
"Permisi Bu," ucap Dyla lalu di ikuti Dimas.
Guru yang sedang mengawas langsung menatap ke arah mereka berdua dan mempersilahkannya masuk.
Tidak berapa lama terdengar bunyi lonceng tanda jam istirahat.
"Tugas latihan hari ini ibu tunggu sampai jam istirahat kedua nanti. Jika melewati batas waktu ibu anggap nilai kalian kosong," ucap guru itu.
"Baik Bu," balas anak-anak.
"Baiklah, pelajaran kita tutup sampai di sini. Selamat pagi," ucap guru itu lalu pergi dari kelas.
Celine langsung berjalan ke meja Dyla. Dia kepo apa yang terjadi.
"Dyl, tadi kau kenak hukum kah?" Tanya Celine.
"Iya," jawab Dyla dibarengi senyumnya.
"Kok bisa barengan sama si Dimas? Dia juga kenak hukum? Siapa yang hukum? Dan kenapa?" Tanya Celine dengan keponya.
"Kami berdua kenak hukum sama Pak Suripto karena masuk sekolah tidak dari gerbang," jawab Dyla.
"Tapi kok bisa barengan gitu sama dia sih?" Tanya Celine.
Dyla mengangkat kedua bahunya.
"Oh ya Dyl, bantu aku dong jawab soal biologi di papan tulis. Itu latihan yang di bilang Ibu Lidia," ucap Celine.
Dyla mengangguk dengan mata menatap papan tulis.
"Tunggu sebentar ya, aku buat dulu" ucap Dyla.
Celine mengangguk.
"Kalau gak, kamu pindahin kursimu ke sini. Biar aku sekalian ajarin," tawar Dyla.
"Ok," balas Celine lalu memindahkan kursinya di dekat meja Dyla.
Di sisi lain.
"Dim, gue ke luar sebentar ya. Sorry gak bisa nemanin lo ke kantin," ucap Wily.
"Yoi, gak papa" balas Dimas.
Dan secara tidak sengaja pria itu mendengar ucapan Dyla yang hendak mengajari Celine.
"Dyla ajarin aku juga," ucap Dimas.
Dyla menatap ke arah Dimas. Lalu gadis itu tersenyum.
"Boleh," ucap Dyla sambil mengangguk.
"Astaga Tuhan, kuatkan jantung hambamu ini," gumam Dimas lirih.
Wily menatap Dimas dengan pandangan aneh. Kata-kata Dimas itu terdengar menjengkelkan di telinganya.
__ADS_1
"Alay lu," ucap Wily lalu pergi dari kelas begitu saja.
"Idih nih orang kok aneh ya," ucap Dimas bingung.
Namun Dimas tidak memperdulikan lagi Wily. Dia dengan semangat membawa buku biologinya untuk di ajari oleh Dyla.
Saat Wily kembali ke kelas. Dia melihat mereka bertiga sangat fokus belajar. Dyla yang mengoceh untuk menjelaskan terlihat sangat imut. Dia terlihat bersinar. Dan Wily menyukai hal itu.
"Ini untuk kalian bertiga. Tambah semangat belajarnya," pesan Wily setelah meletakkan tiga buah minuman di atas meja.
"Terima kasih," ucap Dyla agak tersipu.
"Makasih," ucap Celine dan langsung meminum minuman yang di bawakan Wily.
"Jadi ngerepotin. Tapi thanks ya bro," kini giliran Dimas yang mengucapkan terima kasih.
"Ya," balas Wily lalu pergi lagi ke luar.
Waktu istirahat hanya lima belas menit. Dan mereka baru selesai menjawab tiga dari sepuluh soal. Hal itu di karenakan Dyla yang sangat fokus mengajar bukan menjawab soal. Apalagi Dimas dan Celine banyak tanya.
"Nanti aku selesaikan latihannya. Jawabannya bisa kalian salin. Tapi kalau kalian gak ngerti bisa kok tanya sama aku," ucap Dyla.
Celine dan Dimas mengangguk.
Wily masuk kembali ke dalam kelas karena waktu istirahat telah berakhir. Dia masih melihat ke tiga orang itu bersama. Bersiap-siap untuk bubar.
Dimas ini kenapa sih? Sok akrab aja gue lihat sama Dyla,
Ucap Wily dalam hati.
Wily duduk di kursinya. Lalu beberapa saat kemudian Dimas datang dengan senyum bahagia melekat di bibirnya.
"Lo kenapa sih Wil. Gak senang nengok gue senang, lo hah? Iri bilang jangan nyindir gue," ucap Dimas.
"Gue gak ada tuh iri sama lo," elak Wily.
"Ya bagus kalau lo gak iri. Karena lo itu sahabat gue jadi gue mau bilang sesuatu sama lo," ucap Dimas.
"Apa emang?" Tanya Wily.
"Gue mau ngejar Dyla. Gue suka sama dia," bisik Dimas di telinga Wily.
Mata Wily membola mendengar kata-kata Dimas itu.
"Serius?" Tanya Wily.
Dimas mengangguk dengan yakin.
"Lo bantu gue ya," ucap Dimas.
Wily hanya terdiam saja. Haruskah dia membantu Dimas? Tapi jika dia membantu Dimas, dia pasti jadi capek nantinya. Ah bodohlah.
***
Pulang sekolah
__ADS_1
"Dyl, minggu depan kan ada lomba nyanyi duet. Kita ikut yuk," ajak Celine.
"Tapi aku gak bisa Celine. Aku sibuk," ucap Dyla.
"Eh ayolah Dyla. Sekali ini aja nyo. Kalau kita menang ada hadiahnya. Hadiahnya uang loh. Kan bisa itu buat ibu kamu nanti," ucap Celine berusaha membujuk Dyla.
"Lihat ini ada brosurnya. Tadi di kasih sama Bu Lidia," ucap Celine seraya menyerahkan brosur yang dia simpan di saku kemejanya.
Dyla menerima brosur itu dan melihat-lihat. Ada berbagai lomba. Ada lomba nyanyi, puisi, dongeng, fashion show, dan lainnya.
"Kenapa harus nyanyi? Kan ada puisi dan dongeng. Kamu kan bisa ikut lomba itu. Dan aku yakin kamu bakalan menang. Kenapa harus nyanyi sama aku?" Tanya Dyla.
"Rencananya aku mau ikut tiga lomba. Puisi, dongeng, dan nyanyi. Tapi karena fashion show wajib untuk semua. Jadi aku ikut empat. Mayan kalau menang. Nambah uang saku," ucap Celine sambil menaik-naikkan alisnya.
Dyla tersenyum.
"Aku gak bisa nyanyi Celine. Kalau sama aku kamu pasti kalah," ucap Dyla.
"Gak papa. Kita coba aja dulu. Menang atau kalah kan memang harus ada dalam lomba. So if we loser, i think no problem," ucap Celine.
Dyla berpikir. Hadiah uangnya juga lumayan besar. Jika dia menang. Itu bisa meringankan beban Ibunya.
"Baiklah, akan kuusahakan yang terbaik untuk lomba ini," ucap Dyla.
"Yes," ucap Celine dengan bahagia lalu gadis itu langsung memeluk Dyla.
"Oh ya, kata Ibu Lidia yang menentukan pasangan fashion show itu wali kelas. Kayaknya besok kita akan di beritahukan pasangannya. Semoga kita berdua ya," ucap Celine.
Lalu Dyla mengangguk saja.
Dia juga mengikuti lomba ini hanya karena hadiahnya saja. Tidak, bukan demi hadiah tapi demi meringankan beban Ibunya.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya," ucap Dyla.
Celine mengangguk.
"Bye," ucap Celine.
"Bye," balas Dyla.
Dyla berjalan melewati trotoar dengan berjalan sedikit cepat. Dan secara tidak sengaja dia menabrak seorang nenek-nenek.
"Maaf nek," ucap Dyla.
Dyla mematung saat melihat nenek itu.
"Dyla," panggil sebuah suara dari balik Dyla. Itu adalah suara Celine.
Dyla tidak berbalik. Dia mematung melihat nenek itu. Wajahnya sangat hitam sehitam arang. Itu adalah pertama kalinya Dyla melihat orang dengan wajah sehitam itu. Bahkan di Afrika sekalipun tidak akan ada yang memiliki kulit sehitam ini.
Sebuah tangan menyentuh bahu kanan Dyla dengan lembut.
***
Hay guys, kejadian terakhir itu adalah nyata ya guys. Itu pengalaman aku sendiri. Cuman cerita beda.
__ADS_1
Waktu itu aku mau pulang ke rumah di bonceng sama Papa aku. Nah pas mau belok ke gang rumah. Aku ada lihat nenek-nenek dia bungkuk wajahnya hitam kayak arang.
Jadi aku mau nanya nih sama kalian. Menurut kalian nenek-nenek itu manusia atau apa sih?