
Disebuah warung, kulit kuaci berserakan dibawah meja.
Itu adalah ulah Andre dan teman tongkrongannya yang sedang asik bercakap-cakap sembari menghisap sebatang rokok dan secangkir kopi instan.
Sepulang sekolah, Andre mempunyai kebiasaan nongkrong bareng teman-temannya jika tidak ada kegiatan Paskibra di sekolah.
Teman-teman tongkrongan Andre kebanyakan berasal dari SMA lain hanya ada beberapa yang satu SMA dengannya, salah satunya Doni.
HP Andre bergetar, pertanda ada pesan yang masuk. Andre mengambil HP dari saku celana abu-abunya. Ia memeriksa pesan yang masuk, ternyata itu dari Doni.
Gua ada sedikit info nih, tadi gua denger dari gosipan cewe-cewe kelas gua, kalo tadi pagi Citra ke ruang guru bareng cowo katanya sih kakak Pramuka. Namanya tu Ang....Angga kalo nggak salah.
Dengan kilat Andre mengetik pesan, membalas pesan yang baru saja dibacanya.
Lo serius? Kagak mungkinlah Citra nggak ada ngomong sama gua. Kurang akurat kalik info lu!
Pesan balasan kembali masuk.
Au ah, lu tanya sendiri sama orangnya. Ndre lu sebaiknya segera kesini dah... Ada sesuatu yang harus lu lihat! Tentang Citra, sama si Angga...Angga itu. Cepetan!
Setelah Andre membaca pesan singkat dari Doni, ia segera bangkit dari duduknya.
"Ndre lu mau kemana?" tanya Ikhsan, teman tongkrongan Andre.
"Ada urusan, lu pada lanjutin aja."
\\\\*\\_
Andre sampai di parkiran sekolah, dan segera menuju lapangan, ia tahu pasti ini menyangkut Citra yang sedang mengikuti kegiatan Pramuka di lapangan sekolah.
Sesampainya dilapangan, Andre melihat Citra dimarahi oleh seorang laki-laki didepan banyak orang. Seketika emosinya naik, ia berlari kearah laki-laki itu dan memukul pipi laki-laki itu ,yang mana adalah Angga senior Pramuka Citra.
Citra berlari dan meninggalkan Andre, Citra ingin pulang tapi masih bingung pulang dengan siapa.
Biasanya sepulqng kegiatan Pramuka, Citra pulang dijemput oleh Andre atau Doni.
Kalau pulang dengan Andre rasanya nggak mungkin, karena mereka sedang bertengkar. Bagaimana dengan Doni? Citra juga enggan menghubungi Doni, karena Citra tahu ini adalah ulah Doni yang mengadu kepada Andre prihal ia dihukum tadi.
\\\\*\\
__ADS_1
Dikamar yang bernuansa putih, Citra duduk termenung.
Tok...tok...
Suara ketukan di pintu kamar Citra.
"Cit... Ada Andre tu." Suara seorang wanita, terdengar di balik pintu.
Wanita itu adalah Mirna, mama Citra.
"Citra nggak mau ketemu Andre ma.."
Citra masih malas untuk bicara pada pacarnya itu, ia masih ingat kejadian di sekolah tadi ketika kegiatan Pramuka.
"Kamu lagi marahan ya sama Andre?"
"Nggak ma, Citra cuma capek aja, suruh pulang aja. Ini udah malam juga kan."
"Tapi kan kasihan nak, udah dateng jauh-jauh. Setidaknya kamu temuin dulu, sebentar aja ya.."
Citra akhirnya menurut, ia keluar dari kamarnya dan bergegas berjalan menuju ruang tamu. Disana sudah ada Andre dan Putra, kakak laki-laki Citra. Mereka sedang mengobrol.
Katanya mau ketemu gua, kenapa malah ngomongnya sama kakak gue? batin Citra.
"Ehm..."
Suara deheman Citra berhasil menghentikan percakapan dua laki-laki itu. Kedua mata laki-lak itu menatap kearah datangnya suara.
Citra pun memilih duduk di sofa yang berada di depan Andre.
"Kok kamu duduknya disitu bi? Disini aja, aku mau ngomong sesuatu." Andre menepuk sofa yang ada disebelahnya.
"Langsung ngomong aja." Ucap Citra dengan cuek.
"Aku mau minta maaf Cit, aku ngaku salah" Andre mengatakan itu dengan tulus, dicuekin oleh Citra membuatnya prustasi.
"Oke aku maafin, tapi seharusnya kamu minta maaf sama kak Angga. Kamu udah mukul dia sampai luka!"
"Kamu segitu pedulinya sama cowok itu? Yan pacar kamu tu sebenernya aku apa dia, si Angga... Angga itu?"
Andre mulai marah, berita tentang Citra dan Angga ke ruang guru bersama saja sudah membuatnya kesal ditambah Citra sekarang membela orang itu didepannya.
"Kok kamu malah marah sih? Kayak anak kecil aja! cemburu nggak jelas!!" Muka Citra mulai memerah, memanas.
"Anak kecil? wajar dong aku marah, emang kamu kira aku nggak tau apa kalau kamu tadi istirahat sama Cowo nggak jelas itu keruang guru barengan. Kamu nggak cerita lagi sama aku"
Citra ingat prihal itu, ia memang belum cerita pada Andre, biasanya sekecil apa-pun pasti mereka saling cerita.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?"
"Ya jelas aku tahu, gimana nggak? hampir satu sekolah ngomongin kalian tahu, katanya cocok banget! Gimana aku nggak marah?" Andre sedikit meninggikan suaranya sekarang. Sedangkan Citra hanya membisu, ia mengaju salah.
"Seneng kan kamu sekarang dibilang cocok? Terus aku kamu anggap apa?" Lanjut Andre.
Citra mulai habis kesabaran, ia merasa bukan dia saja yang salah, tapi Andre juga.
"Bukan cuma aku yang salah, kamu juga! Kamu nggak ngerasa salah?" Citra mengakhiri diamnya.
"Kamu senagkan di lap in keringat terus dikasih minum sama Triana tadi di sekolah?" Kamu pikir aku nggak cemburu? Enak ya di gituin sama cewe-cewe" Ia bangkit dari duduknya, Citra membalas telak kata-kata yang dilontarkan Andre tadi.
"Apa aku salah? Itu kan pemberian orang, ya jangan ditolak. Sedangkan kamu? kamu itu kayak cewe MURAHAN, jelas-jelas kamu udah ada cowo" Ucap Andre membela diri dan balik menyerang.
" Serendah itu aku dimatamu dre?" Tanpa permisi air mata Citra menetes.
Andre sadar apa yang di katakannya tadi melukai hati Citra.
"Maaf bi...." Ucap Andre lirih.
"Kita putus..." Citra berlari meninggalkan Andre dengan berlinang air mata. Hanya dua kata itu yang bisa ia ucapkan untuk mengungkapkan kecewanya atas perkataan Andre yang menusuk hatinya.
Hanya dengan kata itu hubungan mereka kandas detik itu juga.
"Cit, maafin aku..." Andre melangkahkan kakinya ingin mengejar Citra yang berlari ke arah tangga menuju kamarnya di atas, tapi langkahnya terhenti dengan dorongan kasar dari seorang pria.
"Lebih baik lu cabut atau lu mau gua habisin di sini?" Pria itu adalah Putra kakak kandung Citra, yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka sedari tadi dari ruang tv.
"Tapi..."
"Cabut gua bilang !!....." Putra memotong perkataan Andre.
Andre memutuskan untuk angkat kaki dari rumah itu, ia berfikir pasti besok semua akan kembali normal seperti biasanya. Ia berharap Citra akan melupakan kejadian tadi apa lagi kata 'putus' yang diucapkannya.
Citra menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Di dalam Citra menangis sejadi-jadinya di atas kasurnya.
Tok...tok
Suara ketikan pintu terdengar.
"Cit... lu nggak papa kan?" suara putra terdengar bersamaan ketukan pintu, tapi Citra enggan untuk menjawab.
Ia memandang semua barang pemberian Andre yang ada di kamarnya.
Ia melempar boneka teddy besar dan setumpuk buket buka yang ia tata rapi semula di atas sebuah vas bunga besar. Semua ia lempar ke bawah lantai.
__ADS_1
Dia fikir dia siapa? Berani mengatakan itu padaku. Andre jahattttttt kamu jahattt.
Citra terus menangis sepanjang malam hingga ia terlelap dalam tidur.