
Tidak ada yang menyangka, bahwa makan malam yang tenang dapat menjadi bencana. Aku tidak tahu siapa yang memulai, namun suara teriakan seorang perempuan di dekat toilet membuat fokus kami, seluruh pengunjung restoran, tertuju kepada dua orang pria yang sedang berkelahi. Harusnya malam ini aku mendapat reward dari kerja kerasku seharian ini. Aku sampai melupakan makan siang, demi dapat memenuhi janji makan malam bersama Kakek Herdi.
Saat aku dan Wasa datang, di meja yang telah dipesan telah duduk melingkar dari sisi kanan setelah dua bangku kosong, Alan, lalu tunangannya yang bernama Rachel, kemudian ada Bian, dan juga Sherina ikut bergabung. Aku sampai hampir tersandung kakiku sendiri ketika melihat Bian sudah duduk di sana sembari mengobrol dengan Kakek Herdi ketika aku datang.
Alan adalah orang yang menyapaku setelah Kakek Herdi. Ia memperkenalkanku dengan tunangannya itu. Dari cerita Alan, aku mengetahui bahwa mereka baru berpacaran kurang dari satu tahun karena dijodohkan oleh orang tua mereka. Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala ketika saat Alan bercerita.
Tak selang beberapa lama, Sherina meminta Rachel untuk menemaninya ke toilet. Rachel mengiyakan ajakan Rachel dan meninggalkan kami yang tersisa, mengobrol santai ditemani dengan makanan pembuka yang sudah datang.
Entah bagaimana drama kehidupan ini berjalan, ketika aku sibuk mendengarkan cerita tentang masa muda Kakek Herdi, dan kenakalan Alan saat ia duduk dibangku SMA, Bian dan Wasa sedang baku hantam di depan toilet dan menarik perhatian seluruh pengunjung.
Sampai detik inipun aku aku tidak tahu ucapan siapa yang dapat kupegang. Wasa dengan hidungnya yang mimisan segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat ditemani oleh Kakek Herdi, Rachel dan Sherina. Sementara itu, aku, Alan, dan Bian, menunggu di lobi restaurant. Petugas restaurant baru saja datang menghampiri kamu dan memberikan kompres dingin es batu kepada Bian.
“Kamu kenapa sih, Bi..”kataku akhirnya.
“Wasa nggak pantes dapetin kamu.”ujarnya sambil sesekali meringis ketika kompres ditangannya menyentuh sudut bibirnya yang lecet.
“Bukan karena kita nggak bisa sama-sama, terus kamu berhak ngatur siapa aja yang bisa deket sama aku..”
“Kamu bisa deket sama siapa aja, tapi bukan laki-laki brengsek kayak dia.”Aku seolah bisa melihat kilatan kemarahan di mata Bian.
Aku sudah mengenal Bian sejak lama. Biang bukanlah orang yang gampang tersulut emosi, namun ia cenderuk sangat protektif jika menyangkut orang-orang terdekatnya diganggu. Ia adalah tipe teman yang suportif, sahabat yang dapat diandalkan, senior populer yang baik hati, dan juga dokter tampan yang ramah. Aku nyaris tidak pernah melihatnya marah sepanjang hubungan kami berjalan selama empat tahun. Jadi, jika anggapanku benar, yang memicu pertengkaran ini terjadi adalah Wasa.
“Kamu sebut adik laki-lakiku brengsek, aku harap kamu punya alasan cukup bagus agar aku tidak membuat pertengkaran lain di sini.”ujar Alan dengan nada mengancam. Ia tiba-tiba saja berubah dari ramah menjadi orang yang mengintimidasi.
Bian tertawa sebentar, kemudian berubah serius lagi, ketika menatap Alan.
“Wasa memcium tunanganmu didekat toilet.”ucap Bian singkat.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, karena tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Wasa adalah tunanganku, namun aku telah berjanji kepadanya bahwa ia bisa berpacaran dengan siapapun, karena baik aku ataupun Wasa tidak berniat untuk membawa pertunangan ini ke hubungan yag lebih jauh lagi. Tidak, terimakasih. Tapi, mencium tunangan dari kakaknya sendiri, termasuk tindakan yang tidak biasa.
“Tunjukkan aku buktinya.”Ujar Alan dingin.
Lagi-lagi Bian tertawa sebentar, “Apakah menurutmu aku terlihat seperti manusia rendahan yang merekam video seperti itu, huh?”
Alan diam.
Bagaimana bisa Wasa melakukan hal ini kepada kakaknya sendiri? Aku penasaran, apakah pacar yag dimaksud Wasa adalah Rachel?
“Mari anggap ini sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi. Tidak ada bukti.”Ujar Alan.
“Apakah kamu diam-diam juga mencium tunangan orang lain?”tanya Bian, terlihat jelas ia masih sangat emosional.
“Aku tidak ada waktu untuk itu.”jawab Alan santai. “Aku akan bertanya langsung pada Wasa dan Rachel.”lanjutnya masih dengan pembawaannya yang tenang.
“Aku akan antar Hindi pulang.”Bian menggenggam tanganku, sampai tubuhku ikut tertarik.
Alan buru-buru menahan Bian yang bermaksud untuk mengajakku keluar dari restaurant.
“Indi adalah bagian dari keluarga Widipa sekarang, jadi aku yang akan mengantar dia pulang.”ujar Alan sembari menarik tanganku dari genggaman Bian.
“Baiklah, tapi aku perlu bisara berdua dengan Hindi sebelum dia pulang.”pinta Bian pada Alan.
“Oke, silahkan. Aku akan minta petugas untuk ambil mobilku. Take your time.”Alan mengiyakan permintaan Bian, kemudian beranjak pergi menuju petugas valley.
Kini tinggal aku dan Bian. Keadaan sunyi untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Apa kamu percaya dengan apa yang aku katakan?”tanya Bian.
Aku tidak lekas menjawab. Aku butuh mencari jawaban yang benar. Bukan jawaban yang kuyakini. Bukan jawaban untuk menyenangkan hati Bian atau membuatnya menjauh. Mempertimbangkan situasi pertunanganku dan Wasa yang sama sekali tidak dilandasi perasaan. Ditambah lagi, sejak awal dia mengatakan padaku bahwa ia telah memiliki kekasih, sekaligus permintaannya yang boleh membiarkannya ttap berkencan dengan kekasihnya ini.
“Aku kenal kamu, jadi aku tahu kamu ngga mungkin bohong.”jawabku, dan langsung kusesali didetik berikutnya selesai kuucapkan. Aku menjawab berdasarkan perasaanku terhadap Bian yang tidak pernah berubah bahkan sampai saat ini. Aku mengenalnya dengan baik. Aku mempercayainya.
Bian tersenyum mendengar jawabanku. Ia terlihat lega.
“Thanks..”ucapnya lirih.
“Indi!”Suara Alan dari kejauhan memanggil.
“Aku pulang dulu.”kataku sembari menepuk pundak Bian sebelum bergabung dengan Alan yang sudah menungguku di luar lobby.
Sebelum masuk ke mobil, aku sempat menoleh kembali ke tempat Bian berdiri. Dia masih di sana. Ia melambaikan tangannya ketika melihatku. Rasnya aku tidak ingin membuang perasaan ini. Aku menyukai perasaan menggelitik yang membahagiakan ini. Melihatnya memperhatikanku bahkan sampai aku masuk ke dalam mobil. Aku tau aku merindukannya.
“Aku akan langsung mengantarmu pulang.”ujar Alan sembari mulai melajukan mobilnya pelan keluar dari area restaurant.
“Apakah kita tidak perlu melihat keadaan Wasa?”tanyaku.
“Aku takut aku akan melukainya jika aku tidak meredakan emosiku terlebih dahulu.”jawabnya sambil tetap fokus mengemudikan mobil.
Aku diam. Tentu saja saat ini perasaan Alan campur aduk. Aku sempat berpikir dia sangat percaya dengan adik dan tunangannya itu, karena tidak ada bukti yang jelas. Namun, sepertinya jauh didalam hatinya pasti memikirkan itu. Alan dewasa sekali.
“Aku sudah mendengar hubunganmu denga Bian”tiba-tiba Alan bersuara lagi.
Aku masih diam, karena tidak tahu harus menimpai bagaimana.
“Rachel menceritakannya kepadaku, tepat satu hari sebelum pertunanganmu dengan Wasa. Aku tidak membela siapapun diantara kalian, karena pada akhirnya semua orang akan terluka.”ujarnya.
“Apakah Bian tidak berusaha memperjuangkanmu?”tanya Alan lagi.
Aku tertawa sebentar. “Ia mati-matian memperjuangkannya, sampai menurutku ia menjadi bodoh.”jawabku.
“Bodoh bagaimana?”tanya Alan bingung.
“Bian akan berakhir membuang keluarganya sendiri jika dia tetap memaksa untuk bersamaku.”jawabku.
Keadaan sunyi untuk waktu yang lama, dan aku memutuskan untuk sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.
***
Tidak terasa aku tertidur cukup lama sampai Alan harus membangunkanku ketika mobil berhenti di depan ruko-ku. Aku penasaran darimana Alan tahu alamat ku, ia bahkan tidak bertanya sama sekali sejak kami berangkat.
“Aku telepon Kakek dan tanya alamat rumahmu.”ucap Alan seolah ia mengerti isi kepalaku.
“Sorry, aku tidur terlalu lama..”kataku, benar-benar merasa tidak enak hati.
“Kamu santai aja,”ujar Alan sembari mengusap-usap anak-anak rambutku pelan.
“Thank you..”kataku sambil membuka pintu, lalu keluar dari dalam mobil.
Alan mengikutiku keluar dari mobil. Ia berjalan cepat mengitari bagian depan mobil menuju ke tempatku berdiri. Aku menutup pintu mobil di belakangku, kemudian menatap bingung ke arah Alan yang diam saja.
“Ada apa?”tanyaku akhirnya. Ah! Apakah seharusnya aku mengajaknya untuk mampir? Mengajaknya minum teh dan menikmati biskuit kelapa yang tidak kunjung habis, bahkan setelah satu bulan. “Kak Alan mau mampir ke tempatku? Uhm..aku mungkin nggak punya jajanan mewah seperti di rumah kakak, tapi aku bisa buatkan Kak Alan kopi.”lanjutku.
__ADS_1
Alan tersenyum. “Aku laki-laki, ndi. Kamu tinggal sendiri, dan apa kamu yakin kalau aku nggak akan ngapa-ngapain kamu?”
Aku refleks bergerak mundur, sampai aku punggungku membentur permukaan mobil. Bagaimana jika Alan benar-benar memiliki niat ‘aneh’? Tetapi entah mengapa aku yakin Alan tidak akan melakukan hal-hal yang tidak akan kusukai. Tapi, tetap saja dia laki-laki.
Aww!!
Alan menjentikkan jarinya tepat di dahiku. Aku meringis, meskipun tidak sesakit tepukan tangan Wasa, tapi cukup membuatku terkejut.
“Apakah kamu baru saja berpikir bahwa pria yang baru saja berbaik hati mengantarkanmu pulang ini, berniat menggodamu?”Alan tertawa cukup lama, sampai aku mencubit lengannya.
“Kak Alan yang mulai duluan!”seruku kesal.
Tangan Alan mengusap keningku untuk sepersekian detik, “Tapi aku serius, jangan terlalu percaya dengan laki-laki.”
“Kak Alan juga laki-laki.”
“Memang. Aku juga termasuk didalamnya.”Ujar Alan.
“Aku yakin Kak Alan nggak akan berbuat jahat sama aku.”Ucapku yakin.
Bagaimanapun juga, Alan adalah orang pertama yang tahu tentang perasaanku. Ia menggandeng tanganku dengan erat ketika aku merasa aku tidak bisa bersandar kepada siapapun. Alan menghapus air mataku.
“Apakah kamu lupa, kamu baru saja berpikir bahwa aku akan berbuat jahat kepadamu, huh?”ejeknya kemudian tertawa.
“Itu karena Kak Alan yang mancing duluan...”
“Ya udah, kamu masuk gih.”perintah Alan seraya berganti posisi, menyandarkan badannya ke badan mobil.
“Kak Alan nggak pulang?”tanyaku.
“Aku perlu memastikan kamu benar-benar aman sampai masuk ke dalam rumah”jawabnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Oke. Kak Alan hati-hati ya.”ucapku akhirnya, berjalan meninggalkan Alan yang masih berdiri santai bersandar di mobil.
Aku menoleh sekali lagi, sebelum benar-benar masuk ke dalam ruko. Alan masih di tempat yang sama. Tidak bergerak kemanapun. Ia melambaikan tangannya.
“Indi! Jangan lupa telepon Wasa, ya!!”teriak Alan dari kejauhan.
“OKE!!”aku balas berteriak, kemudian bergegas masuk ke dalam Ruko.
***
Pukul 22:00. Aku baru saja selesai mandi, dan bersiap untuk mengisi perutku yang keroncongan karena tidak sempat menikmati makan malam. Terkutuklah Wasa untuk ini. Jarang sekali aku dapat menikmati fine dining. Aku lebih memilih menyimpan uangku untuk masa pensiun. Aku juga perlu mencari penghasilan tambahan untuk dapat melanjutkan kuliah S2 dan membeli rumah. Aku tidak bisa terus-terusan menyewa gedung ini.
Aku akan menelepon Wasa, sebelum aku tidak dapat berhenti memikirkan lika-liku kehidupanku. Aku mengambil ponselku yag tergeletak di meja ruang tamu, menghidupkan layarnya dan mulai menelepon.
Telepon tersambunng, namun tidak ada yang mengangkat, samapi akhirnya terputus secara otomatis. Aku mencoba lagi. Tetap tidak ada jawaban. Apakah Wasa belum kembali dari rumah sakit? Apakah cideranya sangat parah? Meskipun Wasa pantas mendapatkan pukulan itu jika memang dia benar-benar mencium tunangan kakaknya sendiri, akan sangat tidak ber-prikemanusiaan jika aku merasa senang disituasi ini.
Aku mencoba meneleponnya untuk yang ketiga kali.
Tersambung.
“Ah!!”Pelan-pelan..”
Aku buru-buru menutup telepon, lalu memblokir nomor yang baru saja kutelepon. Haha. Aku terlalu terkejut sampai tidak dapat berkata apapun. Harusnya Bian memukul lebih keras. Entah mengapa aku merasa darahku mendidih. Ini bukan lagi masalah tentang aku tunangannya atau bukan, tapi ini adalah tentang harga diriku sebagai perempuan. Aku memang setuju bahwa ia boleh berkencan dengan siapapun. Namun, membiarkan kekasihnya mengankat teleponku ketika sedang bercinta, yang benar saja?
__ADS_1
Aku tidak peduli peduli Wasa ingin atau akan menghamili siapa, tetapi bukan berarti ia bisa seenak hati memperlakukanku. Sepertinya aku harus membuat perjanjian tertulis tentang pertunangan ini, karena jika tidak, Wasa akan berbuat semena-mena terhadapku.