
Surakarta, Januari 2022.
"kamu tahu sendiri kan kita sudah bangkrut?! kenapa masih saja minta uang? apa kamu tidak lihat aku sudah berusaha keras selama ini? kamu seharusnya bisa membantuku bukan hanya meminta padaku!" bentak pria paruhbaya berkulit putih itu, Adhitama namanya, beliau terjun di dunia perdagangan dan kebetulan usahanya berjaya tapi beberapa tahun lalu mengalami kepahitan, usahanya bangkrut.
"bukan hanya bangkrut dan uang yang aku katakan, tapi juga perilakumu padaku yang keterlaluan!" teriak Ratna istri Adhithama sembari melipat sajadahnya dengan cepat. Ratna seorang ibu yang taat pada agama, bahkan Adhitamapun sama, mereka selalu melaksanakan sholat lima waktu, akan tetapi keluarga tetaplah keluarga, kebutuhan tetaplah kebutuhan yang memang harus dipikirkan dengan usaha. "kamu masih bermain dengan perempuan lain!" lanjut Ratna, entahlah.. Ratna sendiri juga tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran suaminya ini, dia selalu menjalankan sholatnya tetapi dia juga mampu menyakiti hatinya.
"daripada kamu marah seperti itu terus mending kamu kerja bantu aku buat mencukupi keseharian kita" kata Adhitama yang tidak ada habisnya, Ratnapun diam karna dia tahu sebanyak apapun dia menjelaskan atau memberontak, dia tak akan memenanginya.
Adhitama pergi dengan motor metiknya, sementara Ratna menangis tersedu-sedu di kamarnya sembari memegang sajadah miliknya, hatinya hanya merasa sedih saat semua kebutuhannya tidak tercukupi, tapi hatinya menjadi hancur ketika suaminya berselingkuh bahkan di depan mata kepalanya sendiri sang Adhitama selalu berkata mesra pada wanita di luar sana melalui teleponnya.
Aksa Desmon, laki-laki tampan berusia 24 tahun keturunan Riau dari ayahnya ini selalu merasa iba pada ibunya, hatinya begitu hancur melihat ibunya yang selalu menangis di kamar.
sementara adiknya bernama Gea Desmon yang masih remaja 14 tahun bersekolah menengah, dia perempuan yang terbilang pendiam, tapi dia begitu dingin dan cuek, saat ini Gea sedang belajar di kamarnya, dia juga mendengar semua pertengkaran kedua orangtuanya tapi dia tetap diam karena karakternya yang memang begitu membuat Ratna sedikit kesepian.
Aksa keluar dan duduk di kursi yang berada di depan rumah, dia menyulutkan sebatang rokok, suara tangisan ibunya masih terdengar di telinganya meskipun dia di luar rumah, ya.. karena mereka tinggal di sebuah perkampungan dengan rumah kecil setelah kebangkrutan melanda keluarga mereka, menatap langit yang mendung, Aksa tersenyum kecut, langitpun juga sedih saat ini.
"aku berharap ibuku selalu sehat dan tetap kuat" batin Aksa yang terus menatap langit seolah dia sedang berharap sekali doanya terkabulkan.
dia berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar Gea.
"nanti kalau ibu tanya bilang aja aku mau ke rumah mas David ya dek" kata Aksa pada adiknya yang sedang belajar.
"bilang aja sendiri" kata Gea cuek.
"bilang aja kenapa sih dek" ujar Aksa.
tak ada jawaban dari Gea. Aksa pergi ke rumah David yang tak jauh dari rumahnya karena mereka memang bertetangga.
"Davidnya ada pak?" tanya Aksa saat melihat kedua orangtua David menonton televisi bersama.
"ada, naik aja, suruh David ngecilin musiknya, dia anak bandel" jawab Zhaki bapaknya David. Aksa menaiki tangga menuju ke kamar David, dia mendapati sahabatnya sedang berbaring memainkan ponselnya sembari mendengarkan musik Iwan fals.
__ADS_1
Aksa tiba-tiba mengecilkan suara speaker milik David dan meninju lengan David yang gemuk itu sambil ikut berbaring di sebelahnya.
"anak gila" umpat David, tanpa ada jawaban dari Aksa, David menoleh di sebelahnya menatap Aksa lekat-lekat.
Aksa beranjak dari ranjang lalu menuju balkon dan menyulutkan rokoknya lagi, dia menatap langit lagi yang masih mendung tapi tak kunjung hujan, seperti hatinya.. dia sedang sedih tapi tak bisa menangis.
lalu David mengikutinya duduk di sebelah Aksa dan menyulutkan rokok juga sembari melihat langit di atas, David tahu dengan raut wajah sahabatnya ini, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"ayahku pergi lagi setelah bertengkar dengan ibuku" kata Aksa tiba-tiba yang masih menatap langit sembari merokok.
"perempuan lagi?" tanya David, Aksa mengangguk pelan, David menghela nafas. "lalu bagaimana dengan ibumu?" lanjut David.
"seperti biasa, aku tidak tega melihatnya" ujar Aksa, tak ada jawaban dari David lagi, mereka kehabisan kata-kata karena orangtua Aksa terlalu sering bertengkar dan permasalahannya selalu sama.
David berdiri menuruni tangga, beberapa menit kemudian dia naik membawa nampan berisi mi cup dua porsi yang sudah berisi air panas, dan dua kopi hitam.
"cepat habiskan sebelum aku menghabiskan semua" kata David yang nafsu makannya banyak, tak heran jika dia gemuk, lalu mereka makan sembari menikmati angin sejuk di balkon, ponsel Aksa berdering.
"halo pak Amar, ada apa?" sapa Aksa.
"tentu saja pak, aku akan kesana besuk" kata Aksa setuju. ya.. Aksa memiliki job menjadi musisi di beberapa kafe atau di kedai tertentu. pekerjaan paruh waktu yang dia lakukan setiap hari sudah memiliki jadwal sendiri, baginya menyanyi tidak hanya menjadi hobinya, tapi untuk menghasilkan uang juga penting baginya.
Lalu Aksa mengambil gitar David yang berada di pojok sana dan mematikan speaker David, lalu memainkannya di sebelah David yang kembali merokok.
"dengerin ya" kata Aksa.
"stop stop jangan nyanyi, nanti hujan" celetuk David mencoba menghibur temannya ini, tapi Aksa tetap menyanyikan lagu kesukaannya, 'hey jude' dari musisi 'the Beatles'.
tak lama saat Aksa menyanyi hujan turun karena sudah mendung sedari tadi.
"tuh kan bener hujan" kata David membuat Aksa tersenyum sambil tetap menyanyi hingga tengah malam, tak hanya Aksa, Davidpun juga ikut menyanyi.
__ADS_1
***
di tempat lain, di kampung yang sama, sebuah rumah yang lumayan besar seorang perempuan berusia 20 tahun sedang menerima telepon dari kekasihnya.
"udah nggak usah kemana-mana, lagian udah malem kan, dirumah aja.. maaf ya aku nggak bisa ke rumahmu" kata Barra di seberang telepon, Barra masih kuliah di jurusan kedokteran.
"mungkin aku hanya sebentar ke rumah temenku" kata Bella.
"udahlah ngapain sih kesana lagian ini udah malem" larang Barra dengan halus berusaha merayu Bella.
"mmm oke deh" jawab Bella akhirnya sedikit kecewa.
"aku harus selesaikan skripsiku, inget ya, nggak usah main di rumah aja" kata Barra memperingatkan.
"mmm.." Bella bergumam pelan yang masih di dengar oleh Barra lalu mereka menutup teleponnya.
Bella termenung dan menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan pelan. mengingat pacarnya selalu saja sibuk dengan urusan kuliahnya, dan keluarganyapun selalu saja sibuk dengan urusannya masing-masing.
Bella mencoba keluar dan makan malam tapi nihil, tak ada lauk sama sekali di rumah.
"mah, mamah nggak masak ya" tanya Diandra mencoba berkomunikasi pada ibunya.
"tidak, kamu beli aja dulu di luar, uangnya ada di meja makan, mamah mau ke rumah Tante Vita dulu, tutup pintu rumah kalau mau tidur nggak usah di kunci" kata Reni ibunya Bella yang berusia 42 tahun, tak ada jawaban dari Bella, dia hanya diam mengamati perilaku ibunya yang tidak pernah perhatian padanya. Perempuan itu kembali terduduk melamun.
ceklekk..
sosok pria dewasa berusia 45 tahun bernama Putra keluar dari kamarnya.
"ayah.. mau kemana?" tanya Bella pada ayahnya.
"ayah mau pergi ke toko, nanti pintunya jangan dikunci ya, jangan lupa makan" ujar Putra pada anak tunggalnya. Mereka memiliki toko baju olahraga yang tak jauh dari rumah mereka. Keluarga mereka memang di kenal di kampung itu sebagai keluarga yang lumayan mampu.
__ADS_1
bosan dan perasaan yang hampa selalu terjadi pada dirinya.
dia ingin memiliki seorang teman yang benar-benar tulus dan mengisi kekosongan itu, bukan pacar, dia sudah memiliki pacar, tapi teman untuk sekedar menghilangkan kebosanan yang dia terima dalam hidupnya