
"mas Aksa" lirih Bella membuat Barra menoleh di sampingnya.
Aksa dan Bella sedikit terkejut saat pandangan mereka bertemu, lalu Aksa melihat laki-laki di sebelahnya dengan cepat menduga bahwa yang di panggil sayang adalah kekasih Bella.
"kalian saling kenal?" tanya Barra menatap penampilan Aksa.
"baju, jam tangan, celana, sepatu, semuanya murahan tidak bermerk tapi terlihat sangat keren di pakai pria ini" batin Barra sedikit iri.
"ah ini.. dia mas Aksa tetanggaku" kata Bella sedikit gugup.
"aku Aksa, tetangga Bella" kata Aksa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"aku Barra, pacar Bella" jawab barra membalas uluran tangannya.
"benar dugaanku" batin Aksa.
"kak, aku sudah selesai" kata Gea yang tiba-tiba datang membawa baju yang dipilihnya.
"aku pergi dulu" pamit Aksa sembari tersenyum pada mereka berdua.
"apa kau yakin dia hanya tetangga?" tanya Barra pada Bella, terlihat raut wajah pria ini menyelidik karena pandangan Bella begitu kaget ketika bertemu dengan Aksa.
"kamu tidak percaya padaku?" ujar Bella yang mulai jengah dengan pacarnya ini.
"bukannya tidak percaya, hanya saja kamu terlihat sedikit gugup tadi" jawab Barra yang memang benar adanya.
"terserah kamu saja" kata Bella sambil menaruh baju yang dia pegang lalu berusaha meninggalkan Barra.
"hei.. kenapa? tidak jadi belanja?" tanya Barra mencekal lengan Bella sebelum wanita itu benar-benar pergi.
"aku rasa ini berlebihan, kamu tidak perlu membelikanku apapun, aku sedikit tidak enak badan" bohongnya pada Barra.
"kamu yakin?" tanya Barra tidak percaya "belilah yang kamu mau Bell, tidak usah khawatir, kamu tahu kan aku selalu memberikan apapun yang kamu mau?" lanjut Barra terkesan menekan Bella agar dia tidak menjauhi Barra karena demi uang, dia berpikir bahwa wanita semuanya sama saja seperti ibunya, asal ada uang hati akan luluh, tapi sebaliknya, yang dibutuhkan Bella saat ini dari Barra bukanlah uang.
***
sesampai di rumah Bella, mereka berdua masuk dan tidak mendapati seorangpun, Bella dan Barra tidak membawa belanjaan apapun, Bella bersikukuh menolak untuk berbelanja.
__ADS_1
"ayah dan ibu pergi?" tanya Barra memastikan, ada niat terselubung di hatinya saat ini.
"iya" kata Bella menaruh notes kecil yang sengaja ditempel di lemari es, notes itu dari ibunya bahwa kedua orangtuanya pergi ke luar kota urusan bisnis mereka. Bella mengambil dua gelas, dia hendak menghidangkan teh panas untuk mereka berdua.
sedangkan Barra duduk di sofa memainkan ponselnya sesekali melihat postur tubuh Bella yang ada di dapur, pikiran kotornyapun mulai mulai muncul, lalu Barra mendekati Bella yang membelakanginya, dia memeluk perut Bella.
tak ada perlawanan dari Bella karena memang mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Barra mulai mencium tengkuk wanita ini dan mereka berlanjut lebih dalam lagi di hubungan intim mereka sampai tidak sadar bahwa waktu terus berjalan hingga larut malam.
***
Aksa yang saat ini termenung di depan rumah sembari menghisap rokok merasa sedikit tidak enak hati karena dia tidak menanyakan apapun tentang percintaan Bella saat berkenalan langsung di kafe, dia merutuki dirinya sendiri.
"bagaimana mungkin gadis secantik itu tidak memiliki pacar" batin Aksa. "sudah terlanjur malu,mau gimana lagi" lanjut batinnya.
"Aksa, kamu belum berangkat ke kafe?" tanya Adhitama yang barusaja pulang.
"sebentar lagi" jawab Aksa seadanya.
"makan dulu sebelum berangkat" kata Adhitama yang memang perhatian dengan anaknya, entahlah.. dia menyayangi anak laki-lakinya tapi tidak dengan Gea, hanya sebatas sayang sebagai ayah bukan sayang yang mendalam seperti dia menyayangi Aksa, tapi bagi Gea itu bukanlah masalah, karena Geapun tidak terlalu suka pada ayahnya.
"iya, nanti" jawab Aksa singkat.
***
pandangan Aksa spontan ke arah pintu menatap seorang perempuan muda yang barusaja masuk sendirian, Bella.
Aksa yang profesional terus menatapnya dan tak memberhentikan lagu yang di lantunkannya. Seulas senyuman dari kedua sudut bibir Bella saat mendapati Aksa bernyanyi di panggung.
lalu Bella duduk di kursi kosong dan di hampiri oleh Vano.
"kamu kenapa kesini? kencan dengan Aksa?" tanya Vano yang blak-blakan.
"memangnya kalau aku kesini kencan sama dia ya?" tukas Bella sebal dengan kebenaran Vano, ya.. Bella hanya kesepian di rumah saat Barra pergi, dia ingin menemui Aksa, sejak pertemuan yang tidak di sengaja di kafe ini Bella merasa hatinya senang, seperti menemukan sosok yang benar-benar cocok dengannya, entah itu dari segi pertemanan, kakak beradik ataupun dari segi pacar, semuanya cocok bagi Bella.
"lalu ngapain kamu kesini sendirian?" tanya Vano yang terus meledeknya.
"udah deh Vano plis pergi saja buatkan aku minuman Latte dan kentang gorengnya, oke? harus enak ya, kalau tidak enak aku tidak akan membayar itu" kata Bella mengusir Vano.
__ADS_1
Bella menatap Aksa setelah Vano pergi, dia berharap Aksa menghampirinya setelah selesai menyanyi di depan, Bella melihat jam tangannya. "mungkin sebentar lagi" batin Bella.
benar.. tak lama kemudian Aksa turun dari sana dan menghampirinya. "kenapa sendiri?" tanya Aksa membuat Bella sebal.
"memangnya harus ya kalau kesini sama orang lain?" tukas Bella. Vano dan Aksa sama saja.
Aksa terkekeh geli. "tidak juga, kenapa sebal begitu? aku hanya bertanya" kata Aksa yang sudah tidak canggung lagi.
"aku lapar, dirumah tidak ada makanan apapun, aku rasa dengan datang kesini aku juga tidak akan kesepian" jujur Bella yang berani.
"memangnya kurang ya pacarmu?" ledek Aksa dengan candaan.
"ah dia.. jangan membahas dia, kamu sudah makan?" tanya Bella.
"belum, ayo kita makan" ajak Aksa. "pesan saja" lanjut Aksa lalu Bella melambaikan tangannya memanggil Vano.
"pesananmu baru di buatin di dapur, bisa sabar nggak sih" celetuk Vano.
"kenapa marah? mau aku complaint ke menejermu?" ancam Bella.
"ah jangan.. ada yang bisa saya bantu kakak cantik?" kata Vano berubah gaya imut. Bella dan Aksa mengernyit melihat Vano menjadi aneh untuk dilihat.
"steak dan nasi satu, kamu apa Aksa?" kata Bella.
"aku double steak" kata Aksa. lalu Vano pamit dengan sopannya membuat Bella dan Aksa bergidik ngeri.
"katanya tidak kencan, ternyata kencan juga" lirih Vano sebelum dia benar-benar pergi, tapi Bella dan Aksa masih bisa mendengarnya, hal itu tidak di hiraukan oleh Bella.
"ngomong-ngomong aku tidak menanyaimu tentang pacar waktu itu, apa dia tidak akan marah kalau kita makan bersama seperti ini?" tanya Aksa berusaha membuka obrolan tentang percintaan Bella, karena Aksa melihat Bella sebagai perempuan, bukan sebagai adik ataupun tetangga biasa.
"baiklah, kalau kamu benar-benar ingin membahasnya" kata Bella meletakkan ponselnya di atas meja yang dia genggam sejak tadi. "aku disini tanpa sepengetahuannya, jadi jangan katakan apapun padanya oke!" lanjut Bella dengan senyumannya, Bellapun tahu dia tidak akan bisa bicara dengan Barra.
"baiklah kalau begitu, aku akan memberitahunya" canda Aksa mengubah suasana agar tidak canggung. Bella terkekeh.
"kamu pintar mengubah suasana" ujar Bella.
"benarkah? itulah sebabnya aku terpilih menjadi musisi nomor satu di kafe ini" jawab Aksa dengan percaya diri.
__ADS_1
"oke baiklah aku percaya" kata Bella yang terus tersenyum lebar, di saat-saat seperti inilah yang Bella nantikan saat bersama Barra, tapi semuanya berbeda saat dia bersama Barra, dia tidak pernah membuat Bella tersenyum ataupun senang, sejak kali pertama resmi menjadi pacar hingga sekarang.
"Bella?" sapa seorang pria yang berdiri di belakang Bella.