
NARASI FAIZ
KEMBALINYA SANG PANGERAN, itulah judul headline surat kabar. Sehari setelah aku melamar Iskha di depan umum dan disiarkan secara live sebuah stasiun tv swasta itu, langsung media masa heboh. Aku dan Iskha dinobatkan sebagai pasangan selebritis yang paling romantis. Aku pun serius dengan lamaran itu. Nggak usah ditanya deh, ayahnya Iskha sangat setuju pasti.
Setelah itu adalah minggu-minggu yang sibuk. Aku mencetak undangan, menyewa tempat untuk acara resepsi pernikahan, memilih baju pengantin, sewa catering dan lain-lain. Satu yang aku sukai dari Iskha adalah ia tak ingin muluk-muluk. Ia hanya ingin acaranya sederhana saja, nggak usah terlalu mewah. Dan ia lebih ingin mengundang orang-orang kecil. Biarkan mereka berbaur dngan para undangan lainnya, agar mereka tidak merasa kecil. Intinya ia ingin para tamu undangan itu orang-orangnya sejajar tak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.
Tentunya ini konsep yang luar biasa. Undangan aku sebar ke beberapa panti asuhan. Dan juga para tetangga yang kurang mampu aku undang. Sedikit aku undang dari orang-orang kaya, terkecuali teman-teman sekolahku sewaktu SMA. Iskha sangat senang sekali. Ia bahkan menjadi seksi sibuk sekali. Sempat marah-marah juga ketika contoh undangannya salah. Aku pun menenangkannya.
"Udah dong, masa' salah dikit aja marah?" tanyaku.
"Gimana nggak marah coba Mas. ini udah ketiga kalinya lho," jawabnya.
"Iya, mbak. Maaf, orangnya soalnya baru. Setelah ini saya aja yang akan menghandle," ujar salah seorang karyawan yang mencetak undangan itu.
"Ya sudah, mohon segera ya mas. Kan kita juga butuh waktu untuk sebar undangan," ujarku.
Pemuda itu pun pergi. Iskha memegang kepalanya.
"Sudah dong, kamu pasti lagi capek, lagi PMS?" tanyaku.
"Iya kaya'nya," jawab Iskha. Ia lalu merebahkan diri di sofa.
Aku lalu mengambil ponselku dan menceklist sesuatu yang sudah aku lakukan. "Oke, gaun sudah, catering sudah, tempat resepsi sudah, penghulu sudah, tinggal undangan aja berarti."
"Mas Faiz," panggilnya.
"Ya? Ada apa?" tanyaku.
"Mas yakin nggak mau mengundang Pak Hendrajaya? Kan dia ayah mas??"
Aku terdiam. Aku sudah berjanji tak akan kembali ke sana lagi sebenarnya.
"Ayolah mas, kan cuma mengundang. Mas sudah berjanji tidak pergi ke rumah. Tapi bukan berarti mas janji tidak mengundang mereka, kan?" tanyanya.
Aku mendesah. Benar sih, bukan berarti aku tidak mau mengundang mereka. Baiklah. "Iya, aku akan megundang mereka."
"Sungguh?" tanyanya. Entah kenapa ia sangat gembira. Ia langsung bangkit dan memelukku. "Makasih ya mas."
****
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Iskha Kusumaningrum binti Sulaiman dengan mas kawin cincin emas 7 gram dan uang tunai sebesar Rp. 2.009.000,- dibayar tunai," kataku ketika ijab qabul.
"Gimana semuanya? Sah?" tanya pak penghulu.
"Saah..." seru semuanya.
"Alhamdulilah," jawabnya.
Akhirnya aku dan Iskha hari itu sah menjadi suami istri. Pesta pernikahan yang digelar cukup meriah. Tamu-tamu berdatangan mengucapkan selamat. Tamunya baik dari kalangan selebritis juga dari kalangan umum. Dari orang kaya sampai orang miskin. Yang membuatku takjub adalah mereka semua berbaur menjadi satu. Tertawa bersama, makan bersama. Iskha memang luar biasa membuat ide ini. Aku makin cinta ama dia. Dan dia sangat cantik hari itu. Memakai baju pengantin berwarna putih. Adatnya campuran adat sunda dan betawi.
Dan aku akhirnya melihat seseorang dengan rombongan keluarga mereka. Aku mengenali mereka. Ayahku, bunda, Icha, Rendi, dan juga bunda-bundaku yang lain. Bunda Vidia, Bunda Nur, Bunda Laura dan anak-anak mereka, minus Mas Pandu. Agak aneh memang, mereka menjadi tamu dalam acara ini, ini emang ideku. Aku memang tak akan kembali ke rumah mereka, tapi bukan berarti aku tidak mengijinkan mereka juga ke tempatku.
Yang paling pertama menyelamatiku adalah ayah. Ia memelukku dan menepuk pundaku.
"Selamat nak, semoga kalian langgeng, jaga istrimu baik-baik!" ujarnya. "Pandu berada di rumah sakit, maka dari itu dia tak bisa menemui kalian. Ia hanya titip salam"
Aku mengangguk. "Makasih ayah."
Kemudian ayah pindah ke Iskha. "Iskha?!"
"Pak Hendrajaya," sapa Iskha.
"Selamat ya nak, jaga Faiz. Jadi istri yang baik," kata ayahku.
"Iya bunda," jawabku.
"Iskha....kamu cantik sekali. Jadi istri yang baik ya!" kata bunda.
Iskha mengangguk.
"Ke mana Mas Pandu?" tanyaku.
Setelah salam-salaman dan ucapan selamat, acara pun selesai. Para tamu sudah pulang semua. Aku tak melihat Vira hadir. Ah tapi tak masalah. Hari itu aku berencana menginap di sebuah vila yang sudah aku sewa sebagai bulan madu kami. Dengan mobil yang aku pinjam dari Erik, aku pun berbulan madu dengan Iskha.
****
"Heh, bengong aja!" kata-kata Iskha membuyarkan lamunanku.
"Hihihi, aku bingung apa ini mimpi ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Enaknya mimpi atau nggak?" tanya Iskha.
Aku sudah berada di kamar villa. Hari sudah mulai sore. Iskha sudah menghapus make upnya. Cukup gerah kami hari itu sehingga kami sudah mandi. Sudah memakai baju santai. Iskha tiduran santai di atas ranjang pengantin kami. Total aku sewa villa ini seminggu penuh. Ini termasuk villa ayahku sih. Sebenarnya bisa saja aku dengan gratis menempatinya, tapi aku tetap berprinsip tak mau menerima bantuan ayahku. Aku ya merogoh kocek sendiri tentunya. Patungan ama Iskha.
Iskha tampak sibuk bermain ponselnya. Bermain facebook, twitter, instagram. Ia bahkan foto selfie dengan diriku.
"Mas, mas sini deh!" ia menarikku lalu selfie JEPRET!
"Buat apa?" tanyaku.
"Buat status 'Before first Night'!" guraunya. Aku ketawa.
"Ah, ada-ada saja!" kataku.
Dia menguploadnya ke facebook, twitter dan isntagram. Aku lalu duduk di sebelahnya.
"Eh, kayaknya aku mulai hari ini akan manggil kamu Dinda deh," kataku.
Iskha menoleh ke aku, ia tertawa, "Issh...dinda? Trus aku harus manggil kanda gitu?"
"Yah...terserah situ sih," kataku.
"Oke, kanda," katanya.
Aku terdiam lagi. Menatapnya. Inilah istriku. Wajahnya sekarang adalah wajah wanita yang paling cantik. Aku tak jemu-jemu memandangnya. Ia masih sibuk bermain ponsel. Setelah itu ia menoleh ke arahku. Ia memonyongkan bibirnya.
"Apaan sih? Ngelihat melulu," katanya.
"Nggak apa-apa kan? Melihat wajahmu saja adalah ketentraman bagiku," jawabku.
"Ih...lebay," ujarnya.
Aku lalu merebut ponselnya. Ia mencoba merebutnya.
"Eit,...nggak kena," kataku.
"Ihh...kanda...kasih dong!" pintanya.
Ia lalu ambruk di atas tubuhku saat merebut ponselnya. Wajah kami pun bertemu. Aku bisa rasakan detak jantungnya di dadaku. Perlahan lahan aku letakkan ponselnya di meja dekat ranjang. Aku lalu menciumnya. Ia mendorongku.
__ADS_1
"Ini belum malam lho, ntar nggak bisa dong disebut malam pengantin," katanya.
"Peduli amat," jawabku.