
"Aditya" ujar Bella saat mendapati Aditya di belakangnya.
"benar kamu, aku sempat ragu kalau itu benar kamu, ternyata benar" jawab Aditya mendekati Bella dan Aksa yang duduk. Lalu Aditya menatap Aksa sekilas.
"ah kenalin ini Irfan sepupu aku" bohong Bella. Aksa tersentak menatap Bella.
"ah aku kira siapa" jawab Aditya yang tadinya curiga. "salam kenal" lanjut Aditya menyalami Aksa. Aksa hanya tersenyum tak bisa bicara apapun. "oke kalau begitu aku balik dulu ya, udah daritadi aku disini" kata Aditya pamit undur diri tidak mau mengganggu mereka.
"ada apa?" tanya Aksa bingung dengan kebohongan Bella.
"dia teman kuliah Barra pacarku" kata Bella. "untuk berjaga-jaga kalau dia cerita bertemu denganku disini akan lebih aman kalau aku disini dengan sepupuku kan" lanjut Bella yang di angguki Aksa.
"kamu terlihat tidak bebas" ujar Aksa menyelidik sorot mata Bella.
"begitulah" jawab Bella lalu membuang nafas panjang. "bisa dibilang aku terkekang" lanjutnya dengan mata kosong ke arah lain.
"lalu kenapa kau masih mempertahankan hubunganmu? bukankah aneh?" tanya Aksa ingin tahu lebih dalam.
"mungkin aku sudah terbiasa sejak dulu untuk berhubungan bersamanya, yang pasti ada satu hal yang tidak bisa aku iklaskan begitu saja" jawab Bella mulai sadar bahwa Aksa menyelidiki tentang percintaannya. "bagaimana dengan mas Aksa? apa mas Aksa punya pacar?" lanjut Bella bergantian.
"tidak" jawab Aksa menggeleng.
"tidak? bagaimana bisa?"
"aku hanya ingin menemukan orang yang tepat untukku" jawab Aksa sambil tersenyum manis. Bella mulai tertarik dengan jawaban Aksa.
"mmm.. memang apa yang mas Aksa cari dari perempuan yang tepat itu?" tanya Bella membuat Aksa sadar kali ini dan tersenyum.
"baiklah gadis, aku akan memberi akses untukmu" batin Aksa menaiki tingkat 1 level lagi.
"aku suka perempuan sederhana dan setia" jawab Aksa dengan tersenyum.
"pinter juga mas Aksa milihnya" canda Bella.
"terus kriteria apa yang kamu harapkan?" tanya Aksa.
"mmm.. aku suka laki-laki yang membuatku nyaman dan aku ingin menjadi diriku sendiri dalam suatu hubungan".
__ADS_1
"apa kamu sudah mendapatkan dari Barra pacarmu itu?" tanya Aksa lebih dalam lagi. Bella menggeleng.
"entahlah, aku belum mendapatkan semuanya dari mas Barra" jawab Bella dengan tersenyum membuka akses untuk Aksa. lalu Aksa juga tersenyum.
"jangan tersenyum" kata Aksa membuat senyuman Bella seketika memudar.
"kenapa? jelek ya?" tanya Bella.
"banyak laki-laki disini, senyumnya nanti saja, kalau pas lagi berdua sama aku" kata Aksa membuat Bella tersipu malu.
"jangan membual ke perempuan lain ya, sama aku aja biar nggak ada yang suka sama mas Aksa" jawab Bella tak mau kalah darinya.
"curang banget, jadi aku harus kasih hati ke kamu aja nih?" balas Aksa menyelidik. Bella tertawa kemenangan.
"aku harus lebih cerdik dari mas Aksa" katanya sembari terus tertawa.
"ketawa aja masih terlihat anggun" kata Aksa.
begitulah Bella, dia selalu tersenyum bahkan bisa tertawa, dia merasa bebas saat bersama Aksa.
***
"plis deh mas Aksa jangan konyol, rumahku hanya disitu" jawab Bella terkekeh geli mendengarnya.
"kenapa? siapa tahu ada monyet" canda Aksa membuat Bella lagi-lagi tertawa. "tertawa terus ya Bella, aku senang melihatmu tertawa" lanjut Aksa membuat Bella terkesiap bingung, tiba-tiba wajah Bella yang bingung berubah tersadar dan tertawa lagi.
"hei.. aku hampir tertipu gombalanmu, tertawa terus gila dong" jawab Bella.
"kamu paham ya" jawab Aksa berusaha untuk tidak canggung, tapi sebenarnya Aksa benar-benar ingin membuat Bella terus tertawa saat bersamanya, entah rasa apa dan sejak kapan dia ingin membuat hati Bella senang karena dirinya.
"yaudah lah aku pulang dulu ya" kata Bella pamit lalu pergi, mereka melambaikan tangan dengan perasaan sama-sama bahagia.
***
"kemarin kenapa tidak bisa aku hubungi?" tanya Barra saat menemui Bella di tempat kerjanya, saat ini Bella sedang istirahat yang hanya diberi waktu satu jam tapi tiba-tiba Barra muncul, lalu mereka duduk di sebuah kedai kecil yang berada di sebelah tempat kerja Bella.
"aku ada perlu" jawab Bella tahu betul ke arah mana yang Barra maksud.
__ADS_1
"perlu apa?" tanya Barra menyelidik meskipun dia sudah dengar dari Aditya bahwa Bella malam-malam pergi ke kafe dan benar.. Aditya mengatakan bahwa Bella bersama sepupunya.
"hanya urusan saudara, lagipula kemarin setelah kamu pergi aku juga nggak bisa tidur dan lapar" kata Bella membuat Barra sedikit percaya.
"benar kamu sama Irfan?" tanya Barra.
"Aditya yang memberitahumu kan?" tanya Bella. "kenapa tidak menyusul saja kemarin kalau tidak percaya" lanjut Bella, ya.. dia berani bicara seperti itu karena sudah berlalu dan tidak mungkin Barra tahu.
"aku hanya ingin kamu selalu memberitahuku meskipun kamu sedang bersama saudaramu" kata Barra membuat Bella jengah tak menjawab apapun, sungguh.. dia sudah kehabisan kata-kata. "makanlah" kata Barra memerintah Bella untuk memakan steak yang ada di meja.
"haha.. bagaimana bisa aku memakannya, hidangan sudah ada di meja daritadi tapi tidak di persilahkan makan karena omelannya" batin Bella berusaha meluapkan tanpa mengatakan padanya.
"aku tidak berselera" jawab Bella singkat.
"tidak berselera bersamaku?" tanya Barra menduga.
"aku tidak berkata seperti itu" Jawab Bella ketus.
"makan saja Bella, sudah hampir habis jam makan siangnya"
"kamu sudah tahu kan jam makan siangku cuma satu jam? kenapa tidak dari tadi mempersilahkanku makan?!" kata Bella yang mulai marah, entahlah.. dia benci dengan pria di depannya itu.
"apa? kamu berani berkata seperti itu? siapa yang mengajarimu? Irfan? kemarin dia mengajarimu?!" jawab Barra mulai marah.
"kamu pikir aku anak kecil yang di ajari langsung mempraktekkan?! terus kamu pikir kamu siapa? hanya pacar belum suami! lalu kamu pikir aku apa? anjing? yang selalu patuh apapun yang kamu katakan?!" entah darimana keberanian Bella saat ini, mungkin karena memang Barra yang sudah keterlaluan.
"Bella, kamu.."
"kenapa? kaget liat aku seperti ini? pikir dong, tidak semua wanita bisa jinak saat melihat uang yang kamu berikan! coba jinakkan wanita lain dengan uangmu, kalau cocok akan luluh seperti anjing silahkan.. kamu bisa bersamanya!" ketus Bella tanpa ampun. Barra melongo melihat lontaran dari Bella, baru pertama kali ini Bella marah.
lalu Bella pergi begitu saja meninggalkan pacarnya.
"Bella!" panggil Barra yang hendak menyusulnya tapi dia ingat harus ke kasir dulu sebelum pergi, tidak ada gunanya mengejar, toh.. dia juga tidak akan luluh secepat itu. Akhirnya Barra hanya melihat kepergian Bella dengan menyesal.
sepulang kerja Bella di rumah berusaha menghubungi Aksa, tapi tak ada jawaban dari Aksa. benar saja, Aksa masih berkeliling mengantar paket yang belum terselesaikan.
bella melihat banyak pesan dari Barra tapi tidak satupun yang Bella buka, dia hanya ingin bertemu Aksa, ingin sekali.
__ADS_1