AN ESCAPE RABBIT FROM MOON

AN ESCAPE RABBIT FROM MOON
Chapter 5 - Fei Long


__ADS_3

Ruangan dengan penerangan yang sengaja dibuat redup. Lampu warna-warni bergantian nyala-mati cukup untuk membuat mata dan kepalaku sakit. Di sudut yang lain, ada panggung yang dipenuhi dengan peralatan dj lengkap, dan beberapa orang menari-nari di dekatnya. Di antara mereka yang memakai sebelah headsenya, sibuk memainkan item-item kecil yang sepertinya diperuntukkan utuk meracik lagu.


Tidak ada satupun sosok yang dapat kukenali, selain aku tidak pernah datang ke seni, semua pengunjung club ini juga mengenakan masker. Jadi, sangat sulit untuk mengenali siapa saja yang hadir malam ini.


Wasa menyodorkanku segelas minuman mirip soda, karena warnanya bening dan ada bulir-bulir busa kecil yang menempel di dinding-dinding gelas. Penampilan minuman yang cantik, ditambah dengan kristal-kristal gula yang menempel pada bibir gelas.


“Kamu jangan kemana-mana ya, di sini aja.”Ujar Wasa.


Aku belum sempat mengiyakan, Wasa sudah terlanjur pergi ke arah kerumunan di tengah ruangan. Aku penasaran, apa saja makanan yang ada di sini.


“Mas.”aku memanggil salah satu bartender yang sedang mengelap gelas minuman.


Bartender itu langsung meletakkan gelasnya di meja, lalu menatap lurus ke arahku.


“Iya, nona. Mau minum yang lain?”tanyanya ramah.


“Rekomendasikan saya camilan.”jawabku.


“Kami menyediakan almond panggang, ada juga mini apple pie...”


“Mini apple pie.”kataku memotong ucapan bartender.


“Baik, nona.”ujarnya seraya menyiapkan pesananku.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Orang-orang berbaur turun ke lantai dansa untuk manari. Aku tidak melihat Wasa di manapun. Sepertinya dia sudah pergi untuk bersenang-senang dengan para wanita.


Mataku menangkap satu sosok tidak asing yang berdiri dengan atasan blouse sifon putih dan celana hitam panjang. Rambunya dibiarkan berantakan. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.


Ah! Kantor Wasa. Laki-laki yang entah muncul dari mana, lalu ia memberikanku plester luka. Namanya Fei Long. Sepertinya ia sangat populer diantara para pengunjung yang datang kemari. Para wanita-wanita cantik mengerumuninya sejak tadi dan tidak berhenti menggodanya. Beberapa diantara wanita itu bahkan bergelanyut manja.


“Permisi,nona. Ini pesanan nona, silahkan.” Suara bartender dibelakangku membuatku terkejut.


Aku memutar kursiku kembali seraya tersenyum pada nya.


Dihadapanku sudah ada mini apple pie yang dipotong miring menjadi dua bagian, kemudian segelas minuman berwarna merah darah seperti minuman soda yang sering kuminum. Ada gelembung-gelembung kecil yang menempel di gelasnya. Strawberry soda?


“Hi!”sebuah suara memekik telingaku.


Aku menoleh. Fei Long sudah berdiri tepat di sampingku. Ia mengambil gelas dari tanganku dan mulai meminum isinya.


“Wow! Aku tidak tau kamu suka anggur merah.”ujarnya sesaat setelah selesai meneguk habis minumanku.

__ADS_1


Harusnya aku sudah tahu jika di tempat seperti ini au harus lebih hati-hati dalam memesan makanan atau minuman.


“Jujur, aku tidak pernah minum minuman yang mengandung alkohol.”kataku malu.


“Sir, lemonade for two, please.”ucap Fei Long.


“Okaay.”jawab sang Bartender sembari sibuk menyiapkan pesanan Fei Long.


“Sepertinya kamu bukan tipe orang yang suka datang ke tempat seperti ini.”ujar Fei Long seraya duduk di kursi sebelahku.


“Apakah ini aman untuk dimakan?”tanyaku sebelum menipali ucapan Fei Long.


Ia terkekeh sebentar. “Aman.”jawabnya.


Aku mengambil setengah bagiam mini apple pie-ku, lalu menggeser piring snacku ke depan Fei Long. Ia langsung mencomot setengah bagian yang tersisa.


“Aku datang bersama seseorang...”


“Pacar?” Fei Long memotong ucapanku.


“Tidak tahu.”kataku.


Fei Long mengernyitkan dahi.


“Aku tahu kamu datang kesini bersama Wasa, adik laki-lai Alan.”Ujarnya.


Aku mengedikkan bahu.


“Your lemonade, sir.” ujar bartender.


Ujar bertender memberikan kami dua gelas lemonade.


“Thank You.”Ujar Fei Long ramah.


“Aku tau kamu adalah tunangan Wasa. Aku masih sangat ingat wajahmu saat menjatuhkan cincin pertunanganmudi saat acara.”Fei Long seolah sedang menggodaku. Ia tertawa sebentar, kemudian menyesap minumanannya.


Dilihat dari dekat, Fei Long benar-benar tampan. Kulitnya putih bersih, dengan kedua mata sipitnya yang tetap indah dipandang. Aku tidak tahu apakah aku harus bercerita kepada Feilong tentang hubunganku dengan Wasa. Pakah dia sama seperti Alan? Apakah aku bisa mempercayainya untuk menyimpan cerita ini rapat-rapat.


Ah! Surat perjanjian. Aku memang tidak dibatasi untuk berhubungan dengan siapapun, namun lingkungan tempat Fei Long berada sepertinya berada di tempat yang sama dengan Alan dan Wasa.


“Wasa sedang jenuh dengan pekerjaannya, jadi aku menemaninya ke sini.” kataku bohong.

__ADS_1


Fei Long menatapku bingung. Sebelah alisnya terangkat, tidak lama dia tertawa terbahak. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya dia tertawakan.


“Ada yang lucu?” Tanyaku akhirnya.


Fei Long meggeleng kemudian kembali meneguk menumannya. “Aku tidak percaya takdirmu begitu jelek sampai kamu terjebak bersama Wasa.” Jawab Fei Long. Wajahnya berubah serius. “Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu saat memutuskan untuk terlibat dengan anak itu.”


“Memangnya ada yang salah?”tanyaku lagi.


“Dia tidak cocok denganmu.” Jawab Fei Long singkat.


Degh! Aku benar-benar tidak mengerti kemana ara pembicaraan ini. Apakah dia sedang mengejekku karena Wasa adalah lelaki kaya, sedangkan aku hanya seperti ini?


“Pertimbangkan kembali jika kamu benar-benar ingin menikahinya.” Sambung Fei Long.


“Apakah menurutmu karena aku tidak kaya, jadi aku tidak boleh menikahi pria kaya?!” Aku lumayan kesal kali ini.


“Ayolah, aku tahu kamu perempuan baik-baik. Apakah menurutmu pria brengsek seperti Wasa boleh mendapatkanmu?”


Aku mengernyitkan dahi. Apakah aku tidak salah dengar? Fei Long baru saja menyebut adik dari sahabat baiknya itu, ‘brengsek’?


“Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa mencariku.” Ucap Fei Long tiba-tiba.


Orang yang baru saja kukenal baru saja menawarkan kebaikan yang tiba-tiba. Sebagai makhluk yang memiliki trust issue, aku sangsi Fei Long benar-benar serius dengan perkataannya. Aku bersyukur dia menemaniku mengobrol seperti ini, tetapi menawarkan keramah-tamahan yang berlebihan, jujur saja membuatku takut.


“Kita baru saja bertemu, kenapa kamu bersikap sangat baik kepadaku? Bahkan kita belum berkenalan.” kataku.


“Aku hadir di acara pertunanganmu dengan Wasa. Seminggu sebelum acara pertunangan itu, aku melihatnya mencium pacar kakaknya sendiri. Apakah menurutmu itu belum cukup disebut brengsek?”


Aku tidak lekas menimpali. Aku berusaha mencerna lagi ucapan Fei Long. Jika apa yang dikatakan Fei Long benar, berarti apa sudah jelas bahwa perkataan Bian bukanlah fitnah yang sengaja dibuat olehnya untuk menjatuhkan Wasa.


“Percayalah, di suatu masa kita pernah lebih dekat dari ini.”Ucap Fei Long, tangan kanannya bergerak mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Dia mengeluarkan sebuah artu nama dari dalamnya. “Hubungi aku kapanpun kamu membutuhkan seseorang untuk menemanimu, atau finansial. Aku bisa membantumu kapan saja.” Lanjutnya seraya menyerahkan kartu nama itu kepadaku.


“Ahh!Oke.” kataku sekenanya.


Fei Long bangkit dari duduknya, kemudian entah apa yang dia katakan kepada si bartender, lalu sebelah tangannya mengusap kepalaku sebentar, kemudia dia pergi begitu saja.


Tidak ada bedanya. Setiap kali aku bertemu dengannya, semuanya berakhir menjadi misteri.


***


>Jangan lupa vote ceritaku ya.. tinggalkan komentar dan kritik kalian juga. Thank You.

__ADS_1


__ADS_2