Anak Nakal

Anak Nakal
When The Hatred Comes


__ADS_3

NARASI FAIZ


Kemana Iskha? Aneh dan lucu. BBM tidak pernah dibalas, dibaca pun tidak. Nomornya tak bisa lagi dihubungi. SMS tak pernah sampai. Dan rumahnya tiba-tiba sepi, tak ada siapa-siapa. Apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa kali ia curhat kepadaku tentang terror yang selalu menimpanya. Memang ini sangat tak bisa dimaafkan. Tapi kalau dia pergi juga, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia tak memberiku kabar? Apakah aku punya salah kepadanya?


Aku hanya menerima sebuah surat yang ia tulis. Dia menempelkan surat itu di pintu rumahnya. Aku membaca surat itu.


Mas Faiz yang sangat aku cintai, 


Aku sekarang pergi mas. Maaf kalau mendadak dan tidak mengabarimu sebelumnya. Tapi ini adalah keputusanku. Aku tak bisa lagi menemui mas. Maafkan aku ya. Tidak ada kabar tidak ada apa-apa, tiba-tiba menghilang. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi mas. Aku bingung. Ini semua karena keluargaku. 


Mas Faiz, jangan cari aku ya. Kumohon. Mungkin takdir cinta kita hanya sampai di sini. Tapi sungguh aku sangat mencintai Mas Faiz. Aku tak akan melupakan Mas Faiz. Semoga Mas Faiz mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari aku. Aku masih ingat tentang first kiss kita. Itu adalah kenangan yang tak akan aku bisa lupakan. Sejak saat itulah aku mencintaimu. Aku cinta Mas Faiz. Aku cinta Mas Faiz. Mas Faiz, maafkan aku. Tapi kita tak bisa bertemu lagi. 


Tertanda


Iskha yang mencintaimu


Mataku pun berkaca-kaca. Tidak mungkin. Kenapa harus terjadi lagi. Dulu Vira sekarang Iskha. Iskha, kemana kamu? Kemana kamu?


Setelah hari itu aku pun galau tingkat tinggi. Aku tidak lagi bersemangat sekolah. Setiap pagi biasanya aku menunggu Iskha di pagar sekolah hanya untuk menyapa dia. Sekarang dia tidak ada. Bahkan sampai satpam menutup gerbang pun aku tak melihat lagi wajahnya. Aku pun bertanya ke pihak sekolahan ia sudah pindah tapi tak dijelaskan pindah ke mana. Aneh sekali.


Di Kafe tempat biasanya dia ngamen pun sudah tidak ada dia lagi. Hani sahabat dekatnya pun tidak tahu. Iskha seperti tiba-tiba lenyap. Iskha, kemana kamu?


Erik pun merasakan kegalauanku. Dia menyapaku, "Kenapa kamu?"


"Iskha menghilang, aku tak tahu kemana dia," jawabku.


"Lho, koq aneh? Perasaan kamu deket banget ama dia," katanya.


"Nah, itulah. Aku tak tahu apa yang terjadi tapi dia pergi begitu saja. Dia menghilang begitu saja," kataku. 


"Nggak ninggalin pesan?" tanyanya.


"Ada sih, sepucuk surat," jawabku.


"Boleh lihat?" tanya Erik.


Aku memberikan surat itu kepada Erik. Erik memicingkan mata, mengerutkan dahinya. 


"Hmm...parah nih," kata Erik.


"Kenapa?"


"Kamu punya musuh ya?"


"Kalau perasaanku sih nggak, tapi kalau ada yang nggak suka ama Iskha memang ada. Dia sering diterror."


"Nah, ini dia. Kira-kira kamu tahu pelakunya? Soalnya sepertinya suratnya ini terpaksa ditulis. Dia sepertinya takut sekali kepada orang yang menerornya."


"Aku khawatir sekali kepadanya. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu kepada Iskha."


Erik menepuk pundakku, "Jangan khawatir bro. Aku akan bantu kamu. Aku punya kenalan yang bisa mengurus ini. Akan aku cari dia bersama kawan-kawanku."


"Yang bener Rik?" tanyaku sumringah


"Kau bisa percayakan ini kepadaku," jawabnya. "Tapi aku tak janji ini akan mudah."


"Tak masalah, yang penting bisa menemukannya," kataku.


"OK, no problem," kata Erik.


"Kau butuh apa aja tinggal bilang, aku akan dengan senang hati memberikannya kepadamu," kataku.


"Aku tak butuh duit, tenang aja. Aku melakukannya karena kamu temanku. Semenjak kamu mengenal Iskha, kamu berubah. Lebih banyak terbuka dengan teman-teman yang lain. Aku suka Faiz yang ini, jangan seperti yang dulu. Dan menemukan Iskha adalah hal yang paling aku ingin lakukan," kata Erik.


Aku langsung memeluk Erik, "Makasih Rik."


***


Aku pulang ke rumah. Rumahku sepi. Sepertinya tak ada orang. Bunda tak ada. Icha dan Rendi tak ada. Pandu ada di rumah. Tapi dia mengurung diri di kamar. Sama seperti sebelumnya. Aku hanya melihat Kak Putri di ruang keluarga sedang menonton tv. Dia pakai tanktop dan hotpants. Di pinggangnya aku sampai lihat G-String yang dia pakai. Pakaiannya menggoda banget.


"Hai Iz, baru pulang?" tanyanya.


"Iya, nonton apa?"


"Ah, cuma sinetron aja."

__ADS_1


Aku langsung merebahkan diri di sofa. Capek banget. Suntuk, stress. 


"Mana bunda dan yang lain?" tanyaku.


"Bunda sedang pergi sama Icha, Rendi ama ayah. Pandu ada di kamar," katanya. 


"Oh begitu," kataku.


"Capek yah? Aku buatin minum ya?" kata Kak Putri menawarkan diri. 


"Tumben baik," kataku.


"Halaah, emangnya selama ini nggak baik?" 


"Hehehehe, nggak koq, bercanda. Boleh deh."


Kak Putri mengedipkan matanya kepadaku. Aku mulai malas-malasan di kursi. Iskha, lagi-lagi Iskha. Wajahnya terus terbayang dibenakku. Aku pun memasang earphone ke telingaku. Kuputar rekaman lagu-lagunya. Dan semua kenangan itu kembali ada di kepalaku. Kenangan tentang Iskha. Aku seolah-olah masih bisa merasakan sentuhan bibirnya, aku juga masih bisa merasakan ciumannya, halus kulitnya, bau rambutnya. Aku ingat semuanya. Iskha jangan pergi, kumohon. Engkau adalah nyaawaku, bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu???


"Hoi!" Kak Putri mengagetkanku. Earphoneku dilepasnya. "Dipanggil daritadi malah bengong."


"Sorry, nggak denger," kataku.


"Nih, minumannya. Jus mangga. Kesukaanmu," katanya.


"Siapa bilang aku suka jus mangga, jus sirsak kali," kataku.


"Jus Sirsaknya nggak ada, adanya jus mangga. Mau nggak nih? Kalau nggak aku minum lho," kata Kak Putri sambil bersiap meminum jus itu.


"Iya deh, iya deh!" aku merebut gelas berisi jus mangga itu.


Aku kemudian meminumnya. Seger dah, lumayan. Ia sepertinya senang aku meminum jus buatannya. Kak Putri tersenyum sambil menatapku. 


"Apaan? Ngelihat terus, ada yang aneh ama mukaku?" tanyaku.


"Aku suka kalau kamu minum jus kaya' gitu. Jadi teringat waktu kamu kecil merengek minta jus mangga," jawabnya. "Kamu nangis ama bunda buat dibuatin jus mangga, trus aku yang buatin. Ekspresimu minum itu masih sama."


Melankolis banget sih Kak Putri. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan tubuhku.


Sebelum aku sadar akan semuanya, Kak Putri sudah menarik ku ke dalam kamarnya.


.


.


NARASI PUTRI


Menang, aku menang. Puas sekali rasanya. Mengusir Iskha, dan kemarin aku memberikan obat perangsang ke Faiz. Gilaaaaa....aku sampai melayang. Tapi dia melakukannya dengan membayangkan Iskha. Padahal aku nggak kepingin seperti itu. Ah, bodo amat. Yang penting sekarang Faiz pasti akan mencintaiku, aku akan memiliki dirinya selamanya. Dasar Iskha, ia tahu kan sekarang bagaimana kekuatan uang??


NARASI FAIZ


"Kak, sebaiknya kita nggak usah melakukannya lagi ya, aku mohon!" kataku


"Kenapa sih dek? Kamu katanya mau nolong kakak, nggak papa kalau kakak kepengen ama kamu?" katanya.


"Iya sih, tapi rasanya nggak enak aja. Aku sudah punya Iskha kak, aku tak ingin dia sampai ....," aku tak meneruskan.


"Sampai apa? Malu punya pacar yang kayak gini sama kakaknya sendiri?" sambung kakakku.


"Iya," jawabku jujur.


"Sudahlah Iz, nggak apa-apa. Toh keluarga kita juga melakukannya koq," katanya.


"Maksud kakak?"


"Oh, kamu belum tahu ya? Sayang sekali."


Aku tak mengerti apa yang dibicarakan olehnya. 


"Debenarnya bunda Vidia, Bunda Nur, Bunda Laura itu masih satu keluarga sama ayah," katanya dengan enteng. Seolah-olah hal itu bukan hal yang besar.


"Bullshit!" kataku.


"Kalau nggak percaya, tanya aja sama bunda. Bunda tahu koq. Dan Mas Pandu itu lebih pantas disebut pamanmu daripada kakak."


"What the **** are you talking about sis?" kataku. "Ini omong kosog kan?"

__ADS_1


"Iz, Faiz. Kamu itu tak tahu apa-apa. Ayah sengaja menyembunyikan hal ini dari kamu. Karena apa? Karena kamu pewaris tahtanya. Dia ingin terlihat semuanya tak seperti yang kau lihat. Ia ingin kamu merasa terhormat. Kamu ngerti nggak sih? Satu-satunya yang tidak ada hubungan sedarah itu ya cuma kita aja. Makanya ayah sangat menyayangi kita daripada keluarganya yang lain," jelas Kak Putri.


"Omong kosong, aku tak percaya ama kakak," kataku.


"Kau boleh tak percaya, buktinya sudah ada. Itu Pandu!"


"Kenapa dengan Pandu?"


"Kamu tahu, anak yang dihasilkan dari hubungan sedarah akan punya kelainan paling tidak satu dari enam anak akan mendapatkannya. Dan kamu mendapatinya bukan? Pandu punya kelainan otak. Ayah pasti membayar para dokter untuk tutup mulut, tapi yang jelas ibu pandu itu adalah nenekmu! Dan asal kamu tahu saja, aku sudah mengetahui semuanya. Pandu juga tahu. Hanya kamu saja yang tidak diberi tahu. Karena apa? Karena kamu kesayangan dia Faiz!"


Entah kenapa, aku tiba-tiba benci Kak Putri. Dia pasti bohong. 


"Kakak pasti bohong."


"Buat apa aku bohong? Tenang aja, toh keluarga kita melakukannya sudah lama. Kalau aku dan kamu pun melakukannya juga tak apa-apa kan?"


"Aku benci kalian semua," kataku. Aku membenarkan celanaku dan segera keluar kamar. 


"Faiz! Mau kemana?" tanya kakakku.


"Bukan urusanmu!" jawabku.


Aku segera menuju ke garasi. Di sana ada beberapa mobil. Salah satunya mobil Lotus milik Danny. Aku belum pernah sih mencobanya sejak pertama kali menang balapan itu. Aku sudah membawanya ke bengkel dan mengecek semua mesinnya. Dan sekarang aku ingin mencobanya. Tak ada salahnya kan?


Dengan mobil itu akupun pergi. Penjelasan Kak Putri tadi sungguh mengagetkanku. 


***


Entahlah, antara pusing, galau, benci semuanya jadi satu. Aku muter-muter tanpa tujuan. Hingga aku melewati perumahan tempat Bunda Vidia tinggal. Aku pun mampir ke sana. Hari masih siang dan matahari masih terik. Aku mengetuk pintu rumahnya. Tak berapa lama kemudian wajah seorang wanita muncul. Dia Bunda Vidia.


"Ehh...Faiz, masuk masuk!" katanya. 


Aku pun masuk. 


"Silakan duduk Faiz, mau minum apa? Anak-anak sedang keluar," kata bunda Vidia.


"Aku hanya ingin tanya sesuatu hal," kataku.


"Tanya apa ya?" 


"Apakah benar bunda Vidia ini saudaranya ayah? Dalam arti kalian punya hubungan sedarah?" 


Kata-kataku mungkin membuatnya terkejut. Raut wajah bunda Vidia langsung berubah. Dia yang tadinya cerita sekarang berubah drastis menjadi orang yang ketakutan, sedih, entahlah. Yang jelas wajahnya tak mengenakkan. Kelihatan seperti orang yang sangat menyesal.


"Dari mana kamu punya pemikiran itu?" tanya Bunda Vidia.


"Jujur saja, katanya keluarga ini adalah tempatnya kejujuran. Sekarang aku ingin kejujuran dari Bunda Vidia," kataku.


Bunda Vidia tak langsung menjawab. Ia memejamkan matanya dan mengusap wajahnya. Sepertinya ia menyimpan sebuah jawaban yang berat.


"Kenapa kalian menyembunyikan ini semua dari aku? Kenapa? Kenapa hanya aku yang tidak tahu???" 


"Itu...itu memang tak bisa kami lakukan!" 


"Kenapa?"


"Karena ayahmu yang melarang. Ia tak ingin kamu jadi orang yang sama seperti dirinya Faiz..." jelas Bunda Vidia.


Dan tiba-tiba otakku pun serasa dipenuhi dengan seluruh kegelapan. Aku tak percaya keluargaku sendiri serusak ini. Aku marah, emosi, frustasi, depresi. Aku sudah kehilangan Vira, kehilangan Iskha. Kakakku sendiri jadi cewek binal. Pandu sakit. Persetan kalian, brengsek kalian. Kalau kalian memang sudah rusak kenapa tidak mengajak aku rusak sekalian. Kenapa kalian tak ingin aku menjadi ayahku sendiri? Arrgghh...


"Bunda jujur? Sungguh?" tanyaku. Nada suaraku berubah.


"Iya, maafkan kami nak, maafkan!"


Entah setan mana yang merasukiku sekarang ini. Aku benar-benar jijik terhadap keluarga ini. Jijik sekali. Orang yang ada di hadapanku ini sudah tidak aku anggap lagi sebagai seorang ibu. Tapi seorang *******. 


"Bunda!?" panggilku.


"Iya?"


Aku langsung maju ke dirinya kucium bibirnya. Bunda Vidia meronta. 


"Nak Faiz, jangaaannn!"


.

__ADS_1


.


Dan semua itu adalah awal dari segalanya, hari itu aku juga pergi ke rumah Bunda Nuraini.


__ADS_2