All My Heart

All My Heart
Last Episode


__ADS_3

Selamat atas pernikahanmu dengan Jin Ho. Maaf, aku tidak bisa hadir kemarin. Terima kasih sudah mengundangku. Hari ini, hari terakhirku melihat Pantai Haeundae. Besok pesawatku akan berangkat pukul 9.00 pagi menuju Kanada…


Pesan itu terekam sempurna di otak In Hyeong setelah satu hari pernikahannya dengan Jin Ho.


“Apa kau tidak bisa lebih cepat sedikit? Pesawat Yon Bin akan berangkat pukul 9.00!” omel In Hyeong.


“Aku sudah berusaha tapi, apa kau tidak lihat sekarang sedang macet?” sahut Jin Ho yang tampak begitu memelas.


“Kau urus mobilnya, aku akan lari dari sini,” kata In Hyeong cepat, “aku menyayangimu,” dan sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Jin Ho sebelum ia benar-benar turun.


“Hei, tapi…”


Tanpa ingin menunggu lebih lama lagi, In Hyeong bergegas lari meninggalkan Jin Ho yang ingin mencegahnya di tengah kemacetan. Dan Yon Bin yang telah lama tidak terlihat sosoknya oleh mereka, hari ini akan terbang menuju Kanada untuk melanjutkan pendidikannya.


“Jang Yon Bin!”


In Hyeong berteriak ketika melihat Yon Bin yang akan melangkah masuk ke ruang tunggu. Yon Bin yang begitu banyak berubah itu berbalik dan tersenyum mendapati In Hyeong yang berlari kearahnya.


“Kau tidak seharusnya datang, kan?” tanya Yon Bin lembut.


Dan pada akhirnya, In Hyeong hanya membungkuk sambil bertumpu pada kedua lututnya yang melemas. Napas In Hyeong terdengar tidak beraturan hingga membuat Yon Bin tersenyum dan mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam ranselnya.


“Minum ini.”


Dengan sekali tegukan ia meminum setengah botol air usai menegakkan badannya.


“Kau masih tidak berubah,” ujar Yon Bin.


“Jang Yon Bin!”


Terlihat Jin Ho berlari kearah mereka dan membuat Yon Bin mengulum senyum riangnya.


“Kau akan lari begitu saja setelah lama kita tidak bertemu,” omel Jin Ho setelah berdiri diantara mereka.


“Maafkan aku. Aku masih merasa kurang pan…”


Sontak kalimat Yon Bin terputus saat tiba-tiba Jin Ho memeluknya sangat erat.


“Kak, aku menyayangimu,” bisik Jin Ho, “aku yang seharusnya minta maaf karena membiarkanmu sendiri selama delapan tahun ini,” tambahnya tulus.


“Kau sudah dapatkan kebahagiaanmu setelah tujuh tahun berjuang. Doakan aku agar bisa sepertimu,” ucap Yon Bin sembari menepuk pelan punggungnya.


Seraya melepas pelukannya, Jin Ho pun tersenyum penuh arti.


“Sampaikan salamku pada Jun Su, Yong Hwa dan Yong Hae. Karena aku tidak tahu kapan kita akan berkumpul lagi,” kata Yon Bin lembut.


“Apa kau tidak akan kembali?” tanya In Hyeong dengan suara serak.


Segera keduanya saling berpandangan saat melihat In Hyeong menitikkan air mata dan seakan memahami seluruh tatapan sahabatnya, Yon Bin pun melangkah lebih dekat sebelum kemudian memeluk gadis yang telah begitu banyak memberikannya pengalaman hidup.


“Jangan tangisi aku. Kau sudah berjanji akan selalu tersenyum, kan? Aku tidak ingin melihat air matamu lagi. Tiba saatnya nanti, aku yakin kita akan berkumpul kembali. Berbahagialah dengan Jin Ho yang sekarang akan selalu melindungi dan menyayangimu. Aku janji akan terus menghubungimu selama aku di sana,” bisik Yon Bin sambil mengusap lembut kepala In Hyeong.


Dan bersamaan dengan panggilan penerbangan menuju Kanada, Yon Bin pun melepas pelukannya.


“Aku harus pergi. Sampai jumpa.”


Usai Yon Bin melangkah ke ruang tunggu,  Jin Ho pun mendekat dan merangkul In Hyeong yang tidak sama sekali mengalihkan pandangannya.


“Apa dia akan kembali?” tanya In Hyeong ketika Yon Bin tak lagi terlihat.

__ADS_1


“Dia pasti kembali,” kata Jin Ho lembut, “kita pulang,” tambahnya.


-----------


“Aku sudah katakan padamu kalau kita akan melakukan pertemuan di Pantai Haeundae. Tapi, kau bersikeras ke Kafe Purple!” omel In Hyeong.


“Paman Yong Hwa.”


“Joon Seok Jin, jangan lari!” teriak Jin Ho.


Joon Seok Jin, anak laki-laki berumur empat tahun itu tak lain adalah anak dari Jin Ho dan In Hyeong. Dia terlihat tidak peduli akan teriakan Ayahnya dan tetap berlari kearah Yong Hwa yang sudah bersiap memeluknya.


“Anak pintar, kau merindukanku?” tanya Yong Hwa setelah menggendong Seok Jin.


Seok Jin mengangguk, lalu melayangkan ciuman di pipi kiri Yong Hwa.


“Dia benar-benar memperlihatkan kalau dia lebih menyukai Yong Hwa daripada dirimu,” kata Jin Ho sambil melirik pada Yong Hae yang juga sudah bergabung dengan mereka.


“Dia persis sepertimu,” sahut Yong Hae ketus.


“Paman Yong Hae juga ingin diberikan ciuman oleh Seok Jin,” kata In Hyeong sambil menatap Seok Jin.


Tanpa mengatakan satu patah kata pun, Seok Jin dengan cepat melayangkan ciumannya di pipi kanan Yong Hae yang saat itu berdiri tak jauh dari tempat Yong Hwa menggendongnya.


“Aku juga menyayangi Paman Yong Hae,” kata Seok Jin dengan wajah polosnya.


“Aku tahu,” sahut Yong Hae seraya mengusap lembut kepala Seok Jin.


“Maaf, aku terlambat.”


Dan tiba-tiba sosok seorang Kim Jun Su hadir dengan begitu berantakan.


“Kenapa kau mengenakan pakaian olahraga ke sini?” tanya Jin Ho mewakilkan rasa penasaran mereka.


“Aku lupa hari ini kita akan mengadakan reuni. Tadinya aku ingin pulang mengganti pakaian tapi, tidak sengaja sepedaku menggilas ekor anjing tetangga. Anjing itu mengejarku tanpa ampun, aku tidak bisa kembali karena dia menungguku di depan rumah,” jelas Jun Su dengan napas tersengal.


“Tidak heran, kau selalu melakukan hal yang sama setiap kali selesai berolahraga. Dia mengingatmu dengan sangat baik,” kata Yong Hwa dengan nada mengejek.


Tanpa sedikitpun peduli akan ejekannya, Jun Su langsung menjatuhkan diri ke atas pasir.


“Kalian sudah berkumpul di sini?”


Seketika Jun Su bangun dan melihat kearah suara, ketika Jin Ho, Yong Hwa, Yong Hae, Seok Jin dan In Hyeong mengalihkan pandangan. Tampak sosok Yon Bin berjalan menghampiri mereka.


“Ada apa? Kalian seperti melihat hantu,” kata Yon Bin heran.


Tanpa bisa mengucapkan apapun, In Hyeong melangkah maju memeluk Yon Bin yang seketika terlihat sangat terkejut.


“Kenapa lama sekali baru kembali? Apa kau tahu kalau aku sangat merindukanmu selama lima tahun ini?” omel In Hyeong terisak.


Senyum pun terukir di wajah Yon Bin yang lalu melepas pelukannya.


“Aku harus menyelesaikan semua studiku dengan baik. Maaf, aku membuatmu menunggu,” kata Yon Bin lembut.


“Ayah, kenapa Ibu memeluknya? Dia siapa? Dia membuat Ibuku menangis.”


Sontak Seok Jin ikut menangis karena dia mengira Yon Bin sudah berbuat jahat pada In Hyeong dan dengan sigap Jin Ho mengambil alih dirinya.


“Dia anakmu?” tanya Yon Bin.

__ADS_1


In Hyeong mengangguk pelan sambil menghapus air matanya dan berbalik menenangkan Seok Jin.


“Joon Seok Jin, Ibu tidak menangis karena Paman Yon Bin jahat. Ibu menangis karena Ibu bahagia bisa bertemu dengannya lagi,” kata In Hyeong lembut.


Seketika tangis Seok Jin berhenti, dia membalikkan badan menatap In Hyeong yang tersenyum padanya.


“Dia siapa?” tanya Seok Jin.


“Itu Jang Yon Bin, Pamanmu juga. Beri salam padanya,” ucap In Hyeong penuh kasih.


Dengan perasaan yang masih ragu usai diturunkan dari gendongan Sang Ayah, Seok Jin tetap melangkah menghampiri Yon Bin yang sudah berjongkok menyambutnya. Seok Jin memberikan ciuman lembut di pipi kanan Yon Bin yang membuatnya heran dan langsung melihat Jin Ho.


“Aku rasa cara dia memberi salam sedikit berbeda denganku,” kata Jin Ho datar, “kebiasaan In Hyeong suka memeluk kalian menurun padanya. Walaupun sedikit lebih istimewa dengan ciumannya,” tambahnya yang langsung membuat gelak tawa.


“Seok Jin, ikut aku mencari kerang,” ajak Jun Su diiringi anggukan cepat dari Seok Jin, “kejar aku, yang tertinggal berbadan pendek,” teriaknya kemudian.


Segera Seok Jin bergegas mengejar Jun Su diiringi In Hyeong, Yong Hwa dan Yong Hae.


“Seok Jin perhatikan langkahmu!” teriak Jin Ho.


“Kau benar-benar beruntung kali ini,” tegur Yon Bin.


Jin Ho hanya tersenyum sambil memandangi laut Pantai Haeundae yang begitu ramai bersama Yon Bin yang berdiri disampingnya.


“Jadi, kapan kau akan menikah?” tanya Jin Ho.


“Entahlah. Aku belum menemukan gadis yang tepat,” sahut Yon Bin.


“Jangan bohong padaku. Gadis Kanada yang kau ceritakan bulan lalu terlihat cukup seksi,” goda Jin Ho.


“Haha…kau tidak pernah berubah,” kata Yon Bin.


“Kalau aku berubah, aku tidak akan mau menikahi In Hyeong. Kau bisa bayangkan lekuk badannya yang seksi itu membuatku hampir gila,” kata Jin Ho santai.


Mendengar celoteh datar sahabatnya dengan ekspresi dingin yang tidak pernah berubah itu, seketika membuat Yon Bin mendorongnya pelan seraya menahan rasa malu dan tawa gelinya sementara, Jin Ho hanya tersenyum sinis.


“Ini milikmu,” kata Jin Ho sambil menyerahkan sebuah kotak kecil yang dikeluarkannya dari saku celana.


Kening Yon Bin sesaat berkerut sebelum akhirnya membuka kotak yang ternyata berisi sebuah cincin yang ia kenal.


“Kau mengembalikannya ketika In Hyeong di rumah sakit. Setelah itu, In Hyeong menguburnya agar bisa menghilangkanmu dari ingatan. Tapi, aku menyimpannya tanpa sepengetahuan In Hyeong. Karena pada akhirnya, dia tetap tidak bisa melepaskanmu dari pelukannya.”


“Jin Ho, Yon Bin, cepat kemari!” teriak Yong Hae sambil melambaikan tangan.


“Simpan cincin itu, karena walau bagaimanapun kau tetap bagian dari cerita ini,” kata Jin Ho seraya menepuk pundak Yon Bin.


Perlahan air mata mengalir membasahi kedua pipi Yon Bin yang saat itu terpaku ditempatnya.


“Jin Ho sudah mengembalikan cincinmu,” tegur In Hyeong.


Spontan Yon Bin melihat kearah In Hyeong yang sudah berdiri dihadapannya dan tersenyum lembut sambil menghapus air matanya.


“Kau tetaplah Kakakku, jangan pergi lagi,” ujar In Hyeong tulus.


Sebuah pelukan hangat yang telah lama tidak dirasakan oleh seorang Jang Yon Bin, kini diberikan lagi oleh In Hyeong dengan penuh kasih.


Awal bulan Februari yang dihiasi cahaya jingga keemasan dari bias matahari yang perlahan turun meninggalkan seluruh kehangatan yang telah diberikannya sepanjang hari padaku, Jin Ho, Yon Bin, Jun Su, Yong Hwa dan Yong Hae. Ditempat ini seluruh cinta, sayang, tangis, tawa, juga bahagia kami kembali dalam satu ikatan persahabatan yang tidak akan pernah terhapus oleh waktu.


Dan Pantai Haeundae menjadi saksi atas segala rasa sayang yang kumiliki untuk seseorang yang selalu menjagaku dengan seluruh hidupnya…

__ADS_1


“Aku juga mencintaimu, Joon Jin Ho”


__ADS_2