
Kelahiran seorang anak memang dapat menjadi dunia baru untuk setiap wanita, gelak tawa nya selalu dapat menjadi obat pelipur lara disetiap harinya, kehangatan yang di dapat membentuk jalinan kasih sayang yang semakin hari semakin erat, Meena tak pernah menyadari kehidupannya akan berubah total ketika dia memiliki seorang anak, anak tetap lah seorang anak, meski dia lahir dengan berbagai macam cerita dibaliknya, anak tetaplah suatu karunia dan kepercayaan terbesar yang Tuhan titipkan pada rahim seorang Ibu,
Lusi Mour, anak pertama seorang anak wanita yang di kirim Tuhan untuk mengubah kehidupan Meena, membuat Meena sadar satu hal bahwa didunia ini memang tidak ada yang abadi.
cinta dan kasih sayang manusia ada batasnya, hanya Tuhan dan Ibu yang saling mengikat satu dengan lainnya membuat Meena semakin menyadari kehadiran Lusi yang tak pernah di sangka dan di damba membawa pengaruh terbesar untuk hidupnya,
Lusi anak yang lahir tanpa kasih sayang seorang ayah, anak yang begitu manis dan cantik, bola mat berwarna hitam bulat pekat, membuat pancaran cahaya anak seusianya jauh melampaui batas,
jujur saja Meena merasa bersalah sekali dengan kelahiran Lusi dan menyembunyikan kebenaran selama hampir tahun, kebenaran bahwan ayahnya masih ada didunia ini,
Tn Lexa Mour, entah bagaimana perasaanmu yang sama sekali melupakan Meena bertahun-tahun menghilang,
sempat Meena begitu membenci Tn Lexa Mour namun ketika menyadari anaknya Lusi semakin hari semakin tumbuh dewasa membuat Meena berusaha tetap berteguh prinsip bahwa Tn Lexa Mour tetaplah ayah kandungnya, walaupun Meena selama kehamilan berjuang hidup sendirian, tetapi Tn Lexa Mour tetaplah ayah biologisnya.
Lusi selalu menjadi obat pelipur lara Meena Numerect, berjuang bersama-sama hanya mereka berdua, angan-angan hidup bersama pun sempat singgah namun telah di urungkan lagi, karena menyadari bahwasannya Tn Lexa sudah menjadi suami orang,
setiap hari selalu ada canda tawa dari sang anak Lusi Mour.. meski usianya bisa di bilang masih jauh dari dewasa tapi Lusi selalu menghibur Meena, gelak candanya mampu menghilangkan kepemnatan yang terjadi dalam diri Meena..
"Ya Tuhan mengapa kehidupan ku berubah begini, setelah Ibu ku Tiada.. Papah yang awalnya menyayangiku kini berbalik menjauhi ku karena kehadiran Lusi, padahal bukan mauku juga namun apa yang mesti dikata dan entah siapa yang harus aku salahkan untuk kejadian ini, Ya Tuhan tolong sembuhkan aku beserta rasa sakitku, tolong jadikan Lusi sebagai pemicu semangatku untuk kehidupan kami yang lebih baik"
****
perut Meena semakin membesar dan usia kandungannya sudah hampir 9 bulan, sedangkan Diandra saat ini sedang berjuang untuk melahirkan anak pewaris kekayaan Mour,
"terus.. teruuss.. ayo dorong bu.." ucap salah satu dokter...
Diandra yang menyerah sebelum berjuang, memilih untuk melahirkan dengan operasi ceasar ..
"Tn Lexa maaf kami sudah berjuang, mengupayakan supaya Ibu Diandra mau melahirkan secara Normal namun Ibu Diandra tetap memilih melahirkan secara ceasar, bagaimana pendapat Bapak? kalau Bapak setuju silahkan ikut saya untuk mengurus administrasi dan ada beberapa dokumen yang harus bapak tandatangani.."ucap kepala rumah sakit.. maklum Tn Lexa bukanlah orang sembarangan jadi untuk pelayanan nya pun diberikan VVIP class..
"baik Bu.."
beberapa berkas sudah selesai di tanda tangani Tn Lexa dan operasi pun di jalankan..
harap-harap cemas menghampiri keluarga Mour dan Diandra..
****
dikediaman Meena di pedesaan, Meena hari ini kurang enak badan, tubuhnya mendadak lemas dan pusing, mungkin karena Meena kurang darah, namun Meena enggan pergi ke dokter karena terkendala biaya,
"Mah ayo ke rumah sakit periksa mamah jangan sakit.." tangis Lusi
"mamah gak apa-apa Nak., mamah cuma butuh istirahat saja.. tolong ambilkan Mama air di dapur Nak.."
"iya Mah"
__ADS_1
lusi begitu cekatan dalam mengurusi Meena yang sedang terbaring sakit,
"Nak mamah ingin tidur sebentar ya, Kamu jangan kemana-mana tutup pintu dan kunci saja.."
"iya Mah.."
lusi bermain sendiri sambil menunggu Ibunya tidur, Lusi yang sedang memainkan Hp melihat ada kontak ayahnya Tn Lexa Mour, akhirnya Lusi mencoba menelepon Tn Lexa Mour..
"tuuut....tuuut.. Ayah kok gak angkat-angkat sih"
hampir saja Lusi mematikan Teleponnya tiba-tiba terdengar suara..
"hallo... Meenaa.." ucap Tn Lexa
"Ayah ini aku, ayah kapan pulang?"
mendengar suara malaikat kecilnya membuat Tn Lexa Mour terenyuh..
"nanti ya sa.." belum sempat menjawab Lusi sudah memotong omongannya
"ayah mamah sakit demam, tapi Mamah gak mau ke dokter"
mendengar Lusi berucap seperti itu Tn Lexa timbul rasa khawatir,
"Nak boleh Ayah bicara dengan Ibu mu?"
"ade siapa maksudmu Lusi ?"
"ade dalam perut mamah.." jawab Lusi dengan polos,
selama ini Tn Lexa tidak mengetahui Meena hamil anak mereka lagi,
"oh mamah lagi tidur ya sudah jangan di ganggu ya nak.. lusi sayang kalau ayah boleh tahu perut mamah sudah sebesar apa?"
"sudah gede banget yah, kata mama tinggal sebentar lagi dedek lusi keluar.."
(apa jangan-jangan kejadian dahulu terulang lagi)gumam Tn Lexa dalam hati,
Tn Lexa yang menyadari kondisi Diandra sedang membutuhkannya berdoa supaya anak mereka lahir secepatnya,
Tn Lexa sudah tidak nyaman diam diri menunggu keadaan, Tn Lexa terus mengkhawatirkan Meena terlebih Tn Lexa terus menerus kepikiran atas ucapan Lusi tadi yang mengatakan Meena sedang hamil.
"oooaaa...oooaaaa.."tangis bayi mereka sudah terdengar,
Tn Lexa langsung menghampiri anaknya
__ADS_1
"cantik..anak papah, namamu sekarang adalah Raleen Sala Mour.."
"nama yang bagus sayang" ucap Diandra
"sayang aku harus pergi dulu, maafkan aku ya, ada kerjaan yang begitu penting yang tidak dapat di handle Rindu, jadi aku harus turun langsung"
"oh baiklah hati-hati ya Pah.."
Tn Lexa bergegas mendatangi Meena di kediamannya dulu.. dengan membawa mobil sendiri..
"assalamu'alaikum..." ucap Tn Lexa
"wa'alaikum salam..." ucap si kecil Lusi sambil membukakan pintu rumah mereka.."
sebegitu rindu nya Lusi pada ayahnya dia langsung menyambut kedatangan ayahnya dengan suka cita
mendengar ada suara bising di ruang tengah Meena menghampiri dengan berjalan pelan..
Tn lexa terkejut bukan main saat melihat posisi perut kandungan Meena sudah di bawah yang menandakan bahwa kehamilannya memang sudah masuk trimester 3
"Lexa..." suara pelan Meena terdengar begitu lirih
melihat Meena dengan kondisi pucat dan lemas menghampiri sontak membuat TN Lexa berlari menuju Meena..
tidak lama Meena pun pingsan..
"mamah mamah..." tangis lusi pun pecah
Tn Lexa membawa Meena ke rumah sakit,
"ayah mamah gak apa-apa kan ayah?" tanya lusi sambil terus mengusap pipi ibundanya
"tenang sayang mamah gakan apa-apa"
"syukurlah Pak, Bapak cepat membawa Ibu Meena kemari, karena bisa membahayakan kondisi bayi dalam rahimnya, baiknya saja Ibu Meena di rawat minimun sehari disini biar di inpus biar leiih sehat dan kuat"
"baik dok..."
"kalau begitu saya pergi dulu, kalau ada apa-apa panggil saja"
"baik dok terimakasih"
"sama-sama"
melihat Meena yang terbaring lemah membuat Tn Lexa semakin tersiksa, Tn Lexa kebingungan setengah mati dengan kondisi mereka yang seperti ini..
__ADS_1
bersambung...