumanmu!" *
*untuk huruf yang ditebali menunjukkan bahasa yang berbeda.
Sebuah suara yang jelas terdengar pada saat yang sama dengan tangisan mendesak Eunhan.Bahasanya berbeda dari bahasa Kekaisaran.
Cahaya meredup dan seseorang berdiri di sana.
Kulit pucat, rambut putih, dan mata yang bersinar seindah permata, dipadankan dengan pakaian putih bersih. Dia tidak terlihat seperti orang normal, tetapi seorang gadis kecil dengan suasana misterius, seperti seorang putri dalam sebuah cerita.
Siapa itu? Tidak peduli seberapa banyak aku memikirkannya, orang ini tidak pernah muncul di cerita novel aslinya.
"Kakak * Eunhan!"
…..orang ini bukan seorang wanita?!
*TL note : orang tersebut memanggil Eunhan hyung yang biasanya digunakan oleh laki-laki untuk memanggil saudaranya.
Dia berdiri diam di tempat dan memanggil Eunhan dengan senyum cerah yang penuh kegembiraan.
Aku bisa santai. Eunhan juga menurunkan pedangnya, tapi ekspresinya menakutkan.
"Baekhan,kenapa kamu di sini?"
Saat Eunhan bertanya dengan wajah bingung, anak laki-laki bernama Baekhan itu tersenyum lebar.
"Aku senang kamu masih ingat namaku."
Dia mengulurkan tangannya ke depan dan melangkah dengan hati-hati, sambil menatap lurus ke arah Eunhan.
Kemudian, dia terjepit di kaki kursi dan tersandung. Eunhan telah menatap lurus ke arah Baekhan. Dia mendekatinya dengan cepat dan meraihnya ketika dia melihatnya tersandung.
“Oh, aku menunjukkan sisi kikukku.Aku minta maaf." “…ada apa dengan tubuhmu? Apa yang Nona Meng lakukan ini padamu?”
__ADS_1