
PROV CITRA
Mentari bersinar dengan hangatnya, memberiku semangat baru. Hari ini aku akan pergi kesekolah seperti biasanya, semalam aku sudah mengambil keputusan. Keputusan untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi. Menangis dan merenungi nasibku, sangatlah bodoh.
Aku sadar tidak seharusnya aku terlalu dalam mencintainya, aku ingin fokus dengan belajarku dan dengan kegiatan Pramuka di pangkalan, aku ingat bunyi dasa dharma ke 6 yaitu rajin terampil dan gembira. Aku harus gembira, dalam menghadapi hariku ini karena aku anak pramuka:)
"Morning ma.." sapaku, mencoba senatural mungkin seperti pagi-pagi sebelumnya, walaupun hatiku masih sangat sedih.
"Morning too baby..." jawab seseorang yang datang dari belakangku.
Ia mengacak-acak rambutku.
"Apaan sih kak? resek banget berantakan ni rambutku..." Keluhku sembari membenahi rambutku yang berantakan.
"Are you okey Cit?" menunggingkan sebelah alisnya, sepertinya kakakku ingat kejadian semalam.
"I'm okey" balasku jutek.
Kulahap nasi goreng yang ada didepanku dengan lahap dan cepat.
"Cit pelan-pelan. Ini baru jam setengah tujuh." mama memberiku segelas air putih.
"Iya ma. Citra mau cepet-cepet berangkat, soalnya citra piket ma..." ucapku bohong.
Aku ingin berangkat cepat, karena ingin menghindari seseorang.
"Ma, papa mana? kok nggak kelihatan dari tadi?" tanyaku disela, memakai sepatu hitam bertaliku.
"Papa udah berangkat, katanya buru-buru mau rapat tentang pembukaan jambore cabang" jelas ibu padaku.
Ayahku adalah orang yang cukup aktif dalam kegiatan kepramukaan, sebenarnya pekerjaannya bukanlah itu. Ayahku adalah pengusaha pemilik pabrik pakaian dan perlengkapan pramuka yang dikirim hampir keseluruhan penjuru nusantara.
Ide untuk memulai usaha itu datang dari kecintaannya pada Pramuka.
Itulah sebabnya aku sangat mencintai Pramuka, mungkin juga darinya.
"Ma Citra berangkat ya..." aku mencium tangan mamaku.
"Apa nggak bareng kakak aja?" tawar kakakku.
"Nggak perlu kak..." akupun berangkat.
Gw naik apa ini? Nggak mungkin gw nelvon Doni, dia kan teman Andre.
Udahlah gw naik bis aja.
Aku merogoh saku bajuku.
"Loh, kok nggak ada? Ya ampun cit.. lo bedo banget sih, duit gua kan masih dikamar." Aku menepuk jidatku, mengutuk diriku yang begitu bodoh.
"Terus gimana ini? masa gua harus jalan? Kan jauh banget ke sekolah. Kalau mau pulang kejauhan." terus melangkahkan kakiku.
Tali sepatuku terlepas, mungkin karena tadi terburu-buru jadi ikatannya tidak kuat.
"Ini juga sepatu ngeselin banget sih..." aku menghentak-hentakkan kakiku ke jalanan.
"Pagi-pagi kok udah ngedumel gitu?"
__ADS_1
Suara seorang laki-laki, yang sepertinya kukenali.
"Kak Angga?" ucapku bingung.
Kak Angga jongkok dan mengikat tali sepatuku. Aku malu, malu sekali.
"Eh ngapain kak? nggak usah.." larangku padanya, tapi dia tetap melanjutkan kegiatannya. Aku merasa begitu kikuk dibuatnya.
"Nah udah selesai nih" Ia berdiri.
" Kamu udah berangkat jam segini? biasanya jam tujuh lewat.. terus kamu kok jalan Cit? biasanya dianterin sama cowo?" tanya kakak Angga.
" Iya nih kak, eh kok kak Angga tahu aku selalu dianterin cowo ke sekolah?" selidikku.
"Emmm, oh ya kamu mau nggak aku anterin? Dari pada kamu jalan?" Dia tidak menjawab pertanyaanku barusan.
Aku merasa Kak Angga seperti menyembunyikan sesuatu dengan mengalihkan pembicaraan.
Tapi Entahlah akupun binggung, mungkin saja rumahnya disekitar sini.
"Cit... Kok malah diem? mau nggak?"
"Eh iya kak mau, tapi kakak mau nganterin aku pakai apa?" mataku mencari keberadaan kendaraan yang di bawa kak Angga, tapi tidak bisa kutemukan.
"Itu disitu..." menunjuk mobil putih yang terparkir di depan sebuah minimarket.
"Ayooo.."
"Iya kak" Kami pun menuju mobil yang dimaksud, dan berangkat ke sekolah.
PROV ANGGA
Ku santap mie ini sambil menatap jendela bercat putih dilantai dua.
Jendela itu terbuka dengan seorang gadis cantik muncul dengan rambutnya yang berantakan dan matanya yang berbinar, tapi tidak pagi ini tidak matanya tidak terlihat berbinar seperti biasanya, matanya sembab.
Apa dia baru menangis?
Tiga puluh menit kemudian orang yang kutunggu keluar, tapi ada yang aneh dia malah berjalan kaki.
Kemana cowo yang biasa mengantarnya ke sekolah? Mungkin mereka janjian ditempat lain.. gumamku.
Kuputar setir mobilku hendak melajukan, tapi datang sebuah mobil hitam menuju rumah itu. Mobil yang sangat kukenal
Mobil yang biasa menjemput gadis itu.
Bukannya dia tadi udah deluan? Apa terjadi sesuatu diantara mereka?
Aku melajukan mobilku menyusul langkah gadis itu, takut kehilangan jejak.
Senyumku mengembang melihat tingkah gadis itu, yang menghentak-hetakkan kakinya, sambil ngomel nggak jelas.
"Itu dia, dia ngapain sih? ngedumel gitu? udah kayak emak-emak aja lagi marah" ucapku terkekeh geli.
"Tapi, gitu-gitu juga dia lucu banget bikin gemas"
Aku parkiran mobilku didepan sebuah mini market.
__ADS_1
Aku mendatanginya, dan kulihat tali sepatunya terlepas.
Ternyata dia lagi ngedumelin sepatunya hmmm Citra... Citra... batinku.
"Pagi-pagi kok udah ngedumel gitu?"
ucapku.
"Kak Angga?" balasnya yang terlihat bingung.
Aku jongkok, mengikat tali sepatunya.
"Eh ngapain kak? nggak usah.." ucapnya melarangku melakukannya.
"Nah udah selesai nih" setelah memastikan tali sepatunya terikat, aku berdiri.
" Kamu udah berangkat jam segini? biasanya jam tujuh lewat.. terus kamu kok jalan Cit? biasanya dianterin sama cowo?" tanyaku pada Citra.
" Iya nih kak, eh kok kak Angga tahu aku selalu dianterin cowo ke sekolah?" tanyanya padaku.
Kenapa aku bisa keceplosan ya? jangan sampai dia tahu kalau aku selalu ngikutinnya tiap pagi.
"Emmm, oh ya kamu mau nggak aku anterin? Dari pada kamu jalan?" tawarku sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Semoga saja dia tidak curiga batinku.
"Cit... Kok malah diem? mau nggak?" tanyaku lagi saat melihatnya malah diam.
"Eh iya kak mau, tapi kakak mau nganterin aku pakai apa?"
"Itu disitu..." tanganku menunjuk mobil yang terparkir didepan mini market.
"Ayooo.." ajakku padanya, kupersilahkan dia jalan terlebih dahulu.
"Iya kak" balasnya.
Saat sampai dimobil ingin sekali aku membukakan pintu untuknya, tapi rasanya aku belum siap. Berada disisinya saja sudah membuat jantungku berdebar. Akhirnya kuputuskan untuk tidak melakukannya.
Sepanjang perjalanan ke sekolah kami hanya diam, kunyalakan musik dimobilku.
Kuputar lagu yang sedang tren sekaligus yang kusukai.
Aku tak tahu apa yang lain darimu hari ini.. 🎶🎶Apa itu karena sepatu flatmu atau kukumu yang baru kau warnai... Pernahkah kau bertanya seperti apa bentuk air tanpa wadah, pernahkah kau mengira seperti apa bentuk cinta....🎵🎶
Rambut warna-warni bagai gulali
Imut lucu walau tak terlalu tinggi
Pipi cabi dan kulit putih
Senyum manis gigi kelinci
Membuatku tersadar bentuk cinta itu...
Ya kamu.....🎼🎼
Yang awalnya kami saling terdiam, tapi sekarang menjadi cair. Kami bernyanyi bersama syair lagu ini.
__ADS_1
Aku sebaiknya berterima kasih pada pencipta lagu ini, berkatnya aku bisa semakin dekat dan lebih mengenal gadis yang kusayangi. Gadis yang kusukai sejak pertama bertemu di buper (bumi perkemahan) dalam jambore cabang penggalang beberapa tahun lalu.