
Bianca mengabil ponselnya, lalu memfoto isi lemari Anya dan mengirimkannya pada Dirga. Tak menunggu lama, dua menit kemudian Dirgan pun lansung menelfonnya.
Bianca mengambil ponselnya dan membaringkan tubuhnya diranjang lalu menekan tombol hijau.
" Dir, lo liat kan. Baju Anya itu jelek-jelek dan sangat tidak mencerminkan kecantikan" ujarnya.
" Ya lo pakek aja, biar orang-orang ga curiga"
" ih bajunya kek preman pasar semua tau gak"
" ya tau, kan gua sejak pindah kesini 3 tahun yang lalu sering temenan sama Anya"
" trus menurut lo, gua pantes gitu pakek baju kek gitu?"
" ya kalau lo ga nyaman, beli kek"
" what? is it true?, gua disini baru dua hari. Gua juga dah lupa letak mall dimana"
" Alah, bilang aja lo mau ditemenin. Ya udah , siap-siap sana. 15 menit lagi gua nyampe"
Tut...tut...
Telefon terputus, Bianca bergerak cepat untuk bersiap-siap. Ia hanya memakai Hoodie berwarna Hijau gelap dan rok mininya. Tak butuh waktu lama, terdengar suara klakson motor Dirga. Spontan saja ia lansung berlari keluar dari rumah dan duduk dijok belakang. Berlalu pergi hingga sampailah disebuah mall.
" Nanti kalau om Arga nanya kenapa beli baju, lo jawab apa?" tanya Dirga sembari memilah baju-baju bermerek dimall itu.
" Apa aja deh, yang penting gua beli baju kesukaan gua dulu" Bianca memegang satu baju berwarna hitam lekat yang sangat cocok jika dikaitkan dengan kulit putih bersihnya.
Dirga memperhatikan Bianca yang sedari tadi membolak balik baju hitam lekat yang ada ditangannya.
" Bi, bisa gak sih. Lo itu pakek baju yang tertutup dikit kek" Dirga menarik baju yang ada ditangan Bianca dan menyodorkan baju daster sebagai gantinya.
Bianca menarik jijik baju itu, " ih apaan nih, lo kira gua emak-emak apa" Bianca menjatuhkannya kembali.
" Bi, kalau lo terus-menerus pakek baju serba ****. Yang ada orang-orang pada curiga kalau lo itu bukan Anya" tukas Dirga.
" Emangnya seorang Anya itu kek gimana sih, HAH!" Bianca berdiri berkacak pinggang.
Cekrek!
Terdengar suara ponsel yang baru saja mengambil foto selfi, Bianca dan Dirga tersadar.
" Coba lo chek deh, siapa tau ada yang mata-matain kita. Gua mau bayar ini dulu" bisik Bianca dan lansung melenggang pergi kearah kasir dan membaranya.
" Gimana?, ada?" tanya Bianca yang baru selesai membayar baju-baju belanjaannya. Dirga menggeleng " enggak".
Setibanya didepan rumah, Bianca turun dari motor.
" Lo ngapain sih ngechek hp gua?" Dirga menjangkau hpnya namun dihalau dengan sigap oleh tangan Bianca.
" Bentar, mau nyalin nopenya Gavin" setelah menyalin nope Gavin, ia kembali memberikan hp itu pada Dirga sang pemiliknya.
" Nih, kalau liat mobil didepan tabrak aja gapapa kok. Halal untukmu itu" candanya sambil melenggang masuk dan mengunci pintu gerbang.
Dirga memasukkan hpnya kedalam saku lalu kemudian mengendarai motornya, " Asu lo".
Bianca hanya memeletkan bibirnya mengejek.
" Dari mana kamu, Anya?" tanya seorang lelaku paruh baya itu saat bianca baru saja hendak melangkahkan kaki menaiki tangga.
" Anu pa, Anya habis dari---mall" Bianca menyeringai tipis berharap agar tidak dimarahi. Arga terdiam melirik tajam putrinya dan kemudian melenggang masuk ke kamarnya.
" Aneh sipapa" Bianca kembali melanjutkan menaiki tangga dan memasuki kamarnya.
Ia meletakkan barang belanjaannya dan mencoba menghubungi Gavin lalu membaringkan tubuhnya letih menunggu Gavin mengangkat telefonnya.
CALL GAVIN🙂❤️
GAVIN
[ Halo, siapa?]
BIANCA
__ADS_1
[ Ini aku, Anya]
GAVIN
[ Belum tidur kah bee?]
BIANCA
[ hmm---belum disuruh tidur sama ayang]
GAVIN
[ Tidur ayang]
BIANCA
[ Aku mau mati]
GAVIN
[ Mati aja, ntar aku cari yang baru]
BIANCA
[Ih--tega..]
GAVIN
[ Hhhh...canda bee. I LOVE YOU]
BIANCA
[--------------]
[ Bee..bee...udah tidur?]
BIANCA
...☞ ♡ ☜ ...
Terlihat Bianca yang sekarang dikenal sebagai Anya tengah senyam senyum sendiri berjalan dikoridor lantai dua. Gebi dan Lauren berjalan mendekati Bianca yang mereka kenal sebagai Anya yang pikirannya ntah dimana.
" Ngapain lo senyum-senyum" Lauren menyenggol bahu Bianca.
Bianca tersadar dari lamunannya dan lansung memeluk dua orang gadis itu. " Lo berdua tau gak, semalam gua habis sleepingcall sama Gavin".
Gebi heran, bukannya sejak awal pacaran Anya dan Gavin memang lebih sering sleepingcall daripada jalan-jalan. " Bukannya sejak awal pacaran, lo lebih suka sleepingcall dibanding jalan-jalan kan Nya?" .
Bianca terdiam sejenak, " Ya--kan udah satu tahun ga ketemu, jadi bahagiah dong. Gitu" jelas Bianca.
Lauren melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 06:45 WIB. " Kantin yuk, masih lama nih" , Lauren menarik tangan kedua sahabatnya itu menuju kantin.
Gebi dan Bianca duduk dipojok kiri kantin, kecuali Lauren. Ia pergi ke ibu kantin untuk memesan makanan berupa nasi goreng, setelah itu ia membawanya kehadapan kedua sahabatnya itu.
" Nih makanannya" Lauren duduk didepan Bianca dan menaruh tentengan makanan yang ia bawa.
Bianca mengambil makannya, " Minumnya mana, Ren?".
" Sabar, itu lagi dibuat sama ibu kantin".
Tak lama kemudian, teh es yang dipesan Lauren pun datang.
" Eh liat deh, nih orang kecentilan banget" Gebi memperlihatkan foto Daniar yang ada dikronologi Instagram Daniar.
" Tapi ga pernah digubris sama Dirga, soalnya Dirga dah ilfil duluan" sambil Lauren.
" Ih tuh cewek, Dirga kan ga suka sama cewe yang doyan pakek pakaian sexy malehoy apalagi yang doyan nampakin Bodygoodnya" ketus Bianca sambil menyecroll kronologi akun Daniar.
" Tapi, Anya. Dia itu kek benci gitu sama lo, soalnya dari sekian banyak cewe disekolah ini. Cuma lo yang bisa akur dan candaan sama Dirga" tegas Gebi sambil menyuapkan makananya suap demi suap demi suap.
" Ya elah, itu mah ga usah heran. Secarakan gua cantik, anak mafia, jago balet, trus apa lagi yah" Bianca terdiam sejenak.
__ADS_1
" Jago basket dan silat" sambung Lauren.
Bianca terdiam, sedang berfikir kalau dia dicap sebagai jago basket. Nanti kalau ada yang nantangin dia main basket, gimana?.
Uhukk..
Bianca tersedak. Lauren dengan sigap memberikan minuman pada Bianca. " Minum dulu, Anya".
" Gua ketoilet dulu" Bianca berdiri dari duduknya lalu berlari ketoilet sekolah namu tak lupa membawa tas ransel dan ponselnya.
Setibanya ditoilet, Bianca lansung meletakkan ponsel dan tasnya diatas meja depan cermin. Tak lupa pula ia memastikan penampilannya terlihat baik-baik saja, lalu ia masuk kedalam wc.
Baru saja Ia masuk kedalam wc, Gebi masuk kedalam toilet. Yang ia lihat pertama kali adalah, tas ransel Bianca yang dia kenal sebagai Anya. Gebi meletakkan tasnya di atas tas ransel Bianca, kemudian menghidupkan kran air untuk membasuh wajahnya.
Cliinggg
Ponsel Bianca berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Gebi mengambilnya dan mengechek pesan itu. Gebi terkejut dan menutup mulutnya saat ingin berteriak kaget. Didalam sebuah pesan yang dikirim oleh nomor yang bernama MOMS❤️, didalam pesan yang dikirim. Gebi melihat wajah Anya yang pipi kanannya rusak, dan ia memakai kursi roda dengan sebuah persan yang bertuliskan "Anya udah baikkan".
Cklek..
Terdengan pintu wc terbukak, Gebi dengan sigap menghapus pesan itu dan mematikan ponsel yang dia pegang lalu meletakkannya seperti semula.
Bianca kaget, sejak kapan Ada Gebi disini. " Sejak kapan disini Geb?" , tanya Bianca Heran.
" Hmm---..." Gebi menggigit bibir bawahnya untuk memikirkan jawaban, saat ingin menjawab bel berbunyi.
Bianca menggendong tas ranselnya dan kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku jaket kulit yang ia pakai sedari tadi. " kok diem?, yuk kekelas!" ajak Bianca pada Gebi yang masih terdiam didepan cermin.
Sudah dua jam pelajaran sejak tadi pagi dimulai, semua siswa-siswi hening tak bergeming. Jika bersuara sedikit saja, auto disuruh menghafal Ayat Annaba' sampai habis.
Bu tiar, bu guru matematika dikelas itu menunjuk Bianca. " Coba kamu, Anya. Jelas sedikit tentang deret geometri!" pinta guru itu.
Bianca menghela nafas panjang, "
a + ar² + ....... + arn-1 disebut deret geometri
a \= suku awal
r \= rasio
n \= banyak suku
........".
Bu guru mengangguk membenarkan penjelasan Bianca yang ia panggil Anya itu. " Tumben kamu ngerti, biasanya kalau disuruh suka ngaur".
Bianca tersenyum, " Kan udah berubah buk, buat jadi siswi yang berbakat".
Bu guru mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Anya yang tumbenan.
☞ ♡ ☜
" Gua curiga, Anya itu sebenarnya suka sama Dirga bukan Gavin" ujar Bella.
" Perasaan dulu Anya penampilannya kek bagong deh, kok sekarang jadi cantik gitu yah"
" Duh Abel,,,bisa ga sih lo itu ga udah muji-muji Anya terus" geram Daniar tidak suka karna teman culunnya itu selalu memuji Anya.
" Bilang aja lo iri sama kecantikan gua ya kan, secarakan gua lebih cantik dibanding lowh" ucap Bianca dengan tangan berlipat dada yang sedari tadi menguping pembicaraan trio bebek itu.
Daniar berdiri dari tempat duduknya dan menatap Bianca yang ia kenal sebagai Anya itu dengan sini, " Iri sama cewe kampungan keak lo?, dih najis". Daniar mengibaskan rambutnya dan berlalu yang diikuti oleh Bella dan Abel.
" Rambut bau kemyan pun dikibas-kibasin ke orang" ejek Bianca sambil membekap hidungnya untuk menyakinkan orang-orang yang ada dikantin bahwa rambut Daniar benar-benar bau.
Daniar membalikkan badannya dan berbisik pada Bella, " pa iyah rambut gua bau?".
" Bener banget, bau taik sapi" Ucap Abel dengan nada tinggi, sontak semua orang-orang dikantin menertawai Daniar.
...🍒...
...🕳️...
Thanks buat yang udh mampir🍒
__ADS_1