
NARASI DONI
Aku lagi-lagi mengunjungi sekolah anakku Faiz dan Pandu. Aku ingin tanya saja kabar keadaan Pandu kepada dokter yang aku pekerjakan di sekolah ini. Dr. Dhana. Sebenarnya boleh dibilang Dr. Dhana ini adalah dokter pribadiku dulu, tapi setelah itu aku memberikan dia pekerjaan di sekolah ini. Gajinya cukup besar untuk seorang dokter, karena ia selain jadi dokter untuk para siswa juga jadi "dokter" khusus. Ya, pakai tanda kutip.
"Tentu saja, punya istri empat nggak cukup bagiku," kataku.
"Dasar, tua-tua keladi," kata Dr. Dhana.
"Aku ingin tanya keadaan Pandu di sini. Apa dia baik-baik saja?"
"Semenjak dia pingsan, sementara ini sih belum ada lagi perkembangan yang signifikan."
"Apa dia pernah mengeluh di UKS, misalnya sakit atau apa?"
"Semenjak pingsan itu tidak."
Aku pun merenung. Dokter memang telah memvonis kelainan otak pada Pandu sudah lama. Aku yakin setelah ini efeknya akan terasa. Mulai pingsan, hilang keseimbangan, kaki lumpuh, tubuh lumpuh, tidak bisa menulis, dan terakhir fungsi otaknya terhenti. Dan itu saat-saat terakhirnya. Ketika aku memberitahukan kepada Pandu kondisi dirinya, ia sama sekali tak shock harus bagaimana. Ia malah dengan enteng berkata, "Trus aku harus mengasihani hidupku?"
Memang sebagai seorang ayah, aku serba salah. Mau gimana lagi? Dia adalah anak bundaku. Ya, hasil hubunganku dengan ibu kandungku sendiri. Memang keturunan dari incest pasti akan ada sebuah penyakit atau kelainan. Aku sudah menyadari akan hal ini. Awalnya aku kira aku akan memberikan perusahaanku kepada Pandu, tapi melihat kondisinya seperti ini, aku takut hal yang sama akan menimpa anak-anakku yang lain yang juga dari hubungan incest. Maka dari itu aku memilih Faiz. Dia dan adik-adiknya satu-satunya yang tidak ada hubungan incest.
Aula satu-satunya istriku yang bukan keluargaku. Dan memang diantara istri-istriku aku paling mencintainya. Dan itulah sebabnya aku pun mencintai anak-anaknya. Faiz mendapatkan kedudukan yang lain dimataku. Dia berbeda dari semua anak-anakku. Yang paling pintar, yang paling semangat, tidak pernah malas dan selalu menjadi juara kelas. Maka cocoklah kalau aku memilihnya daripada Pandu.
Tiba-tiba dari luar ada beberapa orang anak berlari ke UKS.
"Bu dokter, bu dokter!" seru mereka.
"Ada apa?" tanya Dr. Dhana.
"Pandu pingsan lagi!" katanya.
Tak berapa lama kemudian Pandu yang tak sadarkan diri dibawa ke ruang UKS dengan bantuan teman-teman mereka. Dia langsung ditaruh di atas ranjang pasien. Aku langsung menemaninya. Dr. Dhana memeriksanya.
"Nggak apa-apa, ia hanya kecapekan," kata Dr. Dhana.
"Syukurlah kalau begitu," kataku.
"Tunggu saja, sebentar lagi juga akan sadar koq," kata Dr. Dhana.
Aku pun menemani Pandu di ruang perawatan. Sampai ia sadar. Begitu ia sadar, ia agak kaget melihatku.
"Ayah?" kata-kata itulah yang keluar pertama kali dari mulutnya.
"Kau tak apa-apa?" tanyaku.
"Sepertinya begitu. Aku tadi seperti melihat kilat gitu setiap aku melangkahkan kaki. Tapi aku duga itu cuma perasaanku saja. Lambat laun makin terlihat dan tiba-tiba aku tak bisa merasakan kakiku. Lalu aku tak sadarkan diri," jelas Pandu.
"Trus?"
"Hei...mana kakiku?" tanya Pandu.
"Apa maksudmu? Itu kakimu," jawabku.
"Ayah,Ayah! Tidak, aku tidak bisa merasakan kakiku sendiri!" ujarnya.
"Kau tidak bercanda kan?"
"AKU TIDAK BERCANDA! AYAH! Tolong! Tolong kakiku. Aku tak bisa menggerakkannya. Ayah....aku tak bisa merasakan kakiku! Ayaaaahh! Kembalikan kakiku, kembalikan!" jerit Pandu.
Pandu berteriak histeris. Ia tak bisa lagi merasakan kakinya. Aku tak menduga secepat ini. Sungguh. Setelah itu aku pun memanggil ambulance dan langsung membawanya ke rumah sakit. Akhirnya, hari itu pun dinyatakan bahwa Pandu tidak bisa menggunakan kakinya lagi untuk selamanya dan harus naik kursi roda.
__ADS_1
.
.
NARASI ISKHA
Tentunya kabar mengejutkan tentang Mas Pandu ini membuatku juga shock. Pasti Faiz juga bersedih. Aku dan Faiz sedang jalan-jalan di lapangan sepak bola sambil membicarakan hal ini. Sekolah elit ini emang gedhe. Punya lapangan basket, sepak bola dan lapangan baseball. Mas Faiz tampak bersedih.
"Sebentar lagi kenaikan kelas," ujarku. "Mas udah punya rencana mau kuliah di mana?"
Mas Faiz mengangkat bahu.
"Koq nggak tahu sih?" tanyaku.
"Aku belum kepikiran sampai ke sana. Ingin menikmati masa putih abu-abu dulu deh," jawabnya. "Tapi aku kasihan ama Pandu, belum lulus tapi dia sudah harus pakai kursi roda. Di rumah ia shock banget, bahkan marah-marah. Salah sedikit marah, ini marah itu marah."
"Yah, mungkin dia sedang tertekan mas. Nggak banyak orang yang bisa menerima kenyataan nggak bisa jalan lagi," kataku.
"Tapi, aku lihat Vira selalu menyemangatinya. Mungkin karena alasan Vira akhirnya dia lambat laun mengerti dan bisa menerima," katanya.
"Mbak Vira setia banget ya sama Mas Pandu," kataku.
"Iya, tentu saja," katanya. "Vira adalah hidupnya Pandu, kalau tanpa Vira mungkin Pandu sekarang ini sudah tiada."
"Sebentar lagi kan dia lulus. Trus habis itu pisah dong sama mas Pandu?" tanyaku.
"Betul juga ya, sepertinya begitu. Tapi kalau dari apa yang aku lihat, dia tak mungkin begitu saja meninggalkan Mas Pandu. Terlebih lagi dia sudah memberikan banyak hal kepada Mas Pandu."
Aku melihat dari jauh seseorang yang didorong dengan menggunakan kursi roda. Itu mereka! Aku bisa melihat Mas Pandu didorong dengan menggunakan kursi roda. Seorang gadis cantik rambutnya panjang, matanya tampak bersinar, pupilnya sangat gelap, bibirnya tipis dia lebih tinggi dari aku. Itu adalah Vira.
"Itu mereka," kataku.
"Hai, Mas Pandu, Vira?!" sapa Faiz.
"Hai Bro, mau kemana?" tanya Pandu.
"Mau pulanglah," jawabku.
"Oh, nggak bawa kendaraan?" tanya Pandu.
"Nyante aja, aku mau nemenin Iskha jalan-jalan dulu," jawab Faiz.
Mataku tak berkedip melihat Vira. Aku iri. Iri sekali. Dia lebih cantik dariku. Aku tahu sekarang kenapa Mas Faiz dulu memilihnya. Dan kalau aku merasa cemburu, maka itu wajar. Dia menyibakkan rambutnya yang menutup matanya. Aduuh...cakepnya, aku yang sesama wanita saja bisa iri. Dan aku bisa merasakan tangan Mas Faiz erat sekali menggenggam tanganku.
"Ya sudahlah, aku mau pergi. Hati-hati Vir, jangan dijatohin!" kata Faiz.
"Iya," jawab Vira singkat.
Vira tak banyak bicara. Tapi ia juga dari tadi menatapku. Seakan-akan berbicara, "Apakah kau yang sekarang jadi tambatan hati Faiz?" Dan tatapan mataku pun membalas dengan perkataan, "Iya, aku sekarang jadi tambatan hatinya." Kami pun berpisah. Kami berjalan beberapa meter menjauh dari mereka, lalu tangan Faiz mengendur. Kenapa?
"Kenapa tangan Mas tadi menggenggam tanganku erat?" tanyaku.
"Karena aku takut," jawabnya. Ia menghentikan langkahnya. Aku pun ikut berhenti. Aku menoleh kepadanya.
"Takut apa?"
"Aku takut aku kehilangan dirimu. Aku takut kalau aku melihat Vira lagi aku akan melupakan dirimu, aku tadi megenggam erat tanganmu karena aku tak ingin lari darimu," katanya sambil menatap mataku tanpa berkedip. Mas Faiz jujur kepadaku. Berat memang melupakan cinta pertama, aku bisa merasakan itu. Dan mungkin Mas Faiz adalah cinta pertamaku. Yang sebelumnya? Anggap aja cinta monyet.
***
__ADS_1
Sebenarnya teror itu belum selesai. Setelah aku diberikan kardus berisi bangkai kucing. Beberapa minggu kemudian dikirimi bangkai tikus. Lalu dikirimi bangkai kepala anjing. Dan itu yang paling membuatku shock. Ayahku sampai marah dan menyuruh pihak kepolisian untuk menangani kasus ini. Awalnya dikirim tanpa kurir, tapi setelah itu dikirim pakai paket eskpedisi resmi. Hanya saja alamat pengirimnya palsu semua. Polisi pun sampai bingung menangani kasus ini. Akhirnya setiap paket yang datang kepada kami untuk sementara ini kalau dari orang yang tidak dikenal langsung kami buang.
Tak hanya itu saja. Ternyata ada juga surat. Seminggu ada dua kali surat. Isinya senada. Tulisan haters. Misalnya "Aku Benci Kamu", "******* MURAHAN", "PERGI KAU DARI SINI!" Apa-apaan sih? Siapa juga yang mengirimi ini. Sebegitu bencinyakah dia kepadaku? Aku sampai tak habis pikir.
Akhirnya kami pun melaksanakan Ujian Akhir Semester. Aku tentu saja sangat percaya diri. Belajarku nggak bakal sia-sia. Singkat cerita ujianku memuaskan. Aku dapat nilai yang paling tinggi di kelas. Itu juga aku sangat terkejut. Aku naik kelas. Mas Faiz juga, iya dong. Dia peringkat pertama di sekolah ini. Dan mbak Vira sudah lulus. Akhirnya tak ada lagi penghalang hubunganku ama Mas Faiz. Setidaknya dengan tidak adanya mbak Vira di sekolah, aku tak perlu lagi merasa cemburu ketika kami berpapasan. Setelah kenaikan kelas ada libur panjang sebenarnya. Hanya saja ada kejadian yang sangat menyakitkan sampai aku tak pernah menduganya ini bakal terjadi.
Pada liburan sekolah ini jadwal manggungku padat. Aku tidak lagi mengisi di Kafe Brontoseno untuk beberapa waktu, karena ngisi di beberapa tempat. Kemudian juga ngisi jumpa fans, sampai capek rasanya. Ada salah satu event organizer yang mengontrakku untuk manggung di sebuah Konser salah satu band papan atas. Tentu saja kami sangat senang. Seminggu bisa tiga kali manggung. Dan aku butuh tenaga ekstra tentunya. Salah satu yang perlu dijaga adalah aku nggak boleh makan gorengan, harus banyak-banyak minum air putih.
Biar pun jadwal manggungku padat, Mas Faiz setia banget dampingi aku. Duh, udah kaya' suami istri aja. Hihihi, kemana-mana lengket kaya' perangko. Apalagi ketika aku manggung ia pasti ada di deretan paling depan. Dia bilang aksi panggungku selalu luar biasa. Makasih mas atas pujiannya. Tapi semenjak jadi pacarnya lagu-lagu ciptaanku kebanyakan selalu romance, teman-teman bandku saja sampai mengatakan ini itu "efek jatuh cinta". Aku ketawa aja mendengarnya.
Malam ini akhir dari manggungku. Semua kontrak udah selesai. Duit sudah dikantongi dong. Waktunya pulang. Sekali lagi aku dianter ama Mas Faizku yang cakep.
"Kamu bisa lihat nggak pake lensa kontak merah kaya' gitu?" tanyanya.
"Sebenarnya sih nggak, tapi berhubung aku konsen ama nyanyi jadinya ya nggak kerasa," jawabnya.
"Ohh, gitu."
Aku sudah melepas lensa kontakku dan memakai kacamata minusku lagi. Di mobil ini aku masih ingat bagaimana aku petting ama dia dulu. Aduhhh....kalau ingat itu lagi jadi gimana gitu.
****
Tak berapa lama mobil sudah ada di depan rumah. Setelah mas Faiz menciumku ia pun pergi. Hmm, lampunya koq sudah mati sih? Padahal masih jam sepuluh malam. Aku membuka pintu rumah. Lho, nggak dikunci? Saat aku masuk tiba-tiba lampu menyala. Dan...ada yang aneh. Seluruh perabot yang ada di rumahku tidak ada. Pianoku, tidak ada. Lemariku, foto-foto yang ada di dinding, mesin jahit ibu, sepedaku juga. Ada apa ini? Kemana semuanya? Dan di sana ada seorang wanita duduk di sebuah kursi menghadapku.
"Selamat malam Iskha," sapanya.
"Siapa?" tanyaku. "Ayah? Ibu? Bayu??"
"Tak perlu khawatirkan mereka. Mereka semua sudah aku suruh pergi jauh beserta barang-barang mereka. Di depanmu ada sebuah rekomendasi pindah sekolah ke kota lain," kata wanita itu.
Aku melihat sebuah map yang berisi kertas-kertas. Aku pun mengambil map itu. Di dalamnya ada surat rekomendasi dari Diknas bahwa aku telah menyetujui untuk pindah ke sekolah lain. Apa-apaan ini? Siapa wanita ini?
"Maaf, membuatmu bingung. Aku Putri Hendrajaya, kakak Faiz. Hari ini, aku ingin kamu tidak ada lagi di kota ini," katanya.
Aku terkejut,"Apaa?? Ti...tidak bisa begitu!"
"Kenapa tidak? Semua kepindahanmu sudah selesai, hanya kamu saja yang belum pergi. Seluruh barang-barang semuanya sudah diangkut tadi siang. Aku sudah mentransfer ke rekenigmu uang sebesar 700 juta. Dengan uang sebesar itu kau bisa memulai kehidupan baru. Dan sekarang aku minta, jangan pernah menemui Faiz lagi, jangan pernah datang ke sekolah lagi, jangan pernah menghubungi dia lagi, dan jangan pernah mencintai dia lagi!"
"Apa-apaan ini? Kau kakaknya Mas Faiz? Kenapa? Kenapa mbak melakukan ini? Apa salahku?"
"Salahmu? Salahmu adalah karena engkau telah merebut Faiz dariku! Dan aku tak terima ini, aku tak terima. Faiz adalah milikku untuk selamanya!" kata Putri. Dia kemudin berdiri dan berjalan menghampiriku. Ia mencengkram leherku sambil menatap tajam mataku. "Ingatlah, kalau sekali lagi kamu mencoba menghubungi Faiz, menemuinya, atau masih di kota ini, ingatlah nyawa keluargamu ada ditanganku. Apa kamu ingin Bayu yang masih kecil itu aku hilangkan dari hadapanmu?"
"Jangan! Jangan mbak, jangan! Kumohon lepaskan mereka! Kenapa harus keluargaku? Mereka tak ada hubungannya ama masalah ini," kataku gemetar. Jelas sekali yang ada di hadapanku ini sekarang benar-benar wanita terjahat yang pernah aku kenal.
"Tentu saja ada hubungannya. Tanpa mereka, aku tak ada senjata untuk bisa mengusirmu. Ingat! Sekali kamu menghubungi Faiz...itu akhir dari keluargamu!" ancam Putri. Dia lalu melepaskan cengkramannya.
Dia mengeluarkan sebuah kertas dan pena. Ia menyerahkan dua benda itu kepadaku. Aku menerimanya.
"Tulislah pesan terakhirmu untuk Faiz. Aku bukan wania yang jahat sepenuhnya. Paling tidak hal itu akan membuatnya tenang dengan kepergianmu," katanya.
"Jangan mbak, kumohon. Aku tak bisa hidup tanpa Mas Faiz!" kataku memohon.
"Jadi apakah kira-kira hadiah-hadiah yang aku kirimkan dari bangkai kucing oh, sebenarnya itu kucingku sendiri yang aku bunuh. Lalu tikus, anjing apa nggak cukup? Kamu mau bangkai adikmu juga?" ancamnya.
"Tidak mbak, tidak! Baiklah, baiklah! Aku akan menurut. Aku akan menulis. surat buat Mas Faiz," kataku.
"Bagus, sebaiknya kamu cepat menulisnya. Karena sebentar lagi kamu akan dijemput oleh orang yang akan mengantarkanmu ke rumahmu yang baru. Aku sudah membelikan rumah buatmu, bahkan di sekolahmu yang baru nanti aku juga sudah mengurus semuanya. Aku tidak jahat-jahat amat kan?" katanya.
Putri kemudian pergi keluar rumah. Aku berbalik melihatnya yang dengan tenang berjalan keluar rumah. Tampak di luar sebuah mobil sedan hitam sedang menunggunya. Sebelum masuk ke mobil ia menatapku tajam sambil melambaikan tanganku dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1