
Hay hay hay ges, kembali lagi
semoga tetep ga bosen buat baca🥺
ALOPYOU😁💔
Jam istirahat kedua, Bianca bergegas ingin keperpustakaan untuk meminjam buku paket sejarah peminatan. Namun ia mengurungkan niatnya karna baru saja melihat Gavin yang tengah tertawa sendiri menatap ponselnya. Rasa posesif Bianca mulai timbul, ia beranggapan bahwa Gavin tengah chatingan dengan cewe lain. Bebarapa menit setelah memantengi ponselnya, Gavin berjalan menuju taman belakang sekolah. Biancapun makin penasaran dan ia-pun mengikuti Gavin.
Deg!.
Langkah Bianca terhenti saat ia melihat Gavin tengah bercanda ria dengan seorang perempuan disana.
Ekhem!!
Bianca berdehem, membuat Gavin dan perempuan itu tersadar akan kehadiran Bianca yang ia kenal sebagai Anya memperhatikannya dari jauh.
Bianca berdiri terkacak pinggang dengan raut wajah masam dan kesal, kemudian melangkah pergi. Gavin tak mau ada salah paham, ia-pun mengejar Bianca yang ia kenal sebagai Anya itu.
Hap!!.
Gavin berhasil menghela tangan Bianca, " Kamu kenapa?".
Bianca memajang wajah cemberutnya, " Aku gapapa".
" Bener gapapa?" Gavin menyelidiki wajah Bianca.
Bianca memberhentikan langkahnya, " Aku gapapa, gosah ngikutin aku lagi!". Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
Gavin tak mau kalah, kemudian menghalangi langkah gadis itu. " Kamu mau kemana?".
" selingkuh" ketus Bianca.
Lelaki itu heran, sejak kapan perempuan kalau mau selingkuh. Harus bilang-bilang dulu, " Kamu mau selingkuh sama siapa?"
Wajah Bianca memerah menahan marah, " Bapakmu!" kesalnya.
Gavin heran, " Aku kan yatim, Anya". Jawabnya dengan wajah polos penuh kasihan.
Bianca menatap lekat wajah lelaki yang ada dihadapannya.
Emmuach!!
Gadis itu mengecup pipi lelaki yang ada dihadapannya lalu memeluknya, " Maaf, aku ga tau".
Gavin membalas pelukan yang diberikannya, " Gapapa, yang tadi itu adikku bee".
__ADS_1
Bianca menghela lengan lelaki itu menuju perpus.
" Ngapain kesini?"
" Ya minjem buku lah, sayang!".
****
Bianca berjalan lesuh memasuki kelasnya setelah meminjam buku diperpus, " Lemes bestie, ayangku ga punya bapak!" ucapnya terduduk lesuh menyender dibahu Lauren.
" Dari pada ga punya muka!" jawab lauren ngegas.
" kalau Gavin ga punya muka, ya udah gua tinggalin aja. Trus jadian sama Dirga" ucap Bianca lantang tanpa sadar lelaki Dingin itu.
" ngaco lo!" satu kata keluar dari mulut Dirga yang membuat Bianca tersentak akan apa yang ia ucapkan.
Bianca mengerucutkan bibirnya, " becanda!".
Kriingg....kring...
Setelah melanjutkan dua jam pelajaran setelah jam istirahat kedua, akhirnya semua siswa dan siswi diperbolehkan untuk pulang kerumah masing-masing.
Bianca melempar kasar tas ranselnya keatas kasur dikarenakan lelah bekajar seharian. " Haus banget!". Gadis itu pergi kedapur untuk mengambil minuman didalam kulkas, tanpa sengaja ia melihat Dona nan tengaj berdiri menatap luar jendela. Bianca melihat Papanya tengaj berpelukan dengan wanita lain, sebenarnya ia ingin marah tapi ia juga bahagiah melihat Dona menangis dan bersedih.
" Ooo.. jadi ini yang dinamakan PELAKOR SAKIT HATI KARNA SUAMINYA DIEMBAT PELAKOR" cibir Bianca, perkataan dari Bianca yang dikenal sebagai Anya oleh dona-pun membuat ia tersadar dari tangisannya.
" ***Lo kenapa, Geb?" tanya Lauren heran menyaksikan kegelisahan gadis itu.
Gebi menggeleng, " aku gapapa".
" Geb, gua bosen dikamar lu terus!" ucap gadis itu cemberut.
Gebi merebahkan tubuhnya keranjang tepat disamping Lauren, " Tadi gua liat dihandphone---".
Ucapan Gebi terputus dan ia kembali duduk setelah Bianca yang ia kenal sebagai Anya itu melenggang masuk dengan raut wajah sedihnya sore itu.
" Gua diputusin sama Gavin" rengek wanita yang baru datang tersebut. Kedua sabahatnya itu sontak saja berdiri kaget. " Kok bisa?" tanyanya serempak.
" Tapi boong" tipunya dengan wajah angkuh.
" Bikin kaget aja lo" Gebi menipuk kepala Gebi dengan buku.
" Aduh sakit" ucap Bianca meringis kesal.
--
__ADS_1
Embun pagi mulai membasahi dedaunan, rumput, tanah dan batu. Bianca melangkahkan kakinya sambil bersenandung kecil menyumpal telinga kirinya dengan earphone. Terus melangkah melintasi koridor sekolah menuju kantin tanpa meletakkan tasnya kedalam kelas terlebih dahulu.
" Mbak, nasi goreng sama teh es nya satu!" pinta bianca yang baru saja memasuki aula kantin dan dijawab dengan senyuman oleh mbak kantin. Bianca duduk dipojok kiri, membukak handphonenya. Ternyata ada notif WhatsApp dari Gebi.
Gebi tolol🥰
[ Gua sakitnya, buatin gua surat izin yah].
Bianca tersenyum dengan baik hati ia merobek selembar kertas, dan menuliskan kata-kata untuk meminta izin. Setelah menulisnya, Bianca memotret kertas yang berisi surat izin tersebut dan mengirimkannya pada Dirga.
Tak lama kemudian, nasi goreng dan teh es pesanan Bianca pun datang. " Maaf non lama" ucap mbak kantin tersebut.
Baru saja Bianca menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya, sudah ada lelaki yang datang menghampirinya.
" Tumben sendiri" sapa Gavin sembari duduk dihadapan Bianca.
Bianca mengalihkan pandangannya menghadap Gavin yang kini berada di hadapannya. " Gebi sakit, Lauren belum datanh" jawabnya singkat.
Gavin melirik Bianca yang masih terlihat manyun sembari menyuapkan nasi kedalam mulutnya, " masih marah gegara kemarin?" tanya Gavin memastikan.
Bianca menatap kesal nasi goreng yang baru ia makan setengah, meraih earphone dan menyumpalkannya ketelinga kiri. Meraih tas ransel dan memasukkan ponsel kedalam tasnya. Kemudian berdiri meninggalkan Gavin begitu saja. " Mbak ini uangnya, kembaliannya ambil aja" ucapnya meletakkan selembar kertas merah, mbak kantin hanya mengangguk. Mana mungkin ia berani melawan Anya yang terkenal preman, sementara yang ada dihadapannya adalah Bianca.
" Nih amplopnya" ucap Dirga menyodorkan amplop putih kepada Bianca yang baru saja sampai didepan kelas.
" Thaks!", Dirga mengangguk dan masuk kedalam terlebih dahulu.
" Unchh gua kira lo ga sekolah njir" Lauren menjewer telinga bianca dan membawanya kedalam kelas.
" Ya maaf," ucap Bianca lesu memegangi kupingnya yang sakit karena dijewer oleh Lauren.
" Ya lain kali kalau udah nyampe tu bilang kek, lo ga liat apa gua sendirian dikelas" lirihnya lesuh.
" Iyah cantik" Bianca mengacak-acak rambut Lauren dan kemudian mengeluarkan sebuah kertas dari tas ranselnya. Memasukan kertas itu kedalam amplop yang tadinya diberikan oleh Dirga.
Lauren menatap kertas itu heran, " surat apa?" .
Bianca mengambil pena dan menuliskan nama pengirim surat itu, Sip : Gebi bramastha. " Gebi, dia sakit" Bianca berjalan menuju meja guru yang diikuti oleh lauren disampingnya, untuk meletakkan surat tersebut.
" Prasaan kemaren dia masih sehat-sehat aja deh" lirih Lauren heran.
Bianca mihat seorang guru memasuki kelas tersebut, " Ga tau sih, yuk duduk. Bu guru dah datang tuh" ajaknya menghela lengan Lauren untuk duduk.
Sampe sini dulu yah ges🥰😻
MAKASIH BUAT YANG UDAH SUPORT
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK FOUNT YAH GES😻***