
“Kak Jin Ho?”
Gadis berambut ungu itu berlari ke arah Jin Ho yang baru saja turun dari mobil. Senyum pun terukir di wajah Jin Ho tatkala mendapati gadis yang telah di pacarinya selama enam bulan terakhir. Ya, gadis tersebut adalah No Hye Mi dan hari ini dia tampak kacau, tidak seceria biasanya.
“Ada apa?” tanya Jin Ho heran.
“Kakak…”
Kalimat Hye Mi terputus dan langsung tertunduk bersama isaknya yang perlahan terdengar jelas.
“Hei, apa yang terjadi?” tanya Jin Ho semakin bingung, “apa ada yang mengganggumu?”
Segera, Hye Mi mengangkat kepala dan memandang Jin Ho sebelum kemudian menggeleng singkat. Melihat wajah kekasihnya basah dipenuhi air mata, Jin Ho pun mengusap kedua pipinya penuh kasih.
“I, Ibuku…”
“Kenapa?” ujar Jin Ho dengan kedua bola mata membesar.
“I, Ibuku mengalami komplikasi jantung dan kami kekurangan biaya sebanyak 10 juta won untuk operasinya. Ta, tapi, angka itu terlalu besar dan A, ayahku tidak mampu mendapatkannya dalam kurun waktu satu hari,” jelas Hye Mi sebelum kembali terisak.
“Baik. Tunggu sebentar.”
Tanpa menunggu lagi, Jin Ho bergegas membuka pintu mobilnya dan hanya beberapa detik selembar kertas cek kini berada di tangan Hye Mi.
“In, ini apa? Aku tidak bisa menerimanya begitu saja,” ujar Hye Mi begitu terkejut dan berniat menyerahkan kembali lembar cek tersebut.
“Sudahlah, ambil saja. Ibumu lebih memerlukan uang ini daripada aku,” kata Jin Ho sembari meraih tangan Hye Mi untuk menggenggam erat lembaran ceknya.
__ADS_1
Tidak ada kata yang bisa Hye Mi ucapkan, air mata kembali membasahi wajahnya dan sesaat ia memeluk erat Jin Ho yang langsung membalas pelukannya.
“Terima kasih, Kak,” ucap Hye Mi sambil melepas pelukannya.
“Sama-sama. Kapan Ibumu akan di operasi?”
“Karena kau, kemungkinan hari ini Ibuku bisa di operasi.”
“Hari ini kelihatannya aku tidak bisa menemanimu, sebab aku harus mengurus laporan untuk sidang pertama besok lusa.”
“Tidak apa-apa,” ujar Hye Mi yang lalu menggeleng cepat, “Ibu juga masih perlu istirahat setelah operasi. Jadi, kau bisa mengunjunginya setelah sidang pertamamu.”
“Baiklah, jangan lupa kabari aku nanti.”
“Iya. Aku pergi dulu, nanti aku hubungi.”
-----------
Dari : No Hye Mi
Tidak apa-apa. Operasinya lancar.
Ibu sedang istirahat. Aku masih di
rumah sakit.
Terima kasih untuk bantuanmu.
__ADS_1
Aku juga menyayangimu.
Senyum terukir di wajah Jin Ho usai membaca pesan balasan dari Hye Mi sebelum memasukkan ponselnya ke saku jas dan melihat jam tangannya.
“Masih pukul 8.00. Aku rasa belum terlalu malam untuk menemui Hye Mi di rumah sakit.”
Segera ia menginjak gas dan keluar dari parkiran kantornya. Ia melaju di jalan raya dengan perasaan riang dan beberapa menit setelahnya, ia memarkir mobil di depan salah satu toko kue. Namun, langkah ringannya sesudah turun dari mobil dan memasuki toko seketika terasa berat tatkala seseorang yang ia kenal juga tengah melangkah
masuk ke toko yang sama.
“No Hye Mi?” bisiknya yang telah berdiri di dekat rak kue paling pojok.
Aliran darah Jin Ho mengalir cepat, napasnya tampak memburu dan kedua matanya terlihat berkaca-kaca tetapi, dia tetap berusaha tenang. Tanpa ingin memikirkan lebih jauh lebih dulu, ia melangkah keluar setelah Hye Mi yang saat itu datang bersama pria tak dikenal naik ke sebuah mobil hitam metalik.
Beberapa menit usai mengikuti mobil tersebut, perasaan Jin Ho pun semakin kacau setelah mereka berhenti di depan salah satu klub malam. Tidak sedikitpun Jin Ho melepaskan pandangannya dari Hye Mi yang telah turun dari mobil dan dirangkul mesra Sang Pria.
Dan tidak perlu waktu lama, Jin Ho ikut melangkah masuk ke dalam klub. Dalam keadaan bising dan penerangan yang minim dengan lampu berkelap-kelip di beberapa sudut bangunan, ia berusaha menerawang setiap dudukan yang dipenuhi lautan manusia.
Sampai di dapati sosok yang ia kenal, ia melangkah perlahan dan bersembunyi di balik orang-orang yang tengah menikmati minuman mereka. Dan dengan jarak dengar yang cukup, perbincangan Hye Mi bersama salah satu teman kampusnya, Jung Soo Mi pun bisa ia dengar sangat jelas.
“Gadis Gila, berani sekali kau menipu Joon Jin Ho.”
“Hahaha... aku tidak menipu, dia saja yang bodoh,” ujar Hye Mi, “cincin ini dibuat terbatas dan aku tidak ingin Si Tukang Pamer, Kim Sae Hee itu mendapatkannya lebih dulu,” tambahnya seraya memamerkan sebuah cincin berlian biru di jari manis kanannya.
“Hmm, lalu apa yang kau katakan pada Jin Ho sampai bisa mendapatkan uang darinya?” tanya Soo Mi sambil tersenyum sinis.
“Aku hanya mengatakan kalau aku perlu uang untuk operasi Ibuku yang mengalami komplikasi jantung sambil berpura-pura menangis. Seperti ini,” kata Hye Mi sembari berpura-pura menangis, “dan tidak aku kira, dia akan percaya begitu saja,” tambahnya yang sudah setengah mabuk.
__ADS_1
Seketika air mata Jin Ho mengalir membasahi kedua pipinya. Ia melangkah pergi dengan menahan seluruh amarah usai melihat Hye Mi mendaratkan ciuman di bibir pria yang menemaninya tanpa rasa ragu.