
“Aku tahu kau pasti ke sini untuk melihat matahari terbit.”
In Hyeong berbalik lalu menoleh kearah suara yang menegurnya, dan Jin Ho dengan santai duduk di sampingnya. Dia memperhatikan Jin Ho yang memandangi laut yang masih tertutupi awan gelap, hanya cahaya lampu dan sorot mercusuar yang menyinari sekeliling mereka.
Sesaat kemudian terdengar helaan napas In Hyeong sebelum ia beranjak dan membuat Jin Ho bergegas menggenggam erat tangannya tanpa sedikitpun peduli akan tatapan sinis gadis di sisinya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya In Hyeong datar.
“Kau masih marah padaku tentang kejadian kemarin sementara, kau tidak memberikan kesempatan untukku menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi,” kata Jin Ho sambil tetap memandangi laut Pantai Haeundae.
Kembali In Hyeong menghela napas, hatinya saat itu diliputi kekesalan mengingat kejadian yang Jin Ho lakukan di hari sebelumnya.
“Lepaskan tanganku,” kata In Hyeong pelan.
“Tidak akan,” sahut Jin Ho datar.
“Aku bilang, lepaskan tanganku,” kembali In Hyeong memerintah dengan suara meninggi.
“Tidak akan,” Jin Ho kembali menjawab datar.
Untuk kesekian kali, In Hyeong menghela napas sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Jin Ho.
“Hei, Joon Jin Ho!”
Seketika Jin Ho menatap tajam In Hyeong yang telah menatapnya lebih dulu dengan penuh amarah.
“Kubilang, lepaskan aku! Kau tidak mendengar kata-kataku! Kubilang le…”
__ADS_1
Tanpa peringatan, Jin Ho berdiri dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir In Hyeong hingga membuat kalimatnya
terputus. Hening, hingga sesaat kemudian, Jin Ho menatap In Hyeong seraya menekan kedua pipinya.
“Bisa kita bicara baik-baik?” tanya Jin Ho lembut.
Dengan tatapan linglung In Hyeong mengangguk dan membuat Jin Ho tersenyum penuh kasih.
“Untuk hari ini saja, di hari ulang tahunku yang ke-25, apa kau ingin menjadi gadis penurut untuk seorang Joon Jin Ho? Aku tidak pernah meminta ini setiap tahun. Hanya untuk hari ini, untuk satu jam kedepan, maukah kau mendengarkanku?”
Dengan perasaan ragu, In Hyeong mengiyakan ajakannya dan kembali duduk.
“Gadis itu bernama No Hye Mi,” kata Jin Ho memulai ceritanya, “aku mencoba menjalin hubungan dengannya setelah mengetahui aku tidak memilki harapan dengan gadis yang aku sukai sejak SMA. Aku bertahan dengan Hye Mi selama lima bulan, setelah itu, aku memutuskan hubungan kami karena dia menduakanku. Kemarin mungkin kau tidak seharusnya melihat hal itu. Hye Mi berusaha mencari kesalahanku, sebab dia tidak terima diputuskan tanpa alasan. Tapi, setelah kau pergi, aku menyerahkan semua bukti perselingkuhannya.”
“Gadis yang kau sukai sejak SMA, kenapa kau mengatakan kalau kalian tidak ada harapan lagi? Apa kau tidak bertemu dengannya setelah putus dari Hye Mi?” tanya In Hyeong datar.
Kedua bola mata In Hyeong membesar tatkala melihat buku yang ia kenal sebelum kemudian menatap dalam Jin Ho yang tersenyum padanya.
“Aku harap semua pertanyaanmu terjawab setelah kau membaca benda yang terselip di dalamnya.”
Dengan perasaan ragu, In Hyeong menerima buku tersebut dan perlahan mulai membuka lembarannya sampai sebuah surat terjatuh dari halaman yang belum sempat terbuka.
Segera ia meraih surat tersebut dan membukanya usai melihat Jin Ho mengangguk penuh arti.
“Untuk gadis Pantai Haeundae. Seperti terjaga dalam mimpi, ketika aku mengenalmu, tak ada sapa namun, senyummu mampu memastikanku, bahwa aku menyayangimu. Bahagiamu, ku rasakan, sedihmu, ku coba tuk hapuskan, hingga tanpa kau sadari, kau bagaikan matahari. Kau semangatku ketika baru terjaga dari tidur, berusaha untuk selalu menjagamu, agar matahari itu tetap menyinari, jangan berganti hujan membasahi. Kau menjadi alasanku untuk bertahan hidup, kau menjadi alasanku untuk bersyukur pada takdir, kau menjadi tujuan hidupku, karena kau matahariku. Cha In Hyeong, aku tunggu kau sepulang sekolah di Pantai Haeundae. Yang selalu ingin menjagamu, Joon Jin Ho.”
Tertegun usai membaca surat tersebut, sejenak In Hyeong terdiam, seakan tidak ada tatapan yang berani ia lemparkan pada Jin Ho yang masih sabar menunggunya.
__ADS_1
“Gadis yang kau sukai itu…”
“Ng…apa sudah mengerti sekarang?”
“Apa kau menungguku hari itu?”
“Hanya sampai tengah malam. Kau tahu, kan, aku tidak kuat dengan udara dingin. Hehe…”
Mendengar ujaran sahabat baiknya, In Hyeong pun mengerjap cepat dengan kedua mata berlinang.
“Ke, kenapa bodoh seperti itu?” tanya In Hyeong dengan suara serak.
“Kata Kak Kyoung Rye, kita akan menjadi sangat bodoh ketika sudah menemukan orang yang kita sayang,” jelas Jin Ho tulus.
Sembari mengusap lembut kepala In Hyeong yang terisak pelan, Jin Ho mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dari saku mantel kanannya. Dia membuka kotak itu dan mengarahkannya pada In Hyeong.
“Apa kau ingin menikah denganku, Nona Cha In Hyeong?”
Perlahan In Hyeong yang sempat tertunduk pun mengangkat kepala dan menatap Jin Ho yang tengah tersenyum riang.
“Ka, kau ingin menikahiku sementara, aku sudah sering membuatmu kesal dan aku benar-benar bodoh…”
“Banyak kebodohan yang kita lakukan saat hati dan pikiran tidak sejalan. Aku tidak ingin melepaskanmu lagi. Bagiku cukup tujuh tahun kau menderita karenaku. Kali ini aku ingin kau bahagia karenaku, aku tidak ingin melihatmu disakiti lagi.”
Segera In Hyeong memeluk erat Jin Ho seraya mengangguk cepat, menjawab seluruh pernyataan cinta Jin Ho yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Hari itu, Matahari perlahan menampakkan cahaya indahnya, menyinari lautan dengan sinar terang dan memberikan bias kehangatannya di Pantai Haeundae yang menjadi saksi ketulusan cinta seorang Joon Jin Ho.
__ADS_1