Alunan Terakhir Untukmu

Alunan Terakhir Untukmu
7 - NGERJAIN PELAKOR


__ADS_3

hari menjelang malam Aksa memarkirkan motor metiknya di depan rumah, terdengar suara ibu dan ayahnya bertengkar di dalam rumah, Aksa melihat sekeliling ada segerombol ibu-ibu yang tengah duduk tak jauh dari rumahnya, mereka tetangganya, pasti mereka juga selalu mendengar pertengkaran itu, tapi sudah menjadi hal biasa bagi mereka.


"lalu mau bagaimana lagi? daganganku saja tidak laku" kata Adhitama pada Ratna. Perkataan samar-samar yang terdengar oleh Aksa semakin terdengar jelas saat Aksa memasuki rumahnya.


"seharusnya kamu bisa mencari sampingan lain kan, demi keluarga kita" kata Ratna tak mau kalah. Aksa melihat ayahnya duduk di lantai depan TV dengan ibunya.


"kamu pikir segampang itu mencari pekerjaan sampingan? belum lagi kalau aku capek butuh istirahat"


"bagaimanapun juga rasa capek itu bukankah semuanya demi keluarga kita?" jawab Ratna yang ada benarnya, laki-laki harusnya bekerja keras, Aksa menghela nafas melihat mereka yang belum sadar akan kedatangan Aksa.


"oh Aksa, sudah pulang" sapa Adhitama yang barusaja menyadari kedatangan anak tercintanya. Lalu Aksa berjalan menuju kamar tanpa sepatah katapun.


"Aksa ibu sudah menyiapkan makanan untukmu di meja, cepat makanlah" kata Ratna berusaha menyingkirkan emosinya.


"dimana Gea?" tanya Aksa setelah keluar dari kamar melihat kamar Gea yang kosong.


"ada belajar kelompok dengan teman sekelasnya" jawab Ratna, lalu Adhitama pergi meninggalkan mereka untuk mandi, ponselnya di atas meja berdering, Aksa melihat tertera nama 'cantik', Aksa mengernyit.


"jangan angkat Sa" perintah ibunya saat melihat Aksa hendak mengangkatnya. Dengan perintah ibunya Aksa menolak sambungan teleponnya, tapi dengan cepat sebuah notifikasi muncul di beranda layar ponsel dengan satu pesan.


"aku tunggu di kafe NightCoffe sayang" pesan singkat dari 'cantik'. Aksa membukanya dan membalasnya.


"aku akan kesana" jawab singkat dari Aksa lalu menghapus pesan dari 'cantik dan balasannya itu.


Aksa bergegas kesana meski Ratna melarangnya, sebelum Aksa benar-benar pergi dia berpesan pada ibunya untuk pura-pura tidak tahu kejadian ini agar ayahnya tidak menyusul, bukan hanya itu, Aksa berusaha menenangkan hati ibunya bahwa dia tidak akan membuat masalah dan berbicara baik-baik pada wanita yang akan ditemuinya.


sesampainya disana Aksa masuk dan melihat ada dua wanita yang duduknya sendiri, dilihat usianya setara dengan kedua orangtua Aksa, bukan.. bukan dia, Aksa pernah melihat foto selingkuhan itu di ponsel ayahnya.


Aksa mengamati yang satunya lagi dan benar saja, dia orangnya, dengan gaya yang modis dan usianya jauh berada di bawah ayahnya. Aksa mulai menghampirinya dan dengan percaya dirinya Aksa duduk di depan wanita itu.


"siapa kamu?" tanya wanita itu dengan bingung, mata wanita itu terlihat sinis saat menatap apapun, apa memang sudah bawaan dari lahir seperti itu?

__ADS_1


"aku? aku hakim yang selalu membela kebenaran" jawab Aksa dengan duduk santainya menatap lekat-lekat mata sinis wanita itu.


"jangan macam-macam kamu!" tegas wanita itu. Aksa mendecih sambil terkekeh, kesan mengejek itu dirasakan oleh wanita itu.


"apa yang bisa kudapat dari wanita selingkuhan Adhitama!" ujar Aksa sarkatis membuat wanita itu bingung. "iya aku Aksa anak Adhitama" lanjut Aksa.


"kamu anaknya Adhitama" ujar wanita itu mengulangnya untuk memastikan benar atau tidak.


"seharusnya kamu tahu siapa aku, dan seharusnya kamu baik padaku agar aku merestui hubungan kalian, tapi sayangnya kamu tidak tahu siapa aku, maka dari sini aku bisa melihat kamu hanya ingin ayahku saja tetapi tidak bisa menerima keadaan keluarga ayahku entah itu memiliki dua anak atau tidak" kata Aksa mencoba mencemooh wanita itu.


"tapi.. aku bisa jel.."


"seharusnya kamu banyak bertanya pada ayahku tentang anak-anaknya lalu kamu mendekati kami untuk mendapatkan hati anak-anaknya bukan?" kata Aksa lagi memotong pembicaraan wanita itu yang mulai gelagapan, akan tetapi sebenarnya semua yang dikatakan Aksa bohong, meskipun wanita itu mendekatinya tetap saja Aksa tidak mau menerima wanita lain selain ibunya.


"kamu..!" ujar wanita itu mulai geram padanya.


"kamu yakin hanya kamu yang dicintai ayahku?" kata Aksa dengan senyum mengejek membuat wanita itu berubah menjadi bertanya-tanya dengan perkataan Aksa.


"ayahku memiliki istri dan dua anak yang terbilang mengerti dengan orangtua, ayahku selalu membanggakan anak-anaknya karena memiliki banyak prestasi di sekolah, meskipun aku belum bisa membahagiakan mereka, dibandingkan denganmu yang selalu manja tidak memberi kebanggaan apapun, apa kamu yakin akan bertahan lama?"


"kamu anak tidak so.."


"pastikan dulu kalau mau merebut suami orang, dan satu lagi, jika suatu saat nanti ayahku mampu meninggalkan kebanggaannya demi dirimu, akan kupastikan juga dia lebih mampu meninggalkan wanita manja yang tak memberi kebanggaan apapun demi wanita lain juga" kata Aksa membuat wanita itu terlihat marah. "jadi tante.. kau harus mengetahui bagaimana watak ayahku, dia suka berselingkuh, berhati-hatilah" lanjut Aksa dengan senyum liciknya lalu pergi meninggalkan wanita itu.


"aku masih muda! jangan panggil aku Tante!" teriak wanita itu yang masih di dengar oleh Aksa, tapi Aksa tak menghiraukannya, terlihat semua pengunjung menoleh ke arah belakang Aksa, tepatnya wanita itu. Aksa hanya tersenyum tetap berjalan keluar ke arah pintu.


***


"terus? kamu nggak tanya-tanya yang lain sama orang itu?" tanya David pada Aksa. Mereka berdua sedang berada di kafe.


"tidak, aku tidak perlu menanyai dia apapun, aku hanya senang mengerjainya saja" jawab Aksa sembari menegak alkohol Prost.

__ADS_1


"nggak sekalian di hancurin saja hubungannya?" tanya Irfan polos yang sedang mengelap gelas-gelas kafe dengan kain. ya.. Aksa, David, Irfan, dan Vano sedang berada di bar kafe.


"kurasa tidak perlu di hancurkan, hanya dengan membuat wanita itu marah terus saja pasti mereka akan bertengkar terus kan" kata David membuat Aksa mengangguk.


"betul, tapi apa nggak repot kalau kamu mengerjainya terus?" tanya Vano yang irit berbicara.


"lumayan repot juga kalau aku berusaha seperti itu terus" jawab Aksa.


"mau gimana lagi, demi keluargamu juga" tukas David.


"tapi kamu mungkin juga membutuhkan hiburan, seperti Bella" kata Irfan membuat David yang menegak alkoholnya tersedak.


"hati-hati boy kalau minum, nanti jantungnya ikut keluar" kata Aksa menepuk-nepuk punggung David dengan santai sembari menghisap rokoknya dan menghembuskannya dengan santai.


"dasar sinting" umpat David melirik ke arah Aksa.


"PDKT sama Bella ya? padahal juga tetangga sejak masih di rahim, kenapa baru kenalan?" tanya Vano dengan polosnya.


"mungkin takdir" jawab Irfan.


"wuih..." lirih Vano melihat ke arah pintu masuk, lalu mereka bertiga menelusuri ke arah pandangan Vano.


ada empat wanita dewasa yang sangat cantik dan modis, mereka terbilang seksi, banyak pasang mata yang memandang mereka termasuk keempat pria yang baru menginjak dewasa ini.


"pas banget ni sama kita berempat, mereka juga berempat" celetuk Irfan membuat mereka terkekeh.


"seksi lagi" tukas David terkekeh geli.


"mereka jijik liat kita" kata Aksa dengan kekehan geli dengan perkataannya sendiri.


"emang ya kita tuh.. udah bikin jijik, miskin lagi" kata Vano membuat mereka tertawa. benar.. mereka semua tidak pernah malu dengan keadaan mereka, bagi mereka akan lebih baik seperti itu daripada harus berpura-pura kaya.

__ADS_1


__ADS_2