
Tidak ada yang mengatakan bahwa tidak boleh masuk ke club dengan mengenakan baju ‘seadanya’. Meskipun kenyataannya, baju yang menurut Wasa ‘seadanya’ ini merupakan salah satu baju kebanggaanku untuk hangout. Blouse sifon putih yang ujungnya kumasukkan kedalam celana khaki berwarna krem.
“Kita mau pergi nge-date, bukan datang interview kerja.” katanya.
Dresscode untuk date saja ditentukan, lain kali aku akan membuat Wasa menggunakan hoodie couple denganku.
Kembali kepersoalan penampilanku yang seadanya, Wasa menurunkanku secara paksa dari mobilnya satu jam yang lalu di sebuah salon, lalu ia meninggalkanku begitu saja. Pegawai salon seolah sudah mendapat pengarahan dari tuan muda Wasa, dan langsung membawaku masuk ke dalam untuk mendapatkan make-over.
Di sinilah aku. Memandang diriku sendiri di cermin dengan beberapa orang sedang menata rambutku. Pipiku merona kemerahan.. Alis yang sudah digambar. Bulu mata hitam dan lentik sempurna. Bibir yang dipoleh pink oranye. Wow. Aku seperti orang yang berbeda.
Tentu saja aku juga biasa berdandan, hanya saja dandananku ‘seadanya’. Haha, aku mulai mengakui diriku sendiri bahwa aku memang berpenampilan seadanya.
“Nah, gitu kan kelihatan cantik.”suara Wasa mengagetkanku.
Entah sejak kapan ia sudah berdiri tidak jauh dari tempatku duduk. Dari pantulan di cermin aku dapat melihat Wasa bergerak mendekat. Ia terlihat menyerahkan sebuah bungkusan yang sepertinya berisi baju, kepada salah satu pegawai perempuan yang ikut menata rambutku.
“Nanti bantu dia pakai.”ucapnya kemudian pergi ke salah satu sofa panjang di sudut ruangan.
“Mr.Wasa memang baik sekali yaa...”salah seorang pegawai mulai bergosip.
“Tampan...”timpal yang lain.
“Kaya raya..”
“Arrrghhh!!”suara gemas para pegawai wanita memenuhi telingaku.
Sambil masih menyisir, menggulung, lalu menyisir lagi, mereka lanjut bergosip ria dengan Wasa sebagai topik utamanya.
“Miss, rambutnya sudah selesai. Aku temani ke ruang ganti ya.”Ujar salah seorang pegawai. Ia membantuku bangkit dari dudukku, kemudian menuntunku menuju ruang ganti.
__ADS_1
Di dalam ruang ganti, tidak ada apapun selain cermin seukuran badanku dan gantungan baju terpaku di salah satu dindingnya. Aku mulai melepas pakaianku satu-persatu, lalu mengambil baju dalam tas yang diberikan oleh Wasa tadi.
Baju pilihan Wasa benar-benar simple tapi indah. Itu adalah sebuah dress berwarna biru tua yang panjangnya kurang dari selutut. Aku menempelkan dress-nya ke bdanku kemudian mulai fokus bercermin. Aku tidak dapat mengesampingkan betapa indahnya baju yang diberikan Wasa, namun akan sangat tidak nyaman untuk memakai baju seperti ini di depan umum, tapi aku tidak punya pilihan lain.
Aku memunguti pakaian-pakaiannku, melipatnya seadanya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Aku bercermin sekali lagi, sebelum keluar dari kamar ganti. Pegawai yang menungguku di luar terlihat terkejut saat melihatku .
“Uhm...Ada yang salah? Apakah terlihat aneh?”tanyaku takut-takut.
Pegawai itu menggeleng cepat. “Perfect!” jawabnya mantap.
***
Sudah hampir tiga menit berlalu, Wasa masih belum melemparkan komentar apapun. Tatapannya yang seolah-olah sedang menilaiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuatku tidak nyaman. Aku bukanlah sesuatu untuk dinilai berdasarkan visual.
“Cantik.”Wasa memujiku. Mataku mengerjab beberapa kali dengan cepat. “Hanya saja...” ia tiba-tiba menghentikan kalimatnya, lalu tangan kanannya bergerak mencubit lebar lipatan perutku yang cukup menonjol.
Aku buru-buru menepis tangan Wasa dari perutku. “Nggak sopan!”seruku.
“Tuh kan, emang udah cocok aku pakai baju yang tadi aja. Ini perutku jadi over expose kan....”ucapku kesal.
Perutku membuncit setelah banyaknya makanan yang kuhabiskan semalam, pagi ini, dan juga siang tadi. Dress yang diberikan Wasa merupakan dress dengan bahan kain yang tidak kuketahui jenisnya, namun saat dipakai mengikuti bentuk tubuhku.
“Cantik.”ujar Wasa memujiku lagi.
“Tentu saja, aku perempuan.”katakaku.
Wasa menghela napas panjang. Sepertinya ia malai untuk berdebat denganku.
“Kamu udah siap?”tanya Wasa.
__ADS_1
“Udah.”jawabku.
“Terimakasih banyak ya, kakak-kakak cantik...”ujar Wasa sebelum meninggalkan salon.
Aku hanya tersenyum kemudian mengekor dibelakang Wasa. Sementara para pegawai saling berteriak riang satu sama lain karena mendengar sapaan Wasa.
***
Wasa memacu mobilnya menyusuri jalanan kota yang langitnya mulai temaram. Ternyata aku menghabiskan waktu cukup lama di salon. Mulai dari perawatan perawatan kuku, make-up, dan styling rambut.
Tidak ada pembicaraan lagi selama aku dan Wasa masuk ke dalam mobil. Lantunan lagu jazz sayup-sayup berhenti terganti dengan suara pembawa berita cuaca. Aku hanya menangkap setengah dari keseluruhan isi dari pemberitaan cuaca. Kesimpulannya, akan turun hujan malam nanti. Aku berharap aku sudah tiba di Rumah, di kasurku yang empuk, dengan selimut tebal, dan segelas milo hangat sebelum aku benar-benar tertidur.
“Kita sampai...”Suara Wasa yang tiba-tiba, mengagetkanku.
Aku melihat ke sekeliling dari kaca jendela mobil. Sebuah bangunan besar, mirip seperti hotel, berdiri kokoh di bawah langit jingga yang menggelap. Mobil melaju pelan menuju lobi. Beberapa orang buru-buru mendekat ketika mobil benar-benar berhenti. Satu orang membukakan pintu mobilku. Aku buru-buru merapikan rambut dan bajuku, kemudian melangkah keluar dari dalam mobil.
Wasa terlihat di sisi yang lain sedang berbicara dengan salah satu orang, kemudian menyerahkan kunci mobilnya untuk parkir valet. Tidak lama berselah, ia memberiku isyarat untuk mengikutinya. Aku berlari kecil ke arahnya.
“Pakai ini.”ujar Wasa sembari memberikanku sebuah topeng yang ukurannya pas dengan wajahku. Aku menurutinya. “Ada masquarade ball di club malam ini.” lanjutnya.
“Kamu kan bisa pergi sendiri.”kataku seraya berusaha mengikuti langkah Wasa yang cepat.
“Kakek Herdi melarangku pergi ke acara seperti ini, jika kamu tidak menemaniku.”
“Traktir ku burger pulang nanti.”kataku
Wasa tertawa sembari mamasang topengnya. “Cobalah untuk meminta imbalan lebih besar. Itu terlalu mudah.”ujarnya.
“Baiklah, aku akan meminta burger beserta karyawan dan ouletnya lain kali.”kataku bercanda.
__ADS_1
Kami tertawa di sepanjang lorong.
***