
Narasi Faiz
Hari ini aku bersama ayahku berada di kantornya. Ia mengajariku tentang masalah logistik. Sebab dalam perusahaan ayah juga yang terpenting adalah logistik. Itulah kenapa ia bisa mensupplay banyak produk ke seluruh toko-toko waralabanya. Bahkan untuk mensuplaynya beliau mendirikan gudang-gudang di tiap-tiap kota. Sepertinya ayah benar-benar serius untuk menjadikanku sebagai putra mahkotanya. Aku pun diperkenalkan ke para direksi. Setidaknya setelah nanti lulus sekolah, aku tak bingung untuk cari pekerjaan.
Setelah seharian di kantor ayah, aku pun pulang. Capek juga yah belajar bisnis seperti ini. Dan ketika aku sampai di rumah aku disambut oleh saudaraku yang lain, Zahir dan Risma. Mereka adalah anak dari Bunda Vidia. Istri pertama ayahku. Aku juga melihat Bunda Vidia di ruang keluarga sedang ngobrol dengan bundaku.
"Eh, ini dia Faiz datang," kata bunda.
"Faiz, apa kabar?" sapa Bunda Vidia. Bunda Vidia ini cukup cantik. Wajahnya masih mulus dan kencang walaupun anaknya sudah sebaya denganku. Jilbabnya panjang. Walaupun sudah berumur dia masih kelihatan seksi.
"Halo sayangku, Dinda!?" ayah langsung mendatangi dan menyapa Bunda Vidia. Dia mencium kening istrinya itu. Sang istri lalu mencium tangan ayahku, begitu juga bunda. Zahir dan Risma mencium tangan ayah.
Aku langsung berjalan menuju kamarku. Aku tak melihat Pandu.
"Faiz? Lho, koq langsung ke kamar?" tanya bundaku.
"Mungkin capek dia mah, soalnya cukup melalahkan tadi dia belajarnya. Moga aja otaknya nggak meledak," canda ayahku.
Aku segera berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar. Eh, di luar kamar aku bertemu dengan Pandu. Ia sepertinya mau keluar. Pakaiannya adalah kaos, jaket kulit dan jeans. Mau kemana si Pandu?
"Mau kemana, Pan?" tanyaku.
"Kencan dong, ini malem minggu!" jawabnya.
"Oh iya, ya sudah deh," kataku.
"Cabut dulu!" katanya.
Aku mengangguk. Sambil melihatnya pergi keluar dari rumah aku duduk di ruang keluarga di sebelah Zahir yang sibuk mainin game di ponsel smartphonenya.
"Ada acara apa nih?" tanyaku.
"Mau ada acara kondangan, kebetulan aja tempatnya dekat ama sini, jadi sekalian mampir," jawab Zahir.
"Eh, kak Faiz! Nggak malem mingguan?" tanya Risma.
"Ini ngeledek apa ngeledek?" tanyaku.
"Ya ngeledek, emangnya muji? hahaha," Risma ketawa.
"Dia barusan patah hati, jangan diejek. Ntar bisa gantung diri!" tiba-tiba Kak Putri datang langsung duduk bersandar ke diriku.
"Nah, kan. Ini penghinaan namanya. Perlu lapor KOMNAS HAM aku dibully ama semua saudara-saudaraku," gerutuku.
"Beneran? Kasihan dong," ujar Risma.
"Udah ah, ngeledek melulu," kataku.
Aku melirik ke arah Bunda VIdia yang masih ngobrol ama bunda. Mereka tampak santai ngobrolnya, entah apa yang mereka omongkan, seputar arisan atau baju. Kadang juga ngobrolin soal sekolah anak-anak.
Zahir menggerutu, "Ahh...susah banget ini."
Aku melirik ke ponselnya. Ia sedang main game Anggry Birds dan kalah. Ia pun menutup aplikasi game itu.
__ADS_1
"Kamu rencana kuliah di mana?" tanyaku ke Zahir.
"Nggak tahu, biar saja nanti waktu yang memutuskan," kata Zahir.
"Ah, Kak Zahir mah, emang malas. Seharian maen game melulu di rumah," kata Risma.
"Biarin," kata Zahir.
"Nggak boleh gitu dong, maen game juga ada waktunya," kataku.
"Cieeh...sok bijak lu!" kak Putri memukulku pakai bantal.
Aku lalu beranjak.
"Eh, marah ya?" tanya Kak Putri.
"Nggak. Main tenis meja yuk?!" ajakku.
Kak Putri menyenggol Zahir. "Diajak tuh!"
"Aku kan mau pergi kondangan, nggak lucu kalau keringetan!" kata Zahir. "Mbak aja sanah!"
"Dasar, ya udah deh!" kak Putri pun menyusulku ke samping rumah. Di sana ada meja tenis yang biasanya kami gunakan untuk main tenis meja.
"Baiklah, berangkat sekarang?" tanya ayah.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya dik," kata Bunda Vidia. Ia cipika-cipiki dengan ibuku. Mereka sekeluarga kemudian pamit.
Mumpung sore belum mandi juga, nggak ada salahnya kalau keringetan dikit. Aku dan Kak Putri pun main tenis meja. Seru juga mainnya. Kami sampai ribut sendiri di tempat itu. Icha dan Rendi pun ikut nonton pertandingan ini. Bahkan mereka pun akhirnya menggantikan kami ketika skor sudah game over.
Dan akhirnya aku menghabiskan sore itu bersama saudara-saudaraku main tenis meja sampai kami berkeringat semuanya. Cukup menyenangkan. Hingga bunda menyuruh kami untuk mandi semuanya. Icha dan Rendi tentu saja langsung berhamburan ke kamar mandi. Aku dan Kak Putri masih duduk-duduk di bangku yang ada di halaman samping rumah.
"Gimana? Sudah move on?" tanya Kak Putri.
"Entahlah kak, aku masih belum bisa melupakan Vira," kataku.
"Uuhh..kamu itu dasar," kak Putri tampaknya tak suka dengan kata-kataku. Ia segera beranjak pergi meninggalkanku dengan penuh emosi. Aku lal menyusulnya.
"Kak, Kak Putri?!" panggilku. "Koq kakak marah sih?"
Ia berbalik, "Iya jelas marah, kamu itu sudah kubilang suruh move on, kakakmu ini sangat sayang ama kamu, peduli ama kamu. Bahkan..." kak Putri mendekat ke arah telingaku dan berbisik. "....aku rela menyerahkan tubuhku untuk kamu!"
Kak Putri berbalik dan langsung menuju ke kamarnya. Aku menyusulnya. Begitu aku mau masuk kamarnya pintu langsung ditutup dan dikunci.
"Kak? Kak Putri??" panggilku. "Maafkan aku kak."
"Pergi sana!" katanya.
"Kaak? udah dong. Ntar bunda bingung lho," kataku.
"Peduli amat!"
"Oke kak, aku sorry. Tapi aku juga tak bisa mengendalikan ini. Aku sangat mencintai Vira. Ia cinta pertamaku. Kakak juga ngerti dong. Aku masih bau kencur soal cinta, nggak seperti kakak. Untuk move on itu susah!" kataku.
__ADS_1
Pintu tiba-tiba terbuka dan aku ditarik masuk ke kamarnya. Kak Putri lalu menutup pintu kamarnya lagi. Aku pun didorong hingga bersandar di pintu.
"Faiz,...!" kata Kak Putri. Matanya berkaca-kaca, sekelebat kemudian ia memelukku.
"Kak, maafkan aku. Aku janji nggak bakal buat kakak menangis lagi. Aku janji. Sudah dong!" kataku.
"Lo mau kan jadi pacar kakak? Pliiss, kakak sudah nggak percaya lagi sama laki-laki. Kalau kamu mau jadi pacar kakak, kakak akan maafin kamu."
Aku terdiam sejenak. Kupeluk dia. Entahlah, kenapa aku punya masalah sister complex seperti ini. Kemudian wajahnya berhadap-hadapan denganku. Aku saat itu masih bersandar di pintu, jadi dia menahanku agar tidak bisa beranjak. Bibirnya pun kembali memanggutku. Kami berciuman lagi. Satu hal yang baru kusadari, ternyata Kak Putri hanya memakai daster tipis.
"Kakak sudah kepengen?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Berjanjilah, kamu harus move on! Kakak di sini siap untuk menjadi kekasihmu."
"Kenapa kakak mencintaiku?" tanyaku.
"Bukan kenapa, tapi bagaimana," jawabnya.
"Bagaimana?"
"Karena aku sudah mencintaimu sejak dulu Iz, sejak kecil kamu selalu melindungiku. Kamu selalu peduli kepadaku. Kita selalu bermain bersama. Aku sudah katakan kepadamu, aku ingin menghilangkan perasaan ini bahkan pacaran dengan lelaki lain, tapi mereka semua brengsek. Aku dikhianati berkali-kali, aku tak percaya lagi kepada lelaki lain. Aku cuma percaya kepadamu Iz."
"Kenapa percaya kepadaku?"
"Sama satu cewek saja kamu seperti ini setianya, bagaimana kalau kamu jadi pacarku pasti kamu akan setia selamanya."
Naif sekali pemikiran kakakku ini. Sebenarnya mungkin ia ingin kenyamanan. Ia ingin diperhatikan. Aku bisa merasakan itu. Ayah jarang menemuinya, iya. Bisa jadi. Banyak masalah yang menimpa kakakku ini sejak dari kecil. Ia ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Ia anak tiri dari ayahku, bunda sebelumnya menikah dengan orang lain lalu ditinggal pergi begitu saja, hingga bertemu dengan ayah. Dia kesepian. Bodohnya aku. Aku seharusnya memperhatikan ini. Ayah memang lebih sayang aku dan Pandu, dan ia lupa kalau Kak Putri juga butuh perhatian.
Dia jujur bahwa telah dikhianati oleh sang pacar. Ia jujur telah memberikan semuanya ke cowok brengsek itu. Dan memang sakit rasanya dikhianati. Kak Putri kemudian menarikku, kita ambruk di ranjang dan begitulah..
****
"Kenapa kamu ngalamun ? Nggak usah khawatir gitu dong," kata kak Putri.
"Ya jelas khawatirlah, Kalau sampai terjadi apa apa, apa kata bunda nanti? Apa kata ayah nanti?" tanyaku.
Kak Putri tersenyum, "Ya ngomong yang sesungguhnya dong."
Aku agak terkejut dengan perkataannya. Apa Kak Putri tak merasa khawatir?
"Kak, apa beneran kakak mencintaiku?" tanyaku.
"Iya, kenapa?" tanyanya.
"Kalau kakak mencintaiku apakah kakak membutuhkan cintaku?"
Kak Putri diam. Ia tahu itu pertanyaan yang sangat berat. Ia memang mencintaiku, tapi apakah ia butuh cintaku. Diamnya kak Putri itu membuatku sadar, cinta kami bertepuk sebelah tangan. Cinta kami hanya satu arah.
"Aku mencintai kakak sebagai saudaraku dan akan seperti itu selamanya," kataku.
Kak Putri lalu berdiri. Ia memelukku. "Maafkan aku ya Faiz,...maafkan aku."
"Aku sudah bilang, kalau kakak butuh apapun, minta apapun aku aka berikan. Karena aku sayang ama kakak," kataku.
__ADS_1
Aku lalu melepaskan pelukannya, memakai pakaianku lagi dan keluar dari kamarnya. Kak Putri sedang dalam depresi kukira akibat dikhianati pacarnya. Ia hanya inginkan pelampiasan. Itulah yang aku simpulkan sekarang.