Aku Starla yang tak kau anggap

Aku Starla yang tak kau anggap
KISAHKU (Starla 1)


__ADS_3

Namaku Gian Starla Putri, umurku 20tahun. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Aditama dan Jeni Arita Rindia.


Aku memiliki kakak bernama Jesi Rinda Aditama dan Kira Arta Aditama. Entah mengapa hanya aku yang tidak memiliki nama belakang ayahku yaitu Aditama. bahkan hanya aku yang memanggilnya Ayah sedangkan saudaraku yang lain memanggil beliau dengan sebutan papi.


bahkan tidak hanya itu, ibu jeni juga tidak memperbolehkan aku memanggilnya mami seperti saudaraku yang lain. mereka seolah memperlakukan aku tidak adil bukan hanya sekedar nama melainkan dikehidupan sehari hari, bahkan ayahku saja hanya bisa diam jika melihat aku diperlakukan tidak baik oleh ibu jeni dan kedua saudaraku. sampai saat ini akupun tidak mengerti alasannya karena apa.


"Kringggggggggg.....ggggggg"


bunyi jam weker di meja nakas tempat tidurku. Aku terbangun tepat jam 03.00 dini hari. Aku sudah terbiasa bangun dijam seperti itu semenjak aku kelas 2 SMP. bahkan di jam jam orang rumah masih bisa menikmati mimpinya tapi aku harus terbangun. Bukan tanpa alasan, tapi karena tugas yang ibu Jeni berikan padaku yang harus aku lakukan. salah satunya membersihkan seluruh rumah dan menyiapkan sarapan untuk seisi rumah.


biasanya dulu pekerjaan ini sedikit ringan aku kerjakan karena masih ada yang membantuku yaitu bik Minah. tapi semenjak suami bik Minah sakit sakitan dengan berat hati bik Minah harus berhenti bekerja dirumah kami dua tahun lalu. padahal dialah yang sudah mengasuh aku dari kecil hingga dewasa. sekarang akulah sendiri yang melakukan pekerjaan rumah tanpa bantuan siapapun.


"wuaiiiiiiiiiiii......." (aku menguap sambil mengucek mata)


"ah ayolah starla jangan malas, masih banyak tugas menantimu." (kataku pada diri sendiri)


Sesegera mungkin ku beranjak dari tempat tidur usang bekas kakakku yang bisa dikatakan sudah tak layak pakai karena satu sisinya besi kasurnya sudah mulai menonjol (springbed). ku ayunkan kakiku menuju kamar mandi didekat dapur karena kamar yang kutempati tak memiliki kamar mandi dalam. kucuci mukaku agar tak ada lagi kantuk yang mengganggu aktifitasku.


jam sudah menujukkan pukul 06.30 kusiapkan sarapan untuk seluruh keluargaku. tiba tiba kudengar teriakan ibu Jeni memanggilku.


"Starlaaaaaaaaaaa......" (teriak ibu Jeni dari kamar atas)


ku berlari menghampiri ibu Jeni


"iya bu? (tanyaku dengan nafas yang tersengal karena menaiki tangga dengan terburu buru)


"kau ini tuli atau pikun, sudah kukatakan padamu untuk selalu memperhatikan seragam sekolah Kira." (bentak ibu Jeni)


"iya nih bu, Starla akhir akhir ini pemalas bu." (sambung Kira memanas manasi ibu Jeni)


"maafkan Starla bu, Starla tidak bermaksud melalaikan tugas Starla tapi akhir akhir ini Starla suka sakit kepala jika tidur terlalu malam." (belaku pada ibu)


"halah alasan tuh mi biar kita kasihan sama dia" (tuduh Kira).

__ADS_1


Tanpa menunggu lama ibu Jeni menghampiriku dan menarik rambutku dengan kencang lalu menghempaskanku dengan kasar hingga aku terjerembab dan dahiku terbentur sudut pintu.


Kuusap dahiku yang mulai meneteskan darah segar, dan ku usap pula airmataku yang tanpa sadar menetes di pipi aku.


"dasar anak tidak tau diuntung, sudah kubesarkan kamu dan kusekolahkan kamu, lalu begini cara kamu memperlakukan adik kamu????" (bentak ibu Jeni)


"maaf bu....." (jawabku dengan nada terbata bata).


yah seperti itulah aku setiap hari mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ibu Jeni dan saudaraku. Bahkan Kira saja tidak sudi memanggilku kakak, dia sering memanggilku dengan nama.


"ada apa ini?" (tanya ayah ketika dia datang karena mendengar keributan)


"Biasa anak papi selalu membuat ulah" (jawab ibu Jeni)


"Starla turunlah kebawah dan obati lukamu lalu makanlah." (perintah ayahku)


"baik yah." tanpa menunggu lama aku bangun dan keluar menuruni tangga menuju kamarku. saat kuturun kulihat ayah menutup pintu kamar. sepertinya mereka sedang membicarakan tentang kejadian tadi.


Sampai di dalam kamar ku ambil kotak P3K , ku obati sendiri luka yang ibu Jeni berikan kepadaku tadi sambil berderai air mata.


"yatuhan sampai kapan penderitaan ini? bahkan akupun sampai saat ini tidak tau kenapa aku dianggap berbeda oleh mereka? kenapa aku tidak diperlakukan sama dengan saudaraku? apakah aku sehina itu? kenapa tuhan setiap kali aku menanyakan demikian ayah selalu menyuruhku patuh kepada ibu, untuk mebalas kebaikan ibu karena sudah membesarkan aku. apakah aku kurang patuh selama ini????" (batinku)


Tak ingin kesedihan melandaku terus menerus. ku usap airmataku dan ku beranjak keluar kamar menuju dapur untuk sarapan. kulihat dari dapur keluargaku sudah berkumpul dimeja makan. mereka makan sambil bercengkrama seolah olah mereka keluarga paling bahagia. tapi tidak denganku, ya.... aku tidak pernah sarapan disatu meja dengan mereka. tempatku adalah dapur. aku terbiasa menikmati sarapanku di dapur seorang diri karena ibu Jeni tidak memperbolehkanku makan disatu meja dengan mereka.


"Starlaaaaaaaa......" (panggil Jesi)


"iya kak???" (tanyaku)


"ambilin tasku dong di atas, buruan aku udah mau telat nih kuliah. dasar lelet." (perintah desi)


"baik kak" (jawabku)


kunaiki tangga dengan berlari untuk mengambil tas kakakku.

__ADS_1


"buruan Starlaaaaaaa...."


"ini kak"


"lama banget sih."


Ku perhatikan kakakku yang keluar pintu utama. kulihat kak Jesi mulai malajukan mobilnya menuju tempatnya kuliah. ya, mobil yang ayah berikan diulang tahunnya bulan lalu. mobil sedan keluaran eropa terbaru. sedangkan aku? ah sudahlah, bahkan ayah saja tidak pernah mengingat hari ulang tahunku. seolah olah aku hilang di rumah ini.


Aku selalu iri terhadap kedua saudaraku. mereka bisa bersekolah, bisa melanjutkan kuliah. sedangkan aku???? aku hanya lulusan SMA, Dan itupun SMA biasa yang aku jadikan tempat belajar sedangkan saudaraku di sekolahkan disekolah internasional. tapi aku selalu berucap sukur karena aku masih bisa bersekolah pada saat itu.


Siang hari tepat pukul 12.00 ayah tak biasa biasanya pulang cepat dari kantornya. paling cepat ayah selalu pulang jam 05.00 sore. kulihat wajah ayah hari ini sangat kusut. ayah duduk di sofa diruangan yang biasa digunakan keluarga berkumpul. biasanya ayah setiap pulang selalu naik kelantai atas dan masuk kekamarnya. tapi sepertinya hari ini ayah sangat telihat berbeeda dari biasanya.


Lalu kuhampiri ayah dan kutawarkan teh hangat


"ayah, Starla buatin teh ya?"


lalu ayah hanya menjawabnya dengan anggukan.


Setelah beberapa saat kubawakan teh hangat untuk ayah dan kuletakkan dimeja depan ayah.


"ini yah, minumlah sepertinya ayah sangat lelah."


lalu aku berbalik hendak meninggalkan ayah, tapi tiba tiba ayah memanggilku.


"Starla, " (panggil ayah)


aku berbalik dan menatap ayah.


"maafkan ayah selama ini karena tidak bisa membelamu dan mebuatmu tak adil." (ucap ayah dengan mata yang menampakkan sorot penyesalan)


aku hanya tersenyum dan berkata


"tak apa yah"

__ADS_1


walaupun diotak ini terlalu banyak pertanyaan yang aku ingin tanyakan kepada ayah, tapi aku urungkan karena tak mau membuat beban ayah semakin berat. kemudian aku berbalik dan kembali kekamar.


...----------------...


__ADS_2