Antara Paskibra & Pramuka

Antara Paskibra & Pramuka
Penolakan


__ADS_3

Mobil milik Angga sampai diparkiran sekolah. Keduanya keluar dari mobil


"Thanks ya kak, untuk tumpangannya. Citra ke kelas dulu ya kak.." pamitnya pada laki-laki tampan berkulit cokelat dihadapannya, ia mulai melangkah.


"Eh, tunggu Cit..." panggil Angga.


Citrapun membalikkan badannya.


"Iya?"


"Ehmmm.. Nanti.. Nanti.." Angga mulai gugup, ia berniat menawarkan tumpangan pulang.


"Nanti apa kak?"


"Nanti ada rapat Pramuka istirahat pertama nanti membahas tentang lomba HUT sekolah kita." ternyata Angga tidak berani mengatakannya, tampangnya saja yang terlihat tenang, tapi tidak dengan hatinya yang gugup saat ini.


Senyuman pun terulas diwajah manis Citra.


"Iya kak, aku tahu. Kan tadi malam sendiri kakak yang bilangin di group whatsapp PRAMUKA." jelas Citra, masih dengan senyumnya.


Angga ikut tersenyum kikuk, karena tingkah konyolnya.


"Ada lagi kak?"


"Nanti mau nggak pulang bareng sama kakak?" Tawar Angga akhirnya mengatakannya.


"Boleh emang kak?" tanya Citra takut merepotkan senior yang terkenal galaknya itu.


"Bolehlah.. Mau bareng?" tanya Angga lagi.


Citra mengangguk seraya tersenyum.


"Ya udah kak, Citra ke kelas ya.." Pamit Citra.


" Iya, hati-hati ya.."


Citra mengerutkan dahinya.


"Kan Citra udah sampai ke sekolah kak."


"Iya, hati-hati banyak buaya ke kelas kamu"


"Buaya?" tanya Citra tak mengerti.


"Buaya darat"


Tawa pun pecah diantara mereka berdua.


"Kakak Ada-ada aja, mana ada gituan ah"


"Ada, udah mendingan kakak anterin aja ke kelas kamu bentar ya.."

__ADS_1


Angga kembali masuk ke mobilnya, mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu menekan tombol kunci mobilnya.


"Tapi kak..."belum sempat selesai bicara, tangan Citra digenggam oleh Angga dan ditarik untuk jalan bersama.


"Yuk.." Mereka pun masuk ke sekolah melewati lapangan, begitu banyak mata yang menatap pada mereka. Salah satunya mata milik Andre.


Kaki mereka berhenti diteras, depan ruang kelas .


"Udah nyampek ni kak... Mangkasi ya."


"Iya. Jangan berterima kasih dulu nanti aja terima kasihnya, pas kakak nganter kamu pulang."


"Eh iya deh kak. Aku tarik ucapanku"


Sedikit gelak tawa kembali muncul diantara mereka.


"Kamu masuk kelas gih" Angga melirik kearah pintu kelas.


"Iya kak. Bye....." Citra melambaikan tangannya, sambil berjalan masuk ke kelasnya.


Setelah memastikan Citra masuk ke kelasnya, Anggapun pergi menuju kelasnya.


Ketika Citra sampai kebangkunya, nyelonong datang Triana dan duduk dibangku samping Citra yang kosong.


"Cie.... Lagi PDKT ni Cit sama kakak Senior Pramuka, kak...?"


"Kak Angga, lu kayak nggak tau namanya aja. Padahal tiap kegiatan Pramuka lu ngomongin dia terus... Dia potong rambut lah... dia sepatu baru lah... Nyampe gantungan kunci mobil baru aja lu bilangin sama gua... " singgung Citra, siapa yang tidak kenal Angga? Apa lagi Triana termasuk anggota Pramuka.


"Eh iya Cit, gua mendadak lupa nich...."


Mendengar nama Andre, Citra menghembuskan nafasnya kasar.


"Lu lagi brantem sama dia?" selidik Triana ingin tahu.


"Udah end.."


"Hah....? Lu serius? Kok bisa" Tanya Triana ingin tahu lebih dalam.


"Kemarin gara-gara kejadian di lapangan antara kak Angga sama kak Andre, membuat kami bertengkar hebat"


"Baguslah" gumam kecil Triana, tapi terdengar oleh Citra.


"Lu bilang apa na?" tanya Citra karena tadi kurang jelas mendengarnya.


"Nggak papa, Cit gua minta maaf ya... Selama ini gua ikut jahuin lu kayak temen-temen yang lain."


"Iya nggak papa soal mau temenan atau nggak sama gua itu keputusan kalian kok" jawab Citra dengan tulus. Tapi kenapa tiba-tiba Triana jadi ramah begini ya ?


"Oh ya lu udah belum ngapalin Dasa Dharma dan Tri Satya?" Triana teringat tentang pelantikan penegak Bantara beberapa bulan lagi.


"Oh itu, gua udah hapal kok dari penggalang. Itu mah kacang" menjentilkan jati tunjuknya dan ibu jarinya.

__ADS_1


"Lu belum hafal na?" tanya Silvi ingin tahu.


"Udah kalau Tri Satya. Tapi Dasa Dharmanya belum semuanya. Lu kan tahu gua masuk Pramuka dari masuk SMA ni aja, nggak kayak lu dari penggalang." ucap Triana lesu.


"Lu sih bukannya ngapalin" menyenggol bahu sahabatnya itu.


"Lu kan tahu akhir-akhir ini Paskibra latihan terus"


"Ya udah dech gua bantu... Nanti istirahat ditaman sekolah kita ngapain ya.."


"Thank you Cit.." memeluk Citra hangat, dan pelukan itu pun dibalas oleh Citra.


Teng.. teng


Suara bel jam masuk kelas berbunyi.


Semua murid SMA Harapan masuk ke kelasnya masing-masing.


"Cit, lu dipanggil tu sama kak Andre.Ada yang mau diomongin tu katanya." panggil Doni.


"Gua nggak mau Don, hubungan kami udah selesai." jawab Citra jutek dan masih terus membaca buku yang ada di tangannya.


"Lu sebaiknya nemuin dia dech, walaupun sebentar. Atau dia akan nungguin lu terus. Lu sendiri kan tahu sifat keras kepala Andre." jelas Doni.


Citra pun mengalah, ia sudah pasti tidak tega melihat orang lain menderita, apalagi karenanya.


Ia berjalan keluar kelas yang sedang bising, karena guru belum masuk ke kelas.


Di bangku teras kelas X IPA 3, Andre sedang duduk dengan teman-temannya.


Teman-temannya sedang duduk tertawa riang tapi tidak dengan Andre.


Andre selalu melihat ke pintu kelas, menunggu kemunculan seseorang.


Akhirnya yang ditunggu datang, Andre berdiri. Teman-teman Andre langsung diam.


Andre memberi lirik kan mata tanda menyuruh mereka menjauh. Dan teman-temannya pun menjauh.


"Bi..." Andre mendekat tempat Citra berdiri, tapi dengan majunya Andre Citra juga ikut memundurkan kakinya menjauh.


"Kenapa kak?" tanya Citra judes, tanpa melihat ke arah wajah Andre.


"Bi, maafin aku ya.. Aku nggak sengaja bi ngucapinnya. Itu begitu saja terlintas dipikiranku jadi aku..." hendak memperjelas semuanya tapi justru semakin membuat Citra tersakiti.


"Ternyata keputusanku benar untuk mengakhiri hubungan ini. Bahkan kamu sampai berpikiran aku seburuk itu?" potong Citra. Air dimatanya mulai menggenang.


"bi... Aku nggak sengaja ngucapinnya, aku sadar aku salah, maaf ya bi. Aku tarik kata-kataku yang semalam. Kita balikkan ya..." Andre hendak meraih tangan Citra, tapi ditepis oleh perempuan itu. Dengan mudahnya Andre mengatakan itu, seakan kejadian semalam adalah masalah sepele.


"Memang kamu biasa ngomong gitu, tapi kata-kata itu udah membekas dihati aku, dan ingatan aku. Kalau untuk maafin akan kucoba, tapi kalau untuk kembali seperti semula, maaf aku nggak bisa" Genagan itu tak tertahankan lagi dan mengalir deras dipipi cantik milik Citra.


"Dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan 'bi', karena panggilan itu sudah hilang seiring berakhirnya hubungan ini."

__ADS_1


"Nggak kamu bohong, hubungan ini belum berakhir! Sekarang kita ketempat yang lebih tenang untuk membicarakan ini dengan kepala dingin." Andre menarik tangan Citra, tapi ada tangan lain yang menepisnya dengan kasar.


* Bersambung


__ADS_2