
HY HY, KEMBALI LAGI DONG. SELAMAT MEMBACA YAH.
setelah pulang sekolah, Lauren dan Bianca yang dikenal Anya itu sepakat untuk menjenguk Gebi. Sangat aneh bukan?, baru juga kemarin sore berjumpa. Tiba-tiba sudah demam begitu saja.
" ***-"
Ucapan salam dari Bianca terhenti saat ibunya Gebi membukakan pintu. Lauren dan Bianca mundur selangkah saat melihat raut wajah wanita paruh baya itu tampak seperti sedang menangis.
" Gebi ga ada dirumah," jawab wanita itu ketus dengan air mata berlinang.
Kedua teman Gebi tersebut hanya diam, tak mampu melontarkan pertanyaan lagi setelah wanita itu menutup pintu dengan kasarnya.
Kedua gadis tersebut saling tatap bingung dan penuh tanda tanya. Ada apa?, apa yang terjadi?, dimana Gebi?.
Cling..
Ada pesan tak dikenal masuk ke ponsel Bianca.
" Anya?, pesan dari siapa?"
tanya Lauren penasaran.
" Katanya sih temennya Gavin, Gavin mabuk. Lagi diclub"
Jelas Bianca singkat, tak menunggu lama. Ia dan Lauren pun bergegas meninggalkan rumah Gebi karna ingin segera menemui Gavin. Setibanya diclub, Bianca lansung saja memasuki area club.
" Gua hamil Gav, anak Lo"
" Hah?, gosah ngaku-ngaku Lo. Mungkin itu anak Lo sama om-om langganan lo-"
*plak!
Satu tamparan berhasil menyentuh pipi Gavin dan meninggalkan bekas sedikit memar disana.
" Gebi..Gebi.. gua cuma nidurin Lo semalam doang, ya kali udah jadi janin aje tuh cebong. Gosah ngaco deh"
Ucap Gavin mengakui.
" Kok lama sih Anya?"
Tanya Lauren dengan lantang setelah memasuki club karna bosan menunggu Anya diluar sendirian. Sontak saja semua pasang mata termasuk Gebi dan Gavin mengarah padanya.
Bianca ( Anya) lansung memajang raut wajah seolah-olah tak tau menahu dan tidak mendengar ucapan tadi. Berusaha bersikap seolah-olah hatinya sedang baik-baik saja. Ia memutar bola matanya malas, menghela lengan Lauren keluar.
" Kamu tadi mau ditemenin ke butikkan?, ayok!"
Setibanya diluar, Lauren berusaha mencari cela untuk bertanya.
" Anya, Lo kenapa?"
Tanya Lauren bingung melihat ekspresi wajah Bianca yang sudah merah padam.
" Anya maafin gua, Nya"
permintaan maaf dari Gebi datang menyela yang membuat Lauren makin bertanya-tanya.
" Maaf buat apa?"
Tanya Bianca memalingkan wajahnya, sementara Lauren masih diam menyaksikannya.
" Maaf, waktu itu gua cuma--"
" Cuma apa?, cuma praktekkin doang hah?, hahaha"
Potong Bianca dengan tawa menggelegar, kemudian menarik Lauren masuk kedalam.mobil miliknya. Gadis itu hanya menurut saja.
" Anya, Anya bukan pintunya. Anya!!"
__ADS_1
teriak Gebi mencoba menjelaskan, namun na'as. Bianca tetep melakukan mobilnya.
Bianca memberhentikan mobilnya didekat sebuah dermaga, berlari kearah batu beronjong yang paling ujung.
" Aaaa sial bangsat kau binatang"
umpatnya pada sela-sela ombak disana.
" Kenapa si, Nya?"
Tanya Lauren kembali mendekati Bianca.
" Gebi hamil anak Gavin, Ren"
jelas gadis itu dengan tangis tersedu-sedu dan duduk diatas batu tersebut. Lauren terdiam dengan wajah manyun-nya.
" Anya masih hidupkan?"
Tanya Lauren membuat Bianca tersentak, sedikit aneh. Tidak sedikit, tapi sangat aneh.
" Gua ga bodoh Bian"
ketusnya menjauh,
" Anya bukan cewe lemah kayak Lo!"
jelasnya singkat kemudian pergi dari sana dan berlalu.
Sementara Bianca?, ia masih terdiam diatas batu besar itu. Mencerna ucapan dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Lauren. Dia tahu bahwa aku bukan Anya?, dia tahu bahwa aku Bianca?.
Tahu dari mana?,
siapa yang memberitahukannya?.
Bianca menyeka air matanya, berdiri mendekati mobil dan mengendarainya menuju rumah.
Tepat sekali setelah menutup pintu utama, pemandangan yang amat mengerikan sudah ada didepan mata. Sial tidak pacarnya, tidak ayahnya, sama saja! sama-sama doyan selingkuh.
Masih dengan raut wajah sedih yang penuh amarah, ia meninggalkan ayahnya dan perempuan iblis itu begitu saja. Dasar tua bangka mesum.
Setelah menaiki tangga, ia melihat Dona dengan air mata yang berlinang melihat kemesraan ayahnya dibawah sana.
" Ck, hanya mampu merebut dari mamaku?. Dan kini kau diselingkuhi mau saja, dasar bodoh"
ketusnya meninggalkan Dona begitu saja lalu kembali ke kamarnya. Dona tidak menggubris ucapan Bianca, karna ia sudah tidak peduli lagi.
Setibanya dikamar, ia mengaktifkan ponselnya. Mencoba menghubungi Lauren dan syukurlah diangkat.
" Anya, maafin gua yah. Ga bisa ikut jenguk Gebi tadi, soalnya lagi banyak pelanggan dibutik. Sorry yah. Tadi dirumah gua cuma ada Aulya dirumah. Dia emang mirip sama gua, kembar Siam. Sekolah disingapur sekalian terapi jantung karna detak jantungnya bisa terbilang lemah. Dia sering terapi kerumah sakit XXX---"
penjelasan Lauren terpotong setelah Bianca mematikan telpon secara tiba-tiba.
" Brengsek!"
Umpatnya kesal.
Disisi lain, Lauren yang merasa aneh karna tak biasanya sahabat kesayangannya itu mematikan telpon tanpa pamit. Apa Anya marah padanya?.
" Lauren!"
panggil seorang perempuan yang baru saja masuk kekawasan butik Lauren.
" Gebi?, Lo dah sehat?"
Sapa Lauren ceria mendekati Gebi.
" Gua mau cerita, Ren"
__ADS_1
ucap Gebi dengan lemah lembut duduk dikursi depan kasir.
Baru saja ingin cerita, Aulya sudah datang kebutik. Tatapan menjijikkan terlihat dari kedua matanya.
" Kamu lucu yah Gebi?, selain penikung juga murahan"
ketusnya dengan tersenyum sinis pada Gebi.
Gebi menatap Aulya tak suka, mengapa gadis sialan itu harus sembuh. Seharusnya ia tidak harus pulang. Bisa-bisa gadisbini membongkar seluruh rahasianya.
" Gua pulang dulu Ren"
putusnya meninggalkan butik tersebut begitu saja.
" Aul!"
sentaknya kesal, menurutnya Aulya sudah sangat berlebihan.
" Dia itu munafik Ren!"
" Munafik gimananya Lya?"
" Masa Iyah dia hamil sama Gavin Ren*"
Deg!
Terkejut?, tak percaya?, kecewa?.
" Kamu pergi sama Anya?"
Aulya terdiam, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan pada Lauren kalau dia itu Bianca, bukan Anya.
" Hmm--"
Lya mengangguk.
" Ya udah-"
putusnya singkat.
" Hmm-- besok kamu ga usah sekolah yah Ren"
ucapnya enteng.
" Gua ga bakal biarin lu kesekolah dan pura-pura jadi gua, Lya!"
jelas Lauren menentang.
" Plis Ren,kali ini aja. I want to experience school like other children, Please"
mohon gadis itu dengan mudahnya mampu membuat Lauren untuk mengiyakan.
" Ya udah deh"
Aulya mengerti bahasa Inggris karna ia sudah lama tinggal disingapur sembari berobat. Dan Lya hanya diizinkan sekolah priv, takutnya jika ia kecapean bisa membuat detak jantungnya berhenti mendadak. Dan itu sangat mengganggu pernapasannya.
Aulya tau banyak tentang Bianca, karna Bianca salah satu idola impiannya untuk ingin masuk keSMA vaforitnya yang ada disingapur. Namun apa daya, ia tidak diperbolehkan untuk bersekolah secara publik.
#Next besok yah.
#Thanks buat yang udah baca sampai sini
#I love you so much.
6281266474982 SV wa ku yah
kasih aja nicknya PUTHY FAILHEN / NUR DELISNA PUTRI.
__ADS_1
NANTI DI SV BACK KOK JANJI🥰