AN ESCAPE RABBIT FROM MOON

AN ESCAPE RABBIT FROM MOON
PROLOG


__ADS_3

Ketika kupikir aku sudah pernah merasakan segala macam rasa sakit,


Ketika kupikir aku sudah mulai terbiasa,


Kukatakan pada diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja,


Hingga aku sadar, aku tidak ingin melewati semua ini sendiri.


 


 


***


Tidak ada yang bisa menolongku dari atmosfer aneh yang ada di sekitar kami. Sudah hampir satu jam dan aku hanya diam saja sambil sesekali meneguk es lemonade didepanku. Harusnya aku menolak sejak awal, namun tuntutan kehidupan membuatku harus mengiyakan ajakan Kakek Herdi untuk bertemu dengan cucunya. Tuntutan kehidupan yang kumaksud adalah, menyelamatkan ruko tempatku tinggal saat ini. Aku tahu bahwa takdir selalu bisa berubah-ubah, namun akhir-akhir ini aku merasa seolah-olah takdir terlalu asyik mempermainkanku.


Aku bertemu dengan Kakek Herdi seminggu yang lalu, ketika tiba-tiba aku menemukannya terduduk lemas didepan ruko-ku. Aku tidak tahu apa yang membuat seorang kakek berusia 75tahun berjalan-jalan sendirian di area ruko tanpa ada yang mengawasi. Saat melihat Kakek Herdi tidak sanggup untuk bangun, aku langsung membawanya ke klinik untuk mendapatkan perawatan.


Kupikir kisahku dan Kakek Herdi akan berhenti disana, namun tiga hari berselang setelah aku menolongnya, beberapa orang berjas seperti pebisnis, mendatangi ruko tempatku tinggal sekaligus tempat usaha digital printingku. Aku membuka usaha digital printing di sebuah ruko yang aku sewa di salah satu tempat startegis di kawasan perkantoran, yang ternyata adalah properti milik Kakek Herdi―founder dari kerajaan bisnis Widipa Group. Orang-orang dengan setelah jas yang mendatangi ruko-ku adalah orang suruhan Kakek Herdi yang memintaku untuk datang ke Head Office Widipa Group.


Begitulah awal cerita bagaimana aku dapat berakhir di tengah-tengah situasi canggung dan hubungan rumit seorang kakek dan cucunya. Tidakkah seharusnya susana menjadi lebih ceria disini?


“Kek, mendingan Indi pulang ya, biar kakek sama cucu kakek bisa ngobrol santai..”kataku, memberanikan diri untuk memecah ketegangan yang ada di sekeliling kami.


“Dari awal saya juga bingung kenapa kamu ada disini, kamu pikir kamu siapa?”ujar laki-laki yang duduk berhadapan dengan kakek Herdi.


Aku sudah hampir terbiasa dengan komentar-komentar pedas dan komplain dari pelangganku, namun aku tidak menyangka bahwa mendengarnya mengatakan itu membuatku kesal. “Oh, maaf karena telah mengganggu...”kataku berusaha tetap tenang, walaupun aku sangat ingin menuangkan sisa es lemonadeku di atas kepalanya.


“Wasa!”tegur Kakek Herdik dengan suara yang cukup lantang.


Sebenarnya ada permasalahan apa sampai-sampai mereka tidak bisa mengobrol seperti layaknya keluarga. Meskipun aku sendiri juga tidak mengerti bagaimana seharusnya hubungan keluarga itu seperti apa. Aku hanya ingin mereka tidak melibatkanku dengan sesuatu yang rumit. Hidupku sudah cukup sulit belakangan ini.


“Kakek ingin kamu tunangan dengan Indi.”Ujar Kakek Herdi dengan suara pelan yang jelas. Sangat jelas sampai-sampai aku menjatuhkan ponselku. Aku buru-buru mengambilnya.


Bertunangan dengan laki-laki yang tidak kukenal, ditambah lagi ucapannya yang kasar. Hanya perempuan yang cukup gila, yang berani menerima pertunangan itu.


Aku menghadap ke Kakek Herdi, dengan mata yang tidak berhenti mengerjap selama beberapa saat. Dan aku harus memulai, untuk mengakhiri situasi aneh ini, sebelum ucapan jahat lain keluar dari mulut kasar laki-laki bernama Wasa itu.


“Sebentar kek, kayaknya kakek kecapekan lagi, perlu istirhat...”ujarku panik sembari berusaha tetap tenang menyusun setiap kata diotakku, “Indi dan Kakek aja baru ketemu tiga hari yang lalu, ketemu Mas Wasa juga baru hari ini, nggak mungkin kita tunangan, kek.”lanjutku, aku harus memanggil Wasa dengan sebutan ‘Mas’ karena sepertinya ia lebih tua beberapa tahun dariku.


“Nggak bisa.”tolak Wasa dengan suara keras, dan itu cukup membuatku kaget. “Wasa udah punya pacar.”


“Putusin pacar kamu.”timpal Kakek Herdi cepat.


“Uhm, Kek..Indi ke toilet dulu ya...”Ucapku seraya buru-buru beranjak dari kursi.


Aku buru-buru meinggalkan Kakek Herdi dan Wasa, buru-buru keluar dari ruangan. Aku tidak sanggup jika harus berada di ruangan dengan atmosfer menyesakkan seolah aku tidak berpijak di bumi dan kehabisan udara. Padahal harusnya mini cafe yang sepertinya dibuat khusus untuk pegawai-pegawai tertentu itu dapat membuat rileks disela-sela kepadatan deadline kerja, namun mendadak menjadi zona penuh ketegangan. Bahkan beberapa orang yang sebelumnya santai menikmati waktu istirahat, memilih untuk pergi. Pilihan yang bijak.


Kakiku tidak berhenti menyusuri lorong-lorong gedung. Sejujurnya aku tidak tahu toilet yang kutuju berada dimana, dan aku terlalu takut untuk bertanya. Sejak keluar dari ruangan, orang-orang yang berpapasan denganku menatapku dengan sorot mata ingin tahu. Kenapa mereka repot-repot memikirkan urusan orang lain?


Masih dengan ke-sok tahu-an dan secara asal berbelok ke lorong-lorong yang sama sekali tidak menuntunku ke arah yang benar. Sudah lima menit berlalu. Rasanya aku ingin mengutuk pembuat desain gedung ini, mengapa sangat sulit menemukan toilet?


“Hey! Do you need some help?”tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari arah belakang.


Refleks, aku menepis tangan itu dan membalikkan badan. Aku terkejut ketika melihat sosok laki-laki tinggi menjulang sudah berdiri didepanku. Kulitnya putih bersih, namun pada bagian hidungnya terlihat sedikit lebih merah. Mungkinkah ia sedang flu? Ia tersenyum dengan mata terpejam, mungkin karena ia tidak memiliki lipatan pada kelopak matanya. Tampan. Mari lupakan tentang ketampanannya untuk nanti, atau kapanpun itu jika suatu hari nanti kami bertemu kembali, meskipun aku tidak yakin soal itu.


“Uhm, could you tell me where the toilet is?”tanyaku.

__ADS_1


Lagi-lagi ia tersenyum.


“Turn right at the next corner. Then walk straight a little bit, you will find the toilet next to C meeting room”.jawabnya ramah. Bahkan suaranya terdengar lembut ditelingaku, sangat berbanding terbalik dengan suara ketus Wasa kepadaku. Mengingatnya saja membuatku kesal.


“Thank you.”kataku sembari membungkukkan badan sedikit.


Aku baru akan berbalik, ketika ia menggapai pergelangan tanganku, menggenggamnnya selama sepersekian detik, lalu buru-buru menghempaskannya dengan sedikit kasar. Ia terlihat terkejut.


“Maaf...”ujarnya lirih. Ternyata ia bisa berbahasa Indonesia. Meskipun terdengar sedikit berbeda di telingaku. “I have band-aid, if you want.”ujarnya sembari merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan plester luka berwarna coklat dari dalamnya.


“Huh?”Aku masih tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba menawarkan plester luka kepadaku.


Pria di didepanku ini menunjuk kearah sepatuku. Aku menunduk mencoba mengapati apa yang aneh. Ah! Aku ingat. Hari ini aku memakai heels baruku dan sepertinya itu membuat tumitku lecet.


“Terima kasih.”kataku, sembari mengambil plester luka yang diberikan pria di didepanku ini, namun ia menahannya.


“I can help you applying the band-aid,”tanpa menunggu respond dariku, pria itu langsung mengambil posisi berjongkok didepanku.


“No! It’s okay, I’m good!”kataku mulai panik ketika melihatnya membuka pembungkus plester luka dengan posisi berjongkok, sementara aku berdiri.


“Tidak apa-apa...”ujarnya seraya mulai memegang bagian belakang sepatuku, menganggat kakiku sedikit, lalu memasangkan plester luka dibagian tumitku yang lecet.


Ia memasangkan plester luka itu dengan sangat hati-hati. Setelah selesai dengan tumit kaki kanan, ia kembali merogoh sakunya dan mengeluarkan plester luka yang lain dan menempelkannya di tumit kiriku. Sepertinya aku perlu berterimakasih kepada Kakek Herdi, jika bukan karenanya, aku tidak akan bisa berjumpa dengan malaikat tampan seperti yang ada dihadapanku sekarang ini.


“How is it?Feels better now?”ujarnya sembari bangkit berdiri.


“Uhm, yeah. Thank you.”kataku berusaha tetap tenang meskipun aku ingin sekali berteriak. Jantungku berdetak lebih cepat sekarang.


“Turn right at the next corner. Then walk straight a little bit, you will find the toilet next to C meeting room”jelasnya lagi dengan ramah.


“Fei Long!What are you doing there?! We’d better get back for the meeting!”teriak seseorang dari ujung lorong.


Bahkan melihat punggunya saja membuat darahku berdesir.


Aku mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh pria yang kini kuketahui bernama Fei Long. Tidak lama setelah merapikan rambut, dan mengatur napas, juga hati sebelum kembali menemui Kakek Herdi.


Lagi-lagi aku tersesat. Kini aku tidak bisa menemukan jalan kembali ke mini cafe tempat Kakek Herdi dan Wasa.


“Kamu apa-apaan sih, aku sudah sering bilang ini ke kamu. Aku masih sayang Hindia.”Aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku. Selain itu aku juga mendengar namaku disebut. Iya, namaku Hindia, tetapi orang-orang suka memanggilku Indi.


Aku mengikuti asal suara itu, yang tanpa disengaja telah membimbingku kembali ke mini cafe. Bian! Apa yang dia lalukan disini? Tidak hanya itu, Kakek Herdi dan Wasa sepertinya juga mendengar suara Bian yang cukup keras, sampai memutuskan untuk keluar ruangan.


“Sherina, kamu ngapain disini?”tanya Kakek Herdi.


“Ternyata kamu disini, pantesan Papa minta aku untuk ajak kamu makan siang bareng kakek juga.”ujar Wasa santai.


“Hindia...”Bian terkejut ketika melihatku. Ia buru-buru menghampiriku.


Suara Bian masih membuatku merindukannya, bahkan hingga saat ini. Terakhir kali aku menghubunginya adalah ketika aku membawa Kakek Herdi menuju ke kliniknya. Aku memang berniat tidak akan lagi menghubunginya. Hubungan yang telah terjalin selama empat tahun, harus kuakhiri, sebelum benangnya semakin sulit dilepas. Tentu saja aku mencintainya, namun aku tidak akan membuat Bian kehilangan orangtuanya hanya untuk bersamaku. Kehilangan yang kumaksud adalah kasih sayang orangtua kepada anaknya.


Bagi seorang anak yatim-piatu sepertiku, yang sejak umur delapan tahun tinggal di Panti Asuhan, kasih sayang orang tua seperti berlian di mataku. Perhiasan yang tidak akan pernah sanggup kubeli dan kumiliki. Tentu aku pernah berharap orang tua Bian akan menerimaku seperti anak mereka, namun sepertinya aku berharap terlalu tinggi.


Melihat cara Bian menatapku, aku yakin masih ada aku di hatinya. Ingin rasanya menjadi egois, lalu mengikat Bian di sisiku. Membayangkan menghabiskan banyak waktu bersama, hingga suatu hari nanti kami memiliki putra dan putri yang akan kami antar ke sekolah. Menyiapkan sarapan, bekal, dan menunggu Bian untuk pulang, lalu berada di peluknya semalaman. Tidakkah terdengar menyenangkan?


Bian berjalan mendekatiku, tanpa memerdulikan tangan wanita bernama Sherina yang berusaha menahannya,“Hindia...marry me..”bisiknya tepat di telingaku.


Seketika itu juga, sebelum airmataku sempat menetes, aku bergerak ke sisi Wasa. Bergelanyut manja padanya yang lebih nampak terkejut daripada risih melihat perubahan sikapku. Mau tidak mau, aku harus melakukannya.

__ADS_1


Aku mengantungkan kedua tanganku di leher Wasa tanpa memerdulikan semua mata yang tertuju kepada kami.


“Aku akan memberikan imbalannya nanti, berpura-puralah menjadi tunanganku sebentar saja..”pintaku dengan suuara pelan tepat di telinga Wasa.


“Oh, Okay.”jawabnya cepat. Kupikir ia adalah tipe orang yang sulit untuk diajak berkompromi, namun dugaanku salah. Wasa tidak menolak atau bahkan membantah permintaanku yang sangat mendadak.


Wasa tiba-tiba melingkarkan sebelah tangannya di pinggulku, menarik tubuhku lebih menempel dengan dadanya.


“Bukannya kamu Bian? Pacar baru Sherina.”ujar Wasa. “Harusnya kamu nggak seenaknya bilang sayang ke calon tunangan orang lain...”imbuhnya.


“Hindia...kamu enggak serius kan sama dia?”tanya Bian. Aku bisa mendengar suaranya bergetar.


Aku diam saja dan makin membenamkan wajahku dipelukan Wasa. Aku tidak lagi sanggup membendung air mata yang sejak tadi kutahan. Tentu saja aku mencintai Bian. Berharap ada jalan yang bisa kami ambil untuk lembar baru kami. Seolah-olah cerita kami adalah buku yang lembar akhirnya dirobek paksa.


“Hindia...”


Aku merasakan ada yang menggenggam jemariku, tapi detik berikutnya genggaman itu dilepas paksa oleh tangan yang lain.


“Sorry, Indi bukan punya kamu lagi sekarang. Kami akan tunangan sebentar lagi.”jelas Wasa.


“Kamu hutang aku penjelasan, Ndi...”suara Bian.


Itu adalah kalimat terakhir yang ia ucapkan, sebeum aku mendengar suara langkah kaki yang samar-samar semakin menjauh.


“Bian tunggu!”teriak sebuah suara wanita, diikuti dengan langkah kaki yang cepat.


Tidak lama berselang, Wasa mendorong perlahan tubuhku.


“Baju saya basah karena kamu nangis...”Ujar Wasa terdengar kesal.


“Maaf.”kataku seraya menyeka air mataku dengan punggung tangan.


“Pake ini.”Wasa memberikan sapu tangan kearahku. “Sapu tagan saya bersih, belum saya pakai.”tambahnya lagi saat melihatku ragu untuk mengambil sapu tangan di tangannya.


“Terimakasih...”ujarku lirih sambil menyeka sisa airmataku dengan sapu tangan yang diberikan Wasa.


“Sepertinya kalian sudah saling menerima satu sama lain”ujar Kakek Herdi membuatku sadar bahwa ia ada didekat kami sejak tadi.


“Kakek! Wasa sudah punya pacar!”


“Kek, Indi bisa jelasin. Jadi tadi itu situasinya nggak bisa dikontrol”kataku mulai panik.


Kakek Herdi menemuk bahuku dan bahu Wasa secara bersamaan, “Kalian ngga usah malu-malu”.


“Kek! Dengerin Wasa dulu dong...”ujar Wasa dengan nada putus asa.


“Kamu tenang aja. Kakek yang akan siapin pertunangan kalian”.


Rasanya aku tidak sanggup melihat wajah Wasa saat ini. Aku yang memaksanya terlibat kedalam skenarioku. Bisa kubayangkan betapa kesalnya ia saat ini.


***


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2