
Though I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them
In my life I love you more
In my life I love you more
lantunan musik yang Aksa mainkan dengan gitarnya membuat banyak pengunjung menikmati suasana di kafe tersebut, jam berlalu dengan cepat hingga semakin malam dan waktu jam kerja telah berakhir.
Aksa menghampiri David yang wajahnya sudah memerah karena alkohol yang dia minum.
"sudah selesai" ucap David sembari mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
"mmm" lirih Aksa yang terlihat lelah. "berikan aku minuman seperti biasa" lanjut Aksa pada temannya.
Vano memberikan satu gelas alkohol Prost untuknya lalu pergi.
"apa kamu lapar?" tanya David, Aksa menggeleng setelah menegak minumannya.
"kita bisa makan di luar setelah ini" kata Aksa. Lalu dia melihat Bella yang tengah mengobrol bersama teman-temannya.
hanya beberapa detik saja pandangan mereka saling bertemu.
"Irfan" panggil Aksa, lalu Irfan yang tengah membersihkan bar itu mendekatinya.
"kurang?" tanya Irfan melihat gelas Aksa.
"sepupumu" kata Aksa sambil menatap Bella.
"benar dia Bella"
"boleh aku minta nomornya?" tanya Aksa. Irfan dan David menatap Aksa dengan teliti.
"kamu mau aku memintanya untukmu?" tanya Irfan balik yang peka berusaha membantunya jikalau itu benar.
"kalau kamu bersedia saja" jawab Aksa tersenyum.
"bilang aja kalau kamu butuh" kata David membuat Aksa terkekeh.
"apa dia minum alkohol?" tanya Aksa memastikan.
"tidak" jawab Irfan apa adanya.
"berikan saja camilan favoritnya" kata Aksa, lalu Irfan paham akan hal itu.
Bella POV...
saat ini aku berada di kafe Coffe Madness bersama tiga teman-temanku sekaligus rekan kerjaku, Nita, Eve dan Lisa.
__ADS_1
aku duduk di meja bundar dengan empat kursi, aku memanggil sepupuku Vano untuk memesan sesuatu.
aku menatap sekeliling dan pastinya aku juga menatap sang musisi yang bernyanyi di depan sana, aku sedikit terkejut karena dia adalah tetanggaku, Aksa namanya.
tapi aku tidak pernah sama sekali berbicara padanya, begitulah anak muda di jaman sekarang, tapi tidak kusangka hari ini aku melihatnya dengan baju polos berwarna putih di balut dengan jaket jins berwarna biru laut yang sedikit di lipat ke atas di bagian tangannya, tak kusangka ternyata dia begitu tampan dan keren.
tapi pandangannya terus menatapku, entahlah.. apa aku yang terlalu percaya diri? atau dia menatap salah satu temanku ini?
drrt.. drrtt..
ponselku berdering, aku melihat dari beranda ponselku ada nama Barra kekasihku memberiku pesan singkat.
"kamu dimana"
hanya itu yang kulihat dari beranda tanpa berniat untuk membalasnya atau membuka pesan tersebut, dia sama sekali bukan kekasih yang baik, aku berharap aku bisa berkencan dengannya seperti dua orang yang duduk disana, aku melihat sepasang kekasih yang saling menatap, berbincang-bincang dan sesekali tersenyum.
" aku merasa yang bernyanyi disana melihat ke arah kita daritadi?" kata Nita pada semua teman-teman termasuk aku.
"aku juga merasa begitu" ujar Eve.
"kurasa dia terus menatap Bella" kata Lisa.
"benarkah? aku rasa tidak, mungkin dia menyanyi sambil melamun" kataku meyakinkan mereka agar tidak terlalu memikirkan Aksa.
setelah lama aku mengobrol dengan teman-temanku disana, aku melihat Aksa turun dari sana dan duduk di bar, kulihat ada David juga disana, apa ada perkumpulan kaum muda-mudi disini? kenapa semua berkumpul disini?
tapi aku berusaha menghiraukan mereka, aku kembali berbicara pada teman-temanku, kurasa ponselku terus bergetar di dalam tas. pasti itu Barra, tapi aku tidak berniat untuk melihat ponselku.
"ada apa?"
"ada kiriman dari dia" kata Irfan memberi kentang goreng sambil menoleh ke arah Aksa dan David, aku menelisik tatapan matanya, semua teman-temanku juga sama, mengikuti arah pandangan Irfan.
"siapa?" tanyaku penasaran.
"mas Aksa"
"Aksa yang mana?" tanya Eve.
"yang nyanyi di depan tadi"
"woww, sekali Dateng langsung dapet" celetuk Nita dengan kekehan semua teman-temanku.
"bilang aja terimakasih" kataku pada Irfan.
"cuma terimkasih?" jawabnya.
"lalu dia mau apa?" jawabku pada Irfan.
"nomor kakak lah, memangnya harus ya aku bilang gini? nggak peka" celetuk Irfan membuatku terkekeh.
"berikan saja" kataku tanpa memikirkan Barra, aku melihat para teman-temanku yang menatapku heran setelah Irfan pergi. "ada apa?" lanjutku penasaran dengan raut wajah mereka.
__ADS_1
"wow.. kau hebat, sekarang mau jadi pacar yang berani ya kamu" kata Lisa tersenyum.
"benar, biasanya kamu takut dengan Barra, sampai-sampai udah kaya suami istri beneran" lanjut Nita.
"aku hanya memberi nomorku saja, apa itu salah?" ujarku berusaha untuk membenarkan diriku sendiri.
"tidak, kamu tidak salah, lanjutkan saja, seperti itulah keinginan kami sebagai teman, sebenarnya kami ingin melihatmu menjalani masa muda dengan bahagia, bukannya malah pahit" kata Eve.
"benar, selagi kamu belum menikah, jangan kamu sia-siakan masa-masamu hanya untuk menuruti orang yang belum tentu menjadi suamimu, bersenang-senanglah seperti saat ini, keluar rumah bersama teman atau pacar, tapi jika pacarmu tidak mau keluar dan sibuk dengan urusannya terus, kamu boleh mencoba dengan pria lain, carilah yang membuatmu nyaman dan senang selagi belum menikah" jelas Nita membuatku tersadar akan kenyataan hidupku, benar.. Nita benar, sudah 5 tahun aku pacaran dengan Barra, tapi hanya sedikit momen yang kita dapat, itupun selalu saja ribut masalah waktu.
"mungkin aku akan mencobanya" kataku pada teman-temanku.
"tapi dia tampan sekali" kata Eve sambil cengar-cengir.
"kamu boleh memilikinya kalau mau" candaku.
author POV.
"kamu yakin mau mendekatinya?" tanya David saat mereka melihat Irfan memberi makanan pada Bella.
"lagipula aku kesepian tanpa wanita" jawab Aksa sembari menghisap rokoknya, David menatap Aksa lalu menegak gelas berisi alkohol.
"aku berharap kamu tidak menaruh hati padanya" kata David membuat Aksa menatapnya.
"kenapa? kamu khawatir aku tidak bisa menemanimu main lagi" gurau Aksa yang tersenyum lebar, David mendecih geli mendengar jawaban sahabatnya yang aneh ini.
"masih banyak perempuan di luar kenapa harus tetangga" kata David.
"santai saja, aku hanya butuh teman perempuan, lagipula kamu kan tidak bisa jadi perempuan" celetuk Aksa sembari meminum alkoholnya.
"oke, aku berani taruhan, kamu akan menaruh hati padanya, perempuan seperti dia mampu membuat hati lelaki yang mendekatinya jatuh cinta" kata David mengingatkan Aksa.
"iya bawel, nggak beda kaya ibuku, cerewet".
"aku akan mengirim nomornya lewat pesan" kata Irfan yang barusaja datang. Aksa tersenyum lebar.
"oke" jawab Aksa sembari berdiri menjauh dari David dan Irfan.
"mau kemana? katanya mau simpen nomor dia" ujar Irfan, tapi tidak ada jawaban dari Aksa, dia terus berjalan ke arah Bella dan teman-temannya, terlihat semua pandangan empat perempuan itu menatap Aksa yang semakin mendekat.
"cara berjalannya saja sudah gagah apalagi penampilannya" lirih Eve kagum padanya yang di dengar teman-temannya.
"Bella" sapa Aksa yang berdiri di sebelah Bella sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana jins.
"mau duduk berdua?" tawar Aksa membuat teman-teman Bella terpukau.
Bella tidak menjawab, dia hanya tersenyum lalu berdiri dan menuju kursi yang masih kosong, hal itu membuat Aksa tersenyum lebar tanda kemenangan.
David yang masih bersama Irfan di bar menggelengkan kepala.
"apa dia masa pubertas?" lirih David yang didengar Irfan.
__ADS_1
"mereka tidak terlalu buruk" kata Irfan.