AN ESCAPE RABBIT FROM MOON

AN ESCAPE RABBIT FROM MOON
Chapter 6 - Memories


__ADS_3

The day when you and me being us, for the first time...


........


........


“Dalam hubungan, salah satu yang memendam cinta lebih besar, dialah yang akan banyak kehilangan air mata” kata mereka.


Lalu, bagaimana jika cinta kami sama besarnya?


Apakah Tuhan mengijinkan kami untuk berbagi tangis?


Atau kami berakhir menangisi satu sama lain?


***


Tidak ada yang lebih membahagiakan dari menemukan dirimu sendiri ada di depanmu. Maksudku, menemukan seseorang yang membuatmu merasa nyaman. Seseorang yang sama gilanya denganmu. Berbagi segala hal dan tidak perlu menjadi orang lain. Dia sepenuhnya menerimamu. Membahagiakan, bukan?


Bian mendatangiku mengenakan kemeja kotak-kotak yang sengaja kancingnya dibuka, sehingga aku bisa melihat kaos putihnya yang bertuliskan ‘How about being my lover?’. Sebelah tangannya disembunyikan dibalik punggungnya. Ia berjalan dengan sangat ‘aneh’. Raut wajahnya terlihat sangat tidak biasa. Ia mencoba tersenyum, namun itu lebih terlihat seperti seringai dimataku. Jaraknya denganku hanyak tingal satu meter. Tiba-tiba Bian mengeluarkan bouquet bunga berukuran cukup besar dari balik punggungnya.


“Jadi pacarku, ya?”tanyanya sembari menyerahkan bouqet ditangannya kepadaku.


“Huh?” Aku masih bingung, sementara Bian nampak tidak puas dengan respond-ku, lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Ia terlihat sangat fokus memandangi layarnyanya. Detik berikutnya, ia menunjukkan layar ponselnya ke arahku.


“Kenapa?”tanyaku makin bingung.


Bian menghela napas panjang. “Aku sudah taruh nama kamu disini,”ujarnya sembari menunjuk layar ponsel dengan telunjuknya.


Aku menyipitkat mataku, berharap aku bisa lebih jelas melihat tulisan kecil yang ada di profil instagramnya.


In relationship with Hindi


Aku tidak pernah bisa membayangkan hal yang lebih manis dari sikap romantis Bian saat ini. Aku tidak pernah mendapatkan hadiah, dari orang spesial manapun, sebelum mengenal Bian. Entah sejak kapan atau aku tidak terlalu ingat bagaimana ia muncul, sampai akhirnya kami jadi sedekat ini. Tentu aku pernah membayagkan, bagaimana lengannya memeluk pingganggku. Kami akan jalan bersama, sambil sesekali mengaitkan jemari kami satu sama lain.

__ADS_1


“Iya, aku mau.”kataku akhirnya sembari menerima bouqet bunga dari tangannya. Aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas wajah Bian karena air mata yang berusaha kutahan agar tidak jatuh, membuat pandanganku kabur.


“Aku sangat ingin memelukmu sekarang, tapi kita sedang ada diantara banyak orang.”ujarnya kemudian tertawa kecil.


Aku memerhatikan sekeliling kami. Tiba-tiba semua orang memberikan tepuk tangan, siulan, dan berbagai ucapan manis kepada kami, yang tentu saja membuatku malu setengah mati. Aku memukul dada Bian pelan. Bian tertawa lagi, lalu meraih tanganku untuk mengikutinya keluar dari kerumunan orang.


“Kamu juga harus mencamtumkan namaku di profil instagram-mu.”Kata Bian, ketika akhirnya kami sampai di taman kampus yang tidak terlalu ramai.


Bian mengajakku ke salah satu gazebo kosong yang letaknya cukup jauh dari gazebo-gazebo yang lain. Kami duduk disana, dan ternyata Bian masih memiliki hadiah kecil lain untukku. Ia mengeluarkan sebatang coklat dari dalam saku celananya, lalu memberikannya kepadaku.


Aku menerima coklat pemberian darinya, dan sadar bahwa coklat itu sepertinya patah dan sedikit meleleh di dalam kertas pembungkusnya, “Coklat ini sudah ada di kantongmu berapa lama?”tanyaku mencoba mennggodanya.


Sejak pagi tadi, aku beli di swalayan seberang kampus.”Jawabnya sembari mengambil coklat itu lagi dari tanganku dan membantuku membukanya. “Aku ada praktikum matku Patologi Anatomi.”sambungnya ketika melihat coklat yang baru saja dibukanya belepotan hingga mengotori tangannya.


“Masih mau makan, kan?”tanya Bian ragu.


Well, coklat di tangan Bian sudah tidak lagi bisa dikatakan ‘hanya patah’, namun hapir seluruh permukaan coklatnya meleleh sehingga membuat belepotan


“Aku makan semua, enggak apa-apa kan?”tanyaku sembari mengambil coklat dari tangan Bian, lalu mulai memakannya dengan hati-hati agar tidak mengenai lengan bajuku.


“Aku sayang kamu, Bi..”kataku, sambil menatap lurus mata Bian. Ia terlihat terkejut ketika menendengarnya. Apakah aku terlalu vulgar? Terlalu Agresif?


Bian langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia terlihat malu, dan juga kesal.


“Sorry...”kataku cepat, tanpa menunggu Bian.


Tangan yang sedaritadi menutupi wajahnya, turun perlahan. Tatapannya masih terlihat kesal.


“Kenapa minta maaf?”tanyanya terdengar kesal.


“Aku tau, sejak pertama kali kita kenal, kamu nggak suka dengan hal-hal cheesy.”jawabku.


Biang menghela napas panjang sejenak, “Sekarang sepertinya aku akan suka setiap hal cheesy yang kamu lakukan.”

__ADS_1


Aku diam dan kembali menikmati coklatku.


“Aku sayang kamu juga.” Ucap Bian sembari mengusap lembut bawah bibirku dengan tangannya. Sepertinya aku makan belepotan.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Bian.


“Ndi! Indi!”suara nyaring Wasa membawaku kembali ke realita yang sebenarnya.


Wasa menatapku dengan tatapan kesal. Aku memang sama sekali tidak menyimak apa yang sedang menjadi topik bahasan ini. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Di dalam kepalaku, sepertinya menolak kujejali dengan potongan-potongan cerita baru. Kenapa tidak coba menghapusnya? Bisa saja. Hanya saja, aku tidak ingin. Ceritaku dan Bian terlalu berharga.


Memoriku tentang hari-hari bahagiaku melayang-layang bebas setiap kali aku melihat Bian. Wasa mengajakku untuk makan siang bersama dengan Kakek Herdi dan adiknya, Sherina. Dan lihat siapa yang sedang berada di seberang mejaku saat ini, Bian. Aku tidak tahu jika ia akan datang dan ikut makan bersama kami.


Sejak mereka datang, Sherina terus saja bergelayut manja pada Bian. Bian hanya sesekali tersenyum dan menyentuh ringan anak-anak rambut Sherina dengan telapak tangannya yang besar. Aku iri. Aku ingin sekali ada di posisi itu.


“Kakek ingin pernikahan kalian di adakan pertengahan tahun ini.”ujar kakek Herdi, membuatku kaget hingga hampir menjatuhkan garpuku. “Kakek sudah book venue untuk pernikahan kalian.”lanjutnya.


Aku melirik ke arah Wasa. Wasa menerima sinyalku.


“Apakah ngga terlalu buru-buru, kek?”tanya Wasa menimpali.


“Seandainya bisa, kakek ingin bulan depan”jawab kakek Herdi.


Aku lemas, sembari menatap sisa daging di atas piringku. Aku tidak ingin menghabiskan sisa umurku hidup dengan pria yang tidak kucintai.


Aku harus kabur dari situasi aneh ini. Tidak hanya tentang pernikahan, tetapi juga tentang Bian ataupun semua hal yang berhubungan dengan keluarga Widipa. Entah kenapa, rasanya seperti aku adalah seekor kelinci yang berusaha kabur dari bulan. Rasanya Mustahil.


***


>Jangan lupa vote ceritaku ya.. tinggalkan komentar dan kritik kalian juga. 


> Kindly check novel-novelku yang lainnya\, ya..


>You can also follow my instagram acc @wrdhindri

__ADS_1


Thank You ! ^^


__ADS_2