Apa Salahku Sampai Dibuang?

Apa Salahku Sampai Dibuang?
ASSD? #2


__ADS_3

16 tahun kemudian.


Seorang gadis memasuki sekolah dengan berjalan kaki. Seutas senyum indah terukir di bibirnya. Setiap pagi dia memang begitu. Tersenyum walau banyak yang mengucilkannya.


"Dyla," teriak seseorang dari belakang Dyla.


Dyla membalik dan melihat Celine yang sedang berlari ke arahnya. Gadis dengan kulit berwarna kuning Langsat itu langsung merangkul bahunya.


"Ayo kita ke kelas sama-sama," ucap Celine dan membawa Dyla ke kelas dengan tetap merangkul bahu Dyla.


Celine ini adalah gadis batak. Sifatnya juga bar-bar. Jadi bisa di bilang sifat Celine lebih berani dari Dyla.


Dyla selalu mementingkan perasaan orang. Dia akan berpikir apakah yang di lakukannya menyakiti hati orang atau tidak sebelum melakukan sesuatu.


Berbeda dengan Celine yang suka melakukan sesukanya. Dia tidak peduli akan perasaan orang lain. Dia hanya peduli pada orang yang dekat dan baik padanya. Bagi Celine kalau orang berbuat baik maka akan dia balas dengan kebaikan. Namun jika orang berbuat jahat dia akan membalas dengan jahat pula.


Celine dan Dyla mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kelas.


Langsung saja banyak tatapan sinis menatap ke arah mereka berdua.


"Apa mata kau itu?" Tanya Celine dengan nada menantang.


"Kenapa?" Salah seorang gadis bernama Ela balik menantang Celine.


"Kenapa kenapa. Di sini sok sok bagak kau. Nanti datang si Wily sok sok baik kau. Ah Wily selamat pagi," ucap Celine dengan menyindir.


Dan tepat saat itu orang yang Celine bicarakan datang. Ya si Wily yang dia katakan tadi datang.


Ela langsung merubah sikapnya. Kini dia menampilkan senyum manis.


"Alah munafik kalian semua," ucap Celine lalu menarik tangan Dyla untuk duduk di bangku mereka.


"Celine, kamu marah lagi ya?" Tanya Dyla dengan lembut.


"Kesal aja aku tuh sama orang munafik yang suka ngehina orang. Kek mau aku sleding," ucap Celine lalu menunjang kursinya dengan kesal.


Semua orang langsung saja melihat ke arah Celine.


"Apa lihat lihat?" Tanya Celine dengan ketus.


Semuanya menatap bola mata malas lalu kembali melihat Wily.


"Celine udah. Yang mereka lihat sinis itu aku. Mereka gak suka sama aku. Kamu jangan buat mereka jadi benci sama kamu juga dong. Biarin aja mereka hina aku sesuka mereka," nasehat Dyla.

__ADS_1


Dyla sudah berkali-kali mengatakan hal itu dan Celina sudah berulang kali mendengar kata-kata itu.


"Kamu sahabat aku. Siapapun yang berani ngehina kamu. Aku lawannya," ucap Celine.


Dyla menghembuskan nafas pasrah.


Celine ini sangat keras kepala. Dia tidak akan mau mendengarkan apapun jika itu bertentangan dengan hatinya.


Dan yang membuat Dyla menyukai Celine adalah kejujurannya. Walau Celine sangat kasar. Tapi dia tidak munafik. Jika dia membenci seseorang dia akan langsung menyatakan di depan orang itu. Dia bukan tipe yang membicarakan di belakang.


"Wily, hari ini upacara tidak?" Tanya Ela kepada Wily yang merupakan ketua kelas di kelas mereka.


"Tidak. Hari ini hujan jadi gak upacara," jawab Wily dengan lembut.


Dyla tersenyum saat mendengar suara Wily yang lembut.


Dyla yang selama di rumah selalu di perlakukan tidak baik. Dan selalu mendapatkan sikap kasar dari majikannya. Gadis itu tanpa sadar mengharapkan kelembutan. Dan dia mendapatkan itu selain dari Ibunya adalah dari Wily.


"Udah tahu hujan mau upacara. Dodong-dodong," sindir Celine dengan suara kecil namun dapat di dengar sambil menatap ke jendela.


(Dodong sama dengan bodoh)


***


"Baiklah anak-anak. Pelajaran kita hari ini sampai di sini. Celine kamu ikut Ibu ke kantor," ucap Bu Elsa, guru bahasa Indonesia.


"Baik Bu," ucap Celine.


"Dyla, aku ke kantor dulu ya. Kalau aja yang ganggu kamu. Bilang aja samaku. Nanti biar ku tumbuk orangnya," ucap Celine.


Dyla mengangguk.


Lalu Celine langsung menyusul Bu Elsa ke kantor.


Dyla tidak tahu untuk apa Celine di panggil. Tapi yang pasti itu untuk hal baik. Karena Celine itu adalah anak kesayangan Bu Elsa. Karena dalam pelajaran Bu Elsa, Celine yang paling semangat dan paling pintar.


Dia juga memiliki bakat dalam seni sastra. Seperti membuat cerpen ataupun puisi. Dia juga sering mengikuti lomba membaca puisi ataupun membaca dongeng. Dan setiap lomba itu Celine pasti menang. Jika tidak dapat juara 1,2,3 dia pasti akan mendapatkan harapan.


"Dyla, kamu tidak ke kantin?" Tanya Wily saat melihat Dyla hanya duduk sambil membaca buku.


"Ah tidak," jawab Dyla sambil menggeleng dengan senyuman di bibirnya.


"Kenapa? Kamu tidak lapar?" Tanya Wily lagi.

__ADS_1


Dyla kembali menggeleng.


"Ok, kalau begitu aku ke kantin ya," pamit Wily.


Dyla mengangguk.


"Wil ikut," ucap Dimas teman Wily.


"Wil, lo suka sama Dyla?" Tanya Dimas setelah jauh dari kelas.


"Ha... maksud lo?" Tanya Wily.


"Gini ya, gue akui lo itu tipe cowok yang lembut plus perhatian. Tapi nih gue lihat elo itu kalau sama Dyla beda aja gitu. Kayak lebih perhatian," ucap Dimas.


"Bukan gitu Dim. Gue gak suka sama Dyla. Gue cuman kasihan aja sama dia. Gimana ya. Dia itu udah di hina sama banyak orang. Tapi gue gak pernah lihat dia ngelawan atau ngebantah hinaan. Dia tipe cewek yang yang lebih suka memendam daripada memberitahu," ucap Wily menerangkan.


"Elah, dari kasihan jadi cinta. Hati-hati nanti elo malah kepepet sana Dyla," ucap Dimas.


Wily mengangkat bahunya lalu berjalan mendahului Dimas ke kantin.


***


"Dyla," bentak Ela sambil memukul meja Dyla keras.


Dyla tersentak kaget lalu mengalihkan pandangannya dari buku ke Ela.


"Ada apa Ela?" Tanya Dyla sopan sambil tersenyum.


"Ish... lo bisa gak sih gak usah gatal. Gue jijik banget liat lo. Sok sok senyum buat mikat cowok. Jadi cewek jangan kegatelan dong," ucap Ela dengan kesal.


Dyla tersenyum kecil.


"Maaf ya kalau aku buat kamu gak nyaman," ucap Dyla meminta maaf.


"Lo gak usah deh pura-pura baik. Jijik banget orang liatnya. Udah anak pelayan. Seharusnya elo itu sadar diri. Mentang-mentang lo pintar dan bisa masuk sekolah elit. Lo pikir standar lo itu udah sama. Sama kita-kita yang ada di sini. Enggak kali. Ingat ya, lo itu harus sadar diri. Tugas lo di sini sebagai pelajar bukan sebagai penggoda," ucap Ela lalu dengan kasar mendorong bahu Dyla.


Untung saja Dyla memegang meja dengan kuat kalau tidak mungkin dia sudah akan terjatuh.


Dyla mengelus dadanya.


Dia berkata dalam hati.


Sabar sabar.

__ADS_1


Dyla kembali membaca buku di atas mejanya. Dia sudah terbiasa mendapatkan cemoohan. Bahkan dia pernah mendapat hinaan yang lebih parah lagi. Dan Dyla sudah terbiasa.


__ADS_2