
"Nggak kamu bohong, hubungan ini belum berakhir! Sekarang kita ketempat yang lebih tenang untuk membicarakan ini dengan kepala dingin." Andre menarik tangan Citra, tapi ada tangan lain yang menepisnya dengan kasar.
"Jangan maksa gini dong bro... Kasih Citra waktu. Gua emang gak tahu apa permasalahan kalian tapi kasih Citra waktu, cewe juga butuh dimengerti." Pria itu menepuk bahu Andre.
"Gua paham Don, thanks ya..." laki-laki yang menasehati Andre adalah Doni.
"Cit, sorry ya gua dah maksa lu, gua akan kasih waktu lu sampai seminggu. Gua akan tanyakan lagi soal hubungan kita setelah waktu seminggu. Dan gua harap lu berubah pikiran" Ujar Andre dengan penuh harapan.
Citra tak menjawab, tak bergeming sedikitpun. Andre dan teman-temannya pergi dari kelas itu.
"Mangkasi ya don.. Kamu lebih belain aku dari pada dia"
"Iya gak papa, lu kan sahabat gua dari masih bayi" bualnya.
"Apaan sih lu tu GJ (gak jelas) banget deh" menepuk lengan Doni, senyum khas Citra pun mengembang, senyum yang disertai lesung pipi.
"Gitu dong smile..."
"Iya, iya bawel..." mengerutkan bibir pink alami miliknya.
Thanks ya don, lu slalu ada disamping gua. Gua bersyukur punya sahabat kayak lo. Batinnya, masih terus menatap wajah Doni yang tampan manis.
"Wah gawat nih..." ucap Doni tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Kayaknya lu mulai suka ama gua. Tuh dari tadi lihatin gua..." Candanya lagi, tapi bukan disambut dengan senyuman lagi oleh Citra malah dibalas dengan sebuah jitakkan keras kepala Doni sampai Doni meringis kesakitan seraya mengelus-elus kepalanya.
"Sakit tau Cit!"
" Habis lu kepedean banget. Gua lihatin lu bukan karna suka atau mengagumi lo, tapi kasihan aja sama lu"
"Kasihan kenapa?"
"Karena lu sampai saat ini masih JOMLO. Dasar nggak laku!!" Ejek Citra, memberi penekanan pada kata jomlo, sungguh sahabat yang sadis ya....
"Gua bukan nggak laku Cit. Tapi gua.." Belum selesai Doni bicara, tapi Citra malah masuk begitu saja ke dalam kelas.
*
Saat istirahat pun datang.
"Cit yuk ketaman. Lu gak lupa kan janji lu bantuin ngafalin dasa dharma dan Tri Satya?"
"Nggak dong, tapi kita kan ada rapat anggota pramuka. Giamana dong?"
"Yah.... Ya udah dech, nanti pulang sekolah aja gua ke rumah lu ya..."
"Iyyya..."
Salam Pramuka!!
Diberitahukan pada kakak kakak anggota Pramuka SMA Harapan Bangsa untuk segera berkumpul diaula. Dan jangan sampai terlambat.
__ADS_1
Salam Pramuka.
Suara pak Ahmad, Pembina Pramuka putra terdengar sangat jelasnya.
"Na yuk buruan ke aula ntar kita telat lagi..." ajak Citra.
"Yuk..." Mereka pun bergegas menuju aula.
Salam Paskibra!!
Mohon segera anggota ekstrakulikuler Paskibra berkumpul di ruang osis, untuk rapat dengan agenda lomba HUT Sekolah.
Sekian terima kasih
Salam Paskibra.
"Duh Cit gimana nich? Paskib juga ada rapat . Kenapa sih kok bisa barengan rapatnya? Apa janjian sih?" tanyanya kesal.
"Apa lu lupa? Lomba yang diadakan sekolah kita kan bukan cuma Lomba Pramuka tapi hampir semua ekstrakulikuler"
"Udah gini aja, lu izin formal dulu ke kakak senior Pramuka untuk gak ngikutin rapat ini biar nggak kena marah, entar gua kasih tahu dah apa aja yang disampein" saran Citra, dan saran itu pun disetujuhi oleh Triana.
Izin Formal adalah sebuah kebiasaan yang ditanamkan kakak kakak senior pramuka pangkalan SMA Harapan Bangsa dari generasi ke generasi. Dimana anggota yang akan ada keperluan mendesak di haruskan untuk izin dengan kakak kakak anggota Pramuka yang lain dan meminta maaf karena tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut, dengan menyertakan pula alasannya.
Mereka pun sampai ke aula sekolah, disana sudah ada banyak orang yang sedang duduk sambil mengobrol satu sama lain, menunggu rapat dimulai.
Tidak membuang waktu, dua perempuan itu segera mencari kakak senior yang ada diaula itu, mata mereka menyapu seluruh isi aula. Mata Triana berhenti pada seorang laki-laki.
"Siang kak.. " Sapa Citra seraya tersenyum.
Mereka pun saling berjabat tangan ala anak Pramuka.
Kalau kalian anak Pramuka, kalian pasti tahu.
"Siang juga.." membalas Angga dengan senyum pula.
"Kak saya mau izin formal tidak mengikuti rapat ini dikarenakan akan ikut rapat Paskibra di ruang osis." Ucap Triana takut-takut.
"Oh ya, silahkan kak...." Angga mempersilahkan untuk izin didepan semua anggota Pramuka SMA itu, di Pramuka Angga tetaplah profesional.
Walaupun sedikit gugup dan malu, Triana memberanikan dirinya untuk maju dan berdiri didepan meminta izin kepada kakak kakak yang lain, sedangkan Citra menunggu di belakang disamping Angga.
Seorang anggota Pramuka tidak pernah malu, ia selalu percaya diri atas kemampuan yang ia miliki. Itulah yang diajarkan organisasi 'Praja Muda Karana' ini.
"Salam Pramuka!!" Triana memulainya dengan salam Pramuka.
"Salam....." balas puluhan orang yang ada diruangan itu.
"Nama saya Triana Sadira dari kelas X IPA 2 ingin minta izin untuk tidak mengikuti rapat pada hari ini."
"Izin bertanya kak, apa alasannya kak?" tanya seorang wanita, yang merupakan salah satu senior Pramuka kelas 11.
"Alasannya karena saya akan mengikuti rapat anggota Paskibra yang tidak dapat ditunda. Apakah diizinkan? "
__ADS_1
"Siap iya"
Begitulah seorang anggota Pramuka yang harus berani, percaya diri dan sopan bahkan di saat mengajukan pertanyaan.
Seorang anggota Pramuka tidak boleh menyinggung perasaan orang lain saat hendak bertanya atau memberi saran.
Di pangkalan ini setiap kakak kakak Pramuka harus menyertakan kata 'siap' jika ingin menjawab atau ingin bertanya tak kira itu senior atau junior.
Triana pun kembali ke sisi Citra.
"Cit anterin gua yuk" ucapnya meminta dengan suara pelan agar Angga yang ada disekitar mereka tidak mendengar.
Angga mengerutkan keningnya bingung, apa yang sedang dua wanita iyu bisikan.
Citra pun setuju.
"Iya, tapi izin dulu ya sama kak Angga bentar ya.."
"Kak Angga, Citra izin sebentar ya ingin mengantar Triana ke ruang osis tempat rapat Paskib."
"Oke kak Citra, segera kembali ya..."
"Siap iya kak..."
Triana dan Citra segera bergegas menuju Ruang Osis.
Saat sampai disana ternyata belum mulai.
"Ya udah na, gua cabut ya.. Bye" pamitnya melambaikan tangannya kecil.
"Bye, thanks ya..." Citra hanya mengangguk lalu pergi.
"Cit...." Ada yang memanggilnya, refleks pemilik nama itu menoleh.
"Iya ngapa?" jawabnya ketus, setelah melihat wajah yang memanggilnya yaitu Andre.
"Nanti kamu pulangnya sama siapa? Kamu pulang bareng aja ya..." pintanya dengan senyum khas milik Andre.
"Bukan urusan lu, gua pulang sama siapa yang jelas bukan sama lu" ujarnya dengan judes, tapi bukan Andre namanya jika menyerah begitu saja.
"Kamu jangan panggil lu gua ya... itu sebutan orang asing, kalau kamu masih belum bisa manggil aku bi seperti yang dulu, tolong kita panggilannya aku dan kamu"
"Gua akan putuskan hubungan kita akan seperti semula atau nggak dalam seminggu, jadi lu punya waktu seminggu untuk bisa merubah perilaku buruk gua."
"Oke Cit... Aku akan buktikan permintaan maaf ku"
Hai kakak kakak
Terima kasih ya baca karyaku ....
Komen jangan lupa, biar saya tahu kalau cerita saya ini benar-benar ada yang baca.
Kalau kalian suka boleh like.
__ADS_1