
Menjadi sempurna dimata
Di mata manusia tidak ada habisnya
-AMELI
Sebastian terlihat melambaikan tangan nya dan ia Pun berjalan menuju kelima teman nya yang sedang berada di taman sebrang jalan.
"Sejak kapan?" tanya bima bangun dari tidur dalam keadaan setengah sadar begitu pula dengan Dovan "Apa, kenapa siapa " ucap Dovan sontak berdiri dalam keadaan setengah sadar
"Lo Sebastian sejak kapan Lo ada di sini" ucap Dovan melihat Sebastian " Udah dari tadi" ucap nya tertawa.
"Apa kabar kalian? Kayak mana sekolah kalian baik baik baik aja kan kalian gak buat ..."
" Gak ko Lo tenang aja sebas" ucap Fatin memotong Sebastian dan dari belakang muncul dua sosok dua orang dewasa ia adalah Dwi dan Rendra "Aa " Dwi memanggil Sebastian "Bunda" Sebastian berlari kecil ke arah Dwi dan memeluk Dwi. Lukas menghampiri Sebastian dan memeluk nya begitu pula dengan Rendra sang papa.
"Kapan Lo datang ke Indonesia cepat banget kemarin lo bilang jam 9 udah sampai ini masih jam 8 kurang" tanya Rama bangun dari duduk nya "gue udah sampai dari jam 6 pagi tadi" jawab Sebastian,
"Tadi gue itu nunggu kalian karena kalian lama jadi gue tidur dulu tahu tahu udah jam 8 aja" lanjut Sebastian.
------------------------
Kini jam istirahat pun berbunyi hal yang paling di tunggu seluruh siswa dan siswi.
"Nil ke kantin yok" ajak Sinta
"Lo aja sin gue bahwa bekal"
"Yaudah gue duluan"
Ditengah perjalanan Sinta menuju ke kantin ia melihat Tino salah satu anggota dari ASOKA, sinta yang melihat Tino pun memanggil nya dan berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Ada apa sin?" tanya Tino karena ia dan Sinta tak begitu akrab jika Sinta memanggilku nya pasti ada sesuatu yang ingin Sinta tanyakan kenapa diri nya.
"Tino kenapa Lucas gak datang?" tanya Sinta karena Sinta sempat lewat di tempat kelas nya Lucas dan ia sama sekali tidak melihat kedatangan Cowok dengan tinggi 170 cm tersebut.
"Jemput pak ketua" jawab Tino seadanya.
"Pak ketua?" pikir Sinta "Sebastian pulang hari ini" lanjut Tino "Yang benar lo sumpah yah gue kangen banget sama Sebastian udah 2 bulan gak sih dia gak sekolah" Sinta menjawab pertanyaan Tino sambil berjalan.
"1 bulan bukan 2" Tino benarkan.
"Masa Sih".
"Lo suka kan sama lucas" ucap nya berhenti Sinta yang mendengar kan perkataan Tino berhenti dan memtatap mata Tino "Menurut lo" jawab Sinta melanjutkan kan perjalanan nya.
----------------------
" Buset dah banyak bener makanan" ucap Rama berhenti ia sangat terkejut melihat makanan yang sudah tersaji di meja makan "Makan nya banyak banget Tante" bima berhenti ia sama terkejut nya dengan Rama.
"buset dah Pelan makannya" Dovan menghampiri bangku samping Sebastian dan duduk di sana di susul dengan Rama, Fatin, Bima, dan Lucas.
"Woi ambil minum cepat" Sebastian terbatuk batuk dan dengan cepat Lukas memberikan minum kepada sang kakak "Pelan pelan makan nya kak"
"Makasih adek ku sayang" ucap nya melanjutkan makan nya.
"Apa tadi Lo bilang bas adek jarang jarang lo panggil Lucas adek " ucap Bima heran karena sangat jarang Sebastian memanggil Lucas dengan sebutan adek
"Iya Lucas kan emang adek gue terserah gue panggil dia apa mau gue panggil adek, Lucas, sayang pun gak apa apa" jawab Sebastian.
"Panggil sayang aja" Lukas sambil memakan makan nya, Sebastian yang mendengar perkataan Lucas melihat ke arah Lucas "Kas lo gay?" Sebastian melirik ke arah Lucas dengan makanan yang masih ada di mulut nya "Bercanda, gue suka saat lo panggil gue adek " Lucas tersenyum ke arah Sebastian dengan senyuman teduh.
"Tante gak makan" ucap Fatin melirik ke arah Dwi terlihat Dwi sedang berdiri tak jauh dari meja makan Dwi yang merasa di panggil pun tersenyum ke arah Fatin dan mengatakan " Tante udah makan" Dwi membalas ucapan Fatin.
__ADS_1
"Kalian makan dulu yah Tante mau ke belakang" Dwi pun pergi Fatin, Dovan, ,Rama, Bima,Lucas, dan Sebastian membalas nya dengan anggukan kepala.
-----------------
"Tino, Sebas ke Amerika ngapain sih?" tanya Sinta penasaran "Pameran lukisan dan salah satu lukisan Sebas ada di sana" jawab Tino.
Sinta yang sedang asyik memakan baksonya ia tanpa sengaja melihat Amel sedang duduk sendiri ia terlihat sedang makan nasi goreng. Sinta pun menghampiri Amel dan memukul meja hal itu membuat amel terkejut Amel yang tandi nya menunduk kepada memtatap makan nya kini melirik menatap mata coklat milik sinta.
"Sin makan"
" Iya gue tahu Lo lagi makan bukan berak" jawab Sinta ia lantas duduk di bangku depan Amel.
"Mel lo gak rindu sama gue?" Sinta tersenyum sumringah ke arah Amel dan Amel hanya diam ia sangat takut dengan Sinta.
"KAlAU GUE TANYA ITU DI JAWAB" bentak Sinta Amel tersentak diri nya bergetar. karena geram tidak mendapat jawaban dari Amel Sinta pun berdiri ia lantas menjambak rambut Amel dengan kuat.
Bugh
"Aghk..." Amel terjatuh dari tempat duduk nya dengan rambut yang masih di pegang kuat oleh sinta.
Siswa siswi yang melihat kejadian tersebut hanya bisa diam meraka terlalu takut untuk melawan atau membelah Amel.
Bugh
Bugh
Sinta memukul kepala Amel ke lantai hingga terlihat kepala Amel terluka dan berdarah. tanpa rasa kasihan sama sekali Sinta menginjak kepala Amel.
"Ampun... ampun Sin"
"Apa Lo bilang, gue gak denger ngomong yang kuat"
__ADS_1
"Ampun ampun aku minta maaf" ucap Sinta sambil menangis.