Anak Nakal

Anak Nakal
Bersamamu


__ADS_3

NARASI FAIZ


Video wasiat Mas Pandu itu mengubah semuanya. Ternyata ayahku tahu apa yang terjadi. Lalu kenapa dia diam saja? Inikah alasannya kenapa Vira tidak datang di acara pernikahanku. Inikah juga alasan kenapa mereka diam saja ketika aku tanya di mana Pandu? Mereka ingin agar tidak merusak acara pernikahanku. Maka dari itulah mereka melakukannya. 


Semuanya sekarang berkumpul. Iya, aku mengundang mereka semua. Mulai dari ayah dan istri-istrinya, serta saudara-saudaraku dari Bunda-bundaku yang lain berkumpul semua. Iskha sangat senang ketika aku melakukan hal ini. Ia sejak dulu ingin melihatku bisa berkumpul bersama keluargaku lagi. Inisiatifku ini tentu saja membuat dia tak henti-hentinya memujiku. 


Rumahku serasa ramai sekarang. Bukan rumah yang besar soalnya. Tak seperti rumah ayahku yang bisa menampung orang lebih banyak. Tapi bukan masalah muat atau tidak muat sekarang ini. Masalahnya adalah kebersamaan. Aku akan melamar Vira hari ini itulah sebabnya hari ini kami akan berangkat bersama. Setelah dari rumah sakit itu Vira tak ingin menemuiku lagi. Dan aku berencana aku beserta seluruh keluargaku untuk menjemputnya. Aku ingin melaksanakan wasiat Mas Pandu untuk terakhir kali. Walaupun menurut Vira itu adalah hal bodoh tapi aku akan melakukannya. Dia mengancamku kalau ia sampai melakukan wasiat Mas Pandu dia tak akan menganggap aku sebagai temannya lagi.


"Semuanya, terima kasih kalian repot-repot mau datang ke rumahku yang tak begitu besar ini," kataku. 


Mereka semua menoleh ke arahku. Tampak wajah-wajah bahagia menoleh ke arahku. 


"Hari ini, aku ingin minta maaf kepada kalian semuanya. Kuharap kalian tidak keberatan membantuku hari ini. Sebab apalagi yang aku punya? Apalagi yang aku bisa? Tanpa keluargaku, tanpa kalian aku bukan siapa-siapa," kataku. "Hari ini, aku ingin ke rumah Vira. Aku tahu dia pasti akan marah besar kepadaku hari ini. Dia akan menolakku. Aku ingin kalian semua membantuku hari ini. Demi wasiat terakhir Mas Pandu."


Ini untuk pertama kalinya aku memohon kepada seluruh anggota keluargaku. Ya, aku memohon kepada mereka. Untuk pertama kalinya juga aku membungkukkan badan kepada mereka semua. 


Ayah maju ke depan. Dia menoleh ke arah Iskha. Lalu mengangguk kepadanya, kemudian dia tersenyum kepadaku. 


"Kami selalu ada untukmu anakku. Apapun yang kau inginkan hari ini, aku akan mendukungmu. Aku hari ini berterima kasih kepada Iskha, perjuangannya tidak sia-sia hingga hari ini aku bisa berdiri di sini. Selamat datang kembali nak. Kami sudah sangat lama menanti kamu untuk kembali kepada kami. Kamu nggak salah milih seorang istri," kata ayahku. 


Ayahku, walaupun kata orang dia dingin, keras dan tegas tapi dia orang yang lembut kepada anak-anaknya. Aku sudah bersalah banyak kepadanya. Wajahnya sudah keriput dan rambutnya sudah memutih. Senyumnya tersungging di wajahnya. Dia selama ini orang yang melindungiku, menyayangiku, bahkan dia jugalah orang yang selama ini membantu Iskha. Ia juga meyayangi Iskha seperti anaknya sendiri. 


Tak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan aku hanya bisa memeluk ayahku. Beliau menepuk-nepuk punggungku. Bunda sekarang menghampiriku. Ayah melepas pelukanku dan kemudian berkumpul bersama anggota keluarga lainnya.


"Ayo semua, kita bantu Faiz. Zahir, mohon siapkan kendaraan. Risma, kumpulkan apa saja yang harus dibawa. Ayo, kita buat agar Vira tak menolak Faiz," kata ayah. 


"Ayo! Ayo!" seru mereka semuanya. Setelah itu mereka sibuk sendiri-sendiri. 


"Faiz, bunda ingin bicara ama kamu," kata bunda. Beliau pun mengusap-usap pipiku. "Pada saat seperti ini, tak ada yang bisa bunda berikan kepadamu selain do'a. Kau sudah dewasa, kau sudah mandiri. Kau telah membuktikan bahwa tanpa ayahmu kau bisa jadi orang besar. Kau juga telah bekerja sekeras ini. Sejujurnya apa yang terjadi hari ini mengingatkan bunda kepada ayahmu dulu."


"Kenapa bunda?" tanyaku.


"Dulu ayahmu bertahun-tahun mencari bunda. Dia berjuang untuk mencari bunda. Dia memperjuangkan cintanya. Dan aku ingin kamu juga bisa memperjuangkan cintamu. Kamu masih mencintai Vira?"


"Aku tak tahu bunda."


"Jawab dengan jujur. Selama ini kamu melihat Vira bagaimana? Sebab sekali kita berangkat ke rumahnya kita tak bisa kembali lagi."


Memoriku dengan Vira pun kembali lagi. Aku ingat bagaimana dulu aku mengejar dia ketika masih di bangku putih abu-abu. Aku juga masih ingat first kiss kita. Aku ingin melihat hatiku sekarang. Aku memejamkan mataku. Apakah aku mencintai Vira? Tidak, aku sebenarnya sudah move on. Move on ke Iskha, istriku sekarang. Lalu kenapa aku harus mengejar Vira lagi? 


Karena Mas Pandu. Itu mungkin alasan yang tepat. Tapi aku bisa saja menolak wasiat itu. Aku bisa saja menolaknya. Jadi bukan karena itu. Aku membuka mataku. Kulihat Iskha masih tersenyum kepadaku. Senyumannya benar-benar melumerkan hatiku. Aku mencintai dia. Aku sangat mencintainya. Mungkin juga terlalu mencintai dia. Iskha pun tahu itu. 


Aku masih ingat ketika di Amerika, aku selalu ingat dia. Mendengarkan lagu-lagunya. Aku rela pergi dari keluargaku demi dia. Aku bahkan berjuang untuk mencari dia ketika dia diusir dari rumahnya. Bersusah payah untuk dia itulah kenapa aku sangat mencintai dia. Dan rasanya kalau aku tidak mencintainya aku tak akan bersusah-susah berlatih musik memainkan lagu Cage Bird itu. Dan kalau aku tidak sangat mencintainya aku tak akan bersusah payah melamar dia di hadapan ribuan penggemarnya waktu itu. Dan kalau aku tidak sangat mencintainya......aku tak akan melakukan ini. 


Ya, inilah alasanku melamar Vira. Karena aku mencintai istriku. Karena aku mencintai Iskha. Karena Iskha yang menginginkannya. 


"Aku melakukan ini karena aku sangat mencintai Iskha bunda. Karena dia aku melakukan ini. Dan kita berangkat ke sana juga karena dia. Dan kalau bukan karena Iskha, aku tak akan kembali kepada kalian," kataku.


Itu adalah alasan yang paling masuk akal. Iskha yang menginginkan ini. Dia ingin Vira menerimaku menjadi suaminya. Aku tak tahu bagaimana perasaannya sekarang ini. Tapi aku tahu orang yang sedih orang yang tidak sedih. Iskha adalah orang yang mengekspresikan kata hatinya dari raut wajahnya. Dan keputusannya ini justru membuat ia senang dan tidak sedih. Aku masih ingat kata-katanya kemarin.

__ADS_1


"Walaupun kanda mengatakan tidak mencintai Vira, aku masih bisa merasakan perasaan kanda kepadanya. Dulu ketika kanda bertemu Vira saat bersama Mas Pandu, kanda menggenggam erat tanganku. Itu pertanda kanda masih ada perasaan ke Vira. Itulah juga sebabnya dulu kanda mengejar dia ketika keluar dari kafe. Dan Dinda juga tahu, kanda masih ingin bersama Vira. Dinda sangaaaat mencintai kanda. Dan dinda juga tahu kanda juga sangaaaat mencintai dinda. Tapi pertemuan di rumah sakit itu sudah menjelaskan semuanya. Kanda masih mencintai Vira. Kalau kanda tak mencintai dia, kanda pasti akan membiarkan semua ini. Tapi dinda sangat mengerti, sebab kanda adalah belahan jiwaku."


Bunda tersenyum kepadaku. Beliau lalu menghampiri Iskha. Lalu mencium pipi istriku. "Kamu tahu Iskha, bunda nggak pernah melihat Faiz sangat mencintai seorang wanita seperti ini sebelumnya. Kau memberikan kehidupan pada keluarga ini. Kau juga yang mengembalikan serpihan jiwaku. Faiz adalah segalanya bagi bunda. Dan bunda menerimanya dari dirimu nak. Terima kasih telah mendampingi Faiz."


Bunda pun memeluk istriku. Dia sangat bahagia. Setelah itu kami pun berangkat.


****


Perjalanan ini benar-benar mendebarkan. Bagaimana tidak? Aku tahu bagaimana marahnya Vira kemarin. Setelah dari rumah sakit ia benar-benar pergi. Bahkan dia pun tak hadir di pemakaman Pandu. Aku tahu perasaannya. Dan aku memang tidak memberitahu dia kalau kami semua akan datang. Setelah satu jam kemudian kami pun sampai. Rombongan kami cukup banyak, iring-iringan mobil memenuhi badan jalan bahkan kehadiran kami ke rumah Vira pun sampai-sampai banyak wartawan yang meliputnya. Tapi para bodyguard ayahku langsung membentuk pagar betis. 


Orang-orang ribut dan sebagian mencoba melihat apa yang terjadi. Begitu aku keluar, juga ayahku dari mobil, semua orang langsung heboh. Wartawan langsung mengambil gambar, blitz kamera bersahut-sahutan di sana-sini. Seluruh anggota keluargaku sudah keluar semua dari mobil. Aku memberi aba-aba agar mereka menunggu. 


NARASI VIRA


Aku benci kepada Faiz. Aku benci. Aku lebih benci lagi kepada Pandu. Kenapa juga dia sampai membuat wasiat seperti itu. Aku sudah melepaskan Faiz. Aku sudah ikhlas. Aku sudah rela ia bersama Iskha. Seminggu setelah Pandu tiada aku mengurung diri di kamar. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, ayah dan ibuku berusaha menghiburku. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin sendiri. Aku memegangi kalung pemberian Faiz yang aku pakai. Oh, Faiz....celaka, aku masih ingat Faiz. Aku harus melupakannya. Dia sudah jadi suami orang, kenapa aku harus mikirin dia?


Iya, aku dulu mencintainya. Tapi duluuuu. Semenjak dia jalan sama Iskha ya udah, selesai, finish. Aku sudah terima nasib. Buat apa aku harus mikirin dia lagi. Faiz....harusnya kamu sama aku. Harusnya sejak dulu. Nah, kan masih mikirin dia lagi. Sudaaahh...apa yang aku harus lakukan agar aku tak mikirin Faiz lagi??


"Faiz....," gumamku. "Aku bingung antara benci dan cinta. Saat aku membencimu aku justru makin cinta kepadamu. Saat aku mencintaimu aku tak bisa menyakiti Iskha. Faiz...kemarilah, kalau kamu memang cinta kepadaku datanglah kemari."


TOK! TOK! pintu kamarku diketuk. Ibu segera masuk.


"Vira! Vira! Faiz! Faiz ke sini!" kata ibuku.


Tak mungkin. Aku baru saja memikirkan dia. "Ibu pasti bercanda," kataku.


Entah kenapa aku segera beranjak. Padahal aku benci nama itu kan? Ibuku langsung menarikku sampai ke luar rumah. Di sana aku dapati Faiz. Dan di belakang dia tampak seluruh anggota keluarganya. Semuanya bahkan aku melihat Iskha di sana. Apa-apaan ini??


"Vira?" sapa Faiz.


"Ngapain kamu kemari?" tanyaku dengan sedikit sewot.


"Aku ingin menjemputmu."


"Faiz, aku sudah bilang kepadamu aku tak mau. Kenapa kamu masih saja menuruti wasiat itu? Kalian memang gila. Gila semuanya. Nggak Pandu, nggak kamu, kalian memang keluarga gila! Pergilah!"


Faiz melangkah maju dan kini dia berada persis di depanku. 


"Aku tak akan pergi."


"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Aku sudah tidak mencintaimu lagi Faiz, sudah. Hubungan kita sudah berakhir."


"Kau jujur atau bohong?"


"Jujur."


"Kalau begitu kenapa kamu mau menemuiku sekarang?"


"Aku tak bisa Faiz. Tolong, kumohon aku tak mau mengganggu hubunganmu dengan Iskha. Kalian sudah pantas bersama, aku tak mau Faiz. Kumohon," kataku sambil terisak.

__ADS_1


"Kamu masih ingat kencan pertama kita?"


Oh tidak, dia mengingatkanku lagi saat itu. Kencan pertama dan sekaligus juga saat first kiss kita.


"Kamu memakai gaun biru, kamu terlihat sangat cantik malam itu. Dan malam itu juga adalah pertama kalinya aku mengenal apa itu cinta. Darimu. Kau cinta pertamaku. Sungguh sulit sekali move on darimu. Aku akui itu. Dan aku tak malu mengakuinya. Aku selalu menghindar ketika membicarakanmu, karena aku tak ingin kamu ada di dalam pikiranku. Tapi tidak semudah itu. Kamu akan tetap selalu ada di hatiku Vira. Melihatmu bersama Mas Pandu, sebenarnya membuatku sakit sangat sakit. Barangkali kamu juga merasakan hal yang sama ketika melihatku bersama Iskha bukan? Maafkan aku. Akulah yang memaksamu untuk bersama Mas Pandu. Kalau kamu mau menyalahkan orang, maka salahkan aku. Aku yang pantas untuk disalahkan. Aku memang pantas dihukum atas kesalahan-kesalahanku. Tapi biarlah aku mengisi hatimu yang selama ini kosong."


Oh...Faiz...aku sangat ingin, ingiiiin sekali. Tapi apakah harus dengan cara seperti ini??


"Vira, sekarang seluruh keluargaku membujukmu. Aku datang membawa mereka semua. LIhatlah!"


Ya Faiz, aku bisa melihat semuanya.


"Aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu masih memakai kalung pemberianku. Apa yang kau rasakan ketika memegangnya?"


Aku menundukkan wajahku. Air mataku berderai.


"Jujurlah Vira, jujurlah! Keluargaku selalu menjunjung tinggi kejujuran!"


"Faiz...," kataku pelan.


"Iya?"


Faiz, aku mencintaimu. Aku jujur mencintaimu. "Aku mencintaimu Faiz. Sejak dulu sampai sekarang. Sampai saat ini. Aku mencoba untuk membencimu aku tak bisa. Aku tak bisa membencimu. Kenapa aku harus hidup seperti ini? Kenapa aku yang harus menerima semua kesedihan ini. Seandainya dulu kau tak memaksaku, aku tak perlu harus menangis seperti ini."


Aku pun menangis. Menangis karena harus berkata jujur. Perasaanku campur aduk semuanya. Aku dipeluk oleh Faiz. Ohh...inilah pelukan yang aku inginkan. Kenapa tidak dari dulu? Dia mencium ubun-ubunku. Oh Tuhan, inilah cintaku. Dia datang kepadaku. Walaupun dengan cara lain tapi dia datang. 


"Faiz, aku bersedia," kataku. 


****


Singkat cerita, akhirnya aku jadi istri keduanya. Aku makin dekat dengan Iskha. Menuju acara pernikahan yang kedua. Sungguh sesuatu yang tak pernah aku duga sebelumnya. Iskha membantuku memilihkan gaun pengantin. Dia juga yang membantuku untuk mengatur pernikahanku ini. Aduh, aku koq sepertinya dimanja gini. Aku nggak enak dengan Iskha. Tapi ia dengan senang hati melakukan itu. Tak ada raut kesedihan di wajahnya. Seolah-olah dia melakukan ini karena memang itu yang dia inginkan. 


Akhirnya hari pernikahan tiba. Aku dan Faiz duduk di pelaminan, menerima para tamu dan undangan. Aku tak pernah datang di pesta pernikahan Faiz dan Iskha. Karena aku tak sanggup melihatnya, tapi....Iskha ada di sana. Aku jadi tak enak ama dia. Mungkin karena inilah aku menganggap dia sebagai adikku. 


NARASI FAIZ


Aku dan Vira akhirnya bersama, juga Iskha. Dua orang yang sama-sama aku cintai ini sekarang jadi istriku. Lengkap sudah semuanya. Tentunya kedua sifat istriku ini beda semuanya. Iskha lebih bawel daripada Vira. Kalau ada bajuku yang nggak rapi pasti bawel, kalau ada yang berantakan pasti bawel. Dia benar-benar menepati janjinya, akan berikan apapun yang aku inginkan kalau sudah nikah. Sedangkan Vira, aku tak menyangka kalau dia itu lugu banget, polos. 


Ia mengaku kepadaku tak pernah tahu begituan. Semuanya hanya ia ketahui dari buku. Jadi aku sangat beruntung mendapatkan Vira, ibaratnya dia adalah hutan yang masih hijau, benar-benar belum tersentuh. Bahkan ia sendiri bilang satu-satunya lelaki yang pernah menciumnya adalah aku, memang ia pernah mencium Mas Pandu, namun itu karena ia memberikan hadiah itu kepada Mas Pandu. Dialah yang memberikannya bukan dia yang menerimanya. Dan dia jujur.


Semenjak menikah dengan Vira, aku juga tahu kalau dia wanita yang paling lembut. Sementara ini Vira tinggal di rumah orang tuanya. Yah, mau gimana lagi blom punya duit buat beli rumah lagi. Tapi aku yakin pasti bisa beli setahun lagi. Nabung dong. Udah punya dua istri pengeluaran juga dobel. Apalagi kalau sampai keduanya sama-sama hamil. Tambah lagi kan? Untungnya perusahaanku terus berkembang beberapa bulan ini. Sip pokoknya. 


Aku juga baru tahu kalau Iskha itu nggak suka makanan berminyak dan pedes. Ya maklum sih penyanyi. Beda ama Vira dia suka banget. Dan saudara-saudara kedua istriku nggak bisa masak. Karena aku dulu pernah kerja di restoran ketika kuliah di Havard, jadinya paling tidak aku ngerti dengan ilmu memasak. Aku ngajari mereka untuk memasak. Praktis keduanya hanya masak yang instan macam sandwich, pancake dan mie instan. Tapi lambat laun aku ngajari mereka masak masakan Indonesia, entah itu rendang, sayur asem, sayur bening dan lain-lain. Kalau Iskha nggak bisa masak wajarlah, dia tomboy dulunya. Nggak pernah nyentuh dapur. Tapi aku salut ama usahanya belajar. Yang paling malu itu Vira.


Pernah dia suatu ketika masak sampai gosong semua. Goreng tempe saja wajannya sampai lengket. Dia pun akhirnya pasrah. Bilang ke aku, "Mas, aku nggak bisa masak." Sambil matanya berkaca-kaca gitu. Cute banget mirip kelinci yang mengiba. Duh....Ya sudah, habis itu aku ajarin masak. 


Vira itu istriku yang paling mengirit. Beda dengan Iskha. Kalau Iskha sering belanja, tapi setelah belanja ia sering tanya ke aku, "Aku tadi beli ini buat apa ya?" Dia pernah beli selusin gelas plastik tanpa tahu kegunaannya. Kepengen aja gitu. -_-


Kalau Vira nggak. Uang belanja yang aku berikan kadang ia tabung. Dan yang aku suka adalah keduanya tak pernah menuntut aku. Mereka tahu kemampuanku. Mereka tahu kelemahanku. Perjuangan cinta Iskha selama ini, perjuangan cinta Vira selama ini telah terbayarkan. Iskha yang setia kepadaku, Vira yang sangat mencintaiku. Mereka akan menjadi dua bidadariku selamanya.

__ADS_1


__ADS_2