
"mas Aksa punya job disini?" tanya Bella basa-basi setelah mereka duduk berdua di tempat lain yang jauh dari teman-temannya.
"tahu namaku dari mana? mau berkenalan dulu?" jawab Aksa menggodanya sambil tersenyum berusaha mencairkan suasana canggung.
"haruskah?" ujar Bella yang sadar dirinya digoda membuat Aksa terkekeh.
"kamu sudah makan?" tanya Aksa.
"sudah"
"tulis nomormu disini" kata Aksa menyodorkan ponselnya.
"tadi udah minta sama Irfan kan"
"minta langsung ke kamu saja" jawabnya Aksa percaya diri.
***
"aku pulang dulu ya" pamit David setelah mengantar Aksa sampai di depan rumahnya.
"kenapa buru-buru? tidak mau mampir?" tanya Aksa yang barusaja turun dari motor David.
"tidak, aku mengantuk" jawab David lalu pergi.
Aksa memasuki rumah melihat kamar Gea sudah tertutup rapat. "dia pasti sudah tidur" batin Aksa.
dia berjalan menuju ke kamarnya terlihat kamar ibunya terbuka, tampak sosok Ratna yang tengah tertidur dengan pulas, tapi tak ada sosok ayahnya, dia mendekati ranjang ibunya dan menaruh sebuah amplop di dekat kepala ibunya, amplop itu berisi uang hasil dari bekerja di kafe tadi.
Dia masuk kamarnya sendiri dan mulai berbaring di ranjang sempitnya. tak lama kemudian terdengar suara motor yang barusaja datang. "itu pasti ayah" batin Aksa, lalu terdengar suara pintu terbuka.
"ah begitu ya, baiklah sayang, aku barusaja sampai di rumah, kenapa kamu belum tidur?" suara Adhitama terdengar keras saat berbicara melalui telepon.
"kalau begitu kita bisa pergi besuk bukan?" lanjut Adhitama membuat hati Aksa kesal dan mulai duduk di tepi ranjangnya.
__ADS_1
"hahahaha... aku juga sudah rindu padamu sayang, padahal barusaja pisah setengah jam yang lalu, hahaha..." kata Adhitama lagi. tangan aksa mengepal dengan kuat.
Aksa berjalan keluar kamar mendapati ayahnya yang tengah duduk di lantai dengan santainya, ya.. rumah mereka sempit jika harus di penuhi dengan kursi, mereka sudah biasa duduk di lantai, Adhitama melihat Aksa yang barusaja keluar kamar dengan raut wajah marah, Adhitama tahu akan hal itu.
"Aksa, kamu belum tidur" sapa Adhitama basa-basi lalu menutup teleponnya sepihak. "ada apa?" tanya Adhitama yang melihat Aksa hanya diam menatapnya dengan penuh amarah.
Aksa melihat di kamar ibunya, terlihat Ratna yang tengah mengusap air matanya, mungkin dia bangun karena terusik suara ricuh ayahnya sendiri saat menelepon tadi, hati Aksa sakit melihat ibunya menangis tanpa ada suara, lalu menatap ayahnya yang bingung padanya, lidahnya kelu untuk berbicara pada ayahnya, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan ayahnya ini, lalu Aksa masuk lagi ke kamar dan menutup pintunya dengan kesal, rasa benci menyelimuti hati dan pikirannya akan tetapi dia tidak bisa apa-apa, karena meski begitu Adhitama tetaplah ayahnya.
pagi hari...
"Aksa, sudah jam tujuh pagi, kamu masuk kerja bukan?" ujar Ratna membangunkan Aksa.
"mmm" dia hanya bergumam.
"amplop yang ada di dekat ibu kemarin itu dari kamu kan?" tanya Ratna memastikan.
"iya" jawabnya dengan suara serak.
"mau berangkat?" tanya Aksa. "apa ibu mau kuantar?" lanjut Aksa mencoba manawarinya, karena ibunya selalu menolak untuk di antar, dia tidak mau merepotkan siapapun meskipun dia sendiri sedang susah.
"tidak, kamu berangkat saja, ibu lebih suka berjalan kaki, akan sehat untuk ibu yang sudah tua ini" bohong Ratna, tentu saja akan sehat, dibalik alasan itu sebenarnya dia menyembunyikan rasa lelahnya untuk berjalan kaki, lalu dia pergi. Aksa keluar dari kamar mendapati ayahnya yang masih terlelap di kamar, dia menghela nafas bosan saat melihat ayahnya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, dia sesegera mungkin sarapan lalu berangkat bekerja, Aksa meraih sepada ontelnnya yang yang berwarna pink itu. ya.. di rumah hanya ada sepeda motor satu yang selalu di pakai ayahnya, dan sepeda ontel dengan keranjang di depannya berwarna pink itu milik Gea yang sengaja tidak dipakainya karena harus di pakai Aksa untuk bekerja, sedangkan Gea... dia sekolah berjalan kaki yang lumayan lelah jika harus di tempuh dengan berjalan kaki.
Begitulah kesederhanaan Aksa, laki-laki yang mengesampingkan rasa malunya demi keluarganya sendiri, hal itu sangat jarang di lalui untuk para lelaki muda di jaman sekarang, tak lupa dengan Ratna dan Gea yang peduli terhadap Aksa meskipun terkadang Gea sangat menyebalkan bagi Aksa tapi dia tetaplah menganggap Aksa sebagai kakaknya yang berjasa, tak lain halnya dengan Ratna, rasa sedih menyelimuti hatinya saat melihat Aksa anak laki-lakinya menjalani hidup yang tidak layak untuk di jalani sebagai seorang anak muda di jaman sekarang.
"Aksa, ini tugas yang harus kau kirim hari ini ya, lima puluh paket" kata Mohan pria paruhbaya yang berasal dari China, dia pemilik toko via paket dimana Aksa bekerja.
"baik koh, akan kuantar" jawab Aksa.
"oh iya, itu motornya belum aku isi bensin, tolong kamu isi dulu ya, uangnya aku taruh di meja" kata Mohan yang baik hati.
"baik koh, oh iya koh, boleh tidak kalau aku meminjam motornya lagi" kata Aksa sedikit tidak enak hati.
__ADS_1
"boleh, bawa saja Asal kau rawat saja motornya dengan benar" jawab Mohan yang memang sudah percaya pada Aksa.
"trimakasih koh" kata Aksa yang harus tahu diri itu. Lalu Aksa mulai bekerja.
pagi berlalu hingga malam, Aksa pulang saat hari sudah berubah menjadi malam, dia sampai rumah dengan motor metik sedangkan sepeda ontelnya berada di kerjaan.
"pinjam motor lagi? buat apa?" tanya Ratna saat melihat Aksa pulang dengan motor.
"bawa Gea beli baju" jawab Aksa.
"kapan? apa dia punya uang?"
"dia mengirimiku pesan tadi meminta baju baru karena hari ini aku menerima upah" jawab Aksa jujur, Gea tidak banyak meminta, baru kali ini dia meminta pada Aksa.
"tidak biasanya" jawab Ratna. "yasudah, apa kamu sudah makan? makanlah dulu selagi Gea masih mandi" lanjutnya.
***
Aksa memainkan ponselnya sembari duduk di kursi sofa tunggu yang berada di toko baju, sedangkan Gea memilah-milah baju disana.
Aksa melihat jam tangannya sudah hampir satu jam dia menunggu adiknya belanja, tak banyak yang di beli Gea tapi memang dia orang yang pemilih.
Aksa mulai bersandar pada sofa dan melihat seorang pria duduk di sebelahnya, mungkin dia juga sedang menunggu seseorang, Aksa melihat-lihat sekitar banyak baju wanita dan pria yang bagus disini pikir Aksa.
"apa aku juga beli saja sekalian" batin Aksa, "ah tidak usah, mungkin jika gajian lain kali saja, biar Gea dulu" lanjut batinnya, upah standart dengan banyak kebutuhan tidak akan cukup bila dia juga ikut belanja.
"sayang, apa ini pantas untukku?" tanya seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari mereka berdua.
"pantas, apapun yang kamu pakai semua akan cocok" Jawab laki-laki yang duduk di sebelah Aksa.
Aksa mendongak melihat sosok perempuan yang berbicara itu.
Bella.
__ADS_1