Aku Starla yang tak kau anggap

Aku Starla yang tak kau anggap
RENCANA IBU JENI (Starla 3)


__ADS_3

BYUUUUURRRR....RRR....


aku terbangun dari keterkejutanku dan mengusap wajah dengan terengap engap. kulihat siapa yang ada didepanku, dan ternyata dugaan benar. ya, itu adalah ibu Jeni yang sedang memegang ember kosong yang tadinya berisi air yang sudah dituang kewajahku barusan.


"dasar anak pemalas jam segini kamu enak enakan tidur ya..?? anak tak berguna." (bentak bu Jeni)


aku hanya diam mendengar makian ibu Jeni terhadapku. lalu ibu Jeni berbalik melangkah kearah luar kamarku dan tanpa sengaja tiba tiba aku berdiri dan mulutku berkata


"kenapa bu?? apa karena aku bukan anak ibu??"


ibu Jeni langsung menghentikan langkahnya. sesaat dia diam dan lalu berbalik menatapku.


"oh jadi kamu sudah tahu kebenerannya?? baguslah itu lebih baik agar kamu bisa tau diri siapa kamu sebenarnya dan dimana posisimu dirumah ini. jadi aku harap kamu tidak bersikap layaknya majikan dirumah ini." (jawab ibu Jeni dengan tangan bersedekap dan sorot mata kemarahan)


aku hanya berdiri tak kuasa menahan tetes air mata yang mulai terjatuh berderaian. lalu ibu Jeni berbalik dan melangkah keluar. kemudian aku mengusap mata yang sembab karena sedari pukul 03.00 pagi tadi aku menangis tanpa henti hingga aku tertidur karena rasa lelah akibat menangis dan tanpa sengaja aku terbangun ketika matahari sudah mulai tinggi.


dan jam sudah menunjukkan pukul 07.00 yang harusnya sudah kusiapkan sarapan untuk mereka semua tapi tak kulakukan karena aku ketiduran. itulah mengapa ibu Jeni melempar air kewajahku barusan karena aku melalaikan tugasku dirumah ini. begitulah aku setiap hari akan selalu mendapatkan perlakuan tak baik ketika aku melalaikan tugasku.


kutarik nafasku dalam dalam dan kukeluarkan lewat mulutku. aku mencoba menenangkan hati yang sejak tadi sudah bergemuruh. ku usap air mataku dan ku kalangkahkan kakiku keluar untuk melakukan tugas tugasku. kulihat didalam rumah sudah sepi dari para penghuninya. mungkin saudara saudaraku sudah berangkat sekolah dan kuliah.


kudengar langkah kaki dari atas tangga ternyata itu adalah langkah dari ibu Jeni dan ayah yang sedang berjalan beriringan. sampai dibawah tangga langkah kaki ayah terhenti dikala ia melihatku yang tengah berdiri memandangi ayah dan ibu. kemudian ayah datang menghampiriku yang berdiri di arah pintu dapur yang sedang memandangi beliau. kemudian beliau menatapku dengan sorot mata iba.

__ADS_1


lalu beliau mengangkat tanganya dan membelai kepalaku begitu lembut. akupun ikut terharu dan terbawa suasana karena setelah 20 tahun baru kali ini ayah membelai kepalaku. ingin rasanya ku berhambur kepelukan ayah tapi kulihat ibu Jeni tidak menyukainya. tatapan bu Jeni seolah menyuruhku untuk pergi dari hadapan ayah. karena ibu tidak menyukaiku ketika aku dan ayah dekat. tapi tak ku hiraukan karena aku ingin menikmati sentuhan ayah yang selama ini aku rindukan. aku tidak peduli jika sehabis ini aku mendapat hukuman dari ibu Jeni


ibu : "pi ayo ini udah siang nnti papi ketinggalan pesawat."


tiba tiba ayah menurunkan tangannya dan berbalik ke arah ibu Jeni dan membalas dengan anggukan. kulihat mereka berjalan ke arah pintu utama. ibu Jeni mengantar kepergian ayah keluar karena hari ini ayah akan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri sebulan penuh untuk mendapatkan investor baru demi menyelamatkan perusahaannya. beberapa menit kemudian kudengar mobil ayah sudah berderu menandakan ayah telah berangkat dan berlalu. lalu ku lihat ibu Jeni kembali memasuki rumah. ia menatapku sinis yang sedang melamun.


"heh anak pemalas, cepat kerjakan semua pekerjaan rumah. kamu disini bukan seorang putri , kamu berada disini hanya untuk menjadi babu." (hina ibu Jeni)


sakit, ya benar benar sakit. dulu sebelum aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya rasanya tak sesakit ini. tapi setelah semuanya tanpa sengaja terungkap pagi tadi. sungguh ini seperti belati yang menikam sangat tajam dan dalam. inikah alasan kenapa ibu Jeni sangat membenciku dirumah ini.


"baik bu." (jawabku singkat)


jam telah menujukkan pukul 04.00 sore. dan aku baru selesai menyetrika pakaian seluruh orang rumah. kulihat di ruang keluarga ibu Jeni sibuk menelfon dengan serius. dalam pikiranku mungkin ibu Jeni sedang mengobrol dengan kolega kolega bisnis ayah mengingat perusahaan ayah saat ini mengalami masalah yang cukup serius karena tiba tiba sebagian sahamnya ditarik kembali oleh bebarapa investor.


ibu Jeni memanglah seorang ibu rumah tangga. tapi dia memegang kendali penuh atas perusahaan ayah. ketika ayah berangkat dinas keluar kota ataupun keluar negeri maka ibu jenilah yang menggantikan posisi ayah didalam perusahaan. maka tak heran jika kolega kolega bisnis ayah sangat mengenal baik ibu jeni.


aku kembali kedapur dan melanjutkan untuk menyiapkan bahan yang akan aku masak untuk makan malam ibu dan saudara saudaraku. tiba tiba di pintu dapur ibu Jeni memanggilku. dan kali ini ia tidak membentakku.


"Starla , hari ini tak usah masak. karena hari ini kita akan makan diluar dan kita akan pergi kepesta. jadi kau harus siap siap dan Jesi akan memberikanmu gaun." (ucap ibu Jeni dan berlalu)


aku hanya diam tanpa menjawab apapun dari perkataan ibu Jeni. karena jujur ini pertama kali ibu Jeni mengajakku bersama mereka untuk pergi kepesta. jujur aku sedikit ragu dan curiga mengapa ibu Jeni tiba tiba berkata dengan kalimat nada rendah kepadaku. biasanya teriakan cacian makian dan hinaan yang selalu ia lontarkan kepadaku.

__ADS_1


"ah mungkin ibu sudah mulai bisa menerimaku." (ucapku menepis pikiran negatif di otakku)


setelah selesai mandi aku melangkah memasuki kamarku yang lumayan pengap dan hanya ada lemari plastik dan kipas angin usang. beberapa saat kemudian kak Jesi datang masuk kekamarku lalu dia melempar gaun maroon kearahku dengan wajah tak sukanya seolah olah dia jijik melihat wajahku.


"nih bajumu, kerjanya merepotkan orang lain terus. kalau bukan mami yang menyuruhku tak akan sudi aku masuk ke kamar pengap ini." (ucapnya lalu berlalu)


Aku hanya bisa diam. ya aku sangat takut kepada ibu dan saudara saudaraku. aku adalah orang yang sangat lemah tidak bisa melawan mereka. aku takut mereka mengusirku sedangkan aku sama sekali tidak tau harus pergi kemana andai itu terjadi. Aku memakai baju yang kak jesi berikan tadi. ternyata gaun ini sangat pas dan cocok ditubuhku dengan model roknya yang selutut dan lengan model sabrina. dan kulanjutkan merias tipis tipis wajahku. ya aku tidak memiliki kosmetik yang lengkap yang bisa aku pakai. aku hanya memakai kosmetik seadanya yang aku beli dari uang receh sisa sisa dari uang belanja. karena memang aku jarang mendapat uang saku dari ayah dan ibu Jeni.


kuhampiri cermin retak yang ada dikamarku, kuberdiri didepan cermin itu. kulihat pantulan wajahku dan bentuk tubuhku. aku merasa aku cantik dengan gaun maroon ini. sungguh baru kali ini aku memakai gaun bagus dan baru kali ini juga ibu menginjinkanku ikut ke sebuah pesta.


jam menunjukkan pukul 07.00. aku sudah bersiap siap untuk pergi. kulihat ibu dan kak Jesi menuruni tangga. kami hanya pergi bertiga karena Kira memiliki acara sendiri dengan teman teman sekolahnya mengingat malam ini adalah malam minggu. ibu dan kak jesi duduk di jok depan dengan posisi kak Jesi yang mengemudikan mobilnya. sedangkan aku duduk diposisi jok belakang seorang diri.


didalam perjalanan tak ada satupun yang berbicara. suasana seketika hening. dan aku merasa perasaanku sama sekali tidak nyaman dan berkecamuk seolah olah tuhan sedang memberi tanda padaku bahwa akan terjadi sesuatu hal buruk yang akan menimpaku.


setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit, kemudian ibu menelfon seseorang yang entah siapa akupun juga tidak tahu.


"haloooo.... aku sebentar lagi akan sampai ditempat tujuan." (ucap ibu kepada orang yang ditelfonnya)


aku mengerutkan keningku , begitu banyak pertanyaan yang ada di otakku saat ini. kulihat jalanan yang kita lalui sangat sepi dan gelap. ini bukan jalanan kota yang harusnya kita lalui mengingat kita akan pergi ke sebuah pesta megah. aku mulai sedikit curiga tapi aku tidak berani menanyakannya kepada ibu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2