
Bagaikan bangkai yang lama kelamaan akan tercium juga bau nya, begitupun gosip Meena hamil, seantero kantor sudah menggosipkan anak Pewaris perusahaan itu berbadan dua tanpa seorang ayah, dan hal tersebut sudah di dengar oleh Mac, Ayahnya.
“Meena datang kemari ke ruangan Papah sekarang!”
Mendengar ucapan sang ayah yang bernada begitu marah di dalam telepon membuat Meena sedikit ketar ketir, Meena takut ayahnya pun akan menanyakan hal-hal yang sama terhadapnya.
Dengan perlahan dan berat hati Meena melangkahkan kakinya ke ruangan Sang Ayah, ternyata jauh dari dugaan Meena, Sang Ayah justu sama sekali menutup telinga akan rumor yang terjadi di perusahaannya,
Mac marah karena kinerja Meena semakin menurun di kantor, dan membuat posisinya akan di gantikan dengan posisi Inggrid kakak sambungnya, karena perebutan kedudukan,
Mengetahui Meena mendapatkan rumor jelek di kantor Inggrid memanfaatkan jalan tersebut untuk dirinya supaya bisa melenggang lebih bebas di perusahaan, sampai Inggrid mendapati bukti bahwa Meena memang betul hamil,
“apa tes kehamilan ini ada di laci Meena, apa benar Meena hamil?” gumam Inggrid dalam hati, namun politik Inggrid tidak berhenti sampai disitu, sebelum Inggrid menembuskan bukti pada sang ayah Inggrid justru menyampaikannya kepada ibunya Elisa.
“APA?! Apa kamu yakin?” suara Elisa sangatlah terkejut, namun Elisa juga memainkan siasatnya untuk mengambil alih harta keluarga Numerect dengan menghasut Mac.
“sayang aku sudah mendengar begitu banyak rumor aneh tentang Meena” ucap Elisa sambil menata dasi Mac di laci
“ah sudah lah sayang, lupakan saja, rumor itu tidak benar” sahut Mac. Karena dia tahu anaknya bukan lah anak-anak yang memiliki pergaulan buruk
“bagaimana kalau itu benar?” ucap Elisa lagi
“sebenarnya apa Maksudmu Elisa? Kamu menuduh anakku berbuat asusila?” sambil mengkerutkan dahinya
“Inggrid menemukan ada tes kehamilan yang jatuh di bawah laci di meja Meena”
Seraya Mac terdiam dan Mac meminta Inggrid datang menemuinya
“papah manggil Inggrid?” tanya Inggrid
“langsung ke point penting saja, kata Ibu mu kamu menemukan alat tes kehamilan di ruangan Meena, apa itu benar adanya? Atau kamu memanipulasi keadaan?”
Mac terlihat sangat marah, mukanya memerah dengan tatapan yang nanar seperti menghakimi,
“i..iya Pah aku menemukannya, dan sumpah aku tidak bohong” ucap Inggrid ketakutan
“Mas kamu apaan sih? Lihat Inggrid sampai gemetar seperti itu,” ucap Elisa membela anaknya
“AMBIL SEKARANG JUGA!”
Amarah Mac semakin tidak terbendung, Elisa tidak mengetahui apa yang harus dia lakukan sekarang, terlebih selama menjalin hubungan bersama pun Elisa belum pernah melihat Mac semarah ini.
Dilain keadaan Meena sedang mengingat dimana dia menaruh alat tes kehamilan tersebut, sambil terus mengulang kejadian di kantor hari itu, supaya mencari celah untuk mengingatnya sedikit demi sedikit,
__ADS_1
Tiap hari di kantor disela-sela kesibukannya Meena selalu menyempatkan untuk mengirim pesan pada Tn Lexa Mour, memberi kabar tentang dirinya, namun tak pernah ada jawaban
“mungkin Tn Lexa sudah hidup senang bersama Diandra, untuk apa
Aku terus berharap kepada dia, dan untuk apa lagi aku mempertahankan anak ini” gumam Meena pada dirinya sendiri. Namun Meena selalu berkaca mengenai perutnya yang kian membesar, ini juga hasil dari buah cintamu Tn Lexa mana mungkin aku tidak memberi tahukannya.
Hari pernikhan Tn Lexa dan Diandra sudah di umumkan, mereka akan menikah 2 bulan lagi, tepat di hari ketika usia kandungan Meena menginjak 9 bulan.
Saking sibuknya Tn Lexa tidak pernah mengecek email masuk perusahaan dan email masuk pribadinya, semua yang mengurusi asisten nya, Rindu.
“Madam, ada email masuk lagi dari Nona Meena..”ucap asistennya pada Mery Mour
“ada apa lagi anak itu selalu saja mengganggu kehidupan Tn Lexa, coba bacakan apalagi yang Dia mau”
Asistennya membacakan beberapa buah email masuk dan yang terakhir sangat menyita perhatian dirinya,
“HAMIL? Apa jangan-jangan mereka.... jangan pernah kamu bocorkan isi email itu terhadap siapapun termasuk Tn Lexa”
“baik Madam..”
Mery Mour mengupayakan rahasia tetap terjaga sampai Tn Lexa berhasil menikahi Diandra, Mery terus saja berfikir tentang harta berbeda dengan suaminya Alex Mour, yang lebih pro pada Meena, gadis manis cantik nan manja yang begitu Lexa cintai,
Alex Mour adalah seorang ayah yang bijaksana untuk karyawannya namun tidak untuk rumah tangganya, Alex Mour cenderung diam, dan mengikuti kemauan Mery Mour,
Dikediaman rumah Numerect, suasana sangat mencekam, Meena yang tidak tahu bahwa semua keluarga sudah mengetahui tentang kehamilannya, datang terlambat..
“dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang? Apa kamu sudah selesai menemui ayah dari anak yang kamu kandung? Atau kamu sedang mengingat dimana kamu menjatohkan tes kehamilan mu Meena?!”
Mendapati sambutan seperti itu dari ayahnya Meena berusaha untuk berbicara baik-baik dan menyangkal.
“Papah apa maksudmu? Aku tidak seperti itu.”
“tidak seperti itu?! Lalu ini apa?” sambil melemparkan Tes kehamilan ke arah Meena
Seperti disambar petir di siang bolong, Meena tidak mampu berkata apa-apa, air matanya mulai memenuhi pelupuk mata,
“ma..maafkan Meena Pah” tangis Meena pun pecah
Melihat anaknya bersikap seperti itu, Mac menyadari bahwa anaknya benar-benat hamil, dengan emosi yang semakin tidak terkontrol Mac terus saja memaksa Meena untuk mengatakan siapa ayah dari bayi yang di kandungnya,
“akan aku bunuh jika ku tahu siapa laki-laki biadab itu”
Mendengar amarah Mac yang semakin menjadi membuat Meena ketakutan dan Membuat Meena terus tutup mulut akan kebenaran siapa ayah kandung biologis anak dalam rahimnya.
__ADS_1
Mac merasa semakin tidak di hargai dengan bungkamnya anaknya tersebut, sampai akhirnya Meena di asingkan ke desa nan jauh disana, tanpa dibekali sepeser uang pun, Meena hanya diberikan 1 rumah kecil untuk dia tetap berteduh, selepas nya Mac merasa sudah tidak perlu lagi membantu kehidupan anak yang sudah sangat mengecewakannya.
Sedangkan Elisa dan Inggrid bak mendapat durian runtuh, semua keinginan mereka untuk mendapatkan kekayaan Mac Numerect bisa mereka dapati tanpa harus membuang tenaga extra lagi, karena kepergian Meena mengubah segalanya.
Beberapa bulan kemudian pertaruhan hidup dan mati Meena di mulai, Meena melahirkan seorang anak cantik yang diberi nama Lusi Mour.. bayi yang sangat cantik dengan mata bulat saat ia lahir, kehidupan Meena berubah 180 derajat dari masa mudanya, Meena harus bekerja keras menjalani kehidupannya sendiri, dan untuk anaknya Lusi.
Pernah sesekali terbersit untuk menggugurkan anak nya namun Meena terlanjur menyayanginya, saat anak tersebut ada dalam rahimnya, karena bagaimanapun anak tidak bersalah,
Sedangkan Nan jauh disana Tn Lexa sedang berbahagia bersama Diandra, walau sesekali Tn Lexa mengingat Meena namun rutinitas nya membuat dia tak bisa berlama-lama mengenang Meena,
Lima tahun kemudian, Meena yang hanya seorang buruh cuci mendapati anaknya sedang bertengkar dengan anak seusianya yang lain, dasar memang pergaulan di kampung dan di kota jauh berbeda, adab dan kebiasaannya pun jauh berbeda pula,
“Lusi kenapa kamu sering sekali bertengkar? Tidak bisakah kamu tetap menjadi anak baik yang tidak mudah terpancing emosi?” ucap Meena sambil membersihkan luka di tangan anaknya
“Lusi sedih, hati Lusi sakit, Mereka terus mengejek Lusi dan Mamah.”
“lalu untuk apa kamu terus meladeninya?” tanya Meena yang sesekali mengoleskan salep di luka tangan Lusi dengan cara menekannya keras.
Bagi seorang Ibu keselamatan anaknya lah hal yang terpenting, apalagi melihat Lusi bertengkar sampai luka seperti ini membuatnya semakin sakit.
“Mama, Mereka bilang Lusi tak punya ayah, meraka bilang Lusi anak haram!”
Seketika Meena langsung terdiam, Bak di sambar petir di siang hari, Meena tak kuasa mendengar ucapan selanjutnya dari anaknya tersebut,
“Sayang Kamu punya ayah, ayahmu sedang bekerja mencari uang yang banyak untuk kita supaya kita senang”
“lusi mau ketemu ayah Mah” rengek lusi yang tahu bahwa dia memiliki ayah juga
“lusi kangen ayah, Lusi ingin lihat wajah ayah dan peluk ayah”
Air mata Meena semakin tidak terbendung mendengar tiap kata yang muncul dari mulut manis anaknya, batin Meena semakin tersiksa, dan lidahnya kelu seolah tak mampu mengungkapkan semua kata-kata yang sebenarnya ada di dalam hatinya saat mendapati dirinya harus di hadapkan menjadi single mother tanpa kehadiran Tn Lexa
“Lusi Mama akan berusaha keras mencari uang tambahan supaya kita bisa ke kota bertemu Ayah mu”
Mendengar jawaban Meena Lusi menjadi diam seketika, anak sekecil itu sudah mulai memutar otak saking ingin bertemu Ayah kandungnya,
Lusi anak usia 5 tahun mampu fasih berbahasa, dan pintar mencari uang dengan membantu Meena berdagang makanan dan sayuran.
Disela-sela kesibukannya mencari uang Meena masih berusaha memberi kabar pada Tn Lexa, karena bagaimana pun Tn Lexa adalah ayah dari anaknya, kali ini Tn Lexa mendapati langsung kabar Meena dan Lusi...
Penasaran apa yang akan terjadi,? Sambung bab III ya..
Bersambung...
__ADS_1