AN ESCAPE RABBIT FROM MOON

AN ESCAPE RABBIT FROM MOON
Chapter 3 - Love Letter


__ADS_3

Minggu pagi, Wasa datang ke ruko-ko tepat tiga hari setelah insiden perkelahian di restoran. Ia memukul-mukul pintu ruko-ku dengan keras untuk membuatku turun dan membukakan pintu untuknya. Untuk pertama kalinya, aku mengizinkan ia masuk sampai ke lantai dua yang merupakan tempat tinggalku.


Wasa sudah memasang tampang kesaldan marah sejak aku menemuainya di ambang pintu. Aku memintanya mengikutiku menaiki tangga. Ia langsung mengambil posisi duduk di sofa yang berada di depan TV, sementara aku membuka lemari pendingin, dan mengambil beberapa snack dan juga minuman kaleng, lalu bergabung dengan Wasa yang sudah asyik dengan siaran tinju di salah satu saluran TV.


“Ada apa?”tanyaku sembari meletakkan makanan dan minuman di tanganku ke atas meja. Aku memberikan satu kaleng soda rasa lemon kepada Wasa.


“Kamu masih berani tanya ada apa?!”Wasa balik bertanya dengan nada tinggi. Aku tidak mengerti kenapa ia sekesal ini.


“Tentu saja aku harus bertanya, kamu menggedor-gedor pintuku pagi-pagi, untung saja sekarang hari minggu, jadi deretan di sekitar ruko-ku tidak terlalu banyak orang.”kataku kesal. “Kamu membuat kegaduhan.”imbuhku.


“Aku tidak bisa menghubungimu selama tiga hari ini, sementara Kakek terus-terusan memintaku untuk datang ke tempatmu ketika aku sedang sangat sibuk sekali di kantor.”jelas Wasa. Ia hampir mengatakan semua kalimat itu nyaris tanpa jeda.


Ah! Aku lupa jika aku masih memblokir nomornya. Tentu saja Wasa tidak akan bisa menghubungiku.


Aku meraih ponselku di meja. Wasa meperhatikanku dengan sangat intens, sampai ia menggeser duduknya lebih dekat denganku. Sepertinya aku harus bersiap dengan omelan Wasa yang lain setelah ini.


“Kamu memblokir nomor-ku?!”Benar dugaanku, Wasa akan mengomel setelah ini. “Kamu bahkan nggak telepon aku setelah mantanmu si Bian itu bikin rusuh!”


Aku juga tidak merasa memiliki kewajiban untuk meneleponnya, karena pada dasarnya kami hanya terpaksa menjalin hubungan pertunangan ini.


“Aku tahu memang kita cuma baru saling mengenal, dan lagi kamu terpaksa tunangan sama aku , tapi kita kan simbiosis mutualisme. Sepertinya kakek salah menilai tentang kamu. Mungkin saja kamu sejak awal sudah tahu jika kakek adalah orang kaya dan jika kamu menolongnya, kamu yakin kamu akan dapat imbalan yang besar.”


Apakah seburuk itu pandangan Wasa terhadapku? Aku juga tidak pernah meyakini bahwa diriku adalah manusia baik hati, namun ucapan Wasa benar-benar menyakitiku. Lagi-lagi ucapannya jauh lebih tajam dari lidah client-ku.


“Wasa, kamu jahat.”kataku.


Wasa menangkup wajahku dengan kedua tangannya, “Kamu nangis?”tanyanya kaget, kemudian buru-buru mengambil tisu yang ada di atas meja.


Wasa menyeka air mataku dengan tissu di tangannya. Ia tidak mengatakan apapun ketika menyapukan tissu itu di wajahku.


Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku sendiri. Akhir-akhir ini, banyak sekali hal yang gampang membuatku menangis.

__ADS_1


“Aku telepon kamu waktu itu, tapi yang angkat telepon bukan kamu. Aku nggak bohong.”kataku ditengah tangis yang belum juga berhenti.


Wasa masih diam saja dan sibuk mengelap wajahku yang masih terus dibanjiri air mata.


“Aku memang bukan orang baik, tapi aku bukan orang jahat. Pasti kamu juga akan melakukan hal yang sama jika melihat seorang kakek mengalami hal yang sama seperti Kakek Herdi.”terangku lagi.


“Sepertinya kita perlu membahas tentang nasib pertunangan kita ini, maksudku, kapan kita akan mengakhiri ini, dan bagaimana kita harus menjalani ini.”Ujarnya.


Pemikiran kami ternyata sama. Kami harus memperjelas hubungan kami ini. Kami harus memiliki guide agar kami tidak lebih menyakiti, satu sama lain.


 -Love Letter-


“Perjanjian Pertunangan pura-pura antara Hindia Yuristika dan Wasa Widipa”


1. Kedua belah pihak setuju untuk bersikap baik kepada satu sama lain.


2. Melakukan tugas sebagai tunangan di depan keluarga dan kerabat dari masing-masing pihak.


4. Tidak boleh melakukan kekerasan kepada satu sama lain.


5. Masing-masing pihak boleh mencari pasangan lain selama masih bertunangan\, dengan syarat :


 a. Menjaga martabat pribadi dan keluarga masing-masing.


 b. Tidak melakukan pelecehan sexual.


 c. Menjaga kerahasiaan hubungan kencan agar tidak diketahui keluarga selama   pertunanganpura-pura masih             berjalan.


6. Perjanjian pertunangan berakhir hanya jika kedua belah pihak setuju untuk mengakhiri.


Pukul 13:00. Wasa tertidur di sofa setelah hampir dua jam kami berdebat satu sama lain tentang apa yang harus kami masukkan dalam perjanjian pertunangan kami. Aku dan Wasa juga sengaja tidak memberikan judul surat kami sebagai perjanjian, atau kontrak. Kami berdua sama-sama tidak nyaman dengan istilah itu, sehingga kami memutuskan menamainya sebagai “Love Letter”.

__ADS_1


Wasa adalah yang pertama mengusulkan nama ini.


“Kita kasih nama perjanjian ini Love Letter ya.”ucapnya sembari menuliskannya di kertas.


“Kenapa?”tanyaku bingung.


“Love Letter, surat cinta adalah ungkapan perasaan kan? Isi perjanjian ini juga adalah ungkapan kita, namun pada akhirnya perjanjian ini hanya sementara. Sama seperti surat cinta, tugasnya menyampaikan, tapi kemungkinan tidak terlabalas juga besar.”jelasnya.


Aku cukup terkejut Wasa dapat berkata demikian. Ia memiliki sisi lain yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ini juga merupakan waktu terlama yang pernah kuhabiskan hanya dengan Wasa. Kami tidak pernah makan berdua, pergi berdua, bahkan satu mobilpun kami tidak pernah.


Waktu kami sering kami habiskan dengan bersama Kakek Herdi, atau orangtua Wasa. Aku belum mengenal betul tentang Wasa dan keluarganya. Mereka terlihat baik-baik saja menurutku, meskipun jelas sekali bahwa Alan adalah anak dan cucu kesayangan dari keluarga itu. Memang terlihat jelas bahwa Alan merupakan kakak yang dapat diandalkan.


Aku menoleh sekali lagi ke arah Wasa yang masih berbaring dengan membenamkan wajahnya menempel ke sandaran sofa. Aku membereskan peralatan tulis yang berserakan di atas meja, kemudian meletakkannya kembali di kamarku. Wasa masih tetep diposisinya sampai aku kembali dari kamarku. Aku memutuskan untuk memasak. Ini sudah waktunya makan siang.


Aku mengambil beberapa sayuran dari dalam kulkas, mencucinya, kemudian meletakkan di wadah. Sudah sekian lama aku tinggal sendiri, jadi aku sangat familiar dengan alat-alat masak, dan bumbu dapur. Aku membuat salad sederhana, membuat ayam goreng dari sisa dada ayam yang kubeli dari supermarket dua hari yang lalu, dan tambahan kentang goreng.


“Kamu sedang masak apa?”tanya Wasa mengejutkanku. Ia tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakangku sambil memegang garpu. “Aku tidak tahu kalau kamu bisa masak.”ujarnya seraya menusuk beberapa kentang goreng sekaligus dengan ujung garpu, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ia terlihat seperti tupai dengan mulutnya yang penuh.


“Aku tidak memiliki kewajiban untuk memberitahumu segala hal, kan?”Aku mengangkat pering salad dan piring dengan ayam, menuju meja di depan tv. “Wasa, kamu bawa kentang gorengnya kesini juga.”kataku yang sudah melangkah menjauh dari dapur.


Wasa menuruti permintaanku, ia membawa kentang goreng yang baru saja kumasak dan dua piring lainnya untuk alas kami makan. Ia meletakkan bawaannya dengan hati-hati di atas meja, lalu menyodorkan satu piring di tangannya ke padaku. Aku menerima piring itu, meletakkannya di atas meja lalu mulai menyendok salad. Sementara aku sibuk menyendok, Wasa menatap serius ke arah layar ponselnya.


“Ada apa?tanyaku penasaran.


Wasa tidak lekas menjawab. Aku mulai masa bodoh. Terserahlah jika ia ingin bermain rahasia denganku. Aku kembali fokus pada makananku.


“Kita harus cepat menghabiskan ini.”ujar Wasa tiba-tiba. “Setelah itu kamu mandi, kita bersiap untuk kencan”


“Huh?”


Wasa memasukkan banyak kentang dalam sekali suap. “Kamu..... xxx ... xxx “ Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia katakan karena mulutnya penuh dengan makanan. Ia tidak berhenti memasukkan kentang, lalu menggigit ayam, setelahnya selada, dan begitu seterusnya secara berulang.

__ADS_1


***


__ADS_2