
Di dunia ini tidak ada satu hal pun yang mampu membahagiakan dirinya kecuali melihat senyuman terpancar di wajah mungil anaknya, Lusi.
Sudah hampir 6 tahun Meena di asingkan hidup di kampung, tanpa ada kabar sedikitpun dari keluarganya.
Setiap kali ingin menanyakan kabar pada Elisa Ibu sambung Meena, rasa sakit itu semakin terasa kembali, kelu sekali hati ini sampai tak mampu ku ungkapkan kepada siapa lagi aku harus bersandarkan hidup.
Meena mengetahui Mac terlampau kecewa kepadanya sehingga Mac mengusir Meena tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi,
Keputusan yang di ambil saat kita marah adalah bukan keputusan yang bijaksana bukan? Itupun yang di rasakan Mac jauh dalam hatinya, Mac selalu merindukan Puterinya Meena, dan Mac ingin mendapati kabar mereka, namun selalu terhalang oleh sikap Elisa, elisa terlalu banyak menghasut hal-hal yang bukan-bukan pada diri Mac, sehingga Mac melupakan bagaimanapun Meena adalah anaknya,
Ternyata bukan karena hal ketidaksengajaan Mac menempatkan Meena di kampung nan jauh disana namun itu atas saran dari Elisa, dengan pertimbangan yang berat dan besar mengenai reputasi keluarga Numerect jika kebenaran rumor tersebut di ketahui oleh orang banyak mampu menggulingkan eksistensi perusahaan Numerect dengan sekali senggolan saja, dan ternyata kampung dimana Meena tinggal sekarang itu dulunya adalah tempat kelahiran Elisa.
“Mamah apa uang kita sudah cukup untuk bertemu ayah?” tanya Lusi memecah keheningan yang ada
“belum sayang, yang sabar ya kamu Nak, nanti kita cari Ayah bareng-bareng yah..” sambil mencium kening anaknya yang mulai tumbuh,
“kalau begitu ayo Mah, semangat kita harus tambah rajin dan giat mencari uangnya, Lusi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ayah..”
Melihat anaknya yang begitu terfokus untuk bertemu ayahnya Meena hampir saja menangis , namun Meena tidak boleh memperlihatkan kesedihannya di depan anaknya.
Meena tahu sebagaimana pun Meena berusaha mengumpulkan uang hasil dari buruh cuci dan dagang tidak akan mampu membawa dia kembali ke kota, karena tempat perasingan ini sangatlah jauh kemana-mana.
Meena memutar otaknya, ternyata pertumbuhan anaknya yang semakin pesat membuat Meena mendapatkan Ide untuk membuat anaknya menjadi model dari pakaian yang akan Meena jual secara online, uang hasil tabungan buruh cuci dan dagang dia kumpulkan untuk membeli satu buah laptop bekas untuk Meena memulai kembali kebangkitan kehidupan financialnya bersama gadis kecil buah hatinya,
Siang dan malam Meena mengukur baju, lalu membuat pola dan menjahitnya sendiri membuat Meena merasa begitu bersemangat, seperti diberi nyawa tambahan oleh Tuhan, Meena mengingat bagaimana dulu Syaqilla mengajarinya menjahit hingga sukses membentuk perusahaan di bidang fashion.
Dilain kondisi,di kantor PT Mour International, perusahaan milik keluarga Mour corp.
“Rindu, apa ada email penting untuk saya ?” tanya Tn Lexa
Rindu yang hari itu sangat sibuk tidak sengaja mengucapkan satu nama,
“tidak ada Tn Lexa hanya email rutin yang setiap hari di kirim Meena Numerect” mengingat mendapati dirinya sudah salah berbicara sikap Rindu dihadapan atasannya berubah total,
“ma..maksud saya tidak ada yang penting Pak” ungkapnya sambil tertunduk di hadapan Tn Lexa
“apa.. Meena? Sejak kapan ada kabar dari dia?” seraya membalikan badannya kehadapan Rindu,
“ma..maafkan saya Pak, saya salah berbicara..” rindu semakin gugup
Melihat gelagat karyawannya yang semakin mencurigakan Tn Lexa semakin menginterogasinya,
“duduk Kamu!” nada bicara Tn Lexa semakin meninggi,
Rindu duduk dihadapannya dengan raut muka bersalah, belum sempat di certa berbagai pertanyaan Rindupun mengalah dan berterus terang
“maafkan saya Pak, Saya hanya di suruh Madam Mery untuk tetap merahasiakan email masuk dari Nona Meena Numerect sampai Tn Lexa dan Diandra menikah, maafkan saya Pak tolong jangan pecat saya Pak saya masih membutuhkan pekerjaan ini”
“Mamah, lagi lagi Mamah selalu ikut campur urusan pribadiku” Tn Lexa terlihat begitu kesal pada Ibunya tersebut
“kalau begitu, apa saja yang kamu ketahui dari email tersebut” tanya Tn Lexa kepada Rindu,
__ADS_1
“saya tahu bagaimana perjuangan Meena saat hamil, di usir dan melahirkan anak Bapak”
“apa Meena hamil? Apakah karena kejadian malam itu?” gumam Tn Lexa
“pergi kamu, dan terus lah berakting dihadapan Madam, anggap saja aku tidak mengetahuinya”
“ba..baik Pak, terimakasih, sekali lagi saya mohon maaf”
Meena hamil anakku? Dan dia selama ini berjuang sendirian, Aku sama sekali tidak dapat membayangkan bagaiamana kehidupannya, harusnya Aku tidak melakukan hal kotor tersebut malam itu, Aku menyesali sekali perbuatanku, Aku hanya ingin Meena menjadi milikku seutuhnya, namun aku lupa, Dia adalah anak dari Mac Numerect, pantas saja sampai di usir, karena mendatangkan aib dan bahaya untuk kelangsungan perusahaannya, tapi dimana Meena sekarang? Ya Tuhan tolong pertemukan Aku dan Meena Aku ingin bertanggung jawab atas nya.
“sayang Mamah mau pergi kepasar besar, membeli peralatan menjahit yang sudah habis, alhamdulillah, penjualan baju yang Mamah buat buat kamu dan anak-anak seusia mu, jauh memberikan kontribusi yang cepat dan banyak untuk kehidupan kita, apa Kamu mau ikut Nak?” tanya Meena kepada Lusi,
“No Mamah, Lusi menunggu dirumah saja, takut ada yang mau membeli baju hasil jahitan Mamah lagi”
“makasih sayang, kamu memang selalu bisa di andalkan Lusi,” kecup kening Lusi
Sebagaimana pun Tn Lexa tetap tidak dapat menghilangkan perasaan dan ingatannya kepada Meena, terkadang Tn Lexa juga mengkaji diri, apa mungkin dirinya dan Diandra selama ini tidak di karuniai seorang anakpun karena Dia sudah menelantarkan Meena dan Lusi anaknya..
Semua pikiran yang bersemayam dalam pikiran dan hati nya sudah tidak dapat lagi di bendung oleh Tn Lexa, akhirnya Tn Lexa mencari siasat bekerja sama dengan Rindu supaya bisa bertemu dengan Meena tanpa diketahui oleh Ibunya Mery Mour.
Rindu yang merasa sangat bersalahpun akhirnya ikut bertanggung jawab akan kejadian yang terjadi saat ini, Rindu meminta temannya seorang Hacker untuk mencari keberadaan alamat Meena dengan meretas beberapa email dan tempat mengirimnya yang berubah-ubah.
“kamu sudah tahu apa yang harus kamu kerjakan Rindu?” tanya Tn Lexa untuk memastikan kesetiaan Rindu kepadanya
“sudah Tn Lexa saya sudah membuat target perjalanan untuk pekerjaan tender besar yang di tutup privasi selama 6 bulan ke luar kota”
“baik Rindu kalau begitu kamu atur segalanya, dan jangan kecewakan Saya kembali,” pangkas Tn Lexa
“baik Pak”
“sayang apakah itu lebih penting dari ku?” tanya Diandra
“itu penting untuk perusahaanku Diandra,”
“sayang aku bisa meminta Papahku untuk menanam saham lagi keperusahaan mu, asal kamu tidak pergi”
Terlihat sekali Diandra begitu mencintai dan takut kehilangan Tn Lexa Mour, Diandra wanita yang sangat cantik, namun perasaan memang tidak bisa di buat-buat, baginya Meena tetap cinta nya Tn Lexa.
“sayang please, jangan terus seperti ini, tolong buat aku dukung aku untuk mengepakan sayap perusahaanku yang sekarang aku rintis lebih besar dan lebar lagi, tanpa bantuan dari kamu, atau keluargamu, tolong hargai aku”
Mendengar ucapan Tn Lexa, Diandra menyadari 1 hal, saking cinta dan sayangnya Diandra dia lupa bahwa suaminya harus tetap bertanggung jawab.
“baiklah sayang kalau begitu, walaupun ini sangat berat untukku, aku mohon kamu memberikan kabar padaku setiap hari”
“baik sayang,a kan aku usahakan di sela kesibukanku kelak”
Tn Lexa memulai siasatnya untuk mencari Meena dan Lusi, ada beberapa kendala saat ingin mencari alamat rumah Meena karena Meena selalu ikut mengirim email lewat beberapa perangkat itu membuat Tn Lexa harus mengunjungi beberapa tempat..
“Pak, ini adalah alamat tempat terakhir yang diberikan temanku, mudah-mudahan Nyonya Meena ada disini”
“iya Rindu, terimakasih atas kerja kerasmu selama ini”
__ADS_1
Suasana terasa begitu hangat saat mulai memasuki kediaman rumah tersebut, disambutnya oleh seorang anak perempuan yang sangat cantik dan manis,
“hallo Tuan ada yang bisa saya bantu? Dengan senang hati saya akan membantu anda, silahkan duduk” Sambutan yang luar biasa,
“anak manis bisakah Saya bertemu dengan Ibu mu? Ada hal yang ingin saya tanyakan”
“mamah sedang pergi keluar Tuan, jika Tuan datang kemari untuk menjahit baju, atau mengukur saya juga bisa” ucap Lusi
“ooh hahaha benarkah itu? Kalau begitu bisakah kamu membuatkan Aku sebuah jas yang sangat bagus?”
“tentu Tuan”
Melihat dan mendengar betapa cekatannya anak seusia ini membantu Ibunya sangatlah luar biasa anak Genius, andaikan anak ini adalah anaknya, lamunan Tn Lexa terpecahkan saat mendengar suara wanita datang
“oh ada Tamu, Lusi kenapa kamu biarkan Bapaknya hanya tinggal di luar, suruh lah masuk diluar akan ada hujan besar”
(Lusi?) gumam Tn Lexa
“iya Mamah, Om ayo masuk lagian Mamah sudah datang”
(Mamah? Jangan.. jangan.. Meena...) gumam lagi sambil menoleh
Ternyata benar saja wanita yang baru saja datang adalah Meena, wanita yang selama ini dia cari,
“Meena ini Aku..”
Meena menoleh ke arah laki-laki tersebut,
“Lexa...” bendungan air mata di pelupuk pun kian terisi dan sudah tak mampu lagi untuk di tahan, Meena dan Tn Lexa saling berpelukan satu sama lain melepas segala kerinduan yang ada selama ini
“Maafkan Aku Meena, aku sungguh tidak mengetahui, Aku baru mengetahuinya 1 minggu yang lalu dari asistenku Rindu” sambil menunjuk wanita disebelahnya
Meena hanya bisa menangis, seolah semua beban telah musnah terbawa oleh air matanya yang mengalir deras
“Meena sudah jangan terus menangis, aku tak kuasa menahan sakitnya perasaan yang timbul kala melihatmu meneteskan air mata, Kau terlihat kurus sekali Meena, Maafkan aku” lagi-lagi Tn Lexa mendapati penyesalan terbesar dalam kehidupannya..
“Mamah siapa sebenarnya Om ini? Apa dia jahat? Mengapa Mamah menangis namun memeluk dia?” suara anak kecil itu memecahkan keharuan
“sayang, ini Papah” ucap Tn Lexa sambil membuka kedua tangannya
“pa..papah?” Lusi anak polos itu menatap wajah ibunya dan melihat anggukan dari kepala ibunya seketika Lusi berlari memeluk sang ayah.
“Papah... Lusi rindu sekali sama Papah, Papah kemana saja? Lusi sudah bosan di ledek teman-teman terus, mereka bilang Lusi tidak punya ayah dan lusi anak haram, Papah jangan tinggalkan Lusi dan Ibu lagi, tinggallah bersama kami disini, jaga Kami Pah..” suara rintihan tangis anak sekecil itu mampu memecahkan pilu yang ada di hati Tn Lexa Mour.
Temu kangen berlangsung, mendapati memang betul itu adalah anaknya Tn Lexa Mour, Rindu menyuruh supirnya untuk membawakan sejumlah barang dan bermain bersama Lusi,
“tidak Tn Lexa, biarlah kami tetap hidup seperti ini, sudah cukup dengan Lusi tahu siapa ayahnya rasanya sudah cukup bagi kami, kami tidak mau mengganggu keharmonisan keluarga Mu,”
“tidak Meena, aku harus tetap bertanggung jawab atas semua kejadian yang selama ini menimpa mu itu karena kesalahanku, aku akan tetap menikahimu Meena”
Keputusan sudah di ambil, dan Meena melangsungkan pernikahan ala kadarnya bersama Tn Lexa, dan Tn Lexa berniat untuk membawa Meena dan Lusi besama dengannya..
__ADS_1
Penasaran dengan kisah selanjutnya? Apakah Tn Lexa berhasil membawa Meena keluar dari kampung Elisa, atau kan Tn Lexa berhasil membawa Meena masuk ke keluarganya, lanjut di Bab IV ya...
Bersambung....