All My Heart

All My Heart
Episode 24


__ADS_3

Sejak kejadian itu, Jin Ho langsung memutus hubungan dengan Hye Mi dan pindah apartemen untuk menghindari kejarannya. Di apartemen barunya, ia mulai kembali memajang foto-foto In Hyeong yang sempat tersimpan selama setahun.


Tanpa mengetahui jika In Hyeong serta Eun Hee telah menetap di Gang Nam selama tiga bulan dan bekerja sebagai Apoteker di salah satu klinik ternama, Jin Ho yang telah memiliki pekerjaan tetap pun memutuskan untuk tinggal di Seoul lebih lama.


“Kau sudah ketemu alamat Jin Ho?” tanya Eun Hee sambil menikmati sarapannya.


Hari itu, tepat satu minggu mereka menempati apartemen hasil kerja keras selama tiga bulan dan In Hyeong yang baru saja keluar dari kamarnya terlihat begitu cantik dengan mini dress bunga juga cardigan pink-nya.


“Sudah. Aku diberitahu Kak Kyoung Hee. Kemarin dapat tempatnya tapi, aku tidak masuk ke dalam.”


“Besok ulang tahun Jin Ho, kan?” tanya Eun Hee.


“Iya, makanya sekarang aku ingin ke sana. Semoga saja dia di rumah.”


“Jadi, kau akan memberinya kejutan hari ini?”


“Iya. Hadiahnya kubawa. Tetapi, mungkin tidak akan aku berikan hari ini.”


Seketika Eun Hee menatap In Hyeong dengan kening berkerut.


“Apa dia sudah menghubungimu?”


“Belum. Tapi, aku yakin dia akan senang melihatku. Aku pergi dulu. Tidak usah menungguku pulang,” teriak In Hyeong seraya menutup pintu rumah.


“Aku tahu.”


-----------


Dengan tatapan kosong, In Hyeong berdiri memandangi salah satu pintu apartemen yang terdapat di gedung Goldie World Apartment bersama sebuah kotak kado berpita biru di tangannya. Sesaat dia memperhatikan sekitar yang begitu sunyi, hanya terdapat lima pintu yang tertutup rapat dan sama sekali tidak ada orang berlalu lalang.


“Kamar 5061,” kata In Hyeong sambil menjetikkan jari, “benar, ini tempatnya,” tambahnya riang.


Dengan hati-hati ia menekan bel dan cukup lama sampai pandangannya teralih pada suara dentingan tanda pintu lift terbuka.


“Aku katakan padamu, kita sudah putus! Pergi dari hadapanku sekarang!”


“Aku tidak akan pergi sampai kau menjelaskan alasanmu!”


Kening In Hyeong berkerut tatkala mendapati sosok berjas rapi tengah bertengkar dengan seorang perempuan berpakaian cukup seksi tampak melangkah kearahnya. Dan In Hyeong semakin tertegun ketika pria tersebut adalah seorang Joon Jin Ho yang dia kenal.


“Aargh!”


“Kakak…”


Teriakan tersebut membuat In Hyeong seketika tersentak, dan menjatuhkan kotak kadonya ketika ia sadari perempuan itu mencium paksa bibir Jin Ho yang langsung mendorong lalu menghapus bekas ciumannya.


“Baik, kau ingin tahu kenapa aku memutuskan hubungan kita? Aku turuti keinginanmu!”


Entah apa yang terjadi namun, air mata In Hyeong kini telah membasahi kedua pipinya.


“In, In Hyeong. Ba, bagaimana kau…”


Spontan In Hyeong menghapus air matanya dan mengerjap cepat sambil berusaha tersenyum riang.


“Ha, hai,” sapa In Hyeong dengan suara serak.

__ADS_1


Sejenak tatap In Hyeong tertuju pada Hye Mi yang telah melempar pandangan sinis padanya, sebelum kemudian ia kembali melihat Jin Ho yang terlihat salah tingkah.


“Aku sudah paham kenapa selama ini kau tidak menghubungiku. Maaf, sudah mengganggumu. Aku permisi,” ucap In Hyeong seraya berlalu pergi.


“In Hyeong, aku bisa jelaska…”


Kalimat serta langkah Jin Ho terhenti tatkala Hye Mi menggenggam erat tangannya, hingga membuat ia sontak menatap dingin wanita di sisinya.


“Kau ingin tahu alasanku?” tanya Jin Ho sembari menghempaskan genggamannya, “kau akan dapatkan sekarang,” tambahnya sembari melangkah masuk ke apartemen.


Dengan perasaan kacau Hye Mi mengikuti langkah Jin Ho dan di saat yang sama, In Hyeong tampak melangkah cepat keluar dari gedung Goldie World Apartment, tanpa menyadari jika kotak kadonya telah tertinggal di depan pintu apartemen Jin Ho.


Dan sekarang di tepi Sungai Han yang begitu indah, In Hyeong terisak seorang diri mengingat Jin Ho yang sedikitpun tidak mengontaknya dalam kurun waktu lama. Namun, disela kesedihannya seseorang tiba-tiba menyodorkan sebuah saputangan tepat di depan wajahnya. Dengan wajah yang basah ia mengerjap cepat sebelum akhirnya mengangkat kepala dan menatap kosong sosok di hadapannya.


“Yong, Yong Hae?”


Kembali In Hyeong mengerjap sembari mengusap air mata dengan kedua tangannya hingga membuat Yong Hae tersenyum karena tingkahnya yang seperti anak TK. Dengan sabar ia berjongkok dan menghapus penuh kasih pipi In Hyeong  dengan jempol kanannya.


“Jin Ho yang membuatmu seperti ini?” tanya Yong Hae lembut.


Segera, In Hyeong menggeleng cepat dan menunduk.


“Bukan.”


Mendengar jawabannya, Yong Hae hanya tersenyum lalu mengusap kepala In Hyeong sesaat sebelum kemudian berdiri dan duduk di sisinya.


“Kau tahu?” ujar Yong Hae tanpa mengalihkan pandangan dan membuat In Hyeong seketika menatapnya, “terkadang kita tidak tahu kapan cinta sejati akan datang dan kapan dia akan pergi.


Begitu juga sahabat,” tambahnya.


“Kau tidak mengerti maksudku?”


“Tidak.”


“Kau, aku dan Yong Hwa tahu bagaimana sifat Jin Ho. Tujuh tahun bersama dan umur kita juga semakin bertambah. Hati, pikiran, perasaan serta sikap kita pun harusnya sudah mulai tertata,” jelas Yong Hae.


“Tapi, apa yang kau lakukan?” tanya In Hyeong mengalihkan.


“Aku baru tiba kemarin lusa, dan rencananya hari ini sebelum pergi ke kantor akan menyapa Jun Su juga Jin Ho karena kami tinggal di gedung yang sama. Tetapi, tadi temanku menelepon jika rapat ditunda dan aku melihatmu keluar dari gedung, makanya kuikuti sampai kemari. Tidak kukira setelah sekian lama aku akan bekerja di salah satu perusahaan musik di sini dan bertemu kalian,” jelas Yong Hae panjang lebar.


Tenang, In Hyeong kembali tertunduk dan mengerutkan keningnya, hingga membuat Yong Hae yang hanya memperhatikan dari sudut matanya pun tersenyum geli. Perlahan ia merapati In Hyeong seraya merentangkan tangan kirinya sebelum kemudian, mendorong kepala In Hyeong untuk bersandar di bahunya dan membuat In Hyeong yang telah tersandar pun menatapnya heran.


“Sudah lama aku tidak melakukan ini padamu,” kata Yong Hae riang dan membuat In Hyeong tersenyum, “merasa lebih baik sekarang?” tambahnya yang kemudian diiringi anggukan In Hyeong, “manusia itu makhluk lemah yang berlagak kuat dengan hati paling rapuh. Mereka selalu perlu tempat untuk bersandar, entah itu pria atau wanita. Kita pun butuh istirahat saat lelah setelah berjalan cukup jauh. Apa aku benar?”


“Selama setahun aku menunggu balasan pesan dan telepon darinya. Melihat dia bersama wanita tadi, entah kenapa hatiku sakit. Bahkan lebih sakit daripada saat aku diputuskan Il Woo secara sepihak. Ini aneh, kan?” ujar In Hyeong lirih.


Senyum terukir di wajah Yong Hae usai mendengar ucapan In Hyeong yang lalu terdiam.


“Apa kau pernah menyukaiku lebih daripada seorang sahabat?” tanya Yong Hae.


“Tidak,” sahut In Hyeong setelah menggeleng sesaat.


“Kakakku bagaimana?”


“Hanya suka karena kagum, kurasa.”

__ADS_1


“Jun Su bagaimana?”


“Sedikitpun tidak berminat.”


“Yon Bin?”


“Hanya mengganggapnya seperti kakak.”


“Joon Jin Ho bagaimana?”


Sontak In Hyeong mengangkat kepala dan menatap dalam Yong Hae yang telah memandangnya dengan senyum penuh arti.


“Kenapa begitu terkejut? Aku hanya mengabsen. Bukankah Joon Jin Ho juga terlihat biasa bagimu sejak dulu,” ujar Yong Hae sembari mengulum senyum.


“Mmm… dulu memang biasa tapi, entah kenapa tadi dia terlihat beda. Setelah menetap di Seoul, dia berubah. Bahkan mendengar suaranya di telepon pun terkadang membuatku merasa aneh,” ujar In Hyeong heran.


“Kau akhirnya jatuh cinta pada Jin Ho setelah sekian lama?” tanya Yong Hae.


“APA?!” teriak In Hyeong tanpa sadar, “ten, tentu saja tidak. Untuk apa aku jatuh cinta pada Anak Nakal sepertinya,” tambahnya salah tingkah.


“Hahahahaha…”


Ledakan tawa Yong Hae spontan membuat kedua bola mata In Hyeong membesar dengan wajah yang semakin memerah.


“Ke, kenapa kau tertawa. Dasar gila. Jangan mengejekku. Aku tidak mungkin suka Jin Ho,” omel In Hyeong.


“Hahaha… kau paling dekat denganku. Tapi, aku yang paling peka diantara para makhluk bodoh yang mengelilingimu, termasuk Jin Ho. Dia bahkan tidak menyadari rasa sukamu sejak kau putus dari pacar terakhirmu, hahaha…”


Ejekan Yong Hae serta tawanya yang begitu puas pun semakin membuat In Hyeong kesal namun, ucapan Yong Hae membuat ia terdiam dan spontan menghentikan tawanya lalu memandang dia dengan kening berkerut.


“Kenapa?” tanya Yong Hae.


“Apa dia benar-benar tidak menyadarinya?”


“Apa kau ingin mengakui perasaanmu?” tanya Yong Hae seraya mengulum senyum.


“Bodoh!” ujar In Hyeong kesal.


Melihat reaksi In Hyeong yang langsung memalingkan wajah dengan kedua tangan terlipat di atas dada, Yong Hae pun tersenyum tulus dan mengusap lembut kepalanya.


“Kau tahu?’ ucap Yong Hae yang membuat In Hyeong kembali menatapnya, “Tuhan itu sangat baik, Dia menciptakan rasa cinta dan kasih sayang untuk semua makhluk-NYA. Sama seperti kau menyayangi aku, Jin Ho dan Yong Hwa, kami pun tidak pernah mempermasalahkan sebesar apa masalah yang ada dalam dirimu. Kami hanya berharap kau bahagia, berharap bisa terus menjadi sandaran dan tempat singgah yang hangat untukmu,” tambahnya.


Mendengar ucapan Yong Hae dan bersama matahari yang semakin bersinar, In Hyeong pun semakin terdiam dengan seluruh perasaannya yang mulai terarah.


-----------


“Aaarrgghh… pria brengsek!”


Terdengar teriakan amarah Hye Mi setelah memasuki mobil dan melempar tas tangannya bersama sebuah amplop cokelat besar ke kursi di sisi kemudi. Sejenak ia terdiam dengan napas cepat sebelum kemudian meraih amplop tersebut dan membukanya. Tampak beberapa foto ia keluarkan dari dalamnya, foto ia bersama pria yang menemaninya di klub malam.


“Kenapa kau tidak mati saja Joon Jin Ho?!” teriaknya seraya menghamburkan foto tersebut


Terdengar ia menghela napas berat sembari meletakkan kepala di atas kemudi bersama bayang ingatan akan ucapan Jin Ho yang begitu menyakitkan.


“…Shin Hyung Jae, dia tunanganmu, kan? Kalian berdua bekerja sama untuk merebut perusahaan milik Ayahku dengan memanfaatkan perusahaan Ayah Hyung Jae yang hampir bangkrut. Kau sendiri yang begitu tega mengatakan padaku kalau Ibumu mengalami komplikasi jantung demi mendapatkan cincin berlian tidak berharga. Ternyata, pandangan mata sesaat dan perkenalan singkat sudah membuatku hampir menghancurkan perusahaan yang dibangun Ayahku dengan susah payah selama 25 tahun...”

__ADS_1


Dan perlahan terdengar isaknya bersama gelap malam yang semakin dingin.


__ADS_2