
Pagi hari...
"paket!" teriak Aksa saat tiba di depan rumah penerima paket.
pekerjaan Aksa seorang kurir, dia harus mengantarkan banyak paket dari pagi hingga sore.
"berapa mas?" tanya seorang penerima paket.
"seratus ribu mas" jawabnya, lalu mereka bertukar dengan paket yang dibawa Aksa, seperti itulah pekerjaannya, belum lagi kalau salah alamat, dia harus mencarinya hingga ketemu, dia melihat langit yang begitu mendung, dia bekerja lagi dengan membawa banyak paket.
"aku harus cepat mengantar paket agar tidak terlalu susah jika hujan" batin Aksa.
***
di sebuah toko roti Bella sedang merapikan roti-roti yang berantakan, ya.. dia bekerja sebagai pegawai toko roti, dia tak mau terjun di toko kedua orangtuanya. Dia sudah merasa muak dengan keluarganya.
"Bella.. nanti malem ikut kita yuk di kafe coffee madness" kata Nita pada Bella.
"mau kesana? bolehlah, aku ikut" katanya. "mmm.. tapi, boleh nggak kalau aku bawa pacarku?" lanjutnya.
"pacar? tapi.. kita semua nggak ada yang bawa pacar Bell" jawab Nita yang sedikit tidak enak hati menolak Bella.
"oh begitu ya, ya sudah nanti aku akan menghubungimu kalau aku ikut" kata Bella yang lembut, sosoknya yang lembut membuat semua orang yang berbicara padanya tidak bisa marah.
"maafkan aku ya" kata Nita sembari menatapnya. "apa Barra masih posesif padamu?" lanjutnya, Bella mengangguk pelan dan menghela nafas berat membuat temannya iba.
Bella dan Nita menoleh ke luar saat hujan tiba-tiba turun dengan deras, lalu ada seorang laki-laki yang membelakangi pintu toko hanya untuk berteduh selagi dia memakai mantel hujan.
"sepertinya pernah lihat" batin Bella, Aksa.. dia membelakangi pintu toko roti itu mencari tempat aman untuk memakai mantel hujannya di depan toko roti 'sweet bread' tempat kerja Bella.
Bella menggelengkan kepala lalu pergi ke arah dapur.
"halo ada apa bu" tanya Aksa saat menerima telepon dari Ratna.
"kamu sibuk enggak nak? belum selesai yang kirim?"
"belum, ada apa bu?"
"adikmu, pulang sekolah tadi bilang ke mama kalau besuk harus segera membayar bulanan sekolah, dua hari lagi ada ulangan semester, jadi harus menyelesaikan administrasinya" jelas Ratna dengan hati-hati, berat baginya untuk meminta anak memenuhi tanggungjawab yang seharusnya dia dan suaminya lakukan.
"tunggu dulu bu, aku akan carikan dulu" kata Aksa pasrah, mau bagaimana lagi, ayahnya juga tidak pernah memberikan kebutuhan mereka dengan sepenuhnya, hanya Aksa yang bisa di andalkan Ratna saat ini, secepatnya Aksa memakai mantel hujan dan pergi dari sana.
malam hari...
Bella berusaha menghubungi Barra melalui teleponnya, tapi tidak ada jawaban darinya.
__ADS_1
drrtt... drrtt..
ponsel Bella berdering tertera nama 'Nita'.
"halo Nita" sapa Bella.
"Bella, ayo kamu jadi ikut kan?" tanya Nita di seberang sana.
"mmm gimana ya"
"ayolah, kamu masih muda, bahkan Barra hanya pacarmu bukan orang tuamu" kata Nita berusaha meyakinkan temannya.
di rumah Aksa..
"dek, mainan hp mulu, nggak belajar kamu?" tanya Aksa pada Gea yang sedang bersantai memainkan ponselnya.
"ssstt.. udah diem aja deh" kata Gea ketus.
"kamu nggak tau ya bayar sekolahmu itu mahal?" tanya Aksa menyindir adiknya.
"siapa juga yang bilang murah, makanya mas Aksa kan mau kerja, nyanyi aja yang bagus ya, nanti pulang bawa uang yang banyak, buat bayar bulanan sekolahku, semangat mas Aksa" kata Gea cengar cengir sembari meninggalkan Aksa yang mematung.
"anak jaman sekarang pembangkang" lirih Aksa pada diri sendiri.
"kamu dulu juga begitu" kata Ratna tiba-tiba di belakang Aksa sambil membawa cucian.
"makan dulu sebelum berangkat, udah ibu siapin makan malam di meja" kata Ratna perhatian.
"tidak usah bu, aku mau berangkat dulu" pamit Aksa membawa gitar andalannya.
Aksa dan David berboncengan dengan motor, sesampai di kafe Coffe Madness, dia bertemu dengan teman-temannya yang bekerja di kafe tersebut.
"halo bung" sapa Vano dan di sebelahnya ada Irfan, mereka di belakang bar.
"gimana, rame nggak?" tanya David pada mereka berdua yang bersaudara. ya.. Vano dan Irfan bersaudara, umur mereka terpaut satu tahun saja.
"lumayan, ini kan malam minggu, biasanya bakal ramai nanti malem" jawab Irfan.
"aku ke atas dulu" pamit Aksa pada mereka bertiga lalu ke panggung yang hanya sebatas satu tangga saja tingginya.
"mas Aksa, udah Dateng" sapa pak Amar menejer kafe.
"iya pak Amar, Dateng lebih awal aja, keburu hujan, di luar udah mendung" kata Aksa basa basi mempererat hubungan mereka.
"baguslah, aku akan pergi, tunjukkan yang terbaik" kata Amar dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"siap pak Amar"
beberapa menit kemudian setelah semua di panggung sudah siap, dan banyak juga yang datang meskipun tak bersamaan, tapi Aksa melihat semua kursi hampir penuh setelah dia selesai dengan urusannya bebenah di panggung berkarpet merah.
Aksa mulai menyanyi dengan tenang, lantunan gitar andalan dimainkannya sendiri, dia bernyanyi dengan sangat baik untuk di dengar para pengunjung, Vano dan Irfan sibuk melayani para pengunjung yang mulai berdatangan sedangkan David merokok di bar sembari melihat penampilan sahabatnya Aksa yang menyanyi lagu kesukaannya, sesekali David minum alkohol Prost yang dia pesan.
So let it out and let it in, hey Jude, begin,
You're waiting for someone to perform with.
And don't you know that it's just you, hey Jude, you'll do,
The movement you need is on your shoulder.
Aksa menyanyi menikmati lirik lagunya, sesekali dia memandangi pengunjung untuk memastikan apakah mereka menikmati lagu yang dia mainkan, pandangannya spontan tertuju pada empat perempuan yang barusaja masuk, salah satunya adalah Bella, sorot mata Aksa terus menatap perempuan itu.
Aksa tahu bahwa Bella adalah tetangganya, tapi mereka tidak pernah bertemu sama sekali, jikalau bertemupun mereka tak saling sapa karena memang tak saling berkenalan, hanya sebatas tahu nama mereka masing-masing karena bertetangga.
Bella dan teman-temannya duduk di kursi yang masih kosong.
"Vano" panggil Bella menyuruhnya untuk mendekati perempuan itu.
"aku kopi moka dan es latte tiga" kata Bella yang memang sudah akrab dengan vano, pasalnya Vano dan Irfan adalah sepupu Bella.
lalu Bella menatap penyanyi yang berada di depan sana, Bella mengamati Aksa dan menyadarinya bahwa yang menjadi musisi disana adalah tetangganya.
Hey Jude, don't make it bad.
Take a sad song and make it better.
Remember to let her under your skin,
Then you'll begin to make it
Better better better better better better, oh.
Na na na nananana, nannana, hey Jude...
"selamat malam, trimakasih untuk teman-teman yang sudah berkunjung ke kafe 'coffe madness', disini pasti banyak yang sedang merasakan jatuh cinta" kata Aksa berusaha mengajak pengunjung berkomunikasi.
"semua!" teriak salah satu pria dewasa yang bergerombol di bagian kanan sana.
"semua ya" ujar Aksa, sambil terkekeh.. "baiklah aku akan menyanyikan lagu untuk kalian yang saat ini sedang jatuh cinta" lanjutnya. "lagu yang akan kupersembahkan adalah in my life" lanjut Aksa.
"kencangkan musiknya!" teriak lagi pria lain yang sama dengan rombongan pria tadi, membuat Aksa tersenyum manis.
__ADS_1
"cantik" batin Aksa saat melihat Bella yang tengah menatapnya sebelum di benar-benar menyanyi lagi.