
Aku melihat diriku di cermin selama beberapa saat, ketika seseorag menepuk bahuku. Aku terkejut, lalu langsung berbalik dan mendapati Bian berdiri dengan wajah tidak senang. Bagian disekitar bawah matanya memerah, ujung hidungnya juga demikian. Sepertinya ia habis menangis. Kenapa Bian harus muncul saat ini? Terlebih lagi, ada Sherina yang berdiri didekat pintu dengan tangan disilangkan didepan dadanya. Wajahnya juga kesal.
Bian mengeluarkan kotak kecil dari dalam sakunya bajunya, lalu menyodorkan kotak itu ke arahku. Aku bisa mengerti mengapa Bian bersikap seperti ini. Hubungan kami bukanlah hubungan remaja kemarin sore yang bisa dilerelakan begitu saja.
Aku sangat takut untuk menoleh ke arah Sherina. Aku adalah musuhnya dalam hal ‘perebutan’ hak milik atas hati Bian, meskipun harusnya aku sudah tercoret dari dalam daftar itu. Selain itu, kurang dari setengah jam lagi aku akan resmi menjadi tunangan kakaknya. Aku harus menemukan cara untuk dapat bebas dari situasi ini, sebelum semuanya semakin jauh.
“Bi, aku akan bertunangan dengan Wasa.”kataku lirih sembari menepis pelan kotak yang di sodorkan Bian.
Bian memandangi kotak itu sebentar, lalu tanpa mengucapkan apapun ia keluar dari ruangan. Aku ingin sekali megejarnya namun tatapan tajam Sherina menghujam lurus ke arahku. Ia manghampiriku.
“Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang Bian dan Kakek cari dari kamu.”ujarnya dengan nada tidak senang.
Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri agar tidak tersulut emosi, “Kamu bisa tanya langsung ke Kakek Herdi dan Bian, jika memang kamu ingin tahu.”kataku berusaha untuk terlihat santai.
Aku memang sudah terbiasa menghadapi omelan para client-ku, namun rasanya aku tidak siap untuk mendapat ejekan lain yang menyerang secara personal seperti ini.
“Kamu jangan mimpi ya, bisa sampai menikah dengan Kak Wasa.”ujarnya kemudian pergi meninggalkanku tanpa aku sempat membalas ucapannya.
Impianku adalah dapat memiliki keluarga. Keluarga yang dapat kujadikan tempatku untuk pulang. Sudah sangat jelas, orang yang baru saja kutemui, tidak sampai satu bulan, jelas perlu waktu panjang untuk bisa mempercayainya dengan gelar ‘keluarga’.
Ruangan kembali sunyi, aku kembali menatap diriku sendiri di cermin. Sosok perempuan dengan balutan gaun putih ada di sana. Riasan tipis, dan rambut yang pendek yang dihias menggunakan jepit berlian yang berkilau. Kakek Herdi memberikan jepit itu kepada penata rambutku dan meminta mereka untuk memasangnya tadi.
“Indi..”
Seseorang memanggil namaku, aku buru-buru membalikkan badan. Sosok laki-laki tampan dengan wajah raut wajah yang menyenangkan, sedang berdiri di ambang pintu.
“Ada apa?”tanyaku.
Pria itu berjalan mendekat ke tempatku berdiri. Kemudian tanpa mengucap sepatah katapun, ia membenarkan letak jepit ramputku.
“Harunya kamu tidak menyentuh jepitnya, jika tidak bisa membenarkannya sendiri.”ujarnya lembut. Aku sama sekali tidak mendengar ada nada kesal di sela ucapannya. “Sekarang, sudah lebih baik.”lanjutnya kemudian tersenyum.
Entah kenapa aku tidak sanggup lagi membendung air mataku. Air menetes melewati pipiku. Pria didepanku terkejut dan segera mengambil tisu yang terletak di atas meja yang berada sangat dekat dari tempatku berdiri. Ia melipat tisu ditangannya menjadi agak kecil, lalu menepuk-nepukkan tisu itu secara perlahan dan hati-hati di wajahku.
“Kau bisa merusak riasanmu, jika menangis..”ucapnya sembari masih sibuk menghapus air mataku.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, dan membiarkan pria didepanku ini menghapus sisa-sisa air mataku.
“Aku tahu kamu terharu, karena ini adalah hari bahagiamu...”
Aku tergelak. “Terharu? Mungkin aku akan terharu jika aku bertunangan dengan orang yang benar-benar kucintai.”kataku
“Ahh.. Jadi kamu melepaskan orang yang kamu cintai demi bisa menikah dengan Wasa?”tanyanya, kini aku bisa mendengar ada perubahan intonasi dari suaranya.
“Aku mencegah orang yang aku cintai untuk menjadi anak durhaka, dan aku membutuhkan Wasa untuk menjauhkannya dariku.”jawabku.
“Ini jadi tidak adil untuk Wasa..”
“Ini bahkan sangat adil, karena aku harus mau bertunangan dengannya agar Wasa tidak kehilangan namanya dari daftar nama penerima warisan Kakek Herdi. Namun, jelas ini tidak adil untuk Kakek Herdi, karena kami membohonginya.”jelasku.
Pria dihadapanku ini terdiam. Ia melipat tisu yang sudah setengah basah, kemudian menempelkannya bagian yang kering ke pipiku dengan lembut.
“Tidakkah kamu terlalu cepat menyerah?”tanyanya.
“Aku hanya akan jadi egois jika tidak menyerah sekarang”jawabku.
“Kakek memintaku untuk menjemputmu, orang-orang sudah menunggu di ballroom.”ucapnya sambil kembali mengecek jepit rambutku. “Tenang saja, kamu cantik.”
Aku mengernyitkan dahi, mengangkat sebelah alisku. Ada apa dengan pria ini, tiba-tiba saja memujiku dengan kata ‘cantik’.
“Tenang saja, aku sudah bertunangan.”ucapnya seolah-olah dapat membaca pikiranku.
Yeah, aku baru saja berpikir bahwa ia sedang mencoba merayuku.
“Panggil aku Alan, aku adalah kakak Wasa dan Sherina.”ujarnya tiba-tiba memperkenalkan diri.
Aku mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali.
__ADS_1
“Ayo...”ucapnya lembut.
Senyumnya benar-benar menawan, aku seolah melihat Bian berdiri didekatku. Bukan karena wajah mereka ada kesamaan, sama sekali tidak. Atmosfer disekitar Alan membuatku serasa aman dan nyaman, seperti saat aku berada didekat Bian.
Alan mengulurkan tangan kanannya tanpa ragu-ragu. Aku meraihnya, dan ia mulai menggenggam jemariku. Kami keluar dari ruangan menuju ke lift yang akan mengantarkan kami langsung menuju ke ballroom tempat acara pertunanganku dengan Wasa. Bahkan saat di dalam lift, Alan masih tetap menggenggam tanganku. Sepertinya ia khawatir setelah melihatku menangis.
Ia menjadi satu-satunya orang yag tahu mengenai alasan mengapa aku harus bertunangan dengan Wasa. Kuharap ia bisa menjaga rahasia ini, sampai aku menemukan cara untuk dapat kabur dari situasi ini.
***
Ballroom sudah dipenuhi dengan banyak tamu yang duduk mengelilingi meja bundar meraka masing-masing. Pandangan mereka langsung menuju ke arahku ketika Alan dan aku memasuki ruangan. Aku mendadak menjadi jauh lebih gugup dari sebelumnya. Pesta pertunangan ini sepertinya tidak main-main. Tamu-tamu yang diundang terlihat dari kalangan berada, mungkin saja itu adalah teman atau rekan bisnis dari keluarga Widipa.
Dekorasi mewah ballroom yang serba putih, dihiasi dengan banyak bunga, menambah kesan ‘sosialita kelas atas’. Ini jauh melebihi bayangan tentang pertunangan yang tentu saja pernah sekelebat muncul, ketika aku sangat ingin bertunangan dengan Bian. Bahkan saat ini. Bukan berarti aku memandang remeh Bian, tentu saja aku yakin ia akan mewujudkan impian pesta yang kumau, namun pesta ini benar-benar menakjubkan.
Aku tidak sengaja melihat ada beberapa artis dan model yang pernah muncul di TV ketika aku berjalan menuju tempat Wasa berdiri. Selama itu pula, Alan tetap setia menggandeng tanganku. Kuharap tunangannya tidak keberatan dengan ini, karena aku sudah cukup pusing dengan permasalahan Sherina, jadi aku tidak ingin lagi menambah daftar musuhku.
Wasa berdiri dengan gagahnya disamping ke dua orang tuanya. Tidak ketinggalan ada Kakek Herdi yang sejak tadi tersenyum sangat lebar. Alan melepaskan genggamannya ketika aku sampai untuk naik ke arah panggung kecil yang akan digunakan untuk ‘ceremony’ pertunangan. Sebelum beranjak dari untuk bergabung ke meja keluarganya, Alan membisikkan kata-kata yag sangat membuatku tenang.
“Kamu akan baik-baik saja, aku ada di meja sana dan jika kamu butuh merasa butuh bantuan, kamu beri kode dengan mencopot jepitmu, ya..”ujarnya kemudian pergi meninggalkanku yang masih belum siap untuk menerima kenyataan ini. Tak lupa ia juga masih tersenyum ketika sudah kembali ke mejanya.
Aku menghela napas panjang, mencoba mengatur napasku, agar aku tidak terlalu gugup dan berakhir mengacaukan pesta ini. Wasa berdiri tenang dengan sikap acuhnya yang masih menyebalkan. Ia bahkan tidak peduli aku kesusahan untuk menaiki tangga, karena gaunku yang terlalu panjang. Setelah berhasil naik ke panggung, aku mengambil posisi sengat dekat dengan Kakek Herdi.
Pembawa acara mulai menyapa para tamu dan membacakan susunan acara. Aku sejak tadi fokus memandangi sepatuku, karena terlalu gugup dan tidak ingin melihat orang-orang di ruangan ini sedang mengarahkan tatapan keingin tahuannya. Aku baru saja sadar bahwa pembawa acara pesta ini merupakan pembawa acara yang sering muncul di TV. Dan aku mulai kembali ke pikiran negatif-ku tentang kemungkinan-kemungkinan aku bisa mengacaukan pesta ini, dan keluarga Widipa akan menuntutku untuk membayar biaya pesta.
“Mari kita dengarkan sambutan dari Bapak Herdi..”Pembawa Acara menyodorkan mic ke Kakek Herdi.
Kakek Herdi berjalan sedikit ke depan, “Hari ini, saya bahagia sekali. Adik Alan, Wasa, akan segera menyusul kakaknya, bertunangan dengan perempuan cantik ini..”Kakek Herdi menoleh ke arahku sebentar sembari tersenyum. “Saya seperti menemukan berlian ketika bertemu dengan Indi, detik itu pula saya yakin bahwa dia satu-satunya wanita yang pantas untuk mendampingi Wasa.”lanjutnya dengan bersemangat.
Perasaanku saat ini benar-benar campur aduk. Aku bisa melihat betapa tulusnya Kakek Herdi ketika mengatakan semua pujian berlebihan itu kepadaku. Di satu sisi aku merasa cukup senang karena masih ada orang yang menganggapku berharga, di sisi lain aku membenci situasi ini.
“Terimakasih, Pak Herdi atas sambutannya..”
Kakek Herdi kembali ke posisi semula, disampingku. Ia meraih tangan kananku dengan kedua tangannya, menepuk-nepuknya pelan, lalu berkata, “Kakek seneng kamu ada di sini.., kamu jangan sungkan-sungkan lagi, karena kamu juga cucuk kakek..”ujarnya.
“Kek.. Indi mau nangis jadinya karena kakek bilang gitu ke Indi, ini make-up Indi gimana, padahal acaranya masih lama...”kataku.
Kakek Herdi tertawa pelan sejenak, kemudian mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya, “Ini masih baru, kamu pakai ya...”uacapnya seraya memberikan sapu tangan itu kepadaku. Aku menerimanya dan lekas menggunakannya untuk menyeka air mata yag sudah mulai menumpuk di pelupukku.
Aku melalui banyak acara dengan sangat tidak fokus, hingga sampai ke acara inti yaitu saling menyematkan cincin kepada satu sama lain. Aku sadar bahwa tanganku sangat gemetar. Aku bahkan memegangi tangan kiriku ketika mengulurkannya.
Wasa mengambil kotak kecil yang diberikan oleh Ibunya. Ia membuka kotak itu, mengambil cincin di dalamnya, lalu dengan sangat tidak sabar memasangkannya ke jari manis tangan kiriku. Saat selesai memasangkan cincin itupun ia sama sekali tidak melihat ke arahku. Tentu saja aku akan melakukan hal yang sama kepadanya.
Aku mengambil kotak cincin yang lain, membukanya, lalu mengambil cincin di dalamnya, dan lekas memasangkan cincin itu di jari Wasa dengan agak kasar dan... ...
Cincinnya jatuh menggelinding menuruni anak tangga, aku hanya sanggup memandangi cincin itu menggelinding sampai berhenti ketika menabrak salah satu sepatu tamu undangan. Aku bergegas beranjak dari tempatku dengan sangat hati-hati sampai ke depan panggung, karena Wasa memandangku dengan kesal dan memberiku tatapan, “Kamu sudah gila ya?!”
Aku menunggu dengan gelisah didekat tangga panggung. Kegelisahan yang berkali lipat ketika tamu yang membawa cincin itu adalah orang yang sangat tidak terduga. Bian. Ia berjalan ke arahku, dan tidak sampai hitungan menit ia sudah berada tepat di hadapanku. Ia menyerahkan cincin itu kepadaku sembari memberikanku senyum yang terlihat sangat dipaksakan. Itu terlihat seperti sudut bibirnya yang tertarik, dan sama sekali tidak akan kuartikan sebagai senyum.
Ironis. Aku yang selalu memimpikan menerima cincin dari Bian, itu terjadi hari ini, detik ini, namun cincin yang kuterima tidak akan melingkar di jariku. Tidak juga Bian. Takdir seolah mencurangiku. Aku memasangkan cincin ke jari orang yang baru kukenal. Itu adalah jari yang sama sekali tidak akan pernah mau mengusap punggungku ketika aku membutuhkan dukungan.
“Terimakasih..”kataku sebelum Bian benar-benar menjauh.
Aku memandangi punggung Bian yang berjalan kembali menuju mejanya, sampai pembawa acara menepuk bahuku dan memberi isyarat agar aku segera memasangkan cincin itu ke jari Wasa. Aku menuruti instruksi dari pembawa acara dengan bergegas kembali ke posisi menghadap ke Wasa. Lagi-lagi ia memberikan tatapan kesalnya kepadaku. Aku mencoba acuh dan dengan cepat menyematkan cincin di jari manisnya.
Riuh rendah suara tamu undangan, juga tepuk tangan menggema ke seluruh antero ballroom, tapi yang kurasakan adalah kesepian. Aku tahu bahwa aku tidak seharusnya disini. Aku bukanlah bagian dari kebahagiaan dari pesta mewah ini. Aku ingin lari.
***
Ketika cinta tidak bisa lagi menyelamatkanku dari takdir yang senang mempermainkanku. Aku kini terjebak dalam tudung yang mengurungku dalam ruang ketidakbebasan. Orangtua Wasa mulai mengusik hari-hariku. Bahkan mereka mendatangi panti asuhan yang pernah kutinggali dan mengadakan acara amal besar-besaran yang diliput oleh wartawan. Berita itu dimuat seminggu setelah berita dengan headline ‘pesta pertunangan mewah keluarga Widipa’.
Aku belum selesai dengan keluh-kesah tentang kehidupanku yang dicampuri oleh orang tua Wasa, dan kini aku masih harus menghadapi anak mereka yang menyebalkan ini, di kantorku.
Wasa tiba-tiba saja meneleponku dan menanyakan alamat ruko yang kutinggali. Tidak lama setelah sambungan telepon terputus, ia kembali menelepon dan berkata bahwa ia sudah berada di depan Ruko-ku.
“Kamu ngapain kesini?”tanyaku tanpa basa-basi, ketika menghampiri Wasa yang masih berada didalam mobil dengan jendela yang diturunkan ketika aku mendekat ke mobilnya. “Aku sibuk.”imbuhku.
“Kamu pikir cuma kamu saja yang sibuk?!”balasnya dengan nada tinggi.
__ADS_1
Aku menarik napas panjang, kemudian mennghembuskannya perlahan, lalu mengusap dadaku beberapa kali, berharap kesabaran masih memenuhi diriku.
“Tuan muda Wasa yang sangat super sibuk ini, untuk apa datang kesini?”tanyaku lagi kini dengan suara lebih lembut. Aku terpaksa.
Wasa menepuk jidatku cepat dengan telapak tangannya. Aku kaget hingga terhuyung sedikit kebelakang.
“Apaan sih!”seruku sembari mengusap jidatku.
“Kamu yang mulai duluan.”Wasa mengelak.
“Huh? Aku ngga main tangan.”kataku.
“Kenapa kesannya jadi aku yang jahat disini?”Wasa balik bertanya kemudian memegang keningku lembut, lalu mengusap pelan di area yang tadi ia tepuk dengan tangannya. “Sorry...”ia mengalah.
Aku bergerak mundur. Wasa memandangku bingung.
“Kenapa?”tanyanya masih bingung.
“Sikap manismu membuatku merinding.”aku mengusap-usap kedua tanganku secara menyilang.
“Terserahlah!”serunya kesal, lalu ia turun dari mobil setelah menutup kaca mobilnya. “Kakek ingin kita makan siang bersama.”lanjutnya sambil bersandar ke mobil.
“Aku memiliki order yang harus selesai sore nanti, jadi aku tidak bisa pergi.”kataku.
Wasa menghela napas panjang, “Mending kamu ngomong sendiri ke kakek..”ujarnya sembari sibuk menarikan jempol d atas smartphonenya. Tidak sampai satu menit, ia menyerahkan smartphonenya itu kepadaku.
“Wasa, ada apa?”tanya suara dari seberang.
“Maaf kek, ini Indi.”sapaku.
“Indi, nanti kita makan siang bareng ya?”aku bisa mendengar suara Kakek Herdi bersemangat.
“Maaf kek, kayaknya Indi nggak bisa ikut. Indi ada pesanan dari cutomer yang harus selesai sore ini.”kataku. Menolak permintaan Kakek Herdi lumayan berat untukku. Setelah semua yang ia lakukan untukku, kecuali pertunangan dengan Wasa.
“Padahal Kakek sudah booking tempat untuk makan siang nanti...”suara Kakek Herdi terdengar cukup kecewa. Suaranya menjadi lirih, hampir tidak terdengar.
“Uhm.. Oke deh kek, Indi...”aku belum selesai menyelesaikan kalimatku, namun Wasa buru-buru merampas ponselnya dari genggamanku.
Wasa berjalan ke tempat yaang agak jauh dari posisiku berdiri saat ini. Entah apa yang ia bicarakan di telepon dengan Kakek Herdi, wajahnya terlihat cukup serius. Aku menunggu selama hampir tiga menit, dan Wasa baru kembali menghampiriku.
“Kalau memang kamu sedang sibuk, atau ada kerjaan yang nggak memungkinkan untuk kamu tinggal, harusnya kamu nolak.”Ujar Wasa.
“Aku sungkan..”kataku.
Wasa menghela napas panjang. “Makan siang kita geser ke dinner, jadi aku harap kamu sudah ready jam lima sore nanti.”
Aku mengangguk-anggukkan kepala. Aku tidak tahu jika dia bisa sebaik ini.
“Thank you ya..”kataku.
Wasa bergidik sembari mengusap-usap lengannya, dengan ekspresi geli, “Kamu membuatku geli dengan tiba-tiba berkata lembut seperti itu.”ujarnya seraya tertawa sebentar.
Aku menepuk keras punggungnya sampai Wasa meringis.
“Kamu menyebalkan.”kataku.
Wasa tergelak, “Hey Nona! Apakah menurutmu kamu tidak menyebalkan, huh?”ucapnya mmengejek.
Aku melengos.
“Aku akan kembali ke Kantor.”Ujar Wasa seraya membuka pintu mobil, kemudian masuk ke dalamnya.
“Oke, hati-hati.”
Tak lama setelah ia berpamitan denganku, ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang melaju meninggalkan area ruko.
***
__ADS_1