Anak Nakal

Anak Nakal
What The F*ck!!


__ADS_3

NARASI HANI


Aku senang sekali, ketika Pak Hendrajaya menawariku kerja di kantornya setelah aku lulus kuliah D2 Sekretaris. Beliau benar-benar memberikan posisi yang sangat penting bagiku. Selain aku senang karena aku bisa dekat dengan beliau yang notabenenya adalah ayah biologisku, aku juga senang karena gajinya cukup besar untuk seorang sekretaris. Terlebih beliau menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Dia juga menghormatiku sebagai temannya Mas Faiz. 


Pekerjaanku mulai dari mengatur jadwal meeting, mengatur siapa saja yang boleh menghubungi beliau, bahkan sampai laporan-laporan dari semua manajer pun ke akulah semuanya diserahkan. AKu pun memesan tiket untuk dia ketika ingin keluar kota. AKu juga yang mengatur presentasinya. Ke mana-mana aku pasti bersama beliau. Senang sekali menjadi orang yang sangat dekat dengan beliau. Bahkan aku pun jadi dekat dengan Ibu Aula istrinya. Melihat ketekunanku bekerja beliau pun sampai menjadi mata-mataku, kalau-kalau suaminya selingkuh. Hihihihi. Lucu memang, tapi ayahku ini tak pernah aku lihat jalan dengan wanita lain. Semuanya adalah mengurus pekerjaan dan keluarga. 


Aku cuma heran bagaimana dia bisa mengenal ibuku dan selingkuh. Itulah yang aku tak habis pikir. Seperti apakah pesona dari Tuan Hendrajaya ini. Aku pun mulai mengerti pesonanya setelah kami harus bertemu dengan klien besar yang ingin mendirikan sebuah menara pencakar langit di Jakarta. Mega Projek ini akan membangun sebuah bangunan tinggi 75 lantai. Konsepnya adalah menara ini berisi apartemen, mall dan perkantoran. Juga ada tempat fitness, kolam renang, dan lain-lain. Karena nilai projek ini besar maka investornya pun lumayan besar juga.


Ada tiga perusahaan yang bekerja sama untuk membuatnya. Dan untuk itulah kami berdua harus ke Singapura. Aku mendampingi beliau untuk bertemu dengan orang-orang penting ini. Sejujurnya ini adalah untuk pertama kalinya aku keluar negeri, walaupun cuma ke Singapura saja sih. Tapi aku sungguh bersemangat. Andai ibu sekarang melihatku, tentu beliau akan sangat bangga kepadaku.


Kami pun bertemu dengan para klien itu. Pembahasannya cukup alot, terutama tentang kondisi Indonesia yang sedang tidak menentu akhir-akhir ini. Tapi ayah meyakinkan semua klien bahwa berinvestasi di sana bukanlah hal yang salah. Ayah bahkan menjamin dalam sepuluh tahun keuntungan yang didapat bisa sepuluh kali lipat dari modal awal. Tentunya dengan tingkat inflasi yang aman. Apa pula itu aku nggak faham, tapi paling tidak para klien itu cukup puas dan mau berinvestasi.


Aku tidak suka ketika ayah sudah mulai mabuk-mabukan. Ia terlalu banyak minum wishky dan tequila. Entah berapa gelas yang ia tenggak. Ia kemudian karaokean bersama para klien hingga larut. Setelah benar-benar mabuk, aku pun memapah ayahku ke kamarnya. 


"Pak hati-hati!" kataku.


Bau alkohol dari mulutnya membuatku ingin muntah rasanya. Agak susah juga memapah beliau. Tapi meskipun sudah tua tubuh beliau masih tegap. Hanya ada sedikit lemak diperutnya, tapi tidak gemuk. Proporsional menurutku. Juga yang wajahnya juga masih berwibawa. Aku senang sekali bisa menolong ayahku sekarang ini. Inilah kesalahanku. Aku sudah menganggap dia ayahku, tapi dia tidak tahu kalau aku adalah anaknya.


"Aula...jangan tinggalin aku ya, temani!" ia mengigau memanggil nama istrinya. 

__ADS_1


Aku membukakan pintu kamarnya, lalu kami berdua pun masuk. Aku pun memapahnya sampai dia ambruk di atas ranjang. Setelah itu aku buka sepatunya dan menatanya hingga ia berbaring di atas ranjang. Lelah juga memapahnya. Aku baru saja mau beranjak, tiba-tiba dia mencengkramku. 


"Aulaaa...jangan pergi!" katanya. 


Tu...tunggu dulu, dia mendekapku dari belakang, ia meremas payudaraku. Aku agak meronta, tapi ia sangat kuat. Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia terus mendekapku sehingga ku tak bisa bergerak. Akhirnya aku mencoba membiarkannya aku ingin tahu apa yang ia lakukan. 


Oh tidak, ini diluar kendaliku. Jangan, dia akan memperkosaku. Aku ingin pergi tapi dia terlalu kuat bahkan kemudian membantingku di atas ranjang, aku pun pusing. Bantingannya terlalu kuat. Untuk beberapa detik aku tak bisa apa-apa. Ia sudah berhasil menggeranyangi tubuhku. Aku baru sadar ia sudah membuka semua bajuku. Ohh...ayahh....


.


.


****


Hari sudah pagi. Dan aku mendapati Pak Hendrajaya sudah tak memelukku lagi. Dia ada di pinggir ranjang memakai pakaiannya. Aku terbangun dan duduk. Aku agak malu dan menutupi tubuhku dengan selimut. 


"Maafkan aku," kata Pak Hendrajaya. 


Aku hanya diam. 

__ADS_1


"Aku terkejut ketika bangun mendapatimu. Aku pasti melakukan hal-hal yang jelek tadi malam. Aku lihat bercak arah di kasur. Maafkan aku Hani. Aku seharusnya tak melakukan ini. Ini pasti gara-gara aku mabuk tadi malam," kata Pak Hendrajaya. 


"Tidak apa-apa pak. Ini sudah terlanjur. Hani juga nggak tahu harus berbuat apa tadi malam," kataku. 


"Itu tidak bisa! Harusnya kamu pukul aku tadi malam biar aku tak melakukan ini. Ohh..apa yang harus aku lakukan sekarang??" Pak Hendrajaya tampaknya merasa bersalah. 


Aku menundukkan kepalaku. Aku pun malu sendiri melihat diriku. 


"Aku tahu siapa kamu. Kamu anaknya Dian bukan? Aku menyelidiki kamu selama ini dan aku sekarang ingat siapa kamu. Engkau sudah lama aku cari. Dan sekarang aku malah melakukan hal ini kepadamu," jelasnya. 


Jadi....dia sudah tahu kalau aku anaknya? Aku sangat senang sekali. 


"Aku sudah tahu kamu adalah anakku, maka dari itulah aku memberikan kekhususan kepadamu. Beasiswa, pekerjaan, tempat tinggal, semuanya. Apa yang sudah aku lakukan sekarang ini?" Pak Hendrajaya pun menangis.


"Ayah, boleh aku panggil bapak sebagai ayah sekarang?" tanyaku.


"Aku tak pantas dipanggil ayah, ayah yang seharusnya melindungi putrinya malah berbuat tidak senonoh terhadap putri sendiri," ujarnya. 


Aku langsung memeluknya. 

__ADS_1


"Aku minta maaf ayah, seharusnya ku sejak dari dulu berkata jujur. Tapi aku tak berani....akulah yang salah," kataku. Aku pun juga menangis. Kami berdua menangis di hotel itu. Menyesali apa yang sudah terjadi barusan.


__ADS_2