All My Heart

All My Heart
Episode 22


__ADS_3

“Aaaarrgghh!”


PRANG!


Terdengar teriakan Jin Ho disusul suara pecahan kaca dari dalam kamar mandi apartemennya. Sementara, apartemen Jun Su yang terletak disebelahnya tentu membuat dia bisa dengan jelas mendengar suara gaduh tersebut.


Ketenangan Jun Su malam itu seketika terganggu dan dia sontak beranjak dari kamar. Ia berlari panik masuk ke apartemen Jin Ho usai menekan kode pintunya dan langsung membuka lebar pintu kamar mandi.


“HEI! APA YANG KAU LAKU… kan?”


Teriakan kesal Jun Su spontan melemah setelah melihat kaca kamar mandi yang retak dipenuhi darah dan kepalan tangan Jin Ho yang tampak lebam serta berlumuran darah. Otaknya seakan tidak bekerja, dia hanya memandang kosong Jin Ho yang melewatinya tanpa suara sedikitpun.


“He, hei? A, apa kau baik-baik saja?”


Diam, tidak ada niatan Jin Ho untuk menjawab pertanyaan sahabat kecilnya yang tengah mengiri langkahnya ke ruang tengah sampai dia masuk ke kamar dan…


BRAK!


Seketika langkah Jun Su terhenti saat pintu kamar tertutup rapat dan terdengar suara kenop di kunci dari dalam. Ia mengerjap dan meneguk ludah. Terlihat linglung sesaat sebelum akhirnya ia mengetuk pelan kamar Jin Ho dengan ragu.


“Jin, Jin Ho, apa kau baik-baik saja?”


“Pulanglah. Aku ingin sendiri dulu sekarang,” sahut Jin Ho datar.


“Ba, baiklah. Tapi...apa kau yakin baik-baik saja?”


Tidak ada lagi jawaban dari dalam dan akhirnya, Jun Su memutuskan pergi untuk memberi ruang tenang pada sahabat terbaiknya itu. Sementara di kamarnya, Jin Ho terlihat memegangi pergelangan tangannya dan menahan sakit yang baru ia rasakan.


“Kenapa?” tanya Jin Ho pada dirinya sendiri, “KENAPA?!” teriaknya seraya menghamburkan barang.


Dan di saat bersamaan, nada dering salah satu ponselnya berbunyi nyaring. Ia bergegas merogoh saku celana dan melihat nama “No Hye Mi” tertera jelas di layarnya, kemarahan Jin Ho tampak kembali memuncak. Segera ia melangkah cepat ke balkon dan langsung melempar ponselnya.

__ADS_1


Tenang, dan hanya napas lelah Jin Ho yang terdengar. Kakinya gemetar, seluruh tubuhnya melemas sebelum kemudian, ia merosot dan bersandar di pagar balkon dengan kedua lutut menekuk. Kembali sunyi sampai terdengar isak kecil usai ia membenamkan wajah ke lututnya dan tanpa ia sadari, nama yang selama ini telah sedikit hilang dari ingatannya kembali terucap.


“In, In Hyeong, aku sangat merindukanmu. Ini begitu menyakitkan. Maafkan aku.”


Kembali terekam ingatannya tentang In Hyeong yang dengan tulus ingin menghapus air mata kekesalannya. Senyum In Hyeong yang selalu ada untuknya dan tawa bahagia yang selalu bisa membuatnya tersenyum.


Sosok gadis yang hanya selalu meminta perhatian darinya. Gadis yang tidak pernah berbohong akan pria lain di sisinya dan seluruh bahagia serta sedihnya hanya ditujukan pada dirinya, Joon Jin Ho.


-----------


“Bukankah kau, Joon Jin Ho?”


Kening Jin Ho sesaat berkerut tatkala melihat sosok wanita berumur 40 tahunan di hadapannya namun, hanya beberapa detik hingga ia mampu mengenali wanita tersebut dan menghentikan kegiatannya memilih barang. Sejenak ia membungkuk penuh hormat sebelum kembali menatap datar wanita tersebut.


“Halo, Nyonya Park Hye Rin,” sapa Jin Ho ramah.


“Iya, halo. Lama tidak bertemu, Tuan Joon Jin Ho?”


“Sampai detik ini aku masih merasa sangat baik.”


Sejenak ia terdiam sembari mereka kembali berjalan menyusuri supermarket saat itu.


“Mm… maaf, Nyonya Park, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Iya, tentu. Silahkan saja.”


“Begini, kemarin aku dengar dari seseorang kalau Anda memerlukan uang sebanyak 10 juta won untuk menjalani operasi karena mengalami komplikasi jantung. Apa itu benar?”


Mendengar pertanyaan tersebut, Hye Rin sontak menghentikan langkahnya dan menatap lekat Jin Ho yang tampak merasa tak nyaman.


“Oh, maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda. Mungkin kemarin aku hanya salah dengar. Maafkan aku,” kata Jin Ho cepat.

__ADS_1


“Aku bukannya tidak ingin menjawab. Tapi, pernyataan dari orang itu membuatku sedikit tersinggung. Aku merasa sangat sehat, berani sekali dia mengatakan hal sejahat itu,” kata Hye Rin berusaha tenang.


Sesaat Jin Ho menatap sinis Hye Rin yang telah memalingkan wajahnya. Otaknya kembali mengingat ucapan Hye Mi tentang Ibunya demi kepentingan sendiri dan sekarang, dia bisa melihat jelas kemarahan dari sosok Park Hye Rin yang tak lain adalah Ibu dari No Hye Mi.


“Mm… Nyonya Hye Rin, lupakan saja kata-kataku tadi. Mungkin aku hanya salah dengar. Maaf membuatmu tersinggung dan semoga Anda selalu sehat. Aku permisi, ada sesuatu yang harus aku urus.”


Usai membungkuk sejenak, Jin Ho pun melangkah cepat meninggalkan Hye Rin yang terlihat jelas masih menyimpan kekesalan dan tidak mengacuhkan ucapan serta kepergiannya.


“Aaarrrgghh…”


Teriakan Jin Ho terdengar hampir memenuhi parkiran setelah ia masuk ke mobil. Sesaat ia diam dan memukul cukup kuat kemudi sebelum akhirnya, men-starter mobil dengan kasar dan melaju pulang.


-----------


Genap sebelas bulan Jin Ho tidak menghubungi In Hyeong. Sidang akhir pun telah In Hyeong selesaikan dengan baik dan hanya tinggal menunggu detik-detik kelulusan. Dan hari itu, ia melangkah masuk ke ruang kesenian, berjalan menyusuri setiap alat musik yang terdapat di dalamnya. Sedetik kemudian, langkahnya terhenti di belakang sebuah piano.


“Joon Jin Ho,” bisiknya.


Ditekannya salah satu tuts hingga terdengar dentingan pendek nada Do dan tenang, dia terhanyut dalam lamunan kosong. Sampai…


“Kakak?”  tegur Eun Hee yang langsung menepuk lengan In Hyeong.


“Oh, Eun Hee,” sahut In Hyeong tersentak.


“Ada apa? Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu?”


“Tidak apa-apa,” sahut In Hyeong seraya duduk di belakang piano.


Sejenak In Hyeong kembali menatap kosong piano di hadapannya dan dengan perasaan riang, Eun Hee ikut duduk di sisinya hingga membuat ia tersentak lagi sebelum akhirnya, mereka memainkan piano tersebut bersama. Dan untuk setiap dentingan yang kini terdengar di telinganya, bayangan itu kembali masuk dalam ingatan. Bayang kerinduan akan sosok bernama…


Joon Jin Ho.

__ADS_1


__ADS_2