
Dirga melajukan motornya di halaman rumah Bianca. Namun Bianca tak kunjung turun, ia hanya dia menatap sebuah mobil sedan berwarna maron. Sepertinya mobil itu milik seorang perempuan.
" Turun!"
titah Dirga dengan wajah datarnya.
Bianca menggeleng, gadis itu memeluk Dirga dengan erat seolah-olah tak mau pergi.
" Ngapain sih?"
Dirga menepis tangan Bianca dari pinggangnya, namun setelah melihat ayahnya Bianca turun sembari bercumbu mesrah dengan wanita lain. Sementara dibalkon atas masih ada Dona, Dirga lansung memajukan motornya pergi dari sana. Sementara Bianca masih terdiam sembari menyandar dipunggung Dirga.
Dirga memberhentikan motornya disebuah restoran, mungkin ia lapar.
" Ayo turun, gua laper"
ujarnya sembari berjalan melenggang masuk mendahului Bianca.
Masih dengan wajah cemberutnya, ia mengekor Dirga dari belakang dengan bibir yang mengerucut.
" Kenapa sih?"
tanya Dirga memberhentikan langkahnya karna risih dengan ekspresi gadis itu yang manyun.
Karna Dirga yang berhenti tiba-tiba, membuat ia tanpa sengaja menabrak dada bidang milik Dirga.
" Mau makan bakso"
pintanya.
Dirga menatap gadis itu kesal, kemudian berjalan keluar restoran.
Bianca tersenyum, kemudian ikut berlari keluar.
Dirga mulai memajukan motornya kembali dengan membonceng Bianca.
Sesampainya dihadapan tukang jual bakso, Bianca masih hanya diam.
" Ayok!"
ajak Dirga turun dari motor.
" Aku mau bubur aja deh"
gantinya menghela lengan Dirga, untuk memintanya mencari tukang bubur saja.
Dirga menghela napas panjang, rasa kesal mulai muncul. Karna kini ia harus menahan rasa laparnya kembali.
Lelaki itu kembali menaiki motornya dengan Bianca, ia mengendarainya dengan hati-hati. Tujuan untuk mencari tukang bubur.
" Dirga, ga jadi makan bubur deh. Kita makan nasi goreng aja yuk"
rengek nya ditengah jalan.
__ADS_1
Sontak saja Dirga memberhentikan motornya dengan kasar ditengah jalan.
" Mau Lo apa si hah?, gua bukan babu lo. Gua cuma mau ngehibur Lo doang, gosah ngelunjak!"
Bentaknya sembari turun dari motor dan membukak helmnya.
Bianca turun dari motor milik Dirga dengan mata yang berkaca-kaca. Lelaki itu lansung saja menghampiri motornya yang kosong, meletakkan helmnya disana.
" Gua mau makan bubur, terserah Lo mau makan apa. Gua ga peduli"
ujarnya sembari mengiring motornya menuju tempat warung bubur yang ada dipinggir jalan tak jauh dari sana.
Bianca hanya diam mendengar perkataan Dirga, karna ia sudah terlanjur kecewa akibat dibentak. Bianca mendudukkan pantatnya dipinggir aspal, memasang wajah manyun seperti tak niat hidup.
Beberapa menit kemudian, Dirga datang dengan menenteng dua mangkok bubur dan dua buah air mineral tabung.
" Nah makan"
suruh pria itu sembari menyodorkan semangkuk bubur ayam. Melihat tak ada reaksi dari Bianca sedari tadi, sungguh sangat menguras emosi. Dirga membanting kedua mangkuk bubur tersebut disana. dengan penuh amarah, ia meninggalkan gadis itu sendiri tanpa memperdulikan tatapan orang banyak padanya. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi saat melewati Bianca.
Sementara disisi lain, terlihat Gavin dengan Dona sedang berbincang disebuah Cafe.
" Gua bakal bantuin tante buat nyingkirin Lisa dari suami Tante, tapi dengan syarat. Tante harus nikahin gua sama Anya secepatnya"
tawarnya pada Dona yang sedang terbakar api cemburu, yang takut akan ditendang dari rumahnya.
" Tante bakal cari cara supaya kalian bisa dijodohin"
ucapnya dengan yakin.
sambung perempuan itu lagi. Gavin mengangguk dengan memasang ekspresi angkuhnya.
Disebuah rumah mewah, terlihat seorang gadis memakai baju SMA baru saja melangkahkan kakinya masuk.
" Baru pulang sayang?"
sapa seorang laki-laki yang tak asing lagi ditelinganya.
Bianca membolakan matanya saat melihat yang menyapanya itu adalah Gavin, sipenghianat.
Bianca berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Gavin disana, ia lansung saja melangkahkan kakinya pergi menuju kamar.
" Anya, kamu mau kemana?. Ga liat apa disini ada Gavin?"
sahut ayahnya Bianca dari ruang utama, namun gadis itu tak memperdulikannya. Ia mempercepat langkahnya memasuki kamar dan menguncinya dari dalam.
" Sial, kenapa pria brengsek itu ada disini"
Dumalnya membanting kasar tas ranselnya keatas ranjang. Gadis itu merebahkan tubuhnya keatas kasur, meraih tasnya untuk mengambil ponsel. Terlihat ada pesan masuk dari Dirga.
[Sory, gua kesel sama Lo. Maaf]
Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Dirga kepada Bianca, Bianca tak memperdulikannya. Ia masih kesal dengan Gebi yang dikenal sebagai sahabat terbaiknya seorang Anya. Kini telah hamil anak dari Gavin?, sahabatnya sendiri?. Ini persahabatan atau tikungan. Sebenarnya ada hubungan apa Gavin dengan Gebi selama setahun ini?. Apakah sejak awal Anya hilang dan ia bawa ke singapur bersama ibunya. Gebi sudah menjalin hubungan sejak kepergian Anya?. Oh tidsk dasar penghianat.
__ADS_1
Bisa-bisanya mereka melakukan hubungan terlarang itu?, sementara statusnya Gavin masih milikku. Tapi salah ku juga, kenapa harus suka dengan Gavin?. Padahal tujuannya adalah ingin menyingkirkan Dona dan mencebloskan kepenjara. Bukan untuk mengurusi percintaan bodoh ini.
Kali ini Bianca berdiri dari tidur, menarik napas panjang. Mencoba untuk terlihat baik-baik saja, menguncir rambutnya. Kemudian berjalan kearah kamar mandi. Membukak seluruh pakaiannya dan merendam tubuh mulusnya didalam bak yang sudah bercampur dengan sabun harum dan menyegarkan vaforitnya.
Setelah mandi, ia kembali mengecek ponselnya. Baru saja membukak aplikasi Instagram, sudah tergores berita bahwa Gebi hamil.
" What?, siapa yang nyebarin nih berita?. Bikin malu saja, sial kau Daniar!"
umpatnya didalam kamar.
Isi postingannya.
Dniaryzx
Baru kelas XII SMA aja udah hamil duluan, mana dihamilin sama pacar sahabatnya lagi. Udahh nikung,dihamilin, ditinggalin pulak. Memalukan sekali anda @Gebiyht.
" Tapi gapapa, deh. Biar tau rasa tu anak kampang. Bisa-bisa dia selingkuh sama my baby ayang Gavin tercinta lope-lope. Ga ada otak nih anak asw"
tukasnya berdumal sendiri didalam kamar.
Sementara Gavin sudah panas dingin dirumahnya, takut jika Arga mengetahui ini. Bisa-bisa om Arga membatalkan perjodohannya dengan Anya.
" Enggak-enggak, om Arga ga boleh tau. Gua harus suruh Gebi buat gugurin kandungnya, harus"
ucapnya panik bolak balik dibalkol kamarnya.
Pria itu mengetik seutas pesan untuk Gebi, lalu kemudian beralih mengambil jaket hitam yang biasa ia pakai. Sepertinya hendak menemui Gebi.
" Lo harus gugurin kandungan Lo, gua ga mau tau pokoknya Lo harus gugurin sekarang juga."
Pinta lelaki itu dengan lantang memenuhi suasana tepi danau yang hening saat itu.
" Lo gila ya Gav, Lo kira gugurin kandungan itu semudah cocot Lo hah?"
balas perempuan itu tak mau kalah.
" Ah, gua ga mau nikah sama Lo anj-ing"
" Tapi ini anak Lo Gav, Lo harus tanggung jawab!"
pinta perempuan itu menyudutkan.
" Ya udah sih Lo tinggal gugurin apa susahnya?, dan Lo bisa lanjutin sekolah Lo juga kan?"
" Telat Gav telat! semua orang udah tau tentang kehamilan gua!"
bantah nya untuk tidak ingin menggugurkan janinnya.
" Aulya dan Daniar yang udah beberin beritanya"
lanjutnya enteng kemudian beranjak pergi meninggalkan Gavin yang sudah panas dingin tak tau harus bagaimana.
" ah sialan kau Daniar!"
__ADS_1
umpatnya menedang kasar kaleng minuman yang ada dihadapan kakinya.
#Kemaren ga up, soalnya ga ada jaringan🥰