Anak Nakal

Anak Nakal
Curhat ke Kakak


__ADS_3

NARASI FAIZ


Aku dan Vira masuk ke ruang UKS. Pandu masih belum sadar. Ada seorang dokter di dalam ruang UKS ini. Sekolah ini memang mempunyai dokter cewek yang bertugas kalau-kalau ada siswanya yang sakit. Namanya Dr. Dhana. Dia masih muda, berusia 27 tahun. Karena ini sekolahan elit jangan pernah tanya berapa honor sang dokter cantik ini. Pastinya tidak sedikit. Dan pasiennya jangan pernah tanya, pasti berebut. Dr. Dhana ini masih muda. Dan ia juga kadang sering menggoda anak-anak cowok di sekolahan ini.


Begitu aku masuk Dr. Dhana segera tahu. 


"Selamat pagi pangeran mahkota, saudaramu sudah siuman," kata Dr. Dhana. 


"Oh ya?" aku pun gembira. 


Vira mengikutiku dari belakang. Kami kemudian sampai di ruang perawatan. Di sana tampak Pandu sedang main game di ponselnya. 


"Hei kunyu! Udah sadar nggak kembali ke kelas malah main game," kataku.


"Rese' ah, suka-suka gua dong," katanya.


"Ayah tadi ke sini," kataku.


"Hah? Masa', trus dia kemana?"


"Udah pergi lagi."


Pandu melihat Vira. Ia buru-buru meletakkan ponselnya.


"Pandu, kau tak apa-apa?" tanyanya.


"Hai, Vir. Eh, maaf. Kusangka Si Jabrik ini sendirian," kata Pandu.


"Pan!" aku berkata sambil mengangkat tangan kananku untuk tos. Pandu pun membalasnya. Tapi aku tangkap tangannya. "Lu menang! Jaga dia baik-baik. Awas kalau lu sampai nyakitin dia!"


Aku meninju bahunya. Pandu nyengir. Ia tak mengerti maksudku. "Apaan sih?"


"Aku tinggal dulu," kataku.


"Woi, mau kemana?" tanya Pandu.


"Aku lagi sakit hati, jangan tanya kemana. Ya balik ke kelas-lah!" kataku.


Vira kemudian maju ke arah Pandu. 


"Vira, kamu...?" kata Pandu.


"Iya, aku sudah bilang ke Faiz. Aku menerimamu, Aku mencintaimu Pandu," kata Vira. 


****....sakit hatiku mendengar itu. Dadaku bergemuruh. 


"Faiz,...jadi...itu...," Pandu mulai mengerti.


Suasana ruang perawatan itu hening. Aku pun bergegas pergi meninggalkan ruang UKS. Tampak Dr. Dhana sedang membersihkan kukunya. 


"Dasar, anak muda. Nggak di mana aja, kalau sedang ada masalah cinta hadeeeh," katanya.


"Faiz, makasih," kata Pandu. 


Aku melambaikan tanganku. 


"Faiz tak apa-apa?" tanya Vira. Dia tahu perasaanku sekarang sedang hancur. 


"Ah, nggak apa-apa. Kami sudah berjanji koq. Siapapun yang dipilih olehmu, kami akan menerimanya walaupun sakit," kata Pandu.


Masalahnya, akulah yang memberikan Vira kepadamu Pandu. Karena aku terlalu sayang kepadamu.


***


Seminggu setelah kejadian itu, aku jadi jutek di rumah. Makan ndak nafsu, mau ngapa-ngapain bete. Tiap hari melihat Vira dan Pandu bersama, apalagi sambil gandengan tangan. Bikin aku ilfil. Tapi aku mencoba untuk senyum. Mungkin hanya Vira yang tahu arti dari senyumanku. Ia tahu aku sangat sakit. Tapi aku tak bisa berbuat banyak dengan ini semua. Kegembiraan di wajah Pandu pun membuatku makin bisa menerima nasib. 


Ternyata kegundahanku selama ini diketahui oleh Kak Putri. Aku duduk di ruang keluarga nonton tv sendiri sampai larut. Nonton Masih Dunia Lain. Ngelihat orang-orang kesurupan. Heehh....nggak ada kerjaan emang. Saat itu rupanya Kak Putri terbangun dari tidurnya dan langsung duduk di sebelahku.


"Ngapain?" tanyanya. "Lagi galau ya?"


"Sok tahu," kataku.


"Udah deh, aku tahu kalau kamu lagi galau. Gebetan direbut orang? Kalah dari Pandu?" gila, langsung tepat dia.


Aku terdiam.

__ADS_1


"Hahahaha, ternyata bener. Ceweknya yang mana sih? Kasih tahu dong!" pintanya.


Aku mengambil ponselku dan membuka gallery. Di sana ada foto Vira. Aku kasih ke Kak Putri.


"Cakep banget. Sialan kalian ini seleranya tinggi-tinggi ya?" puji Kak Putri. 


"Iyalah," kataku.


"Udah deh. Jangan sedih gitu," katanya.


"Gimana lagi ya kak, dia cinta pertamaku. Aku sebenarnya nggak rela sih. Tapi, ketika ayah bilang Pandu kena penyakit itu, rasanya aku tak tega. Aku mengalah dari dia," kataku.


"Kamu sih ****!" kak Putri menoyor kepalaku.


"Lho?"


"Dalam kehidupan ini kau boleh mengalah kecuali tiga hal, pertama kamu nggak boleh mengalah dalam soal makanan, kalau kamu nggak makan bisa mati soalnya, kedua kamu nggak boleh mengalah dalam soal nyawa. Soalnya nyawamu cuma satu, dan yang terakhir, kamu nggak boleh mengalah dalam hal cinta. Sebab kalau kamu ngalah maka hati kamu yang mati!" 


Aku menunduk.


"Ah, sialan. Pake pasang muka nggak berarti gitu. Udah dong ah. Udah terlanjur mau gimana lagi? Move on aja!"


"Enak kakak bilang move on, gampang banget. Sakitnya tuh di sini!" kataku sambil menunjuk ke dada.


Kak Putri tersenyum. Dia merebut remote tv dan mematikan tv. Tanganku lalu ditarik olehnya.


"Sini, ikut kakak!" katanya.


"Apaan sih?"


"Udah ikut aja!" katanya.


Aku digiring ke kamarnya. Setelah aku masuk, eh dianya langsung mengunci pintu, aku lalu didorong dan dipeluknya. Aku ambruk di atas ranjang dan bibirku pun dilumat olehnya. Kenapa kak Putri ini? Aku mendorongnya.


"Apaan sih kak?"


"Denger ya, aku ngelakuin ini biar kamu nggak sedih. Aku nggak pengen adikku ini sedih terus soal cewek. Biar aku menghiburmu," katanya. 


"Maksudnya? Ini kakak mau ngapain aku?"


"Tapi, kita kan saudara!?"


"Persetan Iz."


Dan setelah itu....eng-ing-eng, terjadilah. Aku awalnya agak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kak Putri, tak tahu kalau dia seagresif itu ******* bibirku. Dalam sekejap pakaianku sudah dilucutinya.


.


.


SKIP


.


.


"Kak?!" panggilku.


"Ya, ada apa?" tanyanya lemas.


"Jangan kita ulangi lagi ya," kataku.


"Kenapa?"


"Aku takut kak, ini nggak bener, masa' kakak sendiri aku gituin? Ntar klo hamil gimana? berabe kan?"


"Biarin ajah, nggak usah dipikirkan!"


Kak Putri lalu memelukku, Kini kami berguling dan dia ada di atas tubuhku. Menyandarkan kepalanya di atas dadaku. Ia membelai dadaku. Setelah itu suasana hening sejenak. Aku hanya menatap langit-langit kamar. Sambil sesekali mencium kepala kakakku. Entah kenapa aku hari itu ada perasaan khusus kepadanya, seperti takut kehilangan dirinya. Sesuatu perasaan yang aneh. Kak Putri lalu beringsut ke atas, hingga kini kepalanya sejajar dengan kepalaku.


"Kamu marah ya?" tanyanya.


"Nggak, kenapa?"


"Habis, kamu diem. Nggak usah khawatir. Aku rela koq kalau kamu yang melakukannya. Aku sudah sejak dulu suka ama kamu Faiz. Aku mungkin juga cinta ama kamu. Memang ini kaya'nya aneh, kakak cinta ama adiknya sendiri tapi aku tak bisa menyembunyikannya. Awalnya aku menampik semua perasaanku. Aku pun punya pacar, tapi akhirnya ketika kemarin aku tahu dia selingkuh hilang sudah kepercayaanku ama cowok."

__ADS_1


"Kemarin waktu aku anter ke tempat kost cowok itu?"


"Iya, waktu aku ke sana aku mergokin mereka berdua sedang gituan di atas ranjang, bete' merasa dikhianati."


"Tapi, kak. Aku tak bisa mencintai kakak. Aku tetap menganggap kakak sebagai kakakku, sebagai saudara."


"Nggak apa-apa. Aku tak mengharapkan balasan dari cintamu Faiz. Aku sepertinya punya kelainan. Suka ama saudara sendiri. Terutama kamu."


Kak Putri mencium bibirku lagi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Bingung. Senang sih punya kekasih seperti Kak Putri, tapi dia saudaraku sendiri. Apalagi apa yang kami lakukan ini tabu di masyarakat.


"Faiz, janji kepadaku!" katanya.


"Janji apa?" tanyaku.


"Kau jangan ceritakan ini kepada siapapun!" katanya.


"Iyalah, masa' aku ceritain? Gila apa?" kataku.


"Makasih, sama satu lagi!" katanya.


"Apa?"


"Kalau kamu kepengen, silakan aja bilang ke aku. Aku hari ini menganggapmu sebagai pacarku. Kan kamu baru patah hati, jadi nggak apa-apa kan? Anggap aja aku sebagai pacar."


"Nggak ah, kamu tetep kakakku!" kataku bersikeras.


"Udahlah pliiiss...kamu tak tahu rasanya dikhianati sih!" Kak Putri tiba-tiba menangis. "Sakit tahu. Plis ya, aku tak mau seperti ini terus. Kamu yang bisa bikin aku kuat Iz."


Aku tahu ini salah, tapi...kakakku butuh bantuan aku sekarang dan hanya aku yang bisa menenangkan dia. Jadi pacarnya? Rasanya sedikit absurd, tapi aku pun berkata, "Ya sudah, aku bersedia."


"Terima kasih adikku!" kak Putri menciumku lagi. 


Aku menghela nafas. Kami tetap berpelukan. Malam kian dingin dan larut. Tak ada lagi suara di kamar Kak Putri. DIa pun mematikan lampunya, kami sekarang dalam kegelapan. Selimut tebal telah menutupi tubuh kami. Malam ini aku tidur di kamar Kak Putri. Kamarnya rapi, ada beberapa poster Hello Kity di dindingnya bisa kulihat poster itu menyala dalam gelap. Aneh anak ini. Aku tak bisa tidur. Dalam benakku selalu terbayang Vira. Kalau Vira tahu apa yang aku lakukan dengan Kak Putri hari ini ia pasti bakal marah. 


Aku melihat ke arah Kak Putri, matanya masih terbuka. Ia juga tak bisa tidur rupanya. 


"Kau tak bisa tidur?" tanyaku.


"Iya," katanya.


Aku entah kenapa iseng aja, Kugoda lagi dia hingga adegan tadi terulang kembali,


.


.


"Putri??!!" panggil bunda. 


Aku terbangun, kaget karena aku tak melihat kamarku. Aku baru tersadar kalau aku ada di kamar Kak Putri ketika aku melihat ia sedang tidur dan menggeliat di atas dadaku. Ia pun bangun. Matanya melihatku, lalu dengan ekspresi terkejut dia menutupkan telunjuk ke bibirnya.


"Putri!!? Ini sudah jam sembilan lho. Nggak pergi kuliah?" 


"Iya bunda, aku kaya'nya di rumah aja deh. Lagi males pergi ke kampus," jawabnya.


"Lhoo, koq gitu. Kuliah itu bayarnya mahal nak. Nggak boleh seperti itu. Nanti kamu dimarahi ayah lho," kata bunda. 


"Iya iya," kata Putri.


"Sarapannya ada di meja makan. Sebelum makan mandi dulu!" kata bunda. 


"Iya bunda, iyaaa!" kata Putri.


Lalu terdengar suara langkah beliau meninggalkan pintu kamar.


"Gila, hampir copot jantungku!" kataku.


Kak Putri malah ketawa cekikikan. Ia kemudian bangun dan menuju ke kamar mandi yang memang ada di dalam kamar tidurnya. Aku bergegas menyusulnya. Entah mungkin karena kejadian semalam sehingga aku makin tertarik sama dia. Aku segera sergap kak Putri di kamar mandi. Ia pun mengerti maksudku.


"Ih, bangun tidur langsung nyosor," katanya.


"Biarin, mumpung gratis!" kataku.


Kepalaku digetok pake gayung. 


"Biarpun gratis aku bukan cewek gampangan lho!" katanya. 

__ADS_1


Aku langsung menciumnya. Ternyata kak Putri itu lemah dengan ciuman. Setelah Ronde ke 3 berakhir, kami berpakaian. Aku pun kembali ke kamarku. Hari ini bolos sekolah ah. 


__ADS_2