
Selamat Ulang Tahun, Malaikat Penjagaku yang setia, Joon Jin Ho...
Kau tahu, selama di Busan aku selalu memikirkanmu dan, aku benar-benar minta maaf karena telah membentakmu.
Aku sedih, sebab kau tidak kunjung menghubungiku dan tidak mengira, jika kau serius akan ucapanmu tentang tidak ingin bertemu lagi. Tetapi, aku begitu senang saat mendengar kabar kalau kau sudah bekerja dan menjadi Direktur di sebuah perusahaan Arsitektur ternama di Seoul. Joon Jin Ho, nama yang sangat bodoh. Tapi, entah kenapa ketika aku menyebut nama itu, aku menjadi lebih tenang. Aneh memang namun, itulah yang aku rasakan.
Dari gadis yang selalu ingin berlindung di belakangmu,
Cha In Hyeong
Sunyi, Jin Ho terdiam sembari memutar-mutar ponselnya usai melipat surat dari In Hyeong yang ia dapatkan di dalam kadonya. Ia sunyi cukup lama sampai akhirnya dengan perasaan sedikit ragu memutuskan untuk menekan nomor In Hyeong.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan…
Langsung saja ia mematikan sambungan telepon sesudah mengetahui ponsel In Hyeong tidak aktif dan bergegas mengirim pesan pada Kyoung Hee.
Ke : Kak Kyoung Hee
Kau tahu jika In Hyeong tinggal di
Seoul?
Tidak usah berpikiran macam-macam.
Sejak kapan di sini?
Apa yang dia lakukan?
Dengan cepat Jin Ho menerima balasan pesan dari Kyoung Hee.
Dari : Kak Kyoung Hee
Iya, aku tahu. Dia bekerja
di salah satu klinik Daerah Gang Nam.
Sudah tiga bulan dia meninggalkan
Busan untuk bekerja di sana.
Oya, besok ulang tahunmu. Apa kau
bisa pulang?
__ADS_1
Ke : Kak Kyoung Hee
Besok aku memang berencana pulang
dengan penerbangan pukul 7.00 pagi.
Apa kau tahu alamat In Hyeong?
Dari : Kak Kyoung Hee
Baiklah. Kami tunggu.
In Hyeong tinggal di Jalan Gang Nam,
Apartemen Youngsan no. 7210.
Segera Jin Ho beranjak seraya meraih jaket serta kunci mobilnya dan sesaat kemudian, dia telah melaju di keramaian kota Seoul yang dipenuhi gemerlap lampu malam. Hingga 1 jam lebih 15 menit, dia tiba di gedung Apartemen Youngsan dan langsung berlari masuk ke lift menuju lantai lima usai memarkir mobil.
“Nomor 7210,” bisiknya.
Terdegar ia menghela napas pelan sebelum akhirnya menekan bel di hadapannya. Sontak suaranya mengejutkan Eun Hee yang baru selesai menelepon dan bergegas lari membuka pintu.
“Oh, kau Joon Jin Ho, kan?!” seru Eun Hee ketika pintu terbuka lebar.
“Iya, aku Eun Hee. Oh, silahkan masuk dulu.”
“Tunggu!”
Seketika Eun Hee yang hampir melangkah masuk pun hanya bisa mengerjap dan kembali berbalik menghadap Jin Ho yang tiba-tiba berteriak pelan.
“Maaf, bisa aku bicara denganmu?!”
Dan beberapa menit kemudian, keduanya memutuskan untuk berbincang di sebuah kafe yang tak jauh dari Gedung Youngsan. Segera, Jin Ho menceritakan apa yang terjadi sampai ia bisa mendapatkan kotak kado In Hyeong.
“Iya, kado ini memang untukmu dan aku rasa In Hyeong sangat terkejut melihat kejadian itu sampai dia tanpa sadar menjatuhkannya.”
“Jadi, In Hyeong belum pulang?” tanya Jin Ho.
“Dia tadi sore berangkat ke Busan.”
“Bu, Busan? Dia kembali ke Busan?” ujar Jin Ho tak percaya.
“Iya, dia baru tiba sekitar satu jam yang lalu. Kami mendapat libur musim dingin dan akhir tahun. Besok aku juga akan pulang dan…”
__ADS_1
“Aku pergi dulu. Terima kasih.”
Tanpa peduli, Jin Ho langsung memutus kalimat Eun Hee, lalu beranjak dan pergi meninggalkan gadis manis yang masih kebingungan itu sendiri di dalam kafe. Dan malam itu, ia memutuskan untuk mengendarai mobilnya selama lima jam ke Busan.
-----------
Tiba di depan pintu rumahnya, Jin Ho dengan cepat menekan bel dan seketika seisi rumah rusuh usai Kyoung Hee membuka pintu utama.
“Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa bisa tiba secepat ini?”
“Nanti aku jelaskan,” sahut Jin Ho yang langsung berlari ke kamarnya.
Mendengar suara gaduh di lantai dua, Kyoung Rye pun bangun dan keluar dari kamar dalam keadaan setengah ngantuk.
“Kenapa berisik sekali?” tanya Kyoung Rye kesal.
“Jin Ho datang,” sahut Kyoung Hee santai.
Mendengar ucapan Sang Kakak, seketika rasa kantuk Kyoung Rye lenyap. Kedua bola matanya membesar dan pandangannya langsung tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul 2.00 dini hari.
“Ta, tapi dia bilang, pesawatnya pukul 7.00 pagi baru berangkat dari Seoul,” kata Kyoung Rye tak percaya.
“Ada apa?”
Pertanyaan itu membuat keduanya mengalihkan pandangan ke tangga. Tampak sepasang paruh baya yang menuruni tangga dalam keadaan panik dan mereka tak lain adalah Da Som serta Jin Bae, orangtua mereka.
“Ada orang di kamar Jin Ho?” tanya Jin Bae dengan kening berkerut.
“Aku rasa dia pulang mengendarai mobilnya,” kata Kyoung Hee usai melihat ke halaman depan melalui jendela kaca ruang utama.
Bergegas Da Som serta Jin Bae mendekati anak pertama mereka dan ikut melihat ke halaman bersama Kyoung Rye dengan kedua bola mata membesar.
“Aku pergi dulu,” kata Jin Ho tiba-tiba.
“Ji, Jin Ho?” kata Da Som ketika melihat anak kesayangannya yang sudah berganti pakaian dan bersiap pergi.
“Kau ingin ke mana lagi?” tanya Kyoung Rye heran.
“Setidaknya beristirahatlah dulu, kau menyetir hampir separuh malam dan sekarang ingin pergi lagi,” kata Jin Bae.
“Aku akan istirahat setelah menyelesaikan urusanku. Aku menyayangi kalian,” kata Jin Ho cepat.
Segera ia melangkah dengan perasaan riang tanpa mempedulikan orang-orang rumah yang masih tidak percaya akan kehadirannya. Ia masuk ke mobil setelah melempar tas selempang birunya ke jok belakang sebelum kemudian melaju ke Pantai Haeundae.
__ADS_1